
Vina langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka lemari untuk berganti celana panjang dan mencari jaket. Tak lupa ia mengambil tas kecilnya untuk membawa dompet dan ponsel.
"Ok, nggak ada yang ketinggalan. Bismillahirrahmanirrahim." seru Vina langsung menyambar kunci motor dan juga helm.
Dengan perasaan takut dan juga nekat yang saling beradu, Vina mantap untuk mencari jawaban mengenai perasaannya yang tidak enak itu.
Ciiittt
Baru keluar dari gerbang apartemen, Vina dicegat oleh mobil. Ia pun langsung mengomel karena ia diposisi yang tidak salah.
"Apa sih ini maksudnya?!" seru Vina yang langsung menatap tajam mobil itu.
Pengemudi mobil itu pun keluar dari mobilnya dan membuat Vina melongo.
"Eh, Dokter? kenapa anda di sini?" tanya Vina yang masih ingat dengan jelas dokter yang menangani kaki dan tangannya.
"Kamu yang asistennya Arkha 'kan?" tanya dokter itu.
Vina langsung gugup karena pasti dokter itu sudah menduga-duga ia tidak benar karena keluar tengah malam seperti ini.
__ADS_1
"I-iya, tapi, saya mau cari tuan Arkha karena jam segini belum pulang dan perasaan saya tidak enak."
"Tolong dok, kalau dokter tau kebiasaan tuan Arkha dimana jika malam-malam begini, tolong kasih tau saya, plis." pinta Vina dengan kedua tangan yang ia tangkupkan.
Seperti apa yang Vina duga, dokter itu langsung mengernyitkan keningnya karena melihat Vina sangat Khawatir. Sedangkan apa yang ia tau, sudah hal biasa bagi Arkha keluar malam, bahkan sampai pagi jika hari libur.
"Tolong dok."
Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya dokter itu mengiyakan. Karena ia sendiripun juga penasaran dengan hubungan mereka yang sebenarnya. Untuk status asisten rumah tangga yang biasanya, ia belum pernah menemui bersikap seperti ini. Yang ia tau, mereka hanya fokus bekerja dan menerima gaji. Hal yang dilakukan oleh Vina menarik perhatiannya untuk mengikuti lebih lanjut.
"Tapi, kamu ikut mobil saya saja karena bahaya buat perempuan malam-malam begini naik motor sendirian." jawabnya.
Tanpa pikir panjang dan menaruh curiga pada dokter itu, Vina langsung kembali masuk ke dalam gerbang dan izin pada petugas keamanan di sana.
"Mari, dok." ajak Vina.
Dokter yang bernama Zayn itu langsung membawa Vina ke tempat yang biasa dikunjungi oleh Arkha.
Di sepanjang jalan, Vina terus menatap ke arah luar sembari menggigit jarinya. Ia terlihat sangat tidak tenang.
__ADS_1
"Kalau hanya sekedar asisten rumah tangga, seharusnya tidak secemas ini meskipun perasaan nggak enaknya kayak apapun." bathin dokter itu.
Dokter Zayn yang baru pulang dari jam kontrolnya tak sengaja melihat Vina yang memakai helm dengan kaca dibuka. Awalnya ia sedikit ragu, tapi, demi mendapatkan jawaban, ia memilih untuk menghalangi laju motor Vina. Dan, apa yang ia lihat tidaklah salah. Awalnya ia menduga kalau Vina hendak kabur dari apartemen Arkha.
"Sebelumnya saya minta maaf kalau sudah mengganggu waktu anda, Dok." ucap Vina.
"Tidak, saya sudah selesai kontrol pasien." jawabnya.
"Apa kamu benar art-nya?" tanya Zayn penasaran.
Vina menoleh sekilas.
"I-iya, benar, saya pembantunya." jawab Vina gugup.
"Tapi, kamu terlihat sangat menyayangi bosmu itu." balas Zayn.
Vina hanya menoleh sekilas sembari tersenyum tipis. Ia bingung harus bagaimana jika dokter itu akan semakin menaruh curiga pada mereka. Namun, jika apa yang ia lihat nantinya Arkha sedang berbuat yang tidak-tidak, dengan terpaksa apa yang disembunyikan akan terungkap.
"Tuan, maaf karena saya sudah lancang dengan membuat orang lain curiga dan bisa jadi tau tentang hubungan kita yang sebenarnya." bathin Vina.
__ADS_1