Finding Miss Right

Finding Miss Right
Perangkap


__ADS_3

Shezan memandang kepergian Farras bingung, "Apa dia penderita scopophobia?" Guman Shezan, Ia menjadi merasa bersalah karena sudah mengerjai suaminya.


( scopophobia: ketakutan berlebihan terhadap kontak mata dengan oleh orang lain)


"Lain kali mengerjainya dengan cara yang lain saja." Pikir nya kemudian. Ia berjalan menuju kamar lain dan mendapati kopernya sudah ada di sana. Sepertinya Farras sudah memerintahkan orang lain untuk membawa koper dan membersihkan apartemennya, terakhir kali Shezan membuat apartemen itu berantakan.


Memangnya renovasi kamar butuh berapa hari?


Shezan membuka kulkas, kulkas itu juga penuh dengan berbagai bahan makanan. Ia memutuskan untuk memasak yang terbaik yang dia bisa, sebagai bentuk pertanggungjawabannya kepada Farras.


"Dia terlihat pucat, Apa dia baik baik saja?" Guman Shezan sembari memasak.


Setengah jam kemudian Farras keluar dari kamarnya, Ia melihat Shezan yang masih memasak di dapur.


"Apa yang kamu masak?" Tanya Farras datar.


Suaranya mengagetkan Shezan. Farras telah berdiri di sebelah Shezan. Ia memperhatikan apa yang dimasak Shezan. Kali ini Ia berpikir harus berhati-hati dengan istrinya. Mengingat Shezan pernah mencoba memasukan obat pencahar kedalam makanannya. Dan sekarang melakukan percobaan pembunuhan kepadanya di lift.


Shezan menoleh ke empunya suara, "Aku minta maaf, Aku tidak tahu kalau kamu menderita kecemasan." Ujar Shezan bernada tulus.


"Menderita kecemasan?"


"Aku melihatmu panik, tapi aku malah menahanmu. Aku benar benar menyesalinya ."


Farras mengeluarkan senyumnya, "Jika ingin membohongiku, lakukanlah dengan benar."


"Aku tidak berbohong."


"Karena Aku menyukaimu, maka aku akan memaafkanmu." Ujar Farras pergi meninggalkan Shezan dengan masakannya, setelah Ia yakin Shezan tidak berbuat yang aneh-aneh lagi kepadanya.


***


Malam hari yang ditakutkan Shezan pun tiba. Meski Ia tidak sendirian di apartemen itu, tetapi ternyata Ia juga tetap takut sendirian di kamarnya. Ia heran mengapa orang lain bisa tidak takut, sedangkan dirinya sangat takut. Apa karena terlalu sering nonton film horror?


Ia pergi keluar dari kamarnya, dilihatnya Farras duduk dengan tenang di sofa ruang tengah. Farras tampak serius memainkan Tabletnya.


Shezan memutuskan untuk ikut bergabung dengan Farras duduk di salah satu sofa di ruangan itu. Sementara Farras yang menyadari kehadiran shezan manarik senyum di ujung bibirnya.


Dia masuk perangkap.


"Mengapa Kamu keluar?" Tanya Farras tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tabletnya.


"Tidak mengantuk, Apa kamu sedang kerja?" Tanya Shezan.


"Hmm.. "


"Aku buatkan kopi ya."


"Boleh."


Mendengar persetujuan Farras, Shezan bergegas menuju dapur dengan riang untuk membuatkan kopi. "semoga akan tetap bergadang sepanjang malam." Guman Shezan dalam hati merencanakan sesuatu.


Setelah selesai membuat kopi, Shezan bergegas menuju ruang tengah. Namun Farras sudah mematikan layar tabletnya.


"Perkerjaanku sudah selesai. Selamat tidur." Ujarnya, Ia mengabaikan kopi yang dipegang Shezan.


"Loh kopi nya?"


"Untuk Kamu saja."Ujar Farras, Ia berjalan menuju kamarnya.


"Tunggu dulu, besok kan libur. Tidak bisakah kita bergadang nonton bola?" Pinta Shezan. Meski Ia tidak tahu apakah ada pertandingan bola atau tidak. Ia bukan penggemar bola.


"Mengapa Aku harus bergadang hanya karena besok libur?" Farras mengabaikan Shezan.


Shezan meletakkan kopi yang dipegangnya di atas meja, dan bergegas menyusul Farras yang akan membuka pintu kamarnya. Ia menarik ujung baju Farras.

__ADS_1


"Tunggu tunggu. "


"Ada apa?"


Shezan tampak berpikir, "Tidak, Selamat tidur."


"Oke, tidur lah yang nyenyak," Ujar Farras.


Namun Shezan belum melepaskan tangannya dari ujung baju Farras.


"Kamu takut, dan ingin Aku menemanimu?" Tanya Farras lembut.


Shezan bersemangat mendengar tawaran Farras, "iya, iya."


Farras tersenyum penuh kemenangan, "Mengapa Aku harus? Aku tidak mau."


"Apa?" Ucap Shezan lirih.


Farras membuka pintu kamarnya lebar, "Kalau kamu takut dengan kamarmu, kamu bisa tidur disini."


"Apa?" Desis Shezan, mendengar tawaran Farras.


Farras menjentikkan jarinya di depan mata Shezan yang terbengong. "Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku sangat lelah, jangan memintaku untuk bergadang."


"Sepertinya dia tidak bermaksud jahat." Pikir Shezan mempertimbangkan tawaran Farras.


"Baik."


Akhirnya Shezan memutuskan mengikuti tawaran Farras. Shezan menggulung badannya dengan selimut yang Ia bawa dari kamarnya. Ia tidur membelakangi Farras.


"Tidak akan terjadi apa-apa, tidur sajalah." bisiknya dalam hati meyakinkan dirinya. Ia pun menutup matanya mencoba untuk segera tidur.


Tak lama berselang, tiba-tiba Farras mendekati Shezan dan memeluknya dari belakang, membuat kepala Shezan bersandar di dada bidang Farras.


Mendapat serangan tiba-tiba membuat Shezan yang hampir tertidur menjadi tersentak.


deg..


Shezan dan Farras sama sama mengira mendengar suara degup jantung mereka masing-masing. Mereka tidak tahu kalau mereka saling berdebar.


Farras mencoba menyium rambut Shezan, harum.


"Mengapa saat dewasa aku begitu tertarik kepadamu seperti ini? Aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan jika mengingatku." Celoteh Farras dalam hati.


"Hah! Ini seperti di adegan drama, ternyata cukup nyaman." Celoteh Shezan dalam hati tersenyum. Ia memutuskan untuk menutup kembali matanya, dan akhirnya jatuh tertidur.


drrrtt.


Terdengar suara pesan masuk di ponsel Shezan, Ia melatakannya di atas nakas.


Farras yang belum tertidur melihat Shezan yang telah tertidur pulas. Ia berinisiatif bangun dari tidurnya dan mengambil ponsel Shezan.


"Siapa yang menghubunginya malam malam begini?" Gumannya.


Ia duduk bersandar di sandaran kasurnya, dan membuka layar ponsel Shezan, dia menguncinya?


Farras menekan angka 1234 pada layar ponsel Shezan dan berhasil terbuka. Membuatnya sedikit mentertawakan dirinya yang sudah berekspektasi tinggi kepada Shezan. "Dia tidak berniat mengunci layar ponselnya." Gumannya sembari membuka pesan yang baru saja masuk ke ponsel Shezan.


Aditya


Kamu sudah tidur?


"Hmm.. "


Farras menjadi bersemangat berinisiatif membalas pesan tersebut. Mengingat Ia tidak bisa melukai, membunuh, dan memecat selingkuhan istrinya itu.

__ADS_1


Shezan : Apa Kau lupa meletakkan dimana otakmu? Aku mempunyai suami yang sangat tampan dan kaya.


Aditya: Kamu bukan Shezan?


apa?


"Apa yang kamu lakukan dengan ponselku?" Suara Shezan mengagetkan Farras.


Shezan merampas ponselnya dari tangan Farras. Dan mencari tahu apa yang telah dilakukan Farras.


Shezan sedikit tertawa membaca apa yang dikirim Farras kepada Aditya. "Ya ya, kamu memang tampan dan kaya, Aku mengakui hal itu"


"Dia selingkuhan mu?" Tuduh Farras, Ia terlihat kesal.


"Bukan, Aku tidak menulis namanya selingkuhan. Berarti bukan." Ujar Shezan memberi penjelasan. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


"Kau mencoba berbohong lagi?"


apa ini yang namanya,  sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya


"Kamu tidak suka orang lain berbohong kepadamu?" Shezan menatap bola mata Farras, Ia ingin tahu kemarahan Farras.


"Tentu saja."


"Kamu juga membesarkan hal yang sepele."


"Bagiku tidak ada hal yang sepele."


"Saat kamu bertanya Apakah Aku berasal dari Desa Sigara. Aku berbohong kepadamu. Aku lahir di sana, dan menghabiskan masa kecilku di sana." Ujar Shezan memberi keterangan.


Shezan memberanikan diri menatap Farras, meski Ia sangat takut. Farras akan menggila lagi dan melakukan kekerasan kepadanya.


Pengakuan Shezan membuat Farras tertegun, Ia tidak ingin Shezan mengingat apa yang seharusnya tidak boleh diingatnya. Karena Shezan yang sekarang bukanlah gadis kecil lagi.


Farras mengulurkan kedua tangannya hendak meraih Shezan. Melihat hal itu Shezan ingin mengambil langkah seribu. Namun Farras berhasil menangkapnya dan mendekapnya.


"Tidurlah." Ujar Farras lembut.


Bagai kerbau dicucuk hidung, Shezan menurut kembali tidur. Dan Farras kembali memeluknya.


"Aku mengatakan yang sebenarnya." Ujar Shezan yang masih ingin belum tidur.


"Ya."


"Aku tidak akan berbohong lagi kepadamu."


"Itu bagus."


"Tapi mengapa Kamu menanyakan hal itu? Apa Aku mirip dengan seseorang yang kamu kenal? Ayahku bilang saat berusia lima tahun Aku sakit, Aku sudah tidak tinggal di sana lagi. Jadi Aku bukan seseorang yang kamu kenal."


"Kamu bukan dia, kalian sama sekali tidak mirip. Dia sangat cantik." Ujar Farras mencoba menggoda Istrinya.


"Ya ya, Aku memang tidak cantik bawaan lahir." Ujar Shezan sadar diri. "Ternyata matanya tidak katarak" Guman Shezan dalam hati.


Ocehan Shezan membuat Farras sedikit tertawa.


"Cih.. Dia tertawa." Guman Shezan.


"Apa dia cinta pertama mu?" Tanya Shezan penasaran dengan wanita pertama Farras.


"Apa Kamu tahu apa itu cinta pertama?" Tanya Farras meremehkan Shezan.


"Sudahlah, Aku tidak akan bicara lagi." Ujar Shezan kesal, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah dibilang tidak cantik, di remehkan lagi. Double attack


"Ya Jangan bicara lagi. Tidurlah." Ujar Farras, Ia tidak terbiasa dengan sesuatu yang berisik saat tidur.

__ADS_1


***


__ADS_2