
Shezan mengirim pesan balasan kepada Nina.
Shezan
Dia memang pelanggan mencurigakan di kedai Bu sri.
Nina
serius? kok bisa cowok sultan nyasar ke kedai Bu Sri?
Shezan
Ada yang lebih serius dari itu Nin, hidup ku kedepannya. Nggak lama lagi kayaknya bakal didepak sama bapak kos. Di outlet yang kemaren kamu infokan, aq nggak diterima 😣😣
Nina
sabar ya.. Rejeki datang nggak disangka-sangka, mungkin nanti ada yang lebih baik
shezan
Trims ya Nin, susah amat dapat kerjaan. Kalau gitu nikah ajalah
Nina
hah serius? kamu udah ada calon yang ngajak kamu nikah?
Shezan
Belum, ini mau mulai nyari. Kalau ada info lowongan istri, kabari ya.
Nina
Iya nanti aku kabari :'D
Shezan meletakkan ponselnya. Ia mulai berpikir bagaimana nasibnya ke depan Jika Farras menikah dengan wanita lain, dan dirinya di ceraikan dan didepak. Ia tidak punya pekerjaan lain selain menjadi tutor menjahit dengan gaji yang ala kadarnya.
Uang kompensasi yang diberikan Farras sudah habis Ia belanjakan, dan sisanya Ia bagikan kepada fakir miskin. Ia tidak berpikir jauh tentang menabung untuk masa depan.
Shezan membuka laci mejanya dan mengeluarkan kotak perhiasan. Ia menatap cincin nikahnya.
"Apa dijual saja?" Tanya Shezan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak, ini sangat berkilau." Shezan memutuskan apapun yang terjadi tidak akan menjualnya. Cincin itu akan menjadi harta berharganya seumur hidup. Ia pun kembali menyimpan cincin tersebut ke dalam laci nya.
Teringat dengan harta berharganya yang lain Shezan pun bergegas membuka kopernya dan mengambil sebuah buku. Ia menyimpan harta berharganya di dalam buku tersebut.
Sebuah lukisan potret dirinya ketika masih kecil yang duduk di bawah pohon. Shezan tersenyum miris Ia tidak mengingat kenangan lukisan tersebut.
***
Keesokan paginya Shezan terlihat sangat suram, akibat terlalu banyak berpikir semalaman. Ia memanggang irisan terong dan daging ayam dengan olesan minyak zaitun.
"Mbak sakit?" Tanya Jagdish yang sudah duduk di kursi meja makan menunggu Farras. Ia meminum smoothie pisang strawberry susu almond miliknya yang sudah dihidangkan Shezan.
Shezan menggeleng, "Cuman kelelahan berpikir," tuturnya, kemudian melanjutkan perkerjaannya membuat sarapan. Ia menambahkan irisan tomat ke dalam roti gandum isi terong ayam keju.
"Anda kenapa?" Tanya Farras yang juga melihat Shezan yang tampak suram.
"Mungkin sakit." Jawab Jagdish cemas.
"Anda harus segera ke rumah sakit!" Seru Farras tiba-tiba.
Medengar perkataan Farras, Jagdish segera memberikan ponselnya kepada Farras.
"Tidak perlu Pak." Ujar shezan.
Shezan yang kaget mendengar Farras menelepon ambulans langsung berlari menghampiri Farras dan merebut ponselnya, "Maaf tidak perlu kirim ambulans, tidak ada yang sakit disini..Maaf mengganggu," Ujar shezan mengambil alih pembicaraan Farras.
Tanpa sadar Ia menekan dan mendorong dada Farras dengan telapak tangannya, "Maaf Pak, maafkan saya." Ujar Shezan panik meminta maaf setelah sadar tangannya telah berbuat lancang kepada majikannya.
Sementara Jagdish yang shock melihat ada orang asing yang menyentuh Farras segera mengamankan senjata tajam yang ada di meja makan.
Shezan mengembalikan ponselnya kepada Farras dengan tangan gemeteran, Farras mengambilnya dan meletakkannya di atas meja makan. Kemudian Ia duduk di kursi meja makan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Dan mereka bertiga pun sarapan makan dengan tenang, tidak ada yang berani bersuara.
Saat Farras hendak masuk ke dalam mobilnya, satu unit Ambulans tiba di depan rumah Farras. Para petugas langsung bergegas menghampiri Farras.
"Anda tidak apa-apa Pak?" tanya petugas tersebut hati-hati.
"hmm, " Farras masuk ke mobilnya mengabaikan kedua petugas tersebut.
Dan Jagdish pun melajukan mobilnya meninggalkan petugas dan Shezan yang terbengong.
__ADS_1
"Maafkan saya Pak, bukannya saya sudah bilang tidak ada yang sakit. Kenapa masih datang?" Tutur Shezan kepada petugas tersebut.
"Karena Pak Farras langsung yang meminta. Baiklah kalau tidak ada pasien yang mau kami bawa, Kami permisi. Selamat pagi." Jelas petugas tersebut, dan kemudian pergi membawa ambulansnya meninggalkan kediaman Farras.
"Ada apa dengan mereka?" guman Shezan heran. Ia pun mengambil ponselnya. Ada yang Ia lupakan sebelumnya. Siapa sebenarnya pria yang hidup bersamanya.
Shezan mengetik nama Farras Cakrawangsa di situs mesin pencari online. Setelah Ia dirumorkan memiliki hubungan dengan Nausheen. Sangat mudah mencari informasi tentang Farras di Internet. Ia adalah salah satu putra dari pemilik rumah sakit. Ayahnya adalah seorang dokter.
"Direktur Myrtle?!" guman Shezan tak percaya membaca artikel yang menuliskan Farras adalah direktur perusahaan Fashion yang pernah menolaknya.
Shezan menepuk jidatnya, akhirnya sekarang Ia tahu mengapa Jagdish dan Farras tampak tak asing saat melihat mereka mengenakan setelan jas. Pasti dua pria yang kemarin di lift adalah Farras dan Jagdish.
kok bisa cowok sultan nyasar ke kedai Bu Sri?. Perkataan Nina kembali berputar di kepala Shezan.
"Apa mereka mengikutiku setelah bertemu di lift? dan setelah kedai tutup memintaku untuk tinggal dirumah ini?" Pikir Shezan memikirkan kemungkinan yang mungkin saja bisa terjadi.
"Apa Pak Farras menyukaiku pada pandangan pertama?" Shezan masih berpikir keras tentang kemungkinan.
"Ha..ha..ha..Mengapa aku jadi mengkhayal tingkat tinggi begini?" tawa Shezan mengakhiri pemikirannya yang tidak-tidak. Ia pun menghapus pemikir tersebut dari kepalanya.
***
Sementara itu...
Farras yang dalam perjalanan menuju kantornya, terus memegang dadanya. Ia merasa aneh dengan dirinya setelah Shezan mendorongnya. Mengapa Aku tidak merasa terganggu?
Jagdish yang melihat hal itu dari kaca spion dalam mobil merasa khawatir. Ia khawatir Farras akan marah dan melakukan hal yang kejam kepada Shezan.
"Anda baik baik saja?" tanya Jagdish.
"hmm."
Jagdish tidak menemukan raut aura ingin membunuh di wajahnya Farras. Ia berpikir Farras sedikit bisa bersikap baik dengan Shezan. Dan Ia memutuskan untuk membuat Farras menyukai Shezan, meskipun Shezan bukan gadis yang dicari Farras.
"Ibu Anda ingin Anda pergi ke resepsi pernikahan adik Anda dengan membawa Nausheen," Ujar Jagdish mengingatkan Farras. Berhubung acaranya akan berlangsung besok.
"Apa Anda ingin Saya menghubungi manajernya Nausheen?" tanya Jagdish menawarkan diri. Ia ingin mengingatkan Nausheen kembali.
"hmm,"
Jagdish yang telah lama berteman dan menjadi asisten Farras sudah memahami bahasa isyarat Farras. Setiap hmm memiliki arti yang berbeda sesuai dengan nada yang dikeluarkan.
__ADS_1
hmm yang pertama artinya adalah dia sedang tidak dalam keadaan baik, sedangkan hmm yang kedua adalah ya terserah lakukan saja, aku tidak peduli
***