
Mereka takut Vivi menggunakan skill tersembunyi yang hanya dimiliki oleh keluarga Vargas, yakni skill Armored gear yang bisa menaikan 10 rank dalam waktu singkat.
Walaupun begitu, skill tersebut hanya aktif dalam 5 menit dan konsekuensi dari pengguna skill Armored Gear itu, tubuhnya akan lumpuh selama satu minggu setelah skill tersebut non aktif.
“Varen, lalu apa yang akan kita lakukan pada mereka berdua?’ tanya Vivi pada Varen, karena baginya sekarang Varen adalah pemimpin dalam misi penanaman pohon Imperial di wilayah Altelier.
“Biarkan mereka disini. Kalau mereka dilepaskan, takutnya malah akan memberitahukan tempat ini atasan mereka. Jika mereka macam-macam kita habisi saja di tempat,” jawab Varen dengan nada tegas.
Freya dan Venesis langsung bergidik ngeri mendengar jawaban Varen. Mereka berdua memang tak ingin ada niatan untuk pulang, malah ingin kabur dari zona masing-masing.
Mereka berdua sudah lelah dengan peperangan yang tidak ada habisnya dan tidak memiliki tujuan itu. Mereka berperang atas nama perintah atasan bukan atas nama keadilan.
***
Keesokan paginya.
Varen semalaman mengotak-atik papan ketik digital dan mempelajari data yang diberikan oleh Rothschild mengenai tanah di permukaan wilayah Atelier yang terpapar radiasi energi Burst yang terlalu berlebihan.
Sementara Venesis dan Freya merapikan semua ruangan yang berada di dalam kamp bawah tanah tersebut. Sedangkan Vivi menghitung dan merapikan seluruh persediaan makanan yang berada di gudang logistik.
Semuanya bekerja keras untuk bertahan hidup di wilayah Altelier yang tidak memiliki sumber air, tanahnya tandus dan juga tidak bisa ditanami tanaman. Akibat paparan radiasi energi Burst yang terlalu berlebihan.
“Hoaaam … lelah sekali rupanya mata ini. Tapi dengan 20 Combat Drone menyisir dan melakukan patroli wilayah dalam radius 2 km. Kita cukup aman disini, jika ada tentara lain yang menyerang maka kita bisa mengeksekusinya dengan Combat Drone.”
Varen mengucek matanya yang sudah ngantuk, akibat begadang semalaman untuk melakukan pemindaian wilayah menggunakan Combat drone dengan mode pandangan malam.
Dia banyak menemukkan informasi yang penting, seperti mayat para tentara monster dari kedua zona ternyata menjatuhkan sebuah bola kristal dan Varen menemukan sumber air di air terjun, tapi dijaga ketat oleh tentara dari zona Warlord.
__ADS_1
“Varen, beristirahatlah! Kamu sudah semalaman bekerja keras.” Vivi menyelimuti punggung Varen dan memeluknya dari belakang supaya calon suaminya hangat.
Venesis dan Freya yang melihatnya merasa iri dengan kemesraan mereka berdua. Ditambah lagi Varen memiliki wajah yang dibilang super tampan bagi seorang ras Imperium.
“Apa kamu?” Freya melotot ke arah Venesis yang sedang terdiam memegang gagang sapu.
“Kamu apa? Mau berkelahi? Hah! Ayo aku siap!” Venesis menggulung lengan bajunya.
Tentu saja mereka tidak akur, sebab dari dua zona yang selalu berperang. Ditambah lagi rasa sakit itu masih ada, saat sahabat-sahabat mereka berdua terbunuh oleh tentara dari kedua zona yang masih memiliki api kebencian yang sangat besar.
Vare yang sedang mengantuk mendengar Vensisi dan Freya ribut dan sedang berkelahi malah kesal. Dia bangkit dengan tatapan nyalang dan mendekati mereka berdua. Lalu menampar mereka berdua, hingga akhirnya berhenti.
“Kalau kalian memang tidak bisa akur. Habisi saja satu sama lain.” Varen dengan tatapan tajam mengeluarkan Black Dagger dan memberikannya pada Venesis juga Freya. “Silahkan saling tikam biar kalian tidak membebani kami.”
Mereka berdua terdiam dengan menunduk, lalu Vivi menimpali, “Aku sangat paham dan tahu saudara kalian, keluarga kalian, sahabat kalian atau bahkan pasangan kalian telah mati di medan perang dan yang membunuhnya adalah musuh kalian ini.” “
Tapi apakah orang yang kalian sayangi itu akan senang di alam sana setelah kalian membalaskan dendamnya?”
"Ayo, silahkan saling tikam saja! Kenapa kalian diam? Apakah kalian tahu? Kedua orang tuaku mati oleh ketidakpedulian zona Warlord dan yang aku tahu zona Dracones yang membunuh mereka."
"Tapi masih ada orang-orang yang peduli terhadap ras Imperium sepertiku, punya sikap toleran yang sangat tinggi, tidak memperturutkan rasa dendamnya, dan juga tidak membenciku, serta menyayangiku walau berbeda ras."
"Maka dari itu aku memutuskan cara lain membalaskan dendamku pada orang yang telah membunuh kedua orang tuaku, yakni dengan menciptakan dunia yang saling mengerti satu sama lain dengan kekuatanku," tegas Varen.
Freya dan Venesis merasa tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Varen degan dunia yang saling mengerti satu sama lain.
Akhirnya mereka berdua menjatuhkan Black Dagger, lalu berpelukan, "Maafkan aku," kata Freya dan Venesis serentak.
__ADS_1
Mereka tidak menyangka, jika ras Imperium yang sangat dibenci oleh ras Dragonoid, mampu hidup berdampingan dan iu bukti nyata ada di depan mata mereka berdua.
Tiba-tiba alarm darurat yang terhubung ke seluruh kamera Combat Drone berbunyi dan papan ketik digital yang mempunyai layar antarmuka digital menyala merah.
Di layar antarmuka digital tersebut menunjukan 1 km di arah timur, ada sekelompok tentara dari zona Warlord sedang menyisir bekas pertempuran tentara zona Abyss dan tentara zona Seravee.
"Gawat! Ras Warbeast memiliki ketajam indra penciuman. Jika mereka berhasil menemukan tempat ini, maka kita takkan menang melawan jumlah tentara sebanyak itu," kata Vivi panik, "Apalagi mereka semua ditahap rank Elite bintang dua dan jumlah ada 100 tentara."
“Aku akan maju,” geas Varen dengan tatapan tajam seperti manik mata Elang. “Vivi, bantu aku kendalikan 20 Combat Drone! Bisa?”
“Bisa,” tegas Vivi.
“Hati-hati. Ras Warbeast sangat ahli dalam pertarungan jarak dekat.” Freya mengingatkan.
“Aku akan bantu kamu terbang menggunakan skill yang bisa membuatmu terbang dan menyerangnya dari ketinggian,” usul Venesis. “Dark Fly!”
Varen mengarahkan kedua tangannya ke arah Black Dagger yang dipegang oleh Venesis dan Freya.
“Arc Moon: Gauntlet Crossbow!” seru Varen yang sudah melayang tubuhnya oleh skill Dark Fly yang dilepaskan oleh Venesis.
Kedua belati hitam tersebut berubah menjadi cairan hitam seperti cairan symbiote dan berubah menjadi Gauntlet Crossbow yang terpasang di kedua lengan atasnya.
Freya dan Venesis tersentak kaget. Melihat Varen bisa menggunakan skill konversi energi Burst menjadi sebuah senjata. Di semua zona monster, skill tersebut merupakan skill tingkat tinggi dan hanya para rank Legendary yang bisa melakukannya.
“Mustahil?!” gumam Freya dan Venesis serentak dengan mata membola.
“Sudahlah, terkejutnya nanti saja,” kata Varen menyadarkan dua wanita beda ras tersebut.
__ADS_1
Venesis menggerakan telapak tangannya untuk menggerakan tubuh Varen, dan merek berdua terbang bersama keluar dari kamp bawah tanah.
Varen mengaktifkan skill Eagle Eye untuk melihat para tentara zona Warlord. Ternyata mereka sudah dekat berjarak 1 km dari kamp bawah tanah. Tentara yang memakai armor dengan kedua kepala singa di bahu mereka tersebut, menyebar keempat arah untuk melakukan patroli.