Final Ressurection

Final Ressurection
Bab 47


__ADS_3

Jormungand melompat mundur sambil menembakan sinar laser putih kehitaman ke arah Ayudisha, “Rage Buster!”


SWUSH!


Ayudisha menyilangkan tangan di tengah dada untuk menahannya, sebab sudah tidak sempat mengeluarkan skill yang bisa melindungi dirinya.


Tubuhnya terpundur lusinan meter dengan kedua telapak kaki bergesekan di permukaan salju.


"Multiple Light Teleportation!"


Jormungand berpindah tempat ke belakang tubuh Ayudisha dan menembakan bola berwarna berwarna putih kehitaman untuk menghantam punggungnya.


BOOM!


Bola energi tersebut menghantam punggung Ayudisha dan membuatnya terpental ke udara.


Jormungand kembali berteleportasi dan berpindah tempat ke depan tubuh Ayudisha dengan menghantamkan lututnya tepat mengenai perut Ayudisha. Sehingga tubuh gadis mungil tersebut melesat cepat ke permukaan tanah yang tertutupi salju teal..


BOOM!


Suara ledakan disertai salju berhamburan menghalangi pandangan semua orang dan menciptakan cekungan kawah seluas 10 meter dengan Ayudisha yang terkapar di dalamnya.


Saat Jormungand kembali muncul dengan tubuh berkedip di depan Ayudisha dengan sebuah bola energi besar yang siap dihantamkan ke perutnya. Ayudisha merobek bola energi tersebut, dan membuatnya meledak, hingga menciptakan sebuah ledakan yang sangat dahsyat.


BOOOM!


Suara dentuman ledakan seperti suara dentuman meriam terdengar sangat keras, dan sangat memekakan telinga. Membuat Emperor Lord beserta anggota Ten Principles terbang sejauh mungkin.


Sebab siluet kubah cahaya yang dihasilkan dari ledakan tersebut, terus melebar, dan menghempaskan apapun yang dilewatinya sampai jarak radius 1 km. Bahkan membuat permukaan salju mengering dan menampakan permukaan tanah yang sangat tandus.

__ADS_1


Varen sangat khawatir pada Ayudisha. Ini adalah pertandingan sampai mati yang telah disetujuinya. Kalau sampai Ayudisha mati, maka Varen tak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Arc Of Divination: Blue Eyes!"


Varen mengedarkan persepsi tembus pandang untuk melihat keadaan ayudisha yang berada di dalam kepulan cahaya. Dia sangat lega setelah melihat Ayudisha hanya terluka parah dalam keadaan terkapar, dan Jormungand telah tewas dengan tubuh tercabik-cabik hingga tingkat atom oleh serangan skill Destruction Ball miliknya sendiri.


Arven yang terbang mengawasi jalannya pertandingan memindai keadaan seluruh wilayah, setelah siluet kubah cahaya itu sudah mereda. Dia telah melihat Ayudisa masih hidup dan Jormungand telah tewas dan menjatuhkan Fallen Core tidak jauh dari tubuh Ayudisha yang tengah terkapar dengan dada kebang-kempis tak karuan.


“Pemenang pertandingan pertama adalah pihak Nizwa!” teriak Arven dengan raut wajah yang datar, tapi perasaan di hatinya sangat kecewa karena pihak Varen yang menang.


Setelah mendengar pengumuman tersebut, Varen langsung memindahkan tubuh Ayudisha ke gendongannya dengan skill Psycho Teleportation.


“Eternal Regeneration!” seru Varen mengalirkan energi penyembuh dari Neoburst ke tubuh Ayudisha dan menyelimuti tubuhnya dengan aura energi berwarna biru.


Arven, anggota Ten Principles dan Emperor Lord Michael Angelo semua pandangan matanya tertuju ke arah Varen. Mereka cukup terkesima dengan kemampuan skill penyembuhan yang dimiliki oleh Varen yang mampu memulihkan tubuh Ayudisha yang terluka parah hanya dalam tiga detik.


“Sial, sampah seperti dia mempunyai skill yang sangat sempurna seperti itu? Omong kosong macam apa ini?” batin Yoran Cabanel dengan penuh rasa iri.


Akan tetapi, lamunan mereka semua buyar saat Arven mengumumkan pertandingan kedua, “Pertandingan kedua siap dimulai! Skor sementara 1-0 dan pihak Nizwa lebih unggul!” teriaknya kencang.


“Kak, aku yang maju untuk pertandingan yang kedua ini,” pinta Neo dan mengeluarkan senjata yang telah dibuat oleh Prananda berlevel rokubi berbentuk Gauntlet berwarna hitam dengan aksen berwarna emas. ”Primordial Aura!”


Saat Neo menyelimuti tubuhnya dengan aura merah yang mendesis hingga menciptakan fluktuasi udara dengan deru angin yang sangat kencang. Tiba-tiba muncul di depannya seorang malaikat bersayap sepuluh an sayapnya transparan, langsung menghantam perut Neo.


BAM!


Arven terkejut dengan mulut menganga dengan malaikat yang memukul perut Neo dan membuatnya terpental ke udara tersebut. Malaikat bersayap sepuluh transparan tersebut dia sangat mengenalnya, dan bernama Azriel sahabat sejatinya.


“Azriel?!” gumam Arven dengan melebarkan mata dan lupa jika dia menjadi wasit yang harus memberikan apa-apa untuk pertandingan kedua.

__ADS_1


Azriel melesat mengejar Neo di udara dengan tatapan mata yang sangat tajam seperti manik mata Elang. Kemudian melesatkan pukulan bertubi-tubi ke arah dada, perut, dan wajah Neo.


“Thousand Light Fist!” serunya.


Neo juga tidak kalah cepat dan menepis setiap pukulan yang dilancarkan oleh Azriel, supaya tidak mengenai satupun sasaran yang diarahkan oleh malaikat bersayap sepuluh tersebut.


Keduanya bertarung sangat cepat dan tenaga yang sangat kuat, hingga setiap pukulan mereka yang beradu di udara mengeluarkan gelombang kejut yang menghempaskan apapun yang dilewatinya.


BAM! BAM!


“Kamu pikir aku ini seorang ras Imperium, karena tubuhku seperti mereka. Kamu salah besar, karena aku seorang ras Primordial yang lebih hebat dari keenam ras yang ada di bumi. God Stance: Primordial Mode! Haa!”


Neo membiarkan tubuhnya dipukuli oleh Azriel dan menghempaskannya dengan perubahan bentuk tubuhnya yang disertai energi gelombang kejut berbentuk bola cahaya yang keluar dari dalam tubuhnya.


Bersamaan itu pula tubuh Neo membesar dengan otot-otot yang menonjol dan manik matanya berwarna merah darah dan tubuhnya diselimuti aura yang merah mendesis lebih kuat dari sebelumnya.


“Battle Stance: Archangel Mode!” seru Azriel yang tidak mau kalah menyelimuti dirinya dengan ura putih yang mendesis sama seperti Neo.


Kesepuluh sayap transparannya itu hilang bersamaan tubuhnya yang berubah menjadi lebih besar dengan urat-urat otot yang menonjol sangat besar.


Keduanya melesat cepat, dan begitu berdekatan langsung berbenturan siku yang menimbulkan gelombang kejut disertai ledakan yang menghempaskan wilayah dalam radius 1 km.


BOOM!


Mereka bertarung di permukaan tanah dan terus melancarkan jual-beli pukulan dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh mata biasa. Sehingga tubuh mereka secara perlahan terus diangkat ke langit sampai setinggi 300 meter tanpa berhenti melakukan jual-beli pukulan dan tendangan.


Mereka semua yang hadir sangat menikmati pertarungan antara Neo dan Azriel. Mereka berdua yang bertarung juga sangat menikmati pertarungan dengan mengulas senyum ke arah masing-masing saat jual-beli pukulan dan tendangan.


“Sungguh ras yang sangat menarik, tapi sayangnya kamu akan mati ditanganku,” kata Azriel dengan tersenyum sinis dengan tangan dan kaki terus melancarkan tangkisan dan serangan.

__ADS_1


“Oh, iyakah? Ini masih awal untuk menentukan siapa yang akan menang. Bukan sebuah kata-kata yang berbicara, tapi sebuah tindakan yang akan membuktikannya. Primordial Fist!” balas Neo dan menyelimuti kedua Gauntlet Primordial dengan aura merah pekat untuk meningkatkan daya rusak serangannya. “Haa!”


Muncul siluet Gorila raksasa berwarna merah pekat yang menghantamkan pukulan ke arah Azriel. Malaikat tak bersayap dengan rambut putih tersebut tidak gentar dan menyilangkan kedua tangannya untuk menghalau pukulan Neo yang berbentuk siluet Gorila raksasa tersebut.


__ADS_2