Final Ressurection

Final Ressurection
Bab 52


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Varen telah mengalokasikan semua Burst Meta Core yang dimilikinya, untuk memperbaiki kota, dan memperbaiki kubah medan pelindung yang bisa menahan rank Legendary bintang sembilan.


Semua warga beraktifitas seperti biasanya dan pelancong dari zona lain pun mulai sepi. Karena zona seravee dan zona Dracones memberikan pengumuman jika kota Nizwa adalah kota terlarang untuk dimasuki dan menuduh semua warganya sebagai buronan kelima zona.


“Kenapa mas?” tanya Ayudisha sambil menghidangkan secangkir teh, untuk Varen di tengah derasnya hujan salju yang tak bisa memasuki kota Nizwa.


“Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan nasib kota ini yang semakin sepi. Aku sendiri juga sudah masuk daftar hitam di balai pusat perdagangan dan semua hak-hak milikku dirampas,” jawab Varen dengan raut wajah yang datar sambil menyesap secangkir teh yang telah dihidangkan Ayudisha untuknya.


Ayudisha pun menghela nafas yang panjang dan bingung harus membantu apa untuk memulihkan kembali perekonomian kota NIzwa.


“Mas, bagaimana kalau kita menjadi organisasi tentara bayaran saja? Aku tahu ini ide yang sangat gila. Tapi jika seperti ini para warga ras Imperium yang telah jauh-jauh datang dan menjadi warga disini lambat laun akan kekurangan makanan,” usul Ayudisha.


“Terima kasih sayang. Sepertinya itu adalah ide yang sangat jenius dan bisa membuktikan diri bahwa kita punya kekuatan sekaligus mengeliminasi perang. Tapi kita tawarkan ke zona mana —”


"Zona Abyss," potong Pradana yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah Ayudisha dan melanjutkan, "Ini juga sebagai ajang balas dendam terhadap Yoran Cabanel yang sudah menduduki Ten Principles."


Raut wajah Varen yang semula datar langsung sumringah. Dia bisa mendapatkan pearl sekaligus energi Vilom yang lebih melimpah di tanah zona Abyss.


Itu artinya dia bisa membuat Fallen Core yang lebih kuat dan mengevolusikannya menjadi Abyss Core.


“Pradana, apakah kamu tahu banyak informasi mengenai zona Abyss?” tanya varen yang mulai serius dengan ide gila yang diusulkan oleh Ayudisha.


Akhirnya Pradana pun membuka jati dirinya dan menampakan seorang pria dengan paras yang cukup tampan.


Pria tersebut memiliki kedua taring, kedua telinga panjang dan di atas telinganya ada sayap malaikat di atas telinga kanan dan sayap iblis diatas telinga kiri.


Pradana juga memiliki kedua sayap yang berbeda, yang satu di kanan sayap malaikat perak dan di kiri sayap iblis berwarna emas.

__ADS_1


“Aku bisa membawa kalian masuk dan menemui Jenderal zona Abyss bernama Diablo Helsing,” jawab Pradana dengan manik mata merah yang sangat berkilau.


“Baik, bawa aku kesana.” Varen pun bangkit dengan asa antusias yang sangat tinggi dan melanjutkan, “Sayang, kamu dan saudara-saudara yang lain tetap di kota dan tingkatkan kekuatan kalian dengan ini. Ingat jaga kta ini dengan baik”


Varen pun memberikan kartu Horcrux yang berisi 800.000 botol Evolution Potion pada Ayudisha.


Gadis mungil nan seksi tersebut langsung mengangguk tanda mengerti, “Baik sayang, aku mengerti.”


Varen adalah seorang pria yang sangat melindungi saudaranya dan tak mau membawa mereka dalam bahaya. Takutnya ketika Varen masuk zona Abyss dan membawa Ayudisha, Neo, Axel dan Zero, mereka mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan dari pihak zona Abyss.


“Eternal Rage!” seru Varen dan mengubah dirinya menjadi sosok manusia yang memiliki keenam sayap iblis tapi berwarna putih dan berbeda dari perubahan sebelumnya mode eternal Rage yang hampir mirip dengan Chimera Mode milik Ayudisha.


Pradana dan Varen pun terbang ke arah wilayah Afrika yang dijadikan sebagai wilayah zona Abyss dan Horus sebagai pusat pemerintahan zona Abyss.


***


Pradana dan Varen pun tiba di pusat kota Horus dan semua wilayah zona Abyss memiliki langit yang sangat gelap dengan ketebalan energi Vilom yang sangat tebal.


Pria berambut putih acak tersebut mengeluarkan tanda pengenal dari organisasi bernama Devon yang sangat dipercaya oleh zona Abyss.


Tampak dua penjaga yang berbentuk High Orc yakni raksasa setinggi 5 meter dengan tubuh berwarna merah pudar dan memiliki dua taring yang menjulang ke atas.


Kedua High Orc tersebut juga tidak mencurigai AVren yang memiliki keenam sayap iblis berwarna putih. Malah sangat menghormatinya, sebab ada ramalan tentang Iblis bersayap putih yang akan menuntun ras Demon ke jalan kegemilangan.


Saat Pradana dan Avren diizinkan masuk oleh kedua High Orc yang membawa kapak yang sangat besar, semua warga langsung berlutut satu kaki menyambut kedatangan Varen.


Pradana dan Vare pun kebingungan. Mereka berdua hanya tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Merek berjalan beriringan dan saling melempar pertanyaan dengan sedikit mendongakan dagu mereka satu sama lain. Mereka berdua pun saling menggeleng, karena tidak paham kondisi yang dialami mereka saat ini.

__ADS_1


Akan tetapi ada juga para Iblis yang tidak percaya dengan ramalan tersebut. Mereka adalah ras Dagon yang kebanyakan berbentuk Vampir.


Pradana dan Varen langsung dihadang oleh segerombolan ras Dagon yang sangat membenci monster yang bukan dari bagian ras Demon.


"Oh, kau si sampah itu?" cibir Velcom pada Pradana dengan tatapan sinis dan senyum sinis.


Pradana langsung melirik tajam ke arah Varen dan berbisik, "Saudaraku, hajar saja mereka!"


"Loh, kenapa mesti dihajar?" tanya Varen kebingungan dengan permintaan Pradana yang tiba-tiba memintanya untuk menghajar para gerombolan ras Vampir.


"Sudah hajar saja. Bila perlu bunuh, mereka hanya ras sampah disini dan sangat tidak disukai oleh Jenderal Diablo Helsing. Karena para Vampir ini selalu menentang kebijakan yang diputuskan oleh Emperor Queen Irvene Rubra,” jawab Pradana dengan nada lirih.


Namun Avren punya cara yang lebih baik dan berkata pada Velcom dengan mengeluarkan Silverball sebagai taruhan, “Begini saja. Aku punya ini dan aku jadikan sebagai bahan taruhan. Kalau kalian yang menang berhak atas senjataku ini yang memiliki level Kyubi?”


“Uhuk-uhuk!” Velcom dan kawan-kawannya yang berjumlah 14 Vampir tersedak setelah mendengar penuturan Varen.


Mereka bukan hanya heran tapi merasakan jika Silverball yang dipegang oleh Varen memang senjata yang memiliki level Kyubi.


Kemudian Varen melanjutkan dengan tersenyum licik, “Kalau kalian yang kalah, maka kalian harus menjadi temanku.”


“Setuju!” balas serentak Velcom dengan keempat belas temannya dengan suara lantang.


Mereka menganggap Varen yang menyembunyikan rank miliknya adalah seorang yang lemah. Apalagi saat mode Eternal Rage berakhir dan menghilangkan keenam sayap miliknya.


Mereka semakin yakin kalau Varen hanya ras Imperium yang sangat lemah, dan mendapatkan senjata berlevel Kyubi tersebut dari kedua orang tuanya yang miskin juga lemah yang tak bisa menggunakan senjata tersebut.


“Baik, permainannya mudah. Kalau bisa menahan satu pukulanku dan semua harus ikut ya. Kalau kalian ada yang bisa menahan satu pukulanku maka aku kalah,” kata Varen dengan tersenyum licik.


Vare memang jika menang menang melawan mereka hanya akan menjadikan mereka teman. Tapi kata teman yang dimaksud Varen adalah budak bukan teman yang sesungguhnya. Lagian siapa yang mau menjadikan ras Vampir yang terkenal sangat licik menjadi teman.

__ADS_1


__ADS_2