
"Aku akan kembali ke Indonesia sekarang." ujar Arkha pada orangtuanya setelah mengantarkan Mikhael sekolah.
Lidya dan Leon langsung menatap putranya itu secara bersamaan.
"Oh, tidak bisa. Papa sama mama sudah menerima undangan dan janji akan datang ke acara makan malam di rumah Rusdy nanti malam sama kamu." jawab Lidya.
Arkha menaikkan sudut bibirnya sembari mengusap rambutnya ke belakang.
"Pa, Ma, apapun yang kalian upayakan untuk menjodohkan aku dengan wanita manapun, nggak akan berhasil!" tegas Arkha membalas tatapan kedua orangtuanya.
"Jangan kalian kira aku ini bod*h. Aku tau akal-akalan kalian untuk menyatukan aku sama Rachel."
Leon dan Lidya saling menatap.
"Arkha, Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan Mikha." balas Lidya berusaha lembut.
Arkha berdesis.
"What? terbaik?"
Arkha menggelengkan kepalanya.
"Terbaik untuk Arkha dan Mikha atau terbaik untuk harta dunia?" balas Arkha tegas.
"Perusahaan Papa sudah cukup maju, kita nggak kekurangan apapun kok. Apa kalian nggak bersyukur?" sambungnya tegas.
"ARKHA! pelankan suara kamu itu! apa wanita kampung itu mengajarkan kamu yang nggak baik?!" balas Leon tidak terima.
"Bukankah Papa dan Mama yang mencontohkan aku untuk bicara dengan nada tinggi?" balas Arkha.
"Kamu ini benar-benar sudah dipengaruhi sama anak kampung itu, Arkha! Mama cuma mau kamu membuktikan janjimu kalau kamu nggak akan menyentuh dia! itu berarti kamu akan meninggalkan dia dan kamu harus bersama dengan perempuan yang selevel dengan kita, dan satu-satunya wanita yang cocok itu hanya RACHEL!" seru Lidya.
__ADS_1
"Kamu harus cerai dari anak kampung itu!" lanjut wanita paruh baya itu.
Arkha menatap tajam pada ibunya.
"Aku tidak akan menduakan, apalagi sampai menceraikan istriku, sampai kapanpun itu!" tegas Arkha.
"Kamu egois, Arkha! kami cuma minta balas budi atas semua fasilitas yang sudah kamu terima selama ini."
"Lagipula, Rachel itu sangat cantik dan berkelas, kamu tidak akan rugi!" seru Lidya.
Arkha terkejut dengan perkataan ibunya. Sakit dan kecewa mendengar pernyataan yang seharusnya tidak keluar dari mulut seorang ibu.
Arkha langsung mengangguk-angguk kecil. Sementara Leon yang menyadari hal itu langsung menyikut lengan istrinya.
"Ma-maaf, nak, Mama nggak bermaksud mengungkit pemberian itu. Mama kelepasan, tolong kamu paham ya." ucap Lidya.
Rasa kecewa itu sudah terlanjur Arkha rasakan.
"Kalau kalian merasa keberatan dengan tanggung jawab atas kepercayaan yang Tuhan berikan ke kalian. Baiklah, silahkan tarik semua fasilitas yang ada."
"Arkha." bujuk Lidya berusaha meraih lengan putranya itu. Namun, Arkha langsung menepisnya.
"Perlu kalian ketahui, aku tidak sebaik yang kalian lihat selama ini. Aku anak liar, tapi, kehadiran Vina yang merubah semuanya."
"Vina juga sudah menyaksikan langsung bagaimana kenakalanku. Dari aku minum sampai bawa perempuan ke apartemen lama. Tapi, dia sangat sabar menghadapi semua itu."
Leon dan Lidya saling menatap tidak percaya.
"Arkha, kamu jangan mengarang cerita demi menolak perjodohan itu!" balas Lidya.
"Aku nggak mengarang cerita, Pa, Ma. Aku bicara apa adanya."
__ADS_1
"Jika kalian masih ragu, kalian bisa minta rekaman cctv di club x x x, mungkin masih ada." Arkha menyebutkan tempat-tempat dimana ia nongkrong bersama teman-temannya dulu.
"Soal Rachel, dia bukanlah wanita high class yang kalian kira. Tanyakan saja, sudah berapa banyak pria yang menikmati tubuhnya!"
Leon dan Lidya langsung menatap tajam pada putranya itu.
"Termasuk kamu?" tanya Leon.
"Aku? hahaha." tunjuk Arkha pada dirinya sendiri. Kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Kriteriaku bukan orang yang keluargaku sudah kenal!" tegas Arkha.
Leon dan Lidya terdiam, mereka masih belum percaya dengan pengakuan Arkha. Dibenak keduanya masih bulat untuk menjodohkan Arkha dengan Rachel, pewaris tunggal orangtuanya. Yang pasti sudah menjamin aset-aset tidak akan habis. Rusdy dan Leon memiliki nasib yang sama, yaitu kehilangan anak yang lain sehingga menyisakan satu orang anak saja.
"Mama nggak peduli, pokoknya kamu harus bisa menerima Rachel. Lagipula, Mikha pasti nggak akan ngizinin kamu untuk pulang hari ini!" tegas Lidya.
"Aku sudah izin lebih dulu ke Mikha dan dia jauh lebih pengertian karena tidak mau membiarkan mamanya sendirian terus." balas Arkha.
Ketiganya terdiam. Beberapa menit kemudian Arkha meninggalkan kedua orangtuanya dan tak lama kemudian ia kembali sembari membawa koper.
"Arkha, kamu jangan becanda, nak." bujuk Lidya.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya, Ma."
Arkha menatap ayahnya.
"Sekarang terserah Papa, bagaimana nasibku di perusahaan Papa. Aku siap menerima keputusan yang akan Papa buat."
"Kalaupun hari ini adalah hari terakhir aku bergabung, no problem, aku terima. Arkha tunggu, yang pasti perjodohan dengan perempuan itu, nggak akan pernah terjadi!"
"Istriku hanya satu, VINA!"
__ADS_1
Di saat suasana tegang, ponsel Leon berdering dan ia langsung menjawabnya.
"Terserah kamu, Arkha. Mau pulang sekarang atau besok, dan kamu harus siap dengan semua keputusan yang akan datang!" tegas Leon yang langsung meninggalkan istri dan anaknya.