
Dicky mengejar langkah Arkha yang sudah mendahuluinya. Ia sedikit berlari untuk menyamakan langkah Arkha karena ada beberapa berkas di bangku belakang dan Arkha tidak menunggunya.
"Tuan, maaf sebelumnya ... saya perhatikan, beberapa hari ini, anda sering murung, Tuan. Apa anda sedang memiliki masalah besar?" selidik Dicky ketika mereka sudah berada di dalam lift.
Arkha menoleh sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Ehm! biasa saja!" jawab Arkha.
"Ini sungguh tidak biasa, Tuan. Seketus apapun anda selama ini, anda tetap berisik kepada saya tanpa mempedulikan telinga saya yang sudah panas."
Dicky hanya berani berbicara didalam hatinya karena ia sudah menduga bahwa Arkha sedang tidak dalam kondisi mood yang baik.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Arkha juga langsung melangkah dengan cepat menuju ke ruangannya.
"Saya akan langsung pulang setelah ini." ujar Arkha saat melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 17.15 wib.
Kantor sudah sepi, karena memang sudah melewati jam pulang kantor. Hanya ada beberapa yang sedang lembur dan juga office boy dan office girl yang tengah mengerjakan tugasnya untuk bersih-bersih.
__ADS_1
"Baik Tuan." jawab Dicky yang langsung meninggalkan bosnya itu dengan membawa beberapa berkas.
Arkha menoleh sekilas memastikan Dicky sudah meninggalkannya. Setelah memastikan, ia langsung masuk ke ruangannya.
"GUE KESAMBET APA, HAH!?"
"BISA-BISANYA HAL ITU TERJADI!"
"KENAPA HARI ITU PIKIRAN INI JADI NGGAK WARAS!"
"****!! GUE BELUM MAU DIRIBETIN SAMA PEREMPUAN HAMIL!"
BUG!
Arkha terus berteriak didalam ruangannya sampai meninju dinding. Tangannya mengeluarkan darah karena pukulan itu sangat keras. Namun, ia seperti tidak merasakan sakit.
Arkha menyadari resiko dari apa yang mereka lakukan hari itu adalah hamil. Meskipun tidak semua hubungan suami istri akan langsung jadi dan Vina pun belum mengatakan apapun. Namun, apa yang dipikirkan oleh Arkha dan juga Vina tentu saja hal yang wajar.
__ADS_1
Arkha menunduk sembari memukul-mukul kepalanya sendiri. Keesokan harinya saat itu, ia langsung dihantui oleh perasaan cemas dan terus merutuki diri.
Sementara di apartemen, Vina sudah selesai beres-beres dan juga masak untuk makan malamnya. Ia melihat jam, belum ada tanda-tanda Arkha pulang. Wajahnya menjadi sendu, helaan napas panjang ia lakukan agar tidak terlalu cemas.
"Aku tidak menyesal memberikannya pada seseorang yang halal untukku, tapi, kenapa harus seperti ini, ya Allah?" gumam Vina.
"Harus sesulit inikah prosesku untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya?"
Vina melirik jam lagi, lalu menatap pintu, masih belum ada tanda-tanda.
"Ya ya ya, kamu harus sadar dan juga sabar ya, Vin ... mungkin yang kamu tunggu kedatangannya sedang mencari kepuasan ditempat langganannya." gumam Vina lagi.
"Padahal, aku sudah berusaha untuk selalu bersedia melayanimu, Tuan." pungkas Vina yang akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamar karena waktu sudah menjelang Maghrib dan Arkha masih belum pulang juga.
Arkha masih berdiam diri di dalam mobilnya meskipun ia sudah sampai di parkiran apartemen. Ia memantau dari layar ponselnya untuk melihat situasi di dalam apartemennya.
"Ngapain sih dia nungguin?" gumam Arkha.
__ADS_1
"Apa dia berharap lagi?"
Arkha langsung mendesis keras, lalu menepis bayang-bayang yang terus membuatnya terganggu. Melihat Vina sudah masuk ke kamar, ia langsung bergegas menuju apartemennya. Ia sedang butuh hiburan karena fisik dan pikirannya benar-benar terkuras beberapa hari terakhir.