
Mobil yang dimiliki oleh Arkha memanglah bernilai tinggi. Diantara apartemen dan mobil, mobil itu sudah terjual lebih dulu. Sebelum terjual, Arkha sudah mengincar mobil lain sehingga tidak membuatnya membuang-buang waktu.
Sebelum berangkat ke kampung keluarga Vina, Arkha sudah memiliki mobil baru dan rencananya ia akan membawa mobil sendiri.
"Biasanya bagaimana tradisi di keluarga kamu kalau orang datang? kita bawakan apa?" tanya Arkha.
"Emm, ya biasanya kalau saya pulang kampung sih bawa oleh-oleh seperti sembako gitu, seperti gula, teh, roti-roti, atau ditambah buah-buahan. Terus dibagi ke beberapa keluarga, biasanya juga kasih ke tetangga dekat." jawab Vina.
Arkha mengangguk-angguk karena ia memang masih harus mempelajari hal-hal seperti ini.
"Kamu catat ya, berapa keluarga dan berapa tetangga yang mau dikasih oleh-oleh. Besok kita belanja semuanya langsung ke toko." ujar Arkha.
"Siap, sayangku, hihi." balas Vina sembari tertawa kecil dan langsung beranjak karena hendak mengambil alat tulisnya.
Wajah Arkha merona mendengar kata sayang. Meskipun Vina hanya sekedar bercandaan, tapi, ia merasa nyaman.
"Sayang?" gumam Arkha sembari menatap Vina yang berjalan ke arahnya.
Vina duduk di sebelah Arkha sembari membuka buku catatan itu. Meskipun di ponsel ia bisa mencatatnya, tetapi ia lebih memilih mencatat di buku.
"Tetangga ada sekitaaaar, em, lima rumahan. Kalau keluarga sekitar hampir sepuluh rumah, karena dari sepupu-sepupu saya yang sudah menikah dan membuat rumah sendiri." jelas Vina sembari mencatat.
"Iya sayang, kamu catat semuanya, biar besok kita tinggal belanja."
Seketika Vina langsung berhenti menulis dan menatap Arkha.
"Pasti salah ngomong." ujar Vina yang sebenarnya berbunga-bunga. Tapi, ia tidak mau terjebak percaya diri yang berlebihan.
"Apanya?" tanya Arkha.
"Ya, tadi." jawab Vina.
__ADS_1
"Yang mana? salah ngomong apa aku?" tanya Arkha lagi dengan senyum-senyum manis.
"Aku?" Vina kembali dibuat terkejut dengan kata itu.
"Iyaa, tadi aku salah ngomong apa sih?" tanya Arkha lagi dengan senyum yang ia tahan.
Vina langsung menjadi tidak fokus mencatat.
"Ehm!"
"Eh, iya, itu tadi Tuan nyebutkan kata sayang." jawab Vina gugup.
"Kan kamu duluan, jadi aku balas kata yang sama." jawab Arkha.
"Maaf, saya hanya becanda tadi, maaf." ucap Vina lalu kembali melanjutkan catatannya yang belum selesai karena masih ia ingat-ingat takut ada yang ketinggalan.
Arkha merebut buku dan pena yang berada di tangan Vina.
"Jangan bercanda, panggil sayang mulai sekarang." pinta Arkha.
"Ha?"
Mulut melongo itu menjadi respon wajah Vina secara spontan atas permintaan Arkha.
"Panggil sayang." pinta Arkha mengulanginya lagi sembari menaikkan kedua kakinya di sofa lalu mengurung tubuh Vina.
"Belum terbiasa, Tuaaan!" seru Vina sembari mengambil buku tadi untuk menutupi wajahnya.
Arkha tersenyum nakal sembari merebut buku itu dan melemparnya ke sembarang arah.
"Panggil sayang, nggak?" paksa Arkha sembari menjelajahi wajah Vina dengan hidung mancungnya itu.
__ADS_1
"Iya, iya, besok mulai latihan." jawab Vina mulai kegelian ketika sentuhan Arkha sengaja semakin nakal.
"Nggak, harus mulai detik ini!" paksa Arkha.
"Iyaa, sayaaaang, awh!" seru Vina yang tiba-tiba suaranya berubah karena Arkha sengaja terus menggodanya.
Menyadari suaranya yang mengundang jiwa liar Arkha, Vina langsung menutup mulutnya. Sementara Arkha sepertinya mendengar sangat jelas sehingga ia tersenyum lebar.
"Lanjutkan besok mencatatnya, sekarang waktunya kita produksi generasi." bisik Arkha.
Meskipun awalnya malu-malu, Vina kemudian tersenyum lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Arkha.
Catatan itu benar-benar mereka abaikan karena mereka langsung pindah ke ranjang agar lebih leluasa bergerak.
"Istriku,"
"Suamiku,"
"Sayaang,"
"Iya sayang,"
Permasalahan yang terjadi pun kembali terabaikan sejenak. Pasangan suami istri itu sedang menikmati momen berdua di malam ini.
Tanpa adanya orang lain membuat mereka leluasa dalam bergerak maupun mengeluarkan suara-suara ajaib. Walaupun jika ada orang lain tetap tidak terdengar dari luar kamar.
"Ah, sayang! terima kasih banyak untuk rasa ini." ucap Arkha mencium kening Vina sekilas lalu memeluk dari samping karena ia sudah mulai kelelahan.
"Tetap berada di sini, bersamaku." pintanya.
Vina membalas tatapan suaminya itu dan tersenyum. Tanpa berkata-kata, Vina merapatkan kepalanya di dada Arkha.
__ADS_1