Finding Miss Right

Finding Miss Right
Daster


__ADS_3

Platak pletuk platak pletuk....


Terdengar bunyi hak sepatu menggema di sepanjang salah satu lorong di gedung Myrtle. Seorang wanita berperawakan seperti top model dengan tinggi badan 171cm, berjalan tegak dengan penuh percaya diri dengan tatapannya tegas seakan tidak ada yang boleh menghalangi jalannya.


Di belakang wanita tersebut tampak Shezan berjalan mengikutinya, seperti anak itik yang mengikuti induk angsa.


Hari ini Ia datang dikarenakan menerima pemberitahuan penerimaan kerja, Setelah seminggu kasus penculikan dirinya. Manajer HR mengatakan kepadanya bahwa seseorang merekomendasikan dirinya.


Jadilah Shezan bertanya-tanya siapakah yang merekomendasikannya.


"Farras? Ah sangat tidak mungkin. Aditya?" Pikir Shezan teringat akan teman satu kampusnya, tempo hari yang pernah bertemu denganya di coffee shop tempat Nina berkerja paruh waktu.


Shezan segera mengambil ponselnya dan mencari nama temannya itu di aplikasi Wha**App. Terlihat 7 pesan masuk dari Aditya belum dibuka.


"Apa benar orang ini?" Pikir Shezan sedikit kaget. Ia menatap horror layar ponselnya. "Jangan-jangan jabatannya lebih tinggi dari Pak Farras." Pikir Shezan, Ia segera membuka pesan tersebut dan berniat ingin segera membalasnya.


"Silahkan masuk!" Seru wanita muda yang diikuti Shezan. Suaranya menghentikan jemari Shezan mengetik ponselnya.


"Iya Bu." Shezan menyimpan kembali ponselnya tanpa jadi mengirim pesan balasan untuk Aditya.


Mereka memasuki sebuah ruangan yang berdinding kaca sandblast. Di dalamnya telah ada beberapa karyawan yang duduk di bangku masing-masing. mereka tampak sibuk dengan urusan masing masing. Ada yang tampak melakukan diskusi berjamaah.


Mereka segera menghentikan aktivitasnya setelah mendengar wanita itu meminta perhatian mereka. wanita itu memperkenalkan Shezan sebagai anggota baru mereka.


Dengan gugup Shezan memperkenalkan diri. Baik lancar ataupun bersalahan Shezan memberi salam perkenalan diri. Tidak ada satupun dari mereka yang peduli. Mereka langsung kembali ke aktivitasnya semula setelah acara basa-basi itu selesai. Dan Shezan duduk di meja yang ditunjuk wanita yang membawanya.


"5 menit lagi rapat akan kita mulai!" Seru wanita itu. Dia adalah ketua tim designer. Orang memanggilnya Hani.


Shezan ikut mendengarkan dengan kagum dan takjub karyawan lain mempresentasikan rancangan fashion yang mereka buat. Hingga akhirnya tiba pada giliran Shezan. Semua mata tertuju kepadanya.


Terang saja Ia bingung, Ia baru 5 menit ada di ruangan ini. Dia bahkan tidak tahu apa yang sedang dirapatkan.


Dengan gugup Shezan berdiri untuk berbicara, "Daster, Pakaian yang sering dipakai karena kenyamanannya ketika ada di rumah". Ujarnya ngasal.


Semua mata menatapnya heran, menunggu Shezan menjelaskan apa yang dia maksud.


"Ketika kaum elit ada di rumah, mereka tetap mengenakan pakaian bagus dan rapi untuk menjaga penampilan mereka. Yang dipikirkan adalah penilaian orang lain tentang betapa bagus baju yang mereka kenakan. Meskipun pakaian tersebut tidak nyaman untuk digunakan beraktivitas di rumah." Ujar Shezan, Ia tidak tahu apakah yang dikatakannya betul atau salah. Yang penting baginya, Ia harus banyak bicara dihari pertamanya Berkerja.


"Untuk itu, Bila membuat daster yang memiliki nilai kemewahan tinggi. Pakaian ini akan banyak dilirik oleh kaum yang membutuhkan identitas dan kenyamanan." Tutur Shezan memberi kesimpulan.


Semua karyawan menilai pendapat yang dikemukakan Shezan. Sebagian tampak setuju, sebagian lagi tidak. Tetapi pendapat mereka semua tidak begitu berpengaruh. Keputusan tetap ada di tangan Hani.

__ADS_1


"Baiklah, Besok Saya terima designnya." Ujar Hani memberi keputusan dan mengakhiri rapat. Ia kembali duduk ke mejanya. Begitu juga dengan karyawan lain, mereka kembali meneruskan diskusi mengenai tindak lanjut design mereka yang disetujui Hani.


Berbeda dengan Shezan, Ia masih berdiri mematung di tempatnya.


".. Apa?! Bagaimana membuat daster yang memiliki kemewahan tinggi?" Pikir Shezan panik. Ia hanya asal bicara mengenai daster yang memiliki kemewahan tinggi.


Shezan pun duduk dengan lemas di kursinya. Beberapa menit kemudian Ia berhasil mengumpulkan semangatnya. Ia pun mengambil kertas yang banyak tersedia di meja dan mulai mencoretkan pensilnya.


Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 12:00. Waktunya istirahat. Semua karyawan yang ada di ruangan itu menghentikan aktivitas mereka. Waktu makan siang adalah waktu yang sangat berharga. Mereka tidak boleh melewatkannya.


"Kau tidak pergi makan siang?" Akhirnya ada seseorang yang tidak melupakan keberadaan Shezan.


Dengan sumeringah Shezan mengikuti rombongan itu ke cafeteria.


Ini adalah pengalaman pertama Shezan makan siang di kantor bersama dengan teman kerja. Setelah bertahun tahun tidak menggunakan ijasahnya, sampai dia sendiri pun lupa sudah berapa tahun dirinya menganggur.


Namun makan siang bersama di kantor tidak seperti apa yang selama ini dibayangkan Shezan. Tidak ada gosip. Mereka semua tampak asyik dengan makanannya masing-masing.


"Jika Kau terus memperhatikan sekelilingmu, kau akan kehabisan waktu makan siangmu." Ujar seorang karyawan yang duduk di depan Shezan. terlihat tanda pengenal yang bertuliskan Annindya Fitria tergantung di bajunya.


"Iya, baik." Shezan pun segera menghabiskan makan siangnya.


Selesai makan, Shezan kembali mengikuti rombongannya. Beberapa orang kembali ke ruangan mereka. Beberapa orang lagi pergi ke mushola. Shezan mengikuti rombongan yang pergi ke mushola.


Annindya memberikan perlengkapan sholatnya kepada Shezan, "Ini, setelah sholat nanti langsung saja balik ke ruangan. Berapa nomor mu?" Tanyanya kemudian.


Shezan memberikan nomornya, Annindya langsung menyimpannya. "Aku akan mengirimkan peraturan tidak tertulis di perusahaan ini." Ucapnya kemudian.


"Terima Kasih." Ujar Shezan dengan mata berbinar. Apa dirinya sudah memiliki sahabat baru di hari pertamanya bekerja?


"Ok Aku balik duluan ya," Ucap Annindya meninggalkan Shezan mengikuti karyawan lain yang juga sudah pergi meninggalkan mushola.


"Ok, " Ujar Shezan pasrah ditinggal sendiri di mushola yang lumayan besar dan luas. Sepi... begitu sepi dan sunyinya hingga suara semut sedang bergosip bisa terdengar.


Selesai Sholat, Shezan membuka layar ponselnya. Sudah ada pesan masuk dari Annindya. Ia kemudian membalas terima kasih. Ia tidak langsung membuka file yang berisi aturan tidak tertulis perusahaan yang dikirim Annindya.


Shezan membuka pesan Aditya yang tadi pagi belum sempat Ia balas. Ia menghela nafas, membaca pesan-pesan Aditya yang menurutnya tidak penting.


"Harus balas apa ya?" Pikirnya bingung.


Akhirnya Ia mendapatkan pencerahan kata apa yang harus diketiknya.

__ADS_1


To Aditya:


^^^Sudah.^^^


Tidak menunggu waktu lama, bahkan Shezan belum sempat menutup layar ponselnya. Ia sudah mendapatkan balasan dari Aditya.


From Aditya


Hah? Sudah dua bulan kamu baru makan sekarang?!


Balasan Aditya kembali membuat Shezan bingung, harus menjawab apa. Bukan kah dia tanya sudah makan? Apa yang salah dengan jawabannya?.


Shezan kembali mulai mengetik balasan. Namun saat akan mau mengetik panjang lebar. Ia melirik waktu yang tertera di atas layar ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 13:30wib. Artinya Ia harus segera kembali ke ruangannya. Tidak lupa menekan tombol send pada layar ponselnya.


To Aditya


^^^Iya, di kantor.^^^


***


Di lobi gedung Myrtle yang sudah terlihat sepi, Farras berjalan diiringi Jagdish menuju Lift.


"Kenapa Anda tidak ingat dengan jadwal Anda yang padat saat akan membuat masalah?" Tanya Jagdish mengomel kepada Farras.


Sementara yang diomeli tampak tidak peduli. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti. "Mengapa dia ada di sini?" Tanya Farras menatap ke arah Shezan yang tampak setengah berlari menuju lift.


Jagdish berhenti mengomel mengikuti arah tatapan Farras. "Saya akan cari tahu." Jawan Jagdish cepat. Namun dia kalah cepat dari Farras yang sudah berjalan menghampiri Shezan.


"Kamu berkerja di sini? Sejak kapan?!" Tanya Farras datar, Ia membaca tanda pengenal di baju Shezan.


Shezan tampak kaget tiba-tiba mendengar suara Farras. "I..Iya," Jawab Shezan gugup, seperti anak kecil yang ketahuan mencuri jambu di pohon tetangga.


"Hmm." Farras dengan tenang masuk ke dalam lift yang sudah terbuka lebar di depan mereka. Di ikuti oleh Jagdish.


Sebelum menuntup pintu lift. Jagdish menyempatkan diri tersenyum kepada Shezan yang tertinggal di luar.


"Dia dipecat." Ucap Farras datar dan tenang.


"Mengapa?!" Tanya Jagdish tidak terima, Ia mengetahui dengan baik Shezan sangat ingin bekerja menjadi designer. Ia sudah bertekad akan menghentikan Farras bertindak sesuka hatinya.


"hmm."

__ADS_1


"Baik. Saya mengerti."


***


__ADS_2