
Karena terlalu banyak menggosip, membuat pekerjaan Shezan menjadi terbangkalai. Ia harus sedikit lembur hingga malam menjelang, Ia takut lupa jika dilanjutkan keesokan harinya.
Berada sendirian di ruangannya tidak membuat Shezan takut, karena lampu yang terang benderang. Lain cerita jika lampu mati.
"Astaghfirullah! mati lampu!" Seru Shezan. Dan dirinya mulai membayangkan sosok makhluk astral yang mendekatinya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Farras kepada Shezan yang berjongkok di bawah meja dengan mulut komat kamit.
"Hantu." Ujar Shezan menoleh ke arah Farras yang kenapa tiba-tiba makhluk itu ada di ruangannya.
Lampu pun hidup kembali, namun hanya beberapa lampu yang hidup. Mungkin ingin hemat listrik cadangan.
Farras tersenyum melihat Shezan yang masih terdiam membeku melihatnya. "Aku belum jadi hantu." Farras menarik lengan Shezan agar gadis itu berdiri.
"Bukan?" Tanya Shezan bingung, "Mengapa kamu, eh Bapak ada disini?" Tanya Shezan bersikap sopan, mengingat aturannya untuk berpura-pura saling tidak mengenal.
"Mengapa kamu belum pulang-pulang?" Tanya Farras, Ia tidak menjawab pertanyaan Shezan, Ia lebih memilih melihat apa yg dikerjakan Shezan dari dekat.
"Kerjaan Saya belum selesai Pak,"
Kreettt..
"Begitu," ujar Farras sembari menyeret sebuah kursi lebih dekat ke arah Shezan dan duduk di atasnya. "Lanjutkan lah kalau begitu."
Shezan melihat ke sekitar, memastikan ada orang atau tidak. Ingin rasanya Ia menendang makhluk hidup yang ada di hadapannya. Tetapi karena Ia tidak ingin mengambil resiko. Ia urungkan niat jahatnya itu. "Apa yang dilakukan siluman berwujud manusia ini disini?" Gumannya kesal melanjutkan pekerjaannya. Entah mengapa ada perasaan senang dihatinya melihat Farras, makhluk yang sudah lama tidak muncul di hadapannya.
"Kenapa lama sekali? apa tidak bisa dipercepat?!" seru Farras.
Shezan tidak menanggapi, omelan Farras. Ia berusaha untuk konsentrasi mengerjakan pekerjaannya.
"Sayang Kamu lanjut besok saja."
kretek..
Shezan tidak sengaja mematahkan jarum mendengar perkataan Farras, yang masih terduga dedemit.
"Sa-yang..? jangan-jangan orang ini kerasukan setan, atau dia bukan manusia? Pikir Shezan histeris bergidik ngeri melihat tingkah laku suaminya yang aneh lagi.
Tanpa menoleh kebelakang, Shezan buru buru membereskan barangnya, Dia harus cepat-capat kabur dari sini. Setelah membereskan barangnya. Shezan buru-buru pergi kabur meninggalkan ruangannya, tanpa menoleh dan berkata apa-apa kepada Farras.
"Pekerjaan urusan belakangan, Keselamatan diri lebih penting." Guman Shezan dalam hati.
"Dia benar-benar berpikir kalau Aku hantu?" Guman Farras melihat istrinya yang kabur.
Langkah kaki Shezan yang kecil tidak sebanding dengan Farras. Dengan mudah Ia dapat disusul oleh Farras.
__ADS_1
Di luar ruangan itu, Sekertaris pribadi Farras melihat mereka berdua. Memang benar wanita itu simpanannya direktur.
***
Farras menyusul Shezan masuk ke dalam lift. Begitu melihat sosok yang Ia kira hantu ikut masuk ke dalam lift, Shezan berlari keluar lift. Namun langkahnya terhenti, Farras menarik tangannya dan segera menutup pintu lift.
"Aku bukan Hantu," Ujar Farras dengan tenang, kembali seperti dirinya yang biasanya.
Shezan tertegun, "Oh iya." Ujarnya patuh.
Tunggu sebentar!, Ini bukan saatnya untuk patuh! Kali ini aku tidak boleh lengah. Bukankah seharusnya aku marah? orang ini tidak boleh memperlakukanku sesuka hatinya.! sekarang orang ini mau apa?
"Ayo!" Ujar Farras menggenggam tangan Shezan dan membawanya keluar dari lift.
"Oh iya," Ujar Shezan kembali Patuh.
Mengapa aku kembali lagi patuh? orang ini benar-benar penuh kharisma. Aku kalah.
Farras membukakan pintu mobilnya untuk Shezan, dan dengan patuh Shezan duduk di dalamnya. Setelah memastikan Shezan mengenakan sabuk pengamannya, Farras menjalankan mobilnya meninggalkan gedung Myrtle. Sepertinya Ia sudah mempelajari bagaimana menjadi suami yang baik dan benar.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Farras di tengah perjalanan mereka. Sesekali Ia melirik Shezan.
"Ada, mengapa kamu menyuruhku menjaga apartemen dan tidak mengangkat teleponku?" Ujar Shezan tanpa melihat ke arah Farras, Ia lebih memilih melihat pedagang makanan dipinggir jalan.
"Apa kamu tiba-tiba datang menemuiku karena Aku ingin bercerai?" Ujar Shezan berdecak.
Shezan terdiam membeku mendengar perkataan Farras yang ingin membunuhnya. Ia menelan salivanya. "Sudah Aku duga, Kau memang benar ingin membunuhku." Ujar Shezan menoleh ke arah Farras. Ia menatap Farras dengan amarah yang telah terkumpul.
"Kau sengaja menyuruhku tinggal di tempat yang berhantu karena memang benar ingin membunuhku?! mengapa?" Seru Shezan emosi.
"Jagdish belum memberitahunya." Guman Farras dalam hati.
"Bagaimana bisa Aku merindukan orang ini." Guman Shezan kesal melihat ke arah trotoar jalan. Ia tidak terima dengan kenyataan Ia merindukan pria aneh yang duduk di sebelahnya.
Farras tersenyum senang mendengar gumanan Shezan, "Kamu merindukanku?"
"Apa? tidak jadi!" Seru Shezan melirik Farras sekilas. Tentu saja harus ditarik.
"Aku akan membalasnya. Bagaimana kalau menaruh obat pencahar di makanannya yang banyak biar orang ini mencret tujuh hari tujuh malam." Guman Shezan memikirkan cara membalas dendam kepada Farras.
Farras sedikit tertawa mendengar Shezan yang ingin meracuninya, "Aku minta maaf, lain kali aku tidak akan melakukannya lagi." Ujarnya dengan tenang.
"Aku tetap ingin bercerai, Kau pikir Aku akan bisa hidup tenang dengan suami yang punya niatan membunuh sepertimu?!" Ucap Shezan berang.
deg..
__ADS_1
Farras memenepikan mobilnya dan berhenti, Ia menatap dingin Shezan, membuat Shezan terdiam dan sedikit takut. Ia mengira Farras akan memakannya hidup-hidup.
Melihat Shezan yang ketakutan, Farras tersadar dan merubah air mukanya, Ia tersenyum. "Sayang, Aku takut kamu tidak bisa hidup tanpaku." Ujar Farras kembali menjalankan mobilnya.
Masih kerasukan? matilah Aku!
"Ini Aku mau dibawa ke mana? kuburan?" Tanya Shezan yang akhirnya sadar dirinya mau dibawa ke mana.
"Tentu saja pulang ke rumah kita." Ujar Farras dengan tenang.
"Apa?! Aku tidak mau tinggal dikamar itu lagi, turunkan Aku di depan sana!" Seru Shezan.
Farras tersenyum melirik Shezan. "Apa artinya kamu ingin tidur di kamarku? Oke. Malam ini kita tidur bersama."
"Apa?! Tamat lah sudah."
Farras hanya bisa terpaksa tersenyum tidak ikhlas menanggapi omelan istrinya yang berisik. Ia harus menahan semuanya. Dan harus mulai membiasakan diri sekarang dengan yang lingkungan yang berisik.
"Mengapa? bukan kah kita ini suami istri?."
Shezan menatap Farras tidak senang. Apa sekarang ini aku lagi diculik dedemit?
Farras membawa Shezan pulang dan tidur di kamarnya. Karena takut, Shezan menurut saja. Tidur bersama. Mereka tidur berhadapan dengan mengambil jarak yang cukup jauh.
"Ini tidur bersama?" Tanya Shezan bingung. Ia juga tidak tahu seperti apa yang namanya tidur bersama suami istri.
Farras tersenyum, "Kamu mau yang bagaimana?" ujarnya menggoda Shezan.
"Tidak, begini bagus!." Seru Shezan
Memangnya bagaimana? tidur nggak pake baju? yang benar saja! Suhunya dingin gini Aku bisa mati!
"Ceritakan kepadaku tentangmu, masa kecilmu dengan keluargamu, masa sekolahmu, Aku ingin tahu semuanya." Tanya Farras, tatapannya tidak lepas dari Shezan.
"Mengapa Kau ingin tahu? bagaimana tentang mu?" Tanya Shezan balik.
Farras tersenyum, "Jika Aku cerita, Aku takut kamu tidak bisa tidur."
"Tapi..., mengapa sekarang kamu menjadi tidak sopan kepadaku?" Ujar Farras tersenyum mengintimidasi. Mengingat Shezan lebih muda darinya. Seharusnya Ia menggunakan bahasa yang lebih sopan.
"Aku sudah berhenti bekerja denganmu!" Seru Shezan.
Farras sedikit tertawa pasrah mendengar alasan Shezan, Apa sebentar lagi dia akan membuat rumahku jadi berantakan tidak beraturan? Dia berisik dan tidak sopan. Harus sabar.
Shezan menceritakan perjalanan hidupnya yang biasa dan tidak begitu penting untuk diceritakan hingga Ia tertidur. Farras mendengar ceritanya dengan khidmat.
__ADS_1
Farras menatap Shezan yang telah terlelap, "Adik kecil, Kamu tumbuh dengan baik," ucapnya. Ia bangkit dari tidurnya, mengatur suhu kamarnya dan menaikan selimut Shezan hingga menyisakan kepalanya.
Ia pergi keluar meninggalkan kamarnya.