
"Nggak usah masak, saya sudah belikan makan malam buat kamu." ujar Arkha sembari menahan pintu kulkas yang sedang dibuka oleh Vina.
Vina yang sedang berlutut sembari menatap isi kulkas tersebut pun langsung mendongak.
"Sudah beli atau baru mau dibelikan?" tanya Vina langsung menoleh ke meja makan, dan di sana tidak ada barang baru.
"Sudah."
"Ada di meja depan." jawab Arkha.
Vina langsung berdiri sembari menutup pintu kulkas dan melangkahkan kakinya ke depan.
"Cuma satu?" tanya Vina.
Arkha mengangguk.
"Kenapa? apa kurang? nanti bisa beli lagi." jawab Arkha.
Vina langsung melambaikan tangannya dengan cepat tanda menolak.
"Bukaaan, maksudnya apa anda nggak mau makan juga?" tanya Vina lebih jelas lagi.
Arkha tersenyum tipis.
"Apa kamu lupa makan malam saya?" balas Arkha.
Vina langsung nyengir, kemudian menepuk keningnya sendiri.
"Oh iya, hehehe."
"Maaf, Tuan." ucap Vina.
Vina mengambil bungkusan itu dan membawanya ke meja makan. Arkha pun mengikutinya lagi.
"Saya siapkan buahnya dulu buat anda." ujar Vina setelah meletakkan plastik tersebut.
Arkha hanya mengangguk sembari menarik kursi meja makan.
"Stoknya tinggal dikit, mau keluar buat belanja takut izinnya." bathin Vina.
"Besok ajalah pulang kerja sekalian mampir. Kalau dimarahi, 'kan bisa lihat bawa belanjaan." bathinnya lagi setelah mendapatkan ide.
Vina mengupas buah-buahan dengan cekatan. Ia sudah terbiasa seperti sehingga tidak menghabiskan banyak waktu.
Setelah selesai, ia menyiapkan buah-buahan itu di piring berwarna putih dan menyajikannya di depan Arkha.
"Silahkan, Tuan."
Arkha kembali hanya mengangguk.
Setelah menyajikan buah untuk Arkha, Vina mengambilkan air mineral. Makanan yang dibelikan oleh Arkha di kemas dalam kotak, sehingga Vina tidak mau mengotori piring.
"Maaf, Tuan. Saya lagi ngirit sabun cuci piring." ucap Vina.
__ADS_1
Arkha terkekeh kecil sembari menggigit buah pir itu. Ia tidak mempermasalahkan, meskipun dibenaknya juga heran dengan dirinya sendiri yang aneh. Kali ini, ia membenarkan apa yang diam-diam dikeluhkan oleh Vina, bahwa ia sangat aneh.
"Habiskan makananmu, setelah ini saya antarkan belanja. Keperluan mandi saya juga habis." ujar Arkha saat Vina baru membuka mulutnya.
"Oh, iya, baik." jawab Vina.
Vina mengunyah sembari tersenyum, dibalik sikap Arkha yang aneh, ternyata pria itu tak melulu cuek.
"Sepertinya kita ini memang sehati dan sejiwa raga, hihi." bathin Vina.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Vina langsung pamit cepat-cepat ke kamar untuk bersiap-siap. Meskipun perutnya terasa nyeri karena faktor pms-nya, ia masih bisa mengendalikan emosi.
Saat Vina pergi ke kamar, Arkha pun juga ke kamarnya. Ia hanya mengganti celananya saja, karena celana yang sebelumnya ia gunakan hanya diatas lutut, tak lupa ia mengambil dompet dan kunci mobil.
Dengan gerakan cepat, Vina sudah siap, begitu juga dengan Arkha. Mereka keluar dari kamar masing-masing di waktu yang sama.
Mereka meninggalkan apartemen di jam setengah 8 malam.
"Kalau di mobil seperti ini, selalu ingat Mikha yang nggak bisa berhenti tanya ini tanya itu." ujar Vina memulai percakapan supaya tidak hening.
"Iya, dia anak yang cerdas." jawab Arkha.
Dalam perjalanan malam, Arkha mengiringinya dengan musik yang berbahasa Inggris. Sedangkan Vina tidak paham artinya, ia hanya bisa sedikit-sedikit, itupun karena mendampingi Mikhael, sehingga ada yang nyangkut di kepalanya.
"Suara anda bagus juga." puji Vina sembari menatap suaminya yang mengikuti lagu itu.
Arkha pun menoleh.
"Terima kasih." jawabnya.
Seperti biasa, Arkha selalu mengenakan maskernya agar lebih percaya diri untuk jalan seperti ini. Ia juga berharap tidak ada yang mengenalinya.
"Biar saya yang dorong trolinya, kamu milih apa yang sudah habis." ujar Arkha.
"Nggak papa nih?" tanya Vina meyakinkan.
"Iya." jawab Arkha.
Rencana awalnya hanya beberapa saja, setelah sampai di depan rak-rak, ternyata belanjaan mereka menjadi melebihi rencana.
"Ada lagi?" tanya Arkha.
"Kayaknya ini sudah melebihi target, Tuan." jawab Vina sembari tertawa kecil.
"Oke."
Transaksi pembayaran pun sudah selesai, karyawan supermarket tersebut sudah membawakan belanjaan mereka ke mobil.
"Mau cari apa lagi? mumpung lagi di luar." tanya Arkha setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya tidak ada, Tuan. Lagian ini juga sudah malam." jawab Vina.
Arkha langsung mengarahkan laju mobilnya ke apartemen. Waktu belanja yang sepertinya tidak lama, ternyata sudah dua jam berlalu.
__ADS_1
Tiba di apartemen
Mereka membawa belanjaan itu ke atas. Tidak ada lagi Vina yang harus membawa beban berat sendirian.
"Ya Allah, bolehkah hamba-Mu ini memohon, tolong jangan dirubah lagi sikapnya. Seperti ini terus, ya Allah." bathin Vina.
Keduanya berjalan beriringan menuju dapur. Setelah sampai, Vina membereskan belanjaan. Memisah-misahkan yang dibantu oleh Arkha. Vina tidak menolaknya, karena itu merupakan hal yang langka.
Sesekali keduanya mengobrol, tanpa disadarinya, Arkha bisa tertawa kecil mendengar cerita Vina tentang Mikhael.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga." ucap Vina lalu mencuci tangan di wastafel.
Hampir pukul sebelas malam, Vina pamit hendak ke kamarnya. Namun, Arkha langsung menahan.
"Bisakah kamu temani saya tidur?" tanya Arkha.
Tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana jantung Vina saat ini. Detaknya semakin kencang, pikirannya langsung terbang jauh membayangkan semua hal yang pernah terjadi.
"Bi-bisa." jawab Vina gugup.
"Saya naruh tas di kamar dulu, sekalian sikat gigi dan juga ganti baju tidur." lanjutnya.
"Saya tunggu di sofa." balas Arkha.
Vina mengangguk. Ia langsung masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam karena takut tiba-tiba Arkha masuk tanpa sepengetahuannya dan melihatnya sedang mengganti pakaian. Tidak lupa juga ia mengganti roti tawarnya supaya tidak terjadi kebocoran.
"HUUUUUHHHHH! TENAAAAAAANG! SIAP-SIAP, VINA! TERJADI ATAU TIDAK, KAMU HARUS SIAP!" ujar Vina saat di depan cermin.
"Eh! tapikan aku lagi pms, gimana sih kamu, Vin!" imbuhnya.
"Huuuuhhhhh, tenaaang!"
Setelah berganti piyama, Vina keluar dari kamar. Ia menemui Arkha yang benar-benar menunggunya.
"Sudah?" tanya Arkha yang mendengar langkah kaki Vina.
"Eh, sudah." jawab Vina kaget karena ia belum berbicara apapun.
Arkha tersenyum tipis, lalu beranjak dari sofa untuk menuju ke kamarnya, sedangkan Vina mengikutinya dari belakang.
"Kamu tiduran aja dulu, saya mau ke kamar mandi." suruh Arkha.
"Baik, Tuan." jawab Vina.
Vina akhirnya memilih duduk di sofa sembari menunggu suaminya selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi.
"Kenapa masih duduk disitu?" tegur Arkha.
"Oh, hehe, ini, nunggu anda aja." jawab Vina semakin gugup.
Arkha hanya tersenyum tipis, lalu mengambil baju tidurnya.
"Oh, maaf Tuan, saya kira bajunya sudah disiapkan." ucap Vina langsung bergegas berdiri.
__ADS_1
"Nggak papa, sudah dapat." jawab Arkha.
Vina langsung balik badan saat Arkha mengganti pakaiannya. Sedangkan Arkha hanya tersenyum jail karena sengaja tidak ganti baju di dalam kamar mandi.