
''Kenapa anda bisa tiba-tiba muncul, Tuan? apakah ini benar-benar anda? atau hanya makhluk halus yang menyerupai?'' tanya Vina.
Arkha langsung melotot dipertanyakan keasliannya, apalagi disamakan dengan makhluk halus.
''Arrggh panas!''
Vina kembali meringis merasakan kaki dan tangannya. Arkha langsung bersiap membopong tubuh Vina. Namun, tangannya ditahan dengan tangan kiri Vina, karena tangan kanan dan kaki Vina terkena air panas.
Arkha menarik napas panjang.
''Jangan bertele-tele! itu kaki sama tanganmu harus cepat mendapat penanganan pertama!'' seru Arkha.
''Tapi, anda menyentuh saya!'' balas Vina.
''Itu bahas lagi besok! PAHAM!''
Arkha langsung membopong tubuh Vina tanpa menunggu persetujuan. Karena ia langsung berpikir kalau terjadi apa-apa dengan perempuan itu, ia juga yang akan menjadi sasaran empuk bagi Mikhael, apalagi ini terlihat di fisik.
''Aaa! pelan-pelan, Tuan!!'' seru Vina.
Arkha membawa Vina ke kamar mandi yang ada didalam kamarnya. Karena wastafel disana lebih besar sehingga Vina bisa duduk untuk mengaliri kaki dan tangannya tanpa ia pegangi dalam waktu lama.
''Pake pasta gigi aja, Tuan.'' ujar Vina.
''Itu akan mengakibatkan infeksi, paham kamu?'' balas Arkha.
''Ini pertolongan pertama yang harus dilakukan. Dua puluh menit jangan bergerak kemana-mana! setelah itu baru ada obat pereda nyeri.'' jelas Arkha.
Arkha membantu kaki dan tangan Vina untuk mendapatkan aliran air dingin untuk mengurangi efek panas.
Vina masih meringis merasakan nyeri dan panas dipunggung kaki dan tangannya.
''Tapi, Tuan, bolehkah saya ganti celana dulu?'' tawar Vina.
Arkha yang hendak keluar langsung menghentikan langkahnya.
''Memangnya kenapa? kamu sudah pakai celana 'kan?'' balas Arkha menatap kaki istrinya yang terbuka.
Vina melotot saat melihat Arkha menatapnya, karena ia memakai celana pendek. Saat dibawa duduk seperti ini sudah pasti semakin terangkat sehingga membuatnya semakin risih.
''Aurat, Tuan, saya malu.'' ujar Vina.
Arkha yang sudah siap balik badan pun kembali menghadap Vina dengan sudut bibirnya yang terangkat.
''Aurat?'' kata Arkha.
''Tidak ada kata menutup aurat bagi pasangan suami istri!'' sambungnya dengan suara yang ia tekankan.
Arkha langsung keluar. Sementara Vina mengomel sendiri.
''Isshhh! kenapa juga pakai ngantuk sih!'' gerutu Vina kesal dengan dirinya sendiri yang teledor.
__ADS_1
Vina terdiam sembari memikirkan bahwa perkataan Arkha benar juga. Tapi, permasalahannya adalah suami istri macam apa mereka ini.
Sementara itu, sambil menunggu waktu dua puluh menit, Arkha membersihkan pecahan gelas yang hendak digunakan oleh Vina. Ia membuangnya ke kotak sampah setelah memastikan tidak ada yang tertinggal dilantai.
''Dasar cewek ceroboh!'' omel Arkha.
Sepuluh menit sudah Vina mengaliri kaki dan tangannya. Rasa kantuk semakin menyerang, ia beberapa kali bersandar dan juga membentur cermin.
''Kemana sih manusia itu?'' gumam Vina sembari celingukan ke pintu.
Vina menatap dirinya di cermin sembari memperhatikan wajahnya yang apa adanya dengan rambut yang ia ikat keatas.
''Nggak jelek-jelek banget kok, hmm.'' gumamnya percaya diri.
Menunggu waktu 20 menit sangat-sangat membosankan. Apalagi dengan posisinya yang nangkring di wastafel kamar mandi. Sangat menyebalkan sekali. Kalaupun nekat turun, sudah pasti ia akan menerima amarah yang lebih besar dari Arkha.
Vina kembali menyandarkan kepalanya dan menguap berkali-kali yang sudah tak terhitung.
''Sudah 20 menit.'' ujar Arkha tiba-tiba masuk.
''Hah, apa Tuan?'' tanya Vina langsung tersadar.
''SUDAH DUA PULUH MENIT!'' kata Arkha mengulangi dengan volume yang ia tekankan.
''Ohhh, Alhamdulillah kalau begitu. Saya langsung kembali ke kamar dulu ya.'' balas Vina hendak berusaha untuk turun sendiri.
''Awhh! aduh aduh! aaaa!'' rintih Vina.
Vina pun reflek mengalungkan tangannya di leher Arkha.
''Minimal dicium nggak sih ini laki? gemes deh kalau begini!'' bathin Vina yang mencuri pandang ke Arkha.
''Astaghfirullah, sadar Vin!'' sambungnya.
''Lho, kok turun disini, Tuan?'' tanya Vina ketika Arkha menurunkannya di ranjang suaminya itu.
''Sudah, diam!''
Vina pun langsung terdiam karena takut. Meskipun didalam hatinya sudah ingin menjitak suaminya itu.
Arkha langsung mengambil obat dan kasa steril. Ia melakukan pertolongan pertama bagi luka Vina itu dengan sangat telaten.
Disaat itu, Vina kembali menatap Arkha sembari tersenyum tipis tanpa ia sadari.
''Andai saja anda benar-benar seperti ini, Tuan. Manis dengan istrimu tanpa diawali luka, pasti saya bahagia sekali.'' bathin Vina.
''Aahh perih!'' rintih Vina lagi saat Arkha mengolesi obat dipunggung kakinya.
Arkha langsung berhenti saat mendengar suara Vina yang justru terdengar lain di telinganya.
Melihat Arkha yang menatapnya, Vina pun langsung mengontrol wajahnya supaya tidak tampak sedang kesakitan.
__ADS_1
''Apa sih lihatnya gitu banget.'' gumam Vina.
''Sudah selesai, kamu jangan banyak gerak dulu, apalagi yang dapat menghambat proses penyembuhan luka ini. Jangan sampai semakin parah, ngerti 'kan?'' ujar Arkha.
Vina mengangguk.
"Tapi, Tuan, saya bisa kembali,-''
''Saya bilang tidak usah sok kuat! nanti kalau ada apa-apa saya tidak tau! nanti kamu nekat dan lukanya itu parah lagi! saya juga yang akan repot!'' sahut Arkha.
Vina langsung terdiam sembari berpikir untuk mendapatkan alasan lain supaya bisa keluar dari kamar ini.
''Anda tidak tidur, Tuan?'' tanya Vina.
''Nanti.'' jawab Arkha singkat.
Arkha keluar dari kamarnya. Tak lama kemudian, ia kembali lagi dengan membawakan satu gelas air hangat.
''Nggak usah tanya, ini saya rebuskan.'' ujar Arkha.
''Terima kasih, Tuan.'' ucap Vina sembari menerima gelas tersebut.
Namun, Arkha kembali menarik tangannya saat teringat tangan kanan Vina yang terkena air panas.
''Saya bisa pakai tangan kiri kok.'' ujar Vina.
''Selagi ada orang lain yang membantu, gunakan sesuatu yang benar.'' jawab Arkha.
''Cepat minum!'' suruh Arkha yang duduk di samping Vina.
Arkha menempelkan gelas tersebut ke bibir Vina. Dengan ragu, Vina pun membuka mulutnya dan minum air putih hangat itu.
''Su-sudah, Tuan, terima kasih.'' ucap Vina gugup.
Arkha menarik tangannya, ia meletakkan gelas tersebut ke meja nakas.
''Ehm, Tuan, saya mohon maaf karena sudah bersikap keras seperti kemarin sore. Saya akui itu salah, bagaimanapun anda itu suami saya.'' ucap Vina dengan wajah menunduk.
''Tapi, saya masih tidak paham kenapa anda tiba-tiba marah sama saya. Apakah saya sudah melakukan suatu kesalahan yang besar?" tanya Vina.
"SIAPA LAKI-LAKI ITU?" balas Arkha.
"Laki-laki siapa?" tanya Vina sembari berpikir.
Arkha melotot dan Vina langsung teringat.
"Ohh, kemarin saya tidak sengaja bertemu dengan teman lama saya, Tuan. Terus, dia minta nomor saya karena sudah nggak komunikasi lagi sama teman-teman yang lain. Dia juga sudah menetap disini katanya. Jadi, kemarin dia nelfon, mungkin cuma mau memastikan bahwa saya sudah sampai atau belum. Karena dia nawari buat antar dan saya menolaknya." jelas Vina.
"Jadi, kamu bahagia sekali bertemu sama teman lamamu itu? IYA?" balas Arkha ketus.
"Dengan duduk berduaan, tertawa-tawa,
__ADS_1
sampai nggak ingat waktu!"