
Arkha naik ke ranjangnya lebih dulu dan memberikan ruang untuk istrinya. Sedangkan Vina terlihat ragu karena sudah pasti perasaannya sangat gugup.
"Tuan, saya sedang datang bulan." ujar Vina.
Arkha terdiam dan ingin tertawa. Apa yang dikhawatirkan Vina sebenarnya sudah pasti ada dipikirannya. Namun, ia menyembunyikan hal itu dengan senyuman yang sepertinya tidak mempermasalahkan.
"Saya hanya minta kamu temani saya tidur. Apa kamu sebenarnya yang sudah sangat merindukan tubuhku?" balas Arkha.
Vina pun langsung melotot. "TIDAK!"
"Janji ya, jangan paksa lakukan itu." pinta Vina.
Arkha terkekeh sampai menunduk.
"Yaa, sini cepetan. Apa mau tidur sambil berdiri terus?" tanya Arkha.
Vina nyengir kuda dengan jari-jarinya yang menggenggam kuat.
Dengan keraguan dan ketakutan, akhirnya Vina naik ke ranjang bersama Arkha. Setelah itu, Arkha mengubah lampu dikamarnya supaya tidak terlalu terang.
"Apa kamu benar-benar percaya bahwa cinta itu ada?" tanya Arkha.
Keduanya bersiap-siap untuk tidur, tapi, mereka masih menyandarkan punggungnya dengan selimut yang menutupi kaki.
Vina menoleh sembari tersenyum.
"Saya sangat percaya cinta itu ada, Tuan." jawabnya.
__ADS_1
Arkha masih menatap Vina. Sementara Vina menghela napas dalam-dalam, lalu balik menatap suaminya itu lagi.
"Semua manusia normal merasakan dan mempercayai apa itu cinta, Tuan."
"Hanya saja, dari cerita yang pernah saya baca, ada sesuatu yang membuat manusia normal itu masih enggan untuk menjalin hubungan dengan orang lain dalam sebuah ikatan cinta."
"Bukan dia tidak percaya, tapi, dia memiliki cerita atau kisah yang membuatnya trauma. Contohnya seperti pernah dikhianati, atau di tinggal pasangannya pergi selamanya. Yaah, itu semua hanya orang itu sendiri yang bisa mengatur waktunya. Dia sendiri yang tau bagaimana kondisi hatinya kapan rasa cinta itu tumbuh tanpa bayang-bayang cerita di masa lalu."
Arkha tersenyum tipis sembari mengangguk samar-samar.
"Maaf, apa anda sedang dalam kondisi itu?" tanya Vina hati-hati.
Arkha menunduk dalam tanpa memberikan jawaban. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat kepalanya dan menatap Vina.
"Ya, ya, sepertinya saya sedang dalam fase itu." ungkapnya.
Arkha menatap lurus ke depan, wajahnya yang dalam cahaya samar-samar itu masih terlihat menahan sebuah amarah.
Vina tidak berani langsung merespon dengan kata-kata, ia mengusap punggung tangan suaminya.
"Kalau anda butuh tempat untuk bercerita, saya siap mendengarkan. Mungkin saya tidak memberikan solusi yang sesuai dengan keinginan anda. Tapi, setidaknya bisa mengurangi beban yang ada dipikiran anda selama ini." ujar Vina.
Vina yang takut kalau Arkha akan melampiaskan emosinya kepadanya pun berubah heran saat Arkha tersenyum sembari menumpukkan tangannya.
"Saya pernah memiliki tujuan untuk serius dengan seorang wanita, saya sangat mencintainya. Namun, pada akhirnya saya harus kecewa."
"Dan, semuanya nggak berhenti di situ. Saya harus menghadapi kekecewaan itu setiap hari. Saya harus menampilkan senyum palsu saya yang seakan semuanya baik-baik saja, sampai waktu yang bisa membuat saya menerima dengan terlihat baik-baik saja."
__ADS_1
Vina masih mencerna apa yang dikatakan oleh Arkha sampai keningnya mengernyit.
"Almarhumah ibunya Mikha adalah masa lalu saya. Saya sangat mencintainya kala itu. Tapi, memang hubungan kami belum diketahui keluarga karena kami masih anak remaja dan saya belum bisa berbuat apa-apa yang menjamin masa depan."
"Hingga pada akhirnya, papanya Mikha mengutarakan ke keluarga bahwa dia sedang mencintai seseorang. Saat itu, dia menunjukkan sebuah foto."
"Dan, yaaah, saya tidak melakukan apapun selain menahan kesedihan dan amarah. Apalagi tidak lama kemudian, wanita itu mengakhiri hubungan dengan saya dengan alasannya."
Vina langsung memeluk suaminya itu tanpa ragu.
Arkha tersenyum tipis lalu membalas pelukan dari Vina sembari lebih mendekat. Tak lama kemudian, Arkha mengurai pelukannya dan menatap Vina.
"Tapi, kamu jangan khawatir bagaimana saya dengan Mikha."
"Saya sudah menerima semua itu karena bagaimanapun kita adalah keluarga. Begitu juga dengan Mikhael, saya sangat menyayanginya seperti menjadi anak saya."
"Abang saya orang yang sangat baik, begitu juga dengan istrinya. Mereka sangat serasi, tidak seperti saya yang mudah terpancing emosi. Dan, Tuhan menakdirkan mereka menjadi pasangan sehidup semati. Sementara saya masih diberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan ini."
"Tuan, yang sabar ya. Tidak ada kesedihan yang tidak disertai dengan hikmah." balas Vina dengan suara lembut.
Arkha mengangguk, lalu menatap jam di dinding, ternyata sudah dinihari.
"Terima kasih sudah mendengarkan cerita saya. Sekarang kita tidur." ucap Arkha.
Vina mengangguk, ia juga tidak berani untuk bicara panjang lebar karena takut malah salah berbicara. Mungkin saja kali ini Arkha hanya sedang membutuhkan seorang pendengar.
Vina yang hendak kembali bergeser ke pinggir pun ditahan oleh Arkha. Arkha mengambil bantal Vina dan menjejerkan dengan bantalnya.
__ADS_1
"Tidurlah." suruh Arkha yang masih duduk.
Vina pun nurut sembari menutupkan selimut sampai ke hidungnya.