Final Ressurection

Final Ressurection
Bab 56


__ADS_3

Pria paruh baya itu adalah kepala asrama bernama Samael yang terkenal sangat kejam dan bengis terhadap murid-murid di akademi Magna.


Dirgael mengedipkan matanya tiga kali ke arah Samael memberikan kode untuk mengurus Varen dengan sangat disiplin.


Varen tiba-tiba saja langsung gugup berhadapan dengan Samae dan merasa kalau pria paruh baya berjambang coklat tersebut memiliki rank diatasnya. Namun disembunyikannya dengan sangat rapi.


“Perkenalkan a-aku Arshael,” ucap Varen gugup.


“Hm.” Samael hanya mengangguk dengan wajah yang dingin sambil mengelus jenggotnya.


Kemudian berjalan sambil menunjuk ke arah kamar yang akan ditinggali oleh Varen di asrama Archangel.


Sesampainya di depan kamar nomor 122, Samael memberikan kartu Horcrux berwarna putih berisikan uang 1 juta pearl, seragam Akademi Magna dan beberapa kitab skill dasar penggunaan energi Burst yang sudah dikuasai oleh Varen di Akademi Enerkyl.


“Cepat ganti seragammu Arshael! 30 menit lagi akan diadakan jamuan khusus murid baru Akademi Magna!” seru Samael dengan suara berat dan penuh wibawa.


Varen pun menggesek kartu horcrux yang telah diberikan oleh Samael kepadanya ke mesin pemindai yang berada di gagang pintu.


Tampak sebuah kamar yang sangat mewah seperti hotel bintang lima dan Varen pun segera masuk dengan wajah yang begitu sumringah dari balik topeng Regalia yang dipakainya.


Varen pun langsung memindai kamar miliknya tersebut dengan Blue Eyes untuk melihat apakah ada CCTV yang mengawasinya. Kemudian mengelabui semua CCTV yang berada di seluruh kamarnya yang telah ditemukan oleh pandangan persepsi Blue Eyes dengan skill ilusi dari Curse Eyes, agar dia bisa bebas membuka topengnya jika berada di dalam kamar.


Dia tak ingin kehidupannya diawasi oleh para pengawas, karena dirinya merupakan buronan dengan harga buronan tertinggi di zona Seravee, yakni 1 miliar pearl.


Dirinya berkaca di depan cermin dan menampakan perutnya yang seperti roti sobek dan dada yang sangat bidang.


“Pantas saja Evelyn mau melahapku, ternyata wajah dan bentuk tubuhku sangat bagus juga, hehehe ….”


Varen pun memakai seragam Akademi Magna, yakni berupa dalaman kaos berwarna hitam dan bagian luarnya mengenakan jubah berwarna putih dengan garis di pundak berwarna kuning, serta celana berwarna sama seperti jubah yang dikenakannya.


[Ding Dong! Peringatan-peringatan! Topeng Regalia telah menghabiskan semua energi Burst milik tuan dan akan terus berlanjut sampai tuan mati, walaupun tuan telah mengisi kembali dengan Burst Potion]

__ADS_1


[Ding Dong! Mohon tuan lakukan pencegahan dengan mengevolusikan Curse Eyes menjadi Darkness Eyes agar efek buruk topeng Regalia bisa dihancurkan]


Varen pun langsung panik dan membatin, “Oh, tidak Aku sungguh bodoh, Evelyn telah menjebakku. System, lalu bagaimana cara mengevolusikannya?”


[Ding Dong! Gunakan 200.000 poin skill untuk mengevolusikan Darkness Eyes. Apakah tuan akan mengevolusikan Curse Eyes ke Darkness Eyes]


[Ya/Tidak]


“Ya,” jawab Varen singkat dalam batinnya.


[Memotong 200.000 poin skill untuk mengevolusikan Curse Eyes menjadi darkness Eyes. Dimulai dalam 3 … 2 … 1 ….]


[0% … 25% … 50% … 75% … 100%]


[Prose evolusi Curse Eyes Darkness eyes berhasil]


[Skill Arc Of Divination: Darkness Eyes adalah kemampuan persepsi pandangan mata yang mampu menciptakan kutukan apapun sesuai imajinasi dari pengguna dan menangkal efek buruk dari kutukan apapun secara otomatis]


Varen tersenyum lega dan saat dirinya menyisir rambutnya, pintu kamarnya ada yang mengetuk, “Arshael, cepat!” teriak Samael dengan suara berat dan penuh wibawa.


Varen bergegas keluar dan tanpa disadari olehnya, rambut Varen telah kembali seperti semula, yakni bergaya rambut harajuku berwarna jingga.


Saat akan membuka pintu, Varen menekan tombol headset humagear untuk menutup wajahnya dengan topeng Regalia yang telah berevolusi menjadi warna putih.


“I-iya, Master,” sahut Varen dan membuka pinntu kamarnya.


Lalu membungkuk hormat pada Samael, lalu keluar kamar dan menutup pintu kamarnya.


Setelah mengunci pintu, Varen mengekor di belakang Samael yang menuntunnya ke arah aula Akademi Magna.


Semua murid dari berbagai asrama baik murid lama dan murid baru menatap Varen dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Karena Varen dikabarkan seorang ras Angel yang memiliki sepuluh sayap merah dan menurut ramalan Emperor Queen Irene Rubra, jenis malaikat tersebut adalah malaikat penghancur, dan pembawa sial bagi orang-orang yang berada di dekatnya.


Varen diminta berbaris di barisan paling depan, karena dia mendapatkan gelar murid baru terjenius dengan kepadatan partikel energi paling tinggi diantara semua murid yang berkasta Archangel yang baru masuk ke Akademi Magna.


Kepala Akademi berpidato mengenai peraturan Akademi Mirna yang harus dipatuhi. Varen pun mendengarkannya secara seksama, walaupun teman-temannya di belakang mencemooh dan mencibirnya karena Varen memakai topeng Cyborg.


Setelah satu jam rangkaian jamuan berakhir dan semua murid duduk di meja masing-masing sesuai kasta mereka. Kini giliran pemberian gelar kehormatan pada Varen sebagai murid terjenius ajaran tahun ini oleh Kepala Akademi Albion Vierkel.


Semua murid bertepuk tangan dengan tersenyum sinis dan penuh dengki, "Sombong sekali dia menjadi kasta Archangel. Aku pastikan akan membuatnya babak belur dalam turnamen antar asrama," gumam Giro Cabanel dengan tersenyum sinis, dan merupakan adik dari Alexander Cabanel.


"Arshael, silahkan berdiri di sampingku!" seru Albion Vierkel dan mengepakan kesepuluh sayapnya yang berwarna emas dengan partikel-partikel aura emas yang menyilaukan pandangan mata.


Hal yang dilakukan oleh Albion merupakan penghargaan khusus atas pencapaian Varen yang belum pernah dicapai semua murid Akademi Magna dari berbagai tahun ajaran.


Varen pun berdiri dari kursi yang diapit oleh Dirgael serta Samael, lalu berjalan perlahan dengan kepala yang tegak dan penuh wibawa.


Akan tetapi semua murid dari berbagai kelas, mulai dari kelas awal hingga kelas puncak melemparinya dengan berbagai macam buah-buahan yang tersaji di atas meja.


Varen tidak tinggal diam dan langsung menciptakan bola pelindung berwarna abu-abu dari topeng Regalia yang telah dievolusikan sistem menggunakan poin skill.


“Divinity Field!” serunya sangat lantang.


Buah-buahan itu malah terpantul dan kembali ke arah murid-murid yang melemparnya lagi.


Semua Master Akademi Magna pun tercengang dengan mata membola, “Apa?! Bagaimana dia bisa menciptakan sebuah skill tanpa energi Burst?”


Pasalnya apa yang telah dilakukan Varen itu tidak menggunakan energi Burst, Sebab Varen menggunakan topeng Regalia sebagai wadah penyimpanan kedua energi Burst, dan tidak bisa dideteksi oleh skill deteksi apapun.


Varen berkata dengan lantang, "Sungguh teman-temanku tak sabar ingin bertarung denganku. Jika kalian memang ingin bertarung denganku sampai babak belur, maka setiap hari aku siap menerima tantangan kalian."


Tambah kesal semua murid dari kelas awal, menengah dan puncak melihat Varen begitu sombong dan angkuh. Karena Varen dengan lantang menantang mereka teman-temannya yang sangat tidak suk padanya.

__ADS_1


__ADS_2