Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 31 : Ternyata Kembali Kokoh Lagi


__ADS_3

Lidya berdiri di balkon rumahnya sembari menghubungi seseorang. Wajahnya muram setelah beberapa hari yang lalu melihat Vina dari sambungan video call. Meskipun ia tidak nampak dilayar laptop, tetapi ia duduk tidak jauh untuk mendampingi sang cucu, Mikhael.


"Kamu jangan lama-lama dong, sayang. Buruan pulang ke Indonesia." ujar Lidya dengan suara membujuk seseorang.


"Iya Tante, aku akan segera pulang kalau kontrak sama brand ini selesai akhir bulan ini." jawabnya.


"Kenapa sih Tante kok kayaknya emosi gitu?" imbuh perempuan itu.


Lidya membuang napas kasar ke udara.


"Tante ini sudah nggak sabar sekali untuk menjadikan kamu sebagai menantu kami. Tante tidak sabar kamu akan mendampingi hari-hari Arkha." jawab Lidya dengan percaya diri.


Rachel, perempuan yang sudah direncanakan akan dijodohkan dengan Arkha. Rachel merupakan putri dari rekan bisnis Leonardo. Bukan hanya kedua orangtua yang sudah saling mengenal, Arkha juga sudah mengenal sosok Rachel, begitu juga sebaliknya.


"Ya sudah kalau begitu, Tante mau ngurusin Mikhael. Hati-hati disana ya, sayang. Jaga kesehatan kamu dan sampai jumpa." ucap Lidya.


"Iya Tante sayang, titip salam ya untuk om Leon sama Mikhael." jawab Rachel.


"Ohh, kamu perhatian sekali, pasti nanti Tante sampaikan salam dari kamu." jawab Lidya.


Lidya mengakhiri komunikasi itu dan langsung kembali ke dalam sebelum Mikha menyusul dan mendengar percakapan yang belum selayaknya didengarnya.


Lidya menghampiri cucunya yang masih belajar.


"Mikha, kalau yang kesini om Arkha saja, nggak apa-apa 'kan?" tanya Lidya hati-hati.


Mikhael langsung meletakkan penanya dan menatap Lidya penuh tanya.


"Memangnya kenapa? apa Oma tidak mengizinkan buat mama ikut kesini?" tanya Mikha.

__ADS_1


Lidya masih mencoba untuk menampilkan senyum terbaiknya di hadapan sang cucu.


"Bukan tidak boleh, sayang. Cumaaaa, Oma kasian kalau dia belum bisa beradaptasi dengan cuaca disini." jawab Lidya.


Mikha mengernyitkan keningnya.


"Dia? dia siapa, Oma?"


"Mama Vina." tegas Mikha.


Meskipun dihatinya sudah tidak suka, Lidya tetap mencoba untuk baik-baik saja.


"Iya sayang, maaf karena Oma belum terbiasa, jadi masih kaku." ucap Lidya beralasan.


"Oma harus membiasakan untuk menyebut "MAMA VINA" kalau lagi bicara sama aku." balas Mikhael.


"Iya sayang, iyaa." jawab Lidya.


...


Kaki dan tangan Vina sudah sembuh. Ia juga sudah kembali beraktivitas seperti biasanya, melanjutkan pekerjaannya yang masih masa training.


Setelah hari itu, Arkha lebih menjaga jarak dengannya. Sudah tiga hari berlalu tak ada percakapan panjang antara mereka.


Vina tersenyum tipis mengingat kebo*dohannya yang mengharapkan Arkha segera mencintainya. Pada kenyataannya, setelah menikmati tubuhnya dan mengambil apa yang sudah ia jaga, suaminya itu tidak lebih perhatian atau menunjukkan sikap yang ia harapkan.


"Sakit ya rasanya berharap seorang diri." bathin Vina.


"Kelihatannya tembok itu bisa runtuh saat itu, ternyata kembali kokoh lagi." sambungnya.

__ADS_1


Vina menghembuskan napas panjang sebelum masuk ke tempat kerjanya.


"Sudah sembuh, Vin?" tanya teman kerja Vina.


"Alhamdulillah sudah, Kak." jawab Vina sembari meletakkan tasnya.


"Gimana sih kok bisa kesiram air panas?" tanya temannya lagi.


"Ntahlah Kak, aku juga heran, hehe. Kayaknya pas malam-malam aku ngantuk terus hawanya dingin, jadi pengin minum air hangat rebusan. Pas mau nuangin air mendidih yang baru ku rebus itu ke gelas, eh malah bablas ke tangan sama kaki. Teledor sih aku." jawab Vina yang mengakui kesalahannya itu.


"Ya ampuuun, Vinaaaa, lain kali hati-hati ya." balasnya.


"Iya Kak."


"By the way, aku minta maaf ya, baru saja training, eh sudah main izin-izin aja." ucap Vina.


Perempuan itu menepuk lengan Vina.


"Selagi benar-benar mendesak, ya nggak papa atuh." jawabnya.


Vina kembali melanjutkan pekerjaannya. Masih banyak yang harus ia pelajari disini karena juga masih beberapa hari pertemuan.


Beruntungnya Vina mendapatkan senior yang baik dan sabar dalam membimbingnya sehingga tidak membuatnya canggung.


"Terkadang, ada juga lho beberapa pelanggan yang maunya pesanannya itu diantar sama kita-kita langsung." ujar senior Vina.


"Aku siap kok, Kak, yang penting nggak terlalu jauh, hehe. Tau sendirilah aku dari kampung, jadi belum begitu hafal." jawab Vina.


"Mantap nih kalau begini, haha. Langsung siap nggak menye-menye." balas senior Vina sembari tertawa.

__ADS_1


"Demiiiiiii, Kak, xixixi." jawab Vina sembari merakit bunga-bunga berwarna merah muda itu.


"Demi cuaaan, haha."


__ADS_2