Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 60 : Tetap Bersama Saya


__ADS_3

Tatapan Arkha lurus ke depan, ia tidak secerah tadi. Tatapan mata itu seperti Arkha yang dulu, tatapan tajam yang ditakuti oleh Vina. Vina pun hanya bisa melirik-lirik sekilas sembari bertanya-tanya didalam hati apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu. Kecemasan itupun langsung singgah di dalam hatinya.


Sampai tiba di apartemen pun keduanya masih sama-sama tanpa percakapan. Vina merasa Arkha telah kembali seperti semula dan menganggap sikap manis kemarin-kemarin adalah hal konyol yang ia anggap itu perubahan pada diri Arkha.


"Terlalu percaya diri kamu, Vin." bathin Vina.


Setelah mereka sudah di dalam, Vina langsung menuju dapur untuk mencuci tangan. Ia benar-benar tidak berani untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Eh, Tuan kenapa begini?" Vina langsung mematikan kran air.


Tiba-tiba Arkha memeluk Vina dari belakang dan menempelkan dagunya di bahu Vina.


"Kalau seandainya ini perasaan jatuh cinta saya lagi, tolong jangan pernah berhenti untuk tetap bersama saya dalam kondisi apapun." pinta Arkha.


Vina langsung berbalik badan setelah Arkha mulai mengurai pelukannya.


"Jadi ini yang bikin Tuan Arkha dari tadi diam?" tanya Vina.


Arkha mengangguk.


"Jangan khawatir, saya selalu ada di sini." balas Vina lalu memeluk Arkha dengan erat.


Arkha mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Vina. Dengan seiringnya waktu, mungkin cinta itu akan tumbuh tanpa disadari. Hingga saatnya nanti Arkha akan mengungkapkannya secara resmi.


"Maafkan saya karena tadi sudah sempat berburuk sangka." bathin Vina menyesali atas dugaannya terhadap suaminya sendiri.

__ADS_1


.........


Pagi itu Vina mendapatkan kabar dari keluarganya di kampung. Saudaranya akan menggelar acara hajatan dan bermaksud untuk mengundang Vina supaya hadir di kampung. Perempuan itu sangat antusias, apalagi bisa bertemu dengan keluarga, tetapi ia belum sempat menyampaikan pada Arkha karena posisinya sedang tidak nyaman.


"Lagipula, aku nggak yakin kalau tuan Arkha mau ikut, apalagi acaranya di kampung yang harus berbaur dengan banyak orang. Tapiiii, setidaknya 'kan aku bisa pulang sendiri dan beralasan kalau suamiku sangat sibuk." bathin Vina.


"Tapikan emang beneran sibuk." sambungnya.


Setelah selesai mengerjakan pesanan-pesanan yang akan diambil besok, Vina langsung menandai lembaran kertas warna-warni di dinding agar bisa membedakan mana yang sudah selesai atau belum.


"Pulang dulu aja nggak papa, Vin." ujar senior Vina yang tengah menyelesaikan satu pesanan.


"Iya Kak, sebentar lagi." jawab Vina.


.........


"Hey, kenapa kok berdiri disitu?"


"Sini dong." panggil Arkha yang tanpa sengaja menoleh dan melihat keberadaan Vina.


"Ehh, iya." jawab Vina langsung melepaskan dua jari telunjuknya yang spontan saling beradu.


Arkha langsung menutup laptopnya dan memberikan tempat untuk Vina duduk


"Ada apa?" tanya Arkha.

__ADS_1


"Emmmm, itu, Tuan, anu ...,"


Vina langsung menggaruk kepalanya, sedangkan Arkha malah terkekeh melihat tingkah Vina yang gugup.


"Kata kamu, wajah saya ini tampan, kok mau bicara saja kayak ketemu setan?"


"Slow, tarik napas dalam-dalam, keluarkan pelan-pelan, ayo bicara apa?" lanjut Arkha.


Vina langsung nyengir dan mengikuti instruksi dari Arkha.


"Hehe, itu Tuan, waktu itu 'kan ibu saya nelfon, terus itu, emmmm, ngabari kalau paman mau ada acara dan minta kita buat hadir."


"Tapi, Tuan pasti sibuk 'kan? jadi saya bisa kok pulang sendirian, sudah biasa, ehehe."


"Kapan?" balas Arkha.


"Tanggal 29 bulan ini." jawab Vina.


Arkha langsung membuka ponselnya untuk melihat aplikasi kalender.


"Kita lihat nanti, kamu bilang saja kita usahakan untuk datang." ujar Arkha.


Selain khawatir dengan kesibukan sang suami, Vina juga memikirkan bagaimana cara Arkha harus memaksakan diri untuk bergabung bersama orang-orang dilingkungan kampung. Bagaimana cara bergotongroyong saat ada kesibukan, karena disaat acara seperti ini, masyarakat di kampung sudah biasa melakukan secara bersamaan saling membantu. Sementara Arkha, ia belum pernah melakukan hal itu sama sekali. Vina lebih khawatir kedua orangtuanya yang akan menjadi bahan pergunjingan para tetangga karena memiliki menantu yang sombong.


"Ah, pasti nggak ikut, jadi aku cuma datang sendiri." bathin Vina yakin.

__ADS_1


__ADS_2