Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 48 : Dia Perempuan Biasa


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu, Arkha masih tetap berusaha untuk membangun chemistry di dalam pernikahannya ini. Hal pertama yang ia upayakan adalah memperbaiki komunikasi dengan sang istri.


Namun, ia terpaksa harus meninggalkan Vina untuk sementara waktu karena ia harus ke luar negeri. Sedangkan dokumen yang Vina butuhkan untuk bisa ke luar negeri belum selesai. Selain itu juga, Arkha hendak mengurus pekerjaan, bukan sekedar mengunjungi keluarganya. Belum waktu yang tepat untuk mengajak Vina saat ini.


"Sekitar tiga hari dua malam saja." ujar Arkha setelah menemani Vina makan malam.


Raut wajah Vina menunjukkan kesedihannya. Tapi, di sisi lain ia juga belum siap untuk berangkat ke luar negeri, apalagi ia belum di terima sebagai menantu oleh kedua orangtua Arkha.


Vina mengangguk.


"Saya akan menghubungimu setiap hari kalau sudah istirahat." ujar Arkha yang juga merasa berat untuk meninggalkan Vina sendirian.


Vina mengangguk lagi.


"Emmm, selama anda ke luar negeri, saya tinggal di mana?" tanya Vina.


"Di mana?" balas Arkha sembari mengernyitkan keningnya.


Vina mengangguk ragu.


"Keamanan di sini sudah terjamin, jadi kamu tetap di sini. Selesai kerja, langsung pulang. Jangan kemana-mana, sekalipun teman kamu memaksa." ujar Arkha.


"Baik Tuan." jawab Vina.


Vina hanya ingin memastikan. Ia juga takut Arkha masih tidak mempercayainya. Namun, jawaban dari Arkha membuatnya tersenyum.


"Terbang kapan?" tanya Vina.


"Lusa, sore." jawab Arkha.


Vina mengangguk-angguk.


...


Keesokan malamnya, Arkha baru sampai apartemen setelah isya. Ia harus lembur untuk mempersiapkan pekerjaan yang akan dibawanya besok.

__ADS_1


"Eh, Tuan, sudah pulang?"


Vina langsung mempercepat langkahnya menuju suaminya. Tangannya langsung ia ulurkan, dan Arkha pun menyambutnya dengan hangat.


"Saya baru saja selesai motong-motong buahnya." ujar Vina.


"Saya mandi dulu." balas Arkha.


"Oh iya, siapkan baju ganti saya. Kaos pendek saja." pinta Arkha.


Vina langsung mengangguk.


Selesai membersihkan badannya, Arkha keluar dari kamar. Ia melihat Vina yang masih memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci.


"Ehm, itu dicuci besok saja. Siapkan sekarang saja pakaian yang mau saya bawa."


Vina langsung menghentikan gerak tangannya.


"Oh, iya, baik." jawabnya.


Arkha tidak langsung menyantap buah itu, ia mengikuti langkah Vina menuju lemari pakaiannya.


Pekerjaan ini juga tidak menyulitkan bagi Vina, karena menata pakaian sudah menjadi rutinitasnya.


"Sudah selesai, Tuan. Apa ada yang bisa saya kerjakan lagi?" tanya Vina.


"Ikut saya." ajak Arkha yang melangkah lebih dulu menuju sofa yang menghadap televisi lebar dikamarnya.


Arkha duduk lebih dulu, tak lama kemudian Vina menyusul dan hendak duduk di ujung. Dengan gerakan cepat, Arkha menarik pinggang Vina untuk duduk didepannya, karena ia sudah membuka kakinya untuk memberikan ruang.


Tentu saja hal itu membuat Vina kaget, apalagi Arkha langsung menenggelamkan wajah ditengkuknya.


"Tuan, maaf, buahnya dimakan dulu." ujar Vina.


Arkha hanya mengangguk kecil sembari menekan tombol on pada remote televisi.

__ADS_1


"Kamu juga makan." ujar Arkha sembari menyodorkan sepotong buah ke mulut Vina.


Vina menatap buah itu, lalu beralih menatap Arkha. Ia sedang meyakinkan akan sikap ini. Dan Arkha pun memajukan suapannya untuk meyakinkan Vina.


Setelah menatap mata Arkha, Vina tersenyum lalu membuka mulutnya. Arkha tersenyum tipis lalu mencium bibir Vina sekilas. Mereka menikmati buah sembari menonton film yang bergenre action.


"Emm, Tuan, maaf, emm ... boleh saya ambil foto kita berdua?" tanya Vina ragu.


Arkha tampak berpikir.


"Tidak saya upload kemanapun, cuma buat saya simpan dan obat rindu saya ketika besok anda tidak dirumah." jelas Vina dengan senyum malu-malu.


Arkha terkekeh kecil lalu mengangguk.


"Saya juga tidak menolak kok." jawab Arkha.


Raut wajah Vina pun tidak bisa menutupi bahagianya.


"Saya ambil hp dulu di kamar." ujar Vina hendak berdiri, tetapi ia langsung ditahan oleh Arkha.


"Pakai hp saya saja, kamu tidak boleh keluar dari kamar ini sebelum besok pagi." balas Arkha.


"Tapiii?"


"Nanti saya kirim." jawab Arkha sambil meraih ponselnya.


Buah yang mereka makan pun sudah habis, Vina meletakkan wadah kosong itu ke meja.


Vina tidak menyangka Arkha terkesan senang dengan pengambilan gambar ini. Berbagai pose yang bahkan diluar dugaan Vina pun Arkha lakukan. Justru Arkha yang terasa lebih heboh sampai mendapatkan gambar yang cukup banyak. Tentu saja Vina merasa senang dengan sikap suaminya itu.


"Sudah saya kirim semuanya, sekarang kita tidur." ajak Arkha sembari meletakkan ponselnya ke samping.


Vina hanya mengangguk.


"Dia perempuan biasa, dari kampung. Sangat jauh dari wanita-wanita yang hidup disekelilingku. Tapi, dia berhasil membuatku hanya bisa menerima keberadaannya?" bathin Arkha saat menatap mata Vina yang sudah terpejam.

__ADS_1


Perlahan, Arkha ikut memejamkan matanya sembari mengeratkan pelukannya.


__ADS_2