Final Ressurection

Final Ressurection
Bab 31


__ADS_3

"Mungkin aku harus mencari keberadaan Altelier City, agar aku bisa tahu tentang ingatan yang hilang,” batin Varen sambil mengelus dagunya.


Varen mempercepat makannya, supaya bisa cepat menyusul tim rombongan Satya.


“Masakanmu sangat enak dan cocok jadi istriku,” goda Varen sambil mencolek dagu Ayudisha dan membuatnya tersipu.


“Te-terima kasih mas. Hati-hati di jalan ya mas.” Ayudisha langsung menarik tangan kanan Varen dan mencium punggung tangannya. Setelah itu memeluk Varen dan mencium bibirnya, “Aku berikan ini biar mas Varen semangat.”


“Terima kasih.” Varen balas mencium bibir Ayudisha dan agak lama.Lalu melepaskannya.


Sentuhan bibir Varen ke bibir Ayudisha membuat keduanya sangat berkesan. mereka berdua baru pertama kali melakukan sebuah ciuman bibir dan perasaan lembut di bibir masing-masing seakan mereka berdua melayang sesaat di atas nirwana.


Varen segera masuk ke dalam lubang warp, walaupun dia ingin merasakan sekali lagi ciuman itu, “Flying Spatial God!”


Kemudian keluar dari dalam lubang warp dan tiba di depan ruko miliknya yang sudah dipenuhi pedagang besar dari berbagai zona. Tim rombongan Satya juga sudah tiba di depan ruko dan memarkirkan mobilnya berjejer rapi.


“Pak, teman-teman, ayo kita masuk!” ajak Raka dengan melambaikan tangan dan berjalan cepat ke arah ruko. “Permisi!”


setelh sampai di depan pintu rolling door setelah melewati kerumunan pedagang besar, Varen langsung menggesek kartu pada mesin pemindai di samping rolling door.


Para pedagang tambah ricuh, ”Mohon tenang! Yang membeli kayu Pyorn antri di sebelah kiri dan yang membeli Burst Potion anti di sebelah kanan. Satu hal lagi kami hanya menerima pembelian grosir minimal 1000 pcs.”


Banyak pedagang besar angkat kaki setelah mendengar pernyataan Varen, karena mereka tadinya hanya ingin membeli di bawah jumlah yang sudah ditentukan oleh Varen.


“Tuan Varen, bagaimana dengan pesananku?” Frans beserta Miki dan Juga Nimta mengacungkan tangan serentak.


“Oh, tuan —”


“Frans.”


“Ya, tuan Frans ada di mobil belakang itu!” tunjuk Varen pada salah satu mobil truk kecil di belakang kerumunan para pedagang besar yang sudah berkurang 80%. “Pak,mohon bantuannya turunin satu —-”

__ADS_1


“Aku beli semua tuan Varen,” potong Frans dan mengejutkan Satya, Varen beserta kesebelas manusia dari tiga ras yang berbeda.


“Baiklah, tuan Frans. Kita bisa mulai transaksinya.” Varen mengeluarkan kartu keanggotaan balai pusat perdagangan dari saku celananya.


Semua pedagang besar kembali kecewa berat karena 100.000 kayu Pyron telah diborong oleh Frans, Miki dan Nimta dari zona Cybertron.


Melihat keadaan tersebut, Varen mendekati Satya dan bertanya, “Pak, apakah masih ada stok kayu lain?”


“Ada,” balas Satya dengan berbisik pada Varen. “Aku akan pulang bersama 8 orang lain dan aku menyisakan tiga orang untuk membantumu disini.”


Varen pun langsung menerima kartu dari Frans untuk memulai proses transaksinya, yakni pembelian 100.000 bongkahan kecil kayu Pyron.


[Tiing! Selamat, tuan Varen Arsha telah melakukan transaksi senilai omset 5.000.000 pearl]


[Tiing! Selamat tuan Varen Arsha telah memenuhi target omset 5 juta pearl dan berhak naik ke level C. Untuk naik level B, tuan Varen Arsha harus menembus omset 4.600.000 pearl]


[Setelah naik ke level B, tuan Varen Arsha berkewajiban membayar pajak 10% dari total keseluruhan omset yang didapat kepada pihak balai pusat perdagangan]


Mata Varen melebar, dia tak menyangka jika harus membayar pajak pada balai pusat perdagangan.


Kartu milik Frans melayang dan bergerak cepat menyerap semua kayu Pyron yang tersusun rapi di bak mobil kecil tersebut.


“Terima kasih tuan Varen atas kerjasama nya.” Frans menyodorkan tangan dan Varen menyambut tangannya untuk berjabat tangan. “Semoga kita bisa bekerja sama di lain waktu.”


Satya dan kedelapan penduduk desa menaiki 9 mobil, satu orang mengendarai satu mobil truk kecil untuk pulang menuju Desa Renaga mengambil lagi kayu yang sudah dikumpulkan oleh penduduk desa.


Setelah melihat ruko milik Varen yang dibanjiri pembeli kelas kakap, Satya dan kedelapan warga ras asing tersebut sangat optimis. Kalau desa Renaga bisa berubah taraf ekonominya.


Akan tetapi, saat kesembilan mobil milik Desa Renaga yang dipimpin oleh Satya keluar dari dinding pembatas zona Seravee dan sudah berjarak 500 meter.


BOOM!

__ADS_1


Pesawat induk milik Archduke Veigas Stark menjatuhkan bom napalm ke kesembilan mobil yang dikira mereka sebagai warga zona Seravee.


Kepulan debu dan asap menjulang ke langit, terlihat jelas sampai ke paandaangan Varen, Neo, Zero dan juga Axel.


Semua tentara zona Seravee segera terbang ke arah pesawat milik Veigas dan menembakan bola-bola cahaya untuk menjatuhkannya.


Semua warga juga panik setelah mendengar suara ledakan tersebut dan berhamburan ke berbagai arah. Insiden ii baru pertama kali terjadi di dindin pembatas zona Seravee yang berdampingan dengan pasar Trac Thung.


“Kalian tetap disini! Aku akan melihat kesana,” titah Varen pada Neo, Zero dan Axel.


Mereka bertiga hanya menganggukan kepala dan tidak sadar jika saudara-saudara mereka telah tewas bersama Satya oleh ledakan bom napalm yang dijatuhkan pesawat induk milik Veigas Stark.


Pesawat induk itu akhirnya kabur masuk ke dalam lubang warp, setelah di bombardir oleh tentara zona Seravee berkasta Seraphim.


Varen melesat secepat kilat dan ba hanya dalam beberapa nafas saja di dekat area ledakan.


“Bapak!” Varen terduduk lemas dengan air mata membanjir keda pipinya melihat kesembilan mobil sudah hancur berkeping-keping. ”Saudara-saudaraku!”


Tubuh Satya dan kedelapan manusia ras asing tersebut tak tersisa sudah hancur menjadi bubur darah dan berserakan entah kemana.


Salah satu Major yang memimpin tentara di perbatasan zona Seravee melihat Varen terduduk lemas sambil menangis menjadi iba.


Kemudian dia turun perlahan ke arah Varen dan menepuk pundaknya, “Maafkan kami yang ak bisa menangkap pesawat ras Dragonoid itu.”


"Bapak, saudara-saudaraku." Varen menggenggam permukaaan tanah dan menaruh genggaman kedua tangan tersebut di dada, lalu memeluknya dengan tatapan nanar, ”Bapak,saudara-saudara aku berjanji akan membalaskan dendam kalian pada zona Dragonoid.”


Rivan Elgrand sangat merasakan kemarahan dan kesedihan yang mendalam dari perasaan Varen.


Satya sudah dianggap Varen seperti ayah kandungnya sendiri dan Varen juga bingung harus mengatakan apa pada Ayudisha jika Satya ayahnya telah tewas diserang oleh tentara zona Dracones.


"Anak muda,kami berjanji akan menghancurkan pesawat itu. Kami berjanji," tegas Rivan dengan sorot mata yang sangat tajam.

__ADS_1


Varen pun berdiri dengan menunduk lemas, ”Terima kasih tuan. Aku juga akan membantu zona Seravee untuk menghancurkan zona Dracones.”


Pandangan matanya buram, karena mentalnya tidak kuat menahan rasa sakit ditinggal Satya dan kedelapan saudara-saudara sedesanya. AKhirnya,Vaaren Kembali pingsan dan dibawa oleh Rivan ke kediaman Elgrand.


__ADS_2