Final Ressurection

Final Ressurection
Bab 41


__ADS_3

"Maaf, Nona Dintessa. Aku gagal mendapatkan Burst Core di Altelier City, tapi aku ada alternatif lain. Aku menawarkan ini.” Varen mengeluarkan sebuah bola kristal berwarna hitam legam dari inventaris sistem dan menunjukkannya pada Dintessa, “Ini namanya Fallen Core dan bisa digunakan sebagai bahan pembuat senjata.”


“Omong kosong! setahu kami hanya Burst Core yang bisa digunakan untuk membuat senjata dan juga bisa dibuat menjadi Burst Potion,” sergah ketua balai pusat perdagangan cabang zona Seravee bernama Dewantara seorang ras Reploids.


Varen santai menanggapi penolakan Dewantara dan membalas, “Aku memang tidak bisa membuat sebuah senjata dengan Fallen Core ini. Jadi aku tidak bisa membuktikan akan kebenarannya. Tapi apa salahnya jika aku meminta salah satu Blacksmith di pasar ini, untuk membuatkannya untukku. Untuk menguji akan kebenaran Fallen Core ini.”


“Apa taruhannya?” tantang Dewantara lantang.


“Ketua, tidak baik melakukan ini. Tuan Vaaren merupakan seorang pedagang yang sangat jenius. Dia baru saja naik ke tingkat SS, aku harap ketua tidak menyinggungnya,” mohon Dintessa yang merasa tidak enak jika Dewantara meremehkan Varen.


“Tidak apa-apa Nona Dintessa. Aku juga suka tantangan.” Varen tersenyum teduh ke arah Dintessa dan melanjutkan, “Aku akan memberikan 100 juta pearl jika aku kalah. Tapi jika aku menang, maka balai pusat perdagangan harus memihak padaku dan memberikan apa yang aku butuhkan.”


“Setuju.” Dewantara menyodorkan tangannya pada Varen dan pria berambut hitam panjang tersebut menyambut tangannya untuk berjabat tangan, “Aku pastikan Fallen Core bukan bahan yang terbaik untuk membuat senjata.”


Dewantara menepuk tangannya tiga kali setelah menyetujui taruhan antara dirinya dengan Varen memanggil seorang Blacksmith.


Seorang pria memakai jubah hitam dan menutupi seluruh tubuh, bahkan mukanya pun tertutupi oleh cadar. Dia adalah seorang Blacksmith yang sangat terkenal di zona Seravee dan memiliki ras yang tidak diketahui bernama Prananda Xenia.


Prananda bekerja di balai pusat perdagangan sebagai seorang Blacksmith dan penilai barang yang akan dibeli oleh balai pusat perdagangan.


Pria bertudung hitam tersebut hanya menyodorkan tangannya ke arah Varen untuk meminta Fallen Core dan menilai manfaatnya. Apakah sesuai yang dikatakan oleh Varen atau hanya bualan Varen.


Varen tetap santai, walaupun dia tidak secara mendalam tentang Fallen Core. Tapi skill Quantum Brainwave memberikan rinciannya mengenai Fallen Core.

__ADS_1


Prananda yang sangat irit berbicara tiba-tiba berkata dengan menggeleng pelan, “Maaf, tuan. Kristal hitam ini tidak bisa dibuat menjadi senjata.”


“Yakin?” Varen tersenyum tipis dan menyangsikan penilaian Prananda. “Bukannya tidak bisa. Tapi membuat Fallen Core membutuhkan skill pandai besi tingkat tinggi. Aku tahu tuan orang yang punya kapasitas untuk membuat senjata menggunakan Fallen Core …. Hanya saja untuk melelehkan kristal ini untuk dibentuk menjadi sebuah senjata cukup sulit.”


Prananda melebarkan matanya, sebab dia merasa apa yang dituturkan oleh Varen itu benar adanya.


Dewantara tersenyum sinis dan mengejek Varen, “Aku sudah katakan kristal ini hanya kristal sampah. Berarti kamu kalah taruhan tuan Varen.”


“Tunggu dulu ketua. Aku mengatakan cukup sulit, tapi bukan berarti tidak bisa atau mustahil dilakukan. Aku bisa melelehkannya,” sergah Varen dan melanjutkan dengan meminta sesuatu pada Prananda, Persiapkan formasinya tuan berjubah hitam.”


“Forging!” seru Prananda membentuk lingkaran sihir berwarna putih.


Varen yang sedang menggenggam bola kristal hitam tersebut lalu melelehkannya dengan mengalirkan energi panas ke bola hitam tersebut, “Arc Of Divination: Scarlet fire!”


Bola hitam tersebut mencair menjadi cairan berwarna jingga yang memiliki suhu 5000 derajat celcius. Lalu Varen menuangkan cairan tersebut ke lingkaran sihir berdiameter 1 meter di permukaan tanah.


Pedang itu memiliki bilah berwarna jingga, ring berbentuk sayap kecil berwarna jingga dengan gagang pedang berwarna hitam dan juga ujung pedang berwarna jingga.


Prananda sendiri terpukau dengan pedang buatannya tersebut yang memiliki level Rokubi. Sekaligus pedang yang baru pertama kali dibuatnya dengan level yang melebihi Gobi.


Raut wajah dewantara langsung seputih kertas dan mulutnya menganga. Dia sudah tak bisa mengelak dan tak bisa berkata apa-apa terhadap bukti yang telah diberikan oleh Varen.


“Nona Dintessa, aku akan menjual semua Fallen Core pada balai pusat perdagangan. Satu bola kristal seharga 10.000 pearl,” tawar Varen dengan tersenyum licik.

__ADS_1


Dia sengaja menekan harga yang cukup tinggi, sebab senjata yang dibuat dari bahan Fallen Core levelnya sangat tinggi, dan jika dijual satu senjata level Rokubi tersebut bisa mencapai antara 500 ribu pearl sampai 1 juta pearl.


Tentu saja mendapatkan untung yang sangat banyak. Modal hanya 30.000 pearl sudah termasuk biaya pembuatan dan dijual minimal 500 ribu pearl.


“Aku mengaku salah tuan Varen.” Dewantara langsung bersimpuh di depan Varen dengan perasaan menyesal.


Varen menegakan badan Dewantara dan berkata dengan tersenyum ramah, “Santai saja. Aku hanya ingin balai pusat perdagangan ada dipihakku dan membantuku membentuk sebuah kota baru diluar lima zona. Tentu saja tidak gratis dan 25% hasilnya aku bagi pada kalian.”


Prananda hanya terdiam dengan menundukan wajahnya, tapi dia sangat kagum dengan Varen dan ingin mengikutinya.


"Tuan Varen. Bolehkah anda membantuku?” pinta Prananda malu dan melanjutkan, “Jika anda mau membantuku, aku akan menghasilkan banyak uang untuk tuan Varen. Bukan hanya itu aku akan membuat sesuatu yang lebih berguna untuk membantu tuan membangun kota.”


“Apa yang bisa aku bantu?” tanya Varen penasaran.


“Bayarkan aku uang 100 juta pearl ke balai pusat perdagangan untuk menebus diriku —-”


“Prananda Xenia itu iak bisa,” potong Dewantara dengan raut muka merah padam.


Balai pusat perdagangan telah mengontrak Prananda selama 5 tahun dan tak bisa keluar seenaknya dari balai pusat perdagangan. Walaupun Prananda bisa membayarkan uang 100 juta pearl, tapi atasan Dewantara pasti tidak mengizinkannya.


“Begini saja. Aku juga membutuhkan jasa Prananda dan aku akan membayar 100 juta pearl, serta 1 juta Fallen Core ke balai pusat perdagangan. Tapi setiap senjata yang dijual Oleh balai pusat perdagangan au berhak mendapatkan 5%. Tidak Banyak bukan?" usul Varen.


Tentu saja Dewantara menyetujuinya. Dengan begitu kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan. Varen membutuhkan Prananda dan balai pusat perdagangan juga tidak kehilangan Prananda.

__ADS_1


Varen melakukan transaksi sesuai kesepakatan dan memberikan kartu Horcrux berisi 5.000 Fallen Core pada Dintessa.


Semua masalah Varen dengan balai pusat perdagangan telah selesai dan Prananda akan membantu Varen membangun kota yang akan ditopang semua materialnya oleh balai pusat perdagangan.


__ADS_2