
Pesawat Jijo berbentuk Jet Hercules telah terbang dari hanggar akademi militer Enerkyl dengan kecepatan maksimal dan akan sampai di Altelier esok harinya.
Pesawat Jijo menggunakan teknologi stealth yang ta bisa dilacak maupun dideteksi oleh radar manapun, bahkan skill pendeteksi tingkat tinggi, kecuali yang mendeteksinya para rank Primordial dan rank Legendary.
Kapten pesawat harus mencari jalan udara yang amna demi menghindari bentrokan dari pesawat militer zona lain. Tentu saja membuat Varen dana Vivi sangat tegang di dalam pesawat. Sebab hanya mereka berdua yang dikirim ke Altelier.
“Vivi, maafkan aku. Ini semua gara-gara aku jadi kamu terlibat —”
“Bukan, justru ini semua karena keluargaku yang memintamu menjadi calon suamiku. Kamu malah tterseret dalam masalh ini,” potong Vivi, “Kaku apa rencanamu ketika sampai di Altelier yang sangat gersang tersebut.”
“Entahlah, aku belum bisa membaca kondisi Altelier saat ini. Yang jelas kita berdua harus bertahan hidup disana dan aku pasti akan melindungimu,” jawab varena dan memeluk sang calon istri yang mempunyai badan seksi ketika mengenakan cyborg armor suit berwarna merah tersebut.
Tak terasa pesawat sudah masuk dalam wilayah udara Altelier dan kapten langsung membuka dek untuk melempar mereka berdua keluar. Seba tak mungkin menurunkan pesawat di zona medan perang seperti itu.
“Kadet Vare Arsha dan Kadet Vanessa Vargas, bersiap!” teriak Kapten Giorgio melalui pengeras suara dan menekan tombol untuk melontarkan mereka berdua dari kursi duduknya.
SWUSH!
Mereka berdua langsung terlontar keluar sambil berpelukan dan Vivi mengeluarkan kedua sayapnya untuk menyeimbangkan tubuh mereka berdua dengan mengepakannya.
Di wilayah barat Altelier terlihat kepulan cahaya disertai suara dentuman yang cukup keras. Tampaknya telah terjadi bentrokan antara pasukan zona Abyss dengan zona Seravee.
“Arc Divination: Eagle Eye!” seru Varen mengaktifkan persepsi pandangan mata jarak jauh.
Kedua matanya terus bergerak mengamati keadaan sambil memeluk pinggang Vivi, “Dari bentuk tubuh mereka, sepertinya itu adalah pasukan ras Angel dan pasukan ras Demon sedang berperang. Jumlahnya ada 100 monster,” jelasnya.
“Kemampuan matamu sungguh hebat. Skill Divine perception milikku saja belum tentu bisa melihat seakurat itu,” puji Vivi dan mengepakan sayapnya untuk membuat mereka berdua turun perlahan.
“Tentu saja. Ini semua demi melindungimu,” balas Varen dengan tatapan mesum melihat bibir merah merekah milik Vivi yang begitu menggodanya.
__ADS_1
Vivi pun jadi salah tingkah dan langsung mengepakan kedua sayapnya dengan cepat. Lalu tak sengaja menuju medan peperangan dan mereka berdua akhirnya terdeteksi oleh pasukan Abyss dan pasukan Seravee yang sedang berperang.
Mereka berdua ditembaki bola kegelapan, bola cahaya, proyektil peluru dan anak panah, supaya Vivi dan Varen terjatuh.
Varen bereaksi cepat dengan mengambil botol cairan merah yang berada di tas pinggangnya. Lalu ditenggak sampai habis untuk memulihkan energi Burst yang tak bisa diisi ulang hanya dengan beristirahat.
“Flying Thunder God!” serunya.
Tubuh mereka berdua berkedip untuk berpindah tempat ke ketinggian yang lebih tinggi lagi. Supaya serangan kedua pasukan tersebut tidak dapat menjangkau mereka berdua.
“Pegang aku kuat-kuat!” pinta Varen dan mengeluarkan Blackball yang sudah berubah bentuk menjadi Black Bow. Kemudian membidik ke arah bawah dengan pandangan Eagle Eye, “Explosive Rapid Shot!”
Varen menarik tali busur dan menciptakan anak panah berwarna jingga. Lalu ditembakan bertubi-tubi ke arah pasukan zona Abyss dan pasukan zona Seravee.
BOOM! BOOM!
Rentetan suara dentuman ledakan disertai kepulan cahaya terlihat dari ketinggian 600 meter. Varen melanjutkan serangannya dengan menembakan dua anak panah bertipe ledakan ke dalam lingkaran sihir, “Arrow Rain Storm: Explosion!"
Dari dalamnya keluar ribuan anak panah berwarna merah menghujani kedua pasukan tersebut.
BOOM! BOOM!
Varen langsung kehabisan energi Burst dan lemas. Vivi mengeratkan pelukannya pada pinggang Varen, agar calon suaminya itu tidak terjatuh.
Lalu turun dengan mengedarkan pandangan mengamati keadaan apakah mereka semua telah tewas, atau masih ada yang selamat dari serangan hujan anak panah ledakan yang dilesatkan oleh Varen.
Kepulan debu dan asap yang tebal menghalangi pandangan Vivi. Tapi tetap masih bisa merasakan keberadaan para pasukan itu, kalau ada yang masih hidup.
Skill Divine Perception itu seperti radar energi. Selama target masih terasa energi Burst di dalam tubuhnya, maka skill tersebut masih bisa mendeteksi keberadaan target sejauh radius 1 kilometer.
__ADS_1
“Minumlah!” Varen menaruh botol cairan merah ke bibir Varen untuk memulihkan energi Burst yang telah habis di dalam wadah energi milik Varen. “Jangan terlalu berlebihan menggunakan energi Burst.”
“Aku hanya ingin melindungimu dan aku tak mau kamu sampai terluka oleh mereka. Wajar saja aku menghabisi mereka semua,” balas Varen membalas pelukan Vivi.
Mereka berdua kembali turun perlahan, sambil Varen mengedarkan pandangan mata tembus pandang dari skill Blue Eye, untuk mendeteksi tentara Abyss atau tentara Seravee yang masih hidup. Takutnya mereka akn menyerang kembali saat Vivi dan Varen lengah.
Tak sadar fajar sudah menyingsing dan sinar matahari sudah tampak di ufuk timur. Tampak mayat-mayat kedua pihak yang telah berperang.
Mata Vivi dan Varen terus berkeliling mengamati keadaan. Mungkin masih ada dari kedua piha itu yang masih selamat.
Varen buka orang yang pengecut, yakni membunuh lawannya yang sedang tak berdaya. Dia punya prinsip lebih baik memperbanyak teman daripada memperbanyak musuh.
"Vivi, aku menemukan sebuah lubang, di dalamnya ada banyak makanan dan juga sumber daya. Mungkin kamp milik salah satu dari kedua zona yang telah berperang," kata varen mengejutkan Vivi.
"Darimana kau tahu?! Jangan-jangan jebakan?!" balas Vivi dengan mata melebar dan sangsi dengan perkataan Varen.
“Tenang saja, aku melihatnya dengan ini!” tunjuk Varen pada kedua matanya yang memiliki pupil mata berwarna biru terang dengan motif bunga lotus.
Saat mereka berdua bersiap berlari ke arah lubang yang dibicarakan oleh Varen. Tiba-tiba terdengar suara lirih orang meminta tolong.
“Tolong! Tolong selamatkan aku!”
Suara itu ada dua, yang satu di arah utara dan yang satu di arah selatan. Vivi dan Varen berpencar ke arah sumber suara. Mereka berdua menemukan wanita dan langsung memapahnya menuju lubang sumber daya.
Vivi memapah seorang wanita dari ras Angel dan Varen memapah seorang wanita dari ras Demon.
Kedua wanita tersebut rupanya adalah tentara zona Abyss dan zona Seravee yang selamat dari serangan ledakan beruntun dari ribuan anak panah yang dilesatkan oleh Varen.
Vivi dan Varen membawa mereka masuk menuruni anak tangga yang berada di luang tersebut.
__ADS_1
Lubang itu merupakan tempat persembunyian sekaligus tempat logistik milik zona Abyss. Tapi tempat tersebut hanya diketahui oleh Kolonel mereka yang sudah tewas dalam bentrokan beberapa hari yang lalu antara pasukan zona Abyss degan pasukan zona Seravee.