Finding Miss Right

Finding Miss Right
agen rahasia


__ADS_3

Farras menarik lengan Shezan pergi meninggalkan dapurnya yang berantakan. Padahal Ia hanya membuat pancake yang cara membuatnya Ia lihat di YouTub*. Ia ingin membuat Shezan terkesan. Tetapi setelah pancakenya selesai Ia tidak mengerti mengapa dapurnya jadi sangat berantakan.


"Sudahlah tidak usah membersihkan dapur lagi. Kamu bersiap-siap saja pergi kerja!" Seru Farras. Ia ingin melihat Shezan, tetapi berada di tempat yang berantakan mengganggu suasana hatinya.


"Kerja tidak boleh setengah-setengah," Ujar Shezan menarik kembali tangannya. Ia harus membersihkan noda adonan gosong di kompor.


"hmm.."


"Bahkan orang yang bekerja di rumah ini juga tidak mau bertemu dengan orang ini." Guman Shezan. Mengingat para pekerja di rumahnya akan mulai bekerja saat Farras tidak ada di rumah.


"Aku tidak suka melihat orang lain berkeliaran di depanku." Ujar Farras datar mendengar gumanan Shezan.


"Apa bukan karena Kamu yang menakutkan?"


"Aku menakutkan?Tidak, itu karena Aku yang tidak menyukai mereka"


Shezan menghentikan tangannya menggosok panci di bak cuci piring, dan menatap tajam panci tersebut. Ia membayangkan panci itu adalah suaminya. Harus di gosok agar otaknya benar-benar bersih. Atau otaknya diganti saja dengan otak cicak.


"Kamu sedang marah?" Tanya Farras, Ia mengamati Shezan dengan seksama.


"Iya, Kamu kejam, Kamu KDRT! Apa kamu mantan preman?atau mantan napi?" Seru Shezan emosional. Ia mencuri curi pandang Farras yang berdiri disebelahnya.


Apa dia akan memukulku?


Farras ingin mengubungi Jagdish untuk meminta pencerahan. Tetapi Ia urungkan niatnya. Ia harus belajar memahami wanita yang sekarang hidup dengannya.


Shezan memberanikan diri menoleh ke arah Farras. dilihatnya Farras menatapnya tanpa ekspresi. Ada dia sedang berpikir untuk KDRT lagi?


"Baiklah. Besok Kamu tidak perlu bersih-bersih. Aku akan mencoba membiasakan diri melihat orang-orang berkeliaran di depanku!" Seru Farras kesal. Ia menjadi emosional karena harus mengalah. Dengan perasaan kesal dan penuh emosional Farras pergi meninggalkan dapur menuju ruang kerjanya. "Nanti Aku akan mengantarmu!" Serunya sebelum pergi.


Shezan hanya bisa melongok tidak percaya menatap kepergian pria aneh yang berstatus suaminya. "Aku marah karena kamu KDRT! mengapa Aku yang menjadi terduga bersalah karena tidak mau bersih bersih?" Gumannya kesal. Ia melanjutkan pekerjaannya.


***


Setelah selesai mandi di kamarnya, Shezan keluar kamar dan mendapati Farras sudah berdiri menunggu di depan kamarnya, raut wajahnya masih terlihat kesal.


Shezan melihat aneh raut wajah kesal Farras, entah mengapa hal itu menggelitik hatinya. Ia harusnya marah karena menjadi korban KDRT. Tetapi sekarang Ia ingin tertawa.


"Kamu sudah selesai? Aku akan mengantarmu!" Seru Farras menyambut Shezan. Ia masih kesal memikirkan dirinya yang harus mengalah agar istrinya tidak lagi marah kepadanya dan bertekuk lutut kepadanya.


Di depan rumah. Jagdish menyambut Shezan dengan senyum.


Farras yang berjalan di depan Shezan segera berbalik dan menutup mata Shezan dengan telapak tangannya. "Aku akan memotong gajimu 77 persen setiap kali Kau tersenyum kepadanya!" Seru Farras tidak senang kepada Jagdish.


Ancaman Farras yang dilontarkan secara tiba-tiba menghilangkan senyum di wajah Jagdish. Sekarang Dia cemburu?


Farras menggengam tangan Shezan dan membimbingnya ke bangku penumpang belakang.


"Jika kamu menyukai melihat orang lain tersenyum kepadamu, maka mulai sekarang kamu tidak bisa lagi melihatnya." Guman Farras dalam hati, Ia tersenyum licik.


Jagdish melirik dua umat manusia yang duduk di belakangnya dari kaca spion. Apa sekarang Aku menjadi nyamuk diantara mereka?


"Mengapa Kamu terus melihatku? kamu ketinggalan Tabletmu?" Tanya Shezan. Ia heran sejak tadi orang disebelahnya seperti sudah menjadi pengangguran tidak ada kerjaan, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Tidak, Nanti Aku akan merindukanmu selama tujuh jam. Jadi sekarang Aku harus manfaatkan waktu berhargaku yang tiga puluh menit ini untuk melihatmu." Ujar Farras memberi penjelasan, tatapannya tidak lepas dari Shezan.


"...."


Shezan tidak bisa berkata apa apa mendengar Farras memberinya rayuan maut lagi.


Jagdish mengantarkan Shezan ke parkir basement gedung Myrtle. Hari ini tujuan mereka bukan ke gedung itu, tetapi entah mengapa tiba-tiba boss nya berbaik hati menyimpangkan perjalanannya untuk mengantar Shezan.


"Terima kasih Pak." Ujar Shezan bersikap sopan kepada Jagdish karena sudah berbaik hati mengantarnya pergi kerja.


"Iya mbak." Jawab Jagdish bersikap ramah.


"Mengapa Kamu berterima kasih kepadanya?" Tanya Farras datar, Ia terlihat tidak menyukai hal yang dilakukan Shezan.


Shezan tidak mengerti mengapa dirinya tidak boleh mengucapkan terima kasih, bukannya harus begitu.


"Harus berterima kasih karena sudah diantar."


"Dia hanya orang yang Ku pekerjakan!" Seru Farras.


Jagdish hanya bisa menghela nafas panjang, Ia melirik jam tangannya. Menunggu perdebatan suami istri di belakangnya selesai.


"Iya baik, Pak saya ambil lagi ucapan terima kasihnya." Ujar Shezan kepada Jagdish. Ia tidak ingin memperdebatkan hal sepele. lebih baik Ia segera turun dari mobil.


Jagdish menjalankan mobilnya setelah memastikan Shezan turun dengan baik dan benar.


"Atur lagi kamarnya seperti semula, dan kamar asisten_ " Perintah Farras terhenti. Ia tidak mau orang lain tidur di rumahnya. Tidak boleh ada kamar pembantu.


"Tidak, atur saja asisten yang bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 8 malam!" Perintah Farras.


"Dan Kau, Mengapa kau memberinya tugas pekerjaan rumah yang sangat banyak?!" Seru Farras kesal.


Mendengar teriakan Farras, Jagdish menelan salivah, Ia bersiap boss nya akan menghajar atau menghukumnya lagi.


Farras yang masih emosional menendang nendang sandaran bangku pengemudi mobilnya, "Dia tidak menyukainya! Kau sengaja ingin menindasnya ya?!"


"Anda sendiri yang memerintahkan agar memberikannya perkerjaan yang bisa Anda lihat. Boss selalu benar." Guman Jagdish dalam hati.


"Maafkan saya." Ujar Jagdish pasrah.


"Aku akan memotong gajimu! permintaan maaf tidak akan memberikan keuntungan!."


Jagdish melirik kaca spion melihat boss nya yang sekarang tengah memainkan tabletnya. "Dia tidak menghajarku?" Guman Jagdish dalam hati,


"Sebaiknya mereka tidak membuatku mendengarkan kotoran! #&!$$!" Seru Farras, Ia masih marah-marah menggunakan bahasa yang tidak jelas sembari melihat layar tabletnya. Hari ini dirinya akan menghadiri rapat pemegang saham yang menurutnya tidak penting.


Jagdish melukis senyum di wajahnya, "Apa apa dengannya?" Gumannya dalam hati bingung. Ia belum pernah melihat Boss nya marah marah tidak jelas.


***


Jagdish menerima pesan singkat dari Shezan.


Shezan

__ADS_1


Ada hal yang ingin saya tanyakan mengenai Pak Farras.


^^^Mbak tanya langsung saja dengan Pak Farras.^^^


Jagdish tahu Farras menyadap ponselnya Shezan. Sebenarnya Ia juga memiliki hal yang ingin dibicarakannya dengan Shezan. Ia menghubungi salah satu rekan kerja Shezan yang Ia kenal.


Di sisi lain, rekan kerja Shezan mendatanginya dan memberikannya sebuah kotak dan menyuruhnya pergi ke toilet. Shezan menuruti permintaan rekan kerjanya karena mendengar nama Jagdish disebut.


Setibanya di toilet, Shezan membuka kotak tersebut dan mendapati sebuah ponsel di dalamnya. Ia menggunakan ponsel tersebut untuk menghubungi Jagdish.


"Hallo mbak, Apa mbak baik baik saja? Apa yang ingin mbak tanyakan?" Terdengar suara Jagdish begitu panggilannya terhubung.


"Apa kita sekarang sedang bermain agen rahasia?" Tanya Shezan bingung. Mengapa untuk menelepon saja harus serumit ini.


Jagdish tertawa, "Anggap saja begitu. Apa yang ingin mbak tanyakan?"


"Apa Pak Farras memiliki kelainan pada matanya? mengapa kemarin Bapak mengatakan dia tidak tertarik dengan wanita lain?"


"Tidak, Dia hanya tidak suka melihat wanita lain. Dan mbak baru saja membuatnya memutuskan untuk membiarkan orang lain hilir mudik di depannya setiap hari." Ujar Jagdish memberi penjelasan.


"Jangan bercanda."


"Saya tidak bercanda. Apakah hubungan Anda dengan Ayah Anda baik? Maaf jika saya menanyakan hal ini."


"Ya baik, Dia Ayah yang baik." Jawab Shezan jujur. Ayahnya sangat baik kepadanya.


"Apa saya boleh bertanya tentang Ibu kandung mbak?" Tanya Jagdish.


"Mengapa Bapak bertanya?" Shezan balik bertanya.


"Saya tahu mbak pernah tinggal di Desa Sigara. Mengapa mbak berbohong?" Tanya Jagdish masih mengintrogasi Shezan. Ia ingin mengetahui sampai di mana amnesia Shezan.


deg..


"Jika mengetahui saya berbohong Apa orang itu akan melakukan kekerasan lagi kepada saya?" Tanya Shezan hati hati.


"Kekerasan lagi? Maksud Anda Pak Farras? Apa dia melakukan sesuatu kepada mbak?" Tanya Jagdish panik. Ia merutuki dirinya sendiri, Bagaimana bisa Ia bisa membiarkan Shezan tinggal bersama dengan pria seperti Farras.


"Tidak.." Ujar Shezan menggerakkan memonyongkaan mulutnya dan menggerak gerakkannya. Tidak sakit. "Aku baik-baik saja."


"Saya berada dipihak mbak. Mbak bisa memberitahu saya, jika Pak Farras melukai mbak Shezan. Katakan kepada saya mengapa mbak berbohong? Saya tidak akan memberitahunya."


Ponsel Shezan bergetar, Farras mengirimnya sebuah pesan.


Farras.


Apa kamu sedang membicarakanku dengan pria lain?


Shezan melihat ke kiri dan ke kanan, "Apa orang ini mengawasiku? "


Shezan kembali berbicara dengan Jagdish, "Maaf Pak, bicara lagi nanti." Ujar Shezan mematikan sambungan teleponnya.


Ia segera kembali ke ruangannya, sembari mengetik balasan untuk Farras.

__ADS_1


Kamu kok bisa tahu?


***


__ADS_2