Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 28 : Berikan Padaku Sekarang Juga


__ADS_3

Arkha menoleh sembari melipat kedua tangannya tanpa menjawab.


Vina kembali menguap dengan menutupkan telapak tangannya ke mulut. Tetapi ia langsung ke kamar mandi karena ada yang harus ia buang. Ia juga harus mencuci wajahnya yang ia takutkan terdapat air liur yang menetes.


"Sejak kapan dia masuk? kenapa diem aja sih? 'kan bisa dibangunkan? atau sudah dibangunkan, tapi, akunya yang kayak kebo?" gumam Vina sembari membasuh wajahnya.


Tak lama kemudian, Vina kembali ke sofa. Arkha masih menonton drama itu sehingga membuat Vina terheran-heran.


"Maaf Tuan, saya ketiduran dan tidak dengar anda masuk ke kamar ini." ucap Vina.


"Ya." jawab Arkha singkat.


Vina melirik layar televisi, ia heran kenapa justru Arkha melanjutkan nonton drama itu. Namun, Vina langsung melotot saat melihat adegan kissing lagi. Ia langsung mengambil remote di meja.


"Eh eh! Tuan mau ngapain sih? kembalikan remotenya." pinta Vina.


"Kamu tidak menghargai saya sedang menonton? pasti mau kamu matikan 'kan!" protes Arkha setelah berhasil merebut remote itu.


"Kata anda 'kan drama itu tidak bagus, ya-ya sudah mau saya matikan saja." jawab Vina gugup.


Arkha sudah mengangkat remote itu dan menyimpan di belakang punggungnya, sedangkan Vina berusaha untuk merebutnya kembali.


"Tolong dimatikan saja, Tuan. Anda bisa lanjut menontonnya dikamar anda sendiri 'kan?" pinta Vina yang menyerah dan merasa malu.


Tidak ada jawaban apapun, tapi, beberapa detik kemudian Arkha menatap Vina setelah mematikan tayangan drama yang sudah berakhir itu.


"Ke-kenapa anda menatap saya seperti itu, Tuan? ma-maaf kalau saya sudah tidak sopan." ucap Vina sembari mundur.


"Kamu tau? saya tidak hanya ingin menontonnya saja, tapi, saya mau melakukannya!" balas Arkha dengan suara penekanan.


Vina langsung terbelalak mendengar kalimat itu. Badannya pun merinding seketika. Apalagi Arkha yang sudah bergerak maju.


"Bukankah kamu juga ingin mewujudkan apa yang sudah kamu tonton?" bisik Arkha semakin membuat Vina bergidik.


"Tttt-tapi, Tu-Tuan."


Vina semakin gugup menatap wajah Arkha yang hanya berjarak sekitar 3 centimeter saja dengan seringai senyum yang penuh arti itu.


Posisi Vina sudah condong ke belakang, ia menggunakan tangan kirinya untuk menahan tubuhnya supaya tidak ambruk.


Saat Vina masih sibuk dengan pikirannya yang takut, Arkha langsung meraih tengkuk Vina dan menahannya. Dadanya pun terasa bergetar hebat, ia begitu sangat ingin melakukannya saat ini dan juga pada istrinya sendiri. Arkha tidak mengingat lagi bagaimana janjinya sendiri mengenai pernikahan ini.

__ADS_1


Vina hanya bisa memejamkan matanya kuat-kuat saat Arkha menghembuskan napas lalu menjilat telinganya. Vina kembali disadarkan bahwa Arkha adalah suaminya dan berhak menerima semua ini.


Sofa di kamar Vina tidak besar sehingga membuat Arkha tidak leluasa untuk bergerak. Ia langsung membopong tubuh Vina dan pindah ke ranjang.


Deru napas Vina terlihat dari dadanya yang naik turun. Ia tidak tau harus bagaimana. Ia melihat Arkha tengah melepaskan kaos oblongnya setelah menurunkannya di ranjang, lalu meletakkan ponsel yang ada disaku celana ke meja nakas.


Arkha kembali naik ke atas ranjang Vina. Dengan satu tangannya yang ia gunakan untuk menahan tubuhnya, ia menelusuri setiap inchi wajah sang istri.


"Berikan padaku sekarang juga." bisik Arkha dengan suara yang sudah dipenuhi oleh rasa inginnya.


Vina tidak menjawab, ia langsung memejamkan matanya lagi.


Arkha kembali memulai pemanasannya di bibir. Sementara satu tangannya juga tidak tinggal diam menelusup perkebunan pepaya kembar. Vina semakin keringat dingin membayangkan mahkotanya benar-benar akan ada yang menembusnya.


Seperti yang pernah dilakukan waktu itu, semakin lama Arkha semakin panas. Saat Vina masih sibuk menahan agar suaranya tidak keluar, Arkha sudah membuat tanda kepemilikan dilehernya.


"Buka mulutmu dan balaslah." bisik Arkha


Vina langsung membuka matanya dan keduanya saling menatap lekat sangat dekat. Bibirnya terasa berat untuk menjawab satu katapun. Ia hanya bisa menatap sembari menelan saliva ketika melihat kening Arkha yang juga berkeringat dan tubuh kekarnya yang kini tengah berada diatasnya itu.


"Awh!" pekik Vina spontan seketika dibawah sana seperti ada yang menyentuh.


Arkha langsung berhenti saat Vina melepaskan tangannya dari lehernya dan sedikit terbatuk-batuk. Ia beralih meraih punggung Vina supaya duduk.


Vina menatap sekilas wajah Arkha lalu menunduk.


"Maaf Tuan, saya tidak memiliki pengalaman soal ini." ucap Vina lirih lalu menunduk.


Arkha hanya menaikkan sudut bibirnya. Ia menatap dua pepaya didepan matanya yang tertutup kaos itu.


Vina hanya diam dan pasrah ketika Arkha melepaskan kaosnya. Keduanya saling menatap dan tersenyum tipis. Meskipun yang dirasakan dan dipikirkan oleh Vina adalah rasa takut bercampur gugup.


Masih terdapat kacamata warna peach sebagai penutup pepaya kembar itu. Arkha meletakkan kedua tangannya di pundak Vina dan mengusapnya hingga tali tersebut turun ke lengan. Vina menatap dirinya sendiri sangat malu. Tapi, dalam benaknya ia berharap hal ini mampu membuat Arkha benar-benar menerima pernikahan ini


Arkha benar-benar melepaskan pengait kacamata itu dan melemparkan ke sembarang arah. Keduanya sekarang sama-sama telanj*ng dada.


Senyum lebar Arkha menunjukkan bahwa ia sangat senang. Sedangkan Vina spontan hendak menutup dadanya karena merasa sangat malu.


"Benar-benar masih seger nih anak, waktu itu gelap jadi nggak kelihatan." bathin Arkha yang sudah tidak sabar berubah menjadi bayi sebelum MPASI.


"Sa-saya malu, Tuan." lirih Vina.

__ADS_1


Arkha hanya menatap Vina sekilas lalu menyingkirkan tangan istrinya itu agar tidak menutupi pemandangan yang indah. Ia menuntun tangan kiri Vina ke dadanya yang bidang itu. Arkha memejamkan matanya menikmati.


Lima menit sudah Arkha berubah menjadi bayi. Ia juga sudah kembali membuat tanda-tanda merah seperti yang pernah ia buat sebelumnya. Hanya saja, dulu dalam keadaan tidak sadar dan tidak dalam pencahayaan yang normal.


"Bersiaplah." bisik Arkha sembari mengusap telinga Vina dengan hidungnya.


Vina seperti orang bod*h yang justru hanya bingung harus merespon bagaimana. Sementara Arkha tak menunggu jawaban dari Vina, ia sudah turun dengan meletakkan kedua tangannya disisi celana yang Vina kenakan.


"Aaaaaaa! saya takut!" seru Vina langsung spontan duduk dan menahan tangan Arkha.


"Saya takut, sangat takut!" ujar Vina lagi.


Arkha langsung berdiri. Ia menarik napas panjang, lalu mengusap rambutnya ke belakang.


"Apa yang kamu takutkan, hem?" tanya Arkha.


Vina menggeleng sembari menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya. Ia tidak bisa menjelaskan, tapi, perasaan itu benar-benar ia rasakan.


Arkha kembali menarik napas panjang.


"Saya tidak akan melakukannya secara kasar. Apa yang saya lakukan sudah berhasil membuat tubuhmu memberikan respon positif." ujar Arkha.


"Untuk itu!" Arkha menunjuk pada area mahkota Vina.


Vina pun juga spontan menatap apa yang ditunjuk oleh Arkha.


"Saya juga tidak akan langsung membobolnya sebelum pemanasan dulu."


"A-apa tidak bisa nanti saja? saya takut sakit dan terluka." balas Vina masih berusaha menawar.


Arkha menatap ke samping sembari mendengus kesal.


"Pinjam tangan kirimu." pinta Arkha sembari kembali mendekat.


Vina menatap tangan Arkha lalu beralih ke mata suaminya itu.


"Ayo, pinjam sebentar." pinta Arkha lagi.


"Tidak usah kamu tutup, saya sudah merasakannya." ujar Arkha saat Vina masih sibuk menutupi pepayanya.


Vina berusaha menutupi pepayanya dengan tangan kanan. Sementara dengan keraguan, ia memberikan tangan kirinya yang ntah akan diapakan oleh Arkha.

__ADS_1


__ADS_2