
Suasana malam sangat hening, cahaya lampu pun sudah beralih ke lampu tidur. Vina dan Mikha terlihat begitu nyenyak.
Meskipun tidak menyukai Vina, kaki Arkha terasa berat untuk meninggalkan kamar ini, ia ingin mendekati keponakannya itu. Terdapat keinginan untuk membawa Mikhael ke kamarnya agar pengaruh buruk di dalam pikiran dan hatinya bisa sirna dengan menatap sang keponakan sampai ia bisa tertidur.
''Kalau aku mendekat, gimana nanti kalau justru anak kampung itu yang bangun?'' bathin Arkha yang langsung berdebat dengan dirinya sendiri.
''Dih, malas!''
Arkha memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja.
''Papa.''
Arkha langsung menatap ke arah Mikha yang sebelumnya ia lihat tengah terlelap. Ia baru saja hendak berbalik arah untuk meninggalkan kamar ini.
''Eh, sayang, kamu nggak tidur ya?'' tanya Arkha.
Mikha langsung berusaha untuk duduk, ia melihat wanita di sebelahnya itu masih terlelap. Dari wajahnya menunjukkan sangat lelah, saking nyenyaknya, Vina tidur dengan mulutnya yang sedikit terbuka.
''Aku kebelet pipis, Pa.'' ujar Mikha yang sudah fasih memanggil om-nya dengan panggilan papa.
''Ya sudah ayo Papa temani.'' ajak Arkha.
Arkha mendekati ranjang dan menuntun Mikha yang hendak turun. Melihat Mikha yang masih dalam kondisi mengantuk membuat Arkha harus hati-hati.
''Dasar kebo! nggak bangun-bangun juga!'' bathin Arkha mengomel.
Karena masih dalam kondisi mengantuk, Mikha berjalan hampir menabrak-nabrak, untung saja ada Arkha yang menjaganya sehingga tidak sampai terjadi Mikha menabrak dinding yang ia lalui itu.
''Papaa, mau bab juga.'' ujar Mikha setelah ia duduk di kloset.
__ADS_1
Arkha pun langsung menepuk keningnya sendiri.
''Ya, Papa tungguin di depan pintu ya.'' jawab Arkha tanpa membantah, meskipun ia pasti jenuh duduk di depan toilet.
''Iya Pa.'' jawab Mikha.
Disaat Mikha sedang berusaha mengeluarkan kotoran di dalam perutnya, Vina menggeliat dengan mata masih terpejam. Tangannya menepuk-nepuk kasur sampai tiga kali, ia tak merasakan ada manusia lain. Ia langsung membuka matanya, dan ketika ia tak menemukan siapapun, Vina langsung menghidupkan lampu besar. Keduanya matanya langsung terbelalak dan mengitari di seluruh ruangan itu.
"Mikha mana?" gumam Vina.
''MIKHA!'' seru Vina yang langsung turun karena seketika kantuknya hilang setelah tidak menemukan keberadaan Mikhael.
''Mikha di kamar mandi!'' jawab Mikhael yang mendengar suara Vina, karena pintu kamar mandi tidak di tutup.
Sementara Arkha yang menunggu sang keponakan sampai bisa terkantuk-kantuk, mendengar suara keras membuatnya langsung spontan mendongak.
''Ada apa, Mikha?'' tanya Arkha.
Di saat yang sama, Vina pun menyusul ke kamar mandi. Ia langsung bernapas lega setelah mendapati pria kesayangannya itu baik-baik saja.
''Eh, Tuan, kok bisa ada di sini?'' tanya Vina yang terkejut dengan keberadaan Arkha.
''Ya, terserah saya dong. Lagian kalau nggak ada saya, Mikha bisa kenapa-kenapa karena nggak ada yang nemani. Kamu malah enak-enakan tidur!'' jawab Arkha pelan tetapi ketus.
Keduanya berbicara sama-sama lirih, tetapi setiap kata yang keluar dari mulut Arkha selalu dipenuhi penekanan.
"Kenapa sih jawabnya harus kayak gitu?" bathin Vina kesal.
Vina hanya bisa bersabar, ia tidak boleh kaget dengan kata-kata seperti itu.
__ADS_1
''Tuan boleh kembali ke kamar dan lanjutkan istirahatnya, biar saya yang nunggu Mikha di sini.'' ujar Vina tidak enak.
Tanpa menjawab, Arkha langsung beranjak. Tetapi suara Mikha langsung menghentikan langkahnya.
''Papa mau kemana?!'' seru Mikha sembari membersihkan dirinya.
''Emmm, nggak kemana-mana kok.'' jawab Arkha dengan menggaruk tengkuknya.
Vina melirik suaminya itu, ia memiliki firasat yang tidak enak. Sepertinya Mikha akan membuat kejutan untuk mereka. Tiba-tiba jantung Vina berdebar-debar.
''Mikha sudah selesai?'' tanya Vina mengalihkan degup jantungnya yang berdebar-debar. Ia hendak gantian masuk ke dalam setelah Mikha selesai.
''Sudah, Ma.'' jawab Mikha.
Untuk seusia Mikha, tentu saja ia sudah diajarkan untuk membersihkan sendiri bagian dalam dari tubuhnya. Vina hanya sekedar mengawasi dan mengontrol hasil kerja anaknya itu.
''Mikha jangan kemana-mana dulu ya, Mbak eh Mama mau buang air sebentar.'' ujar Vina yang masih belum terbiasa dengan panggilan mama.
''Iya Mama.'' jawab Mikha nurut.
Di dalam kamar mandi, Vina mencuci wajahnya dan mengusap-usap kasar.
''Jangan sampai Mikha minta manusia itu untuk tidur disini.'' bathin Vina.
Vina pusing dengan pikirannya sendiri yang masih plin-plan, ia ingin membuat pernikahan ini dijalani dengan sebenarnya. Tetapi, ia takut jika pria itu ada di dekatnya. Tentu saja alasannya karena pria itu tidak mencintainya untuk saat ini.
Vina tidak buang air, ia hanya beralasan saja karena ingin membuat degup jantungnya berkurang. Setelah merasa lebih baik, ia langsung keluar.
''Kita tidur bersama 'kan?'' tanya Mikha setelah Vina sudah keluar dari kamar mandi dan mendekatinya yang sudah berada di atas ranjang lagi dengan ditemani oleh Arkha.
__ADS_1
''APA?!'' pekik Arkha dan Vina bersamaan.