
Menggganti kendaraan dengan harga dan tipe lebih rendah memanglah hal yang berat bagi Arkha. Namun, ia sudah menyadari bahwa dalam perjalanan hidup selalu ada momen dimana kita harus berkorban dan juga siap mengesampingkan ego.
Mobil seharga miliaran rupiah itu sudah terjual, ia langsung membeli kendaraan baru yang sebenarnya juga cukup bagus, apalagi diharga 500 jutaan.
Setelah ketegasannya menghadapi ayahnya sendiri, Arkha langsung mengabaikan ketika Leon mencoba untuk menghubunginya via telepon. Pesan yang dikirimkan oleh ayahnya sendiri pun hanya ia baca sekilas sembari menaikkan sudut bibirnya. Mengenai pekerjaan, ia hanya akan bersedia membantu jika Dicky yang mendatanginya langsung.
"Maaf ya kita harus terpaksa ganti mobil. Nanti kalau keadaan sudah balik lagi, kita beli yang lebih dari kemarin." ucap Arkha.
Vina tersenyum tipis lalu menatap kedua mata suaminya.
"Pemilik mobil seperti itu di kampung saya sudah termasuk orang kaya, Tuan. Hanya ada tiga orang yang punya." jawab Vina.
"Hmmmm, kumat lagi!" protes Arkha.
"Iya iya, maaf, 'kan belum terbiasa, sayaaang.'' ucap Vina reflek memeluk Arkha dari samping.
Tanpa berkata-kata, Arkha langsung memberikan kecupan manis di kening Vina.
"Ya sudah, ayo jalan sekarang." ajak Arkha.
"Let's gooo!" balas Vina.
Dengan mengenakan pakaian yang santai, pasangan suami istri itu keluar dari apartemen untuk menuju ke toko grosir sembako yang direkomendasikan oleh Vina. Ia sudah cukup lama di kota ini, terlebih saat masih bekerja dengan Gian, ia sering ikut berbelanja di toko grosir tersebut. Sehingga Vina merasa nyaman karena tempatnya yang luas dan karyawannya yang ramah.
"Kalau kita belanja langsung ke tokonya gitu 'kan enak, bisa dapat diskon, hihi." ujar Vina lalu menutup mulutnya karena tertawa.
"Kamu pasti suka karena banyak laki-lakinya 'kan yang kerja di toko itu?" tuduh Arkha.
"Ohh, tentu saja." jawab Vina cepat.
"Sudah cakep-cakep, ditambah ramah puooll pokoknya." sambungnya sengaja lalu mengalihkan pandangan karena hampir tidak bisa menahan tawa.
Sementara laju mobil itu tiba-tiba menepi sehingga membuat Vina kaget dan spontan menoleh ke arah Arkha.
"Kok berhenti sih? nanggung bentar lagi sampai."
"Cari toko lain saja!" ujar Arkha.
"Bercanda aja tadi, maaf." ucap Vina.
"Sayaang, aku minta maaf." ucap Vina merayu.
Suara yang manja itu membuat Arkha luluh, ia tersenyum menatap wajah Vina.
"Jangan gitu lagi." pinta Arkha.
__ADS_1
Vina mengangguk.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan toko grosir yang di tuju. Toko tersebut tampak ramai, baik dari pembeli umum atau para pemilik warung-warung yang berbelanja di toko itu.
Vina menatap ekspresi suaminya yang sudah tampak kurang suka. Ia memaklumi itu, tetapi ia juga ingin membuat suaminya bisa beradaptasi pada semua kondisi dan situasi.
"Ayo turun." ajak Vina.
"Catatannya nggak lupa 'kan?" tanya Arkha.
Vina langsung merogoh saku dan mengambil selembar kertas.
"Ini."
Vina dan Arkha mengenakan masker untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi beberapa karyawan di sana sudah mengenali Vina. Ia khawatir membuat suaminya tidak nyaman. Ia harus pelan-pelan untuk membawa suaminya ke dalam situasi seperti ini.
"Sesuai catatan ini ya." ujar Vina menyodorkan lembaran kertas kepada karyawan yang belum pernah ia kenal itu.
Dengan cekatan, karyawan lain pun membantu mencarikan catatan yang diberikan oleh Vina dan menumpuknya di dekat meja kasir.
Cukup memakan waktu, akhirnya belanjaan yang banyak itu sudah selesai pembayaran. Vina langsung meminta karyawan toko tersebut untuk memasukkan ke dalam mobil yang pintu belakangnya sudah dibukakan oleh Arkha.
"VINA!" panggil seseorang ketika Arkha baru saja menutup pintu bagasi mobil.
"Vina 'kan?"
"Eh, iya." jawab Vina gugup, ia menatap suaminya.
"Ini suami kamu, ya?" tanya Gian.
"Iya, kenalkan." jawab Vina menatap Arkha dengan kode supaya suaminya itu bersedia untuk saling berjabat tangan.
"Arkha."
"Salam kenal, Gian." balas Gian.
"Hm." balas Arkha dingin.
Gian langsung merasa kasihan pada Vina karena melihat sikap dingin dari Arkha. Ia membayangkan tangis dan kesedihan Vina menghadapi sikap laki-laki itu. Ia masih sangat ingat dengan Vina yang tidak lagi kembali ke rumahnya dan juga bagaimana pria-pria itu mendatanginya dan memberikan kabar mengenai Vina.
"Vina, apa kamu benar-benar bahagia menikah sama laki-laki ini?" tanya Gian lirih.
"Vina sangat bahagia menikah dengan saya!" jawab Arkha tegas.
Terlihat ekspresi wajah Gian tidak mempercayai jawaban dari Arkha.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu mengenali Vina? sedangkan kami memakai masker?" tanya Arkha curiga.
Gian tersenyum.
"Tuan Arkha, saya tidak sebentar tinggal satu atap dengan Vina. Tentu saja saya sangat memahaminya." jawab Gian.
Vina langsung menggenggam tangan Arkha yang sudah mengepal. Ia juga terkejut dengan jawaban Gian.
"Maaf ya Mas Gian, kami buru-buru, permisi." ucap Vina.
Vina menarik tangan Arkha dengan kekuatan penuh. Arkha masih sempat menoleh ke belakang dan memberikan tatapan tajam pada Gian.
"Laki-laki br3ngsek itu sengaja ingin mencari masalah!" gerutu Arkha.
"Tarik napaas, istighfar, jangan emosiii." balas Vina mencoba untuk menenangkan Arkha.
Arkha hanya menoleh sekilas pada Vina lalu kembali menatap lurus ke depan.
Setelah cukup tenang, Arkha kembali menghidupkan mesin mobil dan langsung menuju apartemen.
Untuk membawa belanjaan itu ke atas, mereka harus menggunakan troli yang dimiliki apartemen tersebut. Bukan hanya mereka yang membawa, tetapi juga ditambah dengan bantuan orang lain.
Barang-barang yang masih terbungkus kardus itu disusun di ruang tamu. Sementara itu, Arkha langsung duduk sembari membuka ponsel. Sepertinya ia masih menyimpan rasa kesal setelah pertemuan dengan Gian tadi.
Vina menarik napas panjang sebelum mendekati suaminya itu.
"Aku minta maaf, aku nggak ada maksud belanja di sana untuk bisa ketemu dengan orang-orang yang dulu aku kenal." ucap Vina yang sudah duduk di sebelah Arkha.
"Bukan itu masalahnya, tapi, dia melihat kamu dengan nafsu." balas Arkha.
Vina mengernyitkan keningnya.
"Maksudnya?" tanya Vina.
"Kamu tadi dengar dia ngomong? dia dengan bangganya sudah memahami kamu karena tidak sebentar tinggal bersama, dih!" gerutu Arkha.
Vina duduk di sebelah Arkha lalu meraih tangan suaminya. Ia menumpukkan satu tangannya sembari memberikan usapan lembut.
"Aku senang kalau lihat suamiku cemburu begini." bisik Vina.
Arkha langsung melengos.
"Suamikuu, aku minta maaf ya." ucap Vina dengan suara merayu.
Arkha masih belum merespon.
__ADS_1
Dengan terpaksa dan memberanikan diri yang dipenuhi aksi nekat, Vina menggoda Arkha dengan meraba dada Arkha. Sehingga aksi nekat tersebut akhirnya mampu membuat Arkha luluh dan justru membuat Vina yang berteriak ampun.