Finding Miss Right

Finding Miss Right
Investigasi


__ADS_3

Farras menatap Shezan yang telah terlelap, "Adik kecil, Kamu tumbuh dengan baik," ucapnya. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengatur suhu kamarnya dan menyelimuti Shezan. Ia pergi keluar meninggalkan kamarnya.



Jagdish duduk dikursi seberang meja Farras dan memberikan sebuah map yang berisikan hasil penyelidikannya kepada Farras.


"Ketika Saya memberikan ini, Anda jangan menganggap Saya adalah teman." Ujar Jagdish.



Farras menatap map yang diberikan Jagdish di atas meja kerjanya, Ia menyeringai, "Aku tidak pernah mengganggap mu teman."



Kata kata menusuk yang dikeluarkan Farras membuat Jagdish mengeluarkan tawanya, "Saya suka bekerja tidak secara gratis dengan Anda." Ujarnya berterus terang.



Farras mulai membuka map yang diberikan Jagdish. Ia sedikit terkejut melihat foto lukisan sketsa dengan inisialnya, dan tertarik membuka lembaran selanjutnya.



"Saya menemukannya di kamar Shezan saat membantunya pindah ke apartemen, bukankah itu inisial Anda? Shezan bukan putri kandung Ayahnya, tes DNA dengan krabat ayahnya tidak cocok. Dulu saat menyelidiki Shezan Saya pikir dia adalah anak diluar nikah Ayahnya karena Ibu tirinya adalah istri satu-satunya." Ujar Jagdish memberi penjelasan saat Farras melihat lembar hasil tes DNA.



"Fakta lain yang Saya temukan adalah Ibu dari gadis kecil yang anda cari pernah bersekolah di SMA yang sama dengan Ayah angkatnya Shezan. Melihat Ayah angkat Shezan memiliki hubungan dengan Ibu dari gadis kecil yang Anda cari, Apakah Anda tidak mencurigai Shezan adalah gadis kecil yang Anda cari?" Tanya Jagdish



"Ayah angkatnya Shezan pernah mengunjungi Desa Sigara 20 tahun lalu, Ia datang menghadiri pemakaman Ayahnya Shezan. Kasus yang terjadi 20 tahun lalu di villa adalah kasus salah culik, Jika memang Ayah angkatnya adalah penculiknya, bukankah ini Aneh? Mengapa Ia tidak bisa membedakan Anda dengan Shezan?" Ujar Jagdish mengutarakan kecurigaannya.



Farras mengibas ngibaskan tangannya mengusir Jagdish keluar dari ruangannya, Ia ingin Jagdish berhenti berkomentar dan enyah dari hadapannya. "Hmm.. "



Jagdish tertawa mencurigai bahwa kasus di villa 20 tahun lalu direncanakan Farras agar orang tuanya mencari Shezan. *Dia tidak ingin gadis kecil itu diambil darinya*.



"Dulu mereka mencari Shezan di perdagangan anak, dia tidak pernah ditemukan karena memang dia tidak pernah dijual." Ujar Jagdish, Ia masih ingin berkomentar.



"hmm."



Jagdish segera berdiri dari duduknya mendengar peringatan yang kedua dari Farras. Ia harus 'pergi, Namun langkahnya terhenti karena lagi lagi ingin berkomentar.


"Jika Shezan memang benar Adalah gadis kecil yang Anda cari, mengapa kutukan Anda belum hilang? Ia tidak mengingat masa kecilnya, apa dia amnesia?" Tanya Jagdish antara yakin dan tidak Shezan adalah orang yang mereka cari atau bukan. "Atau ada hal lain yang tidak Anda beritahukan kepada Saya?" Tanyanya lagi, kali ini mencurigai Farras menyembunyikan sesuatu.


__ADS_1


"Kau tidak dibayar untuk mengintrogasiku." Ujar Farras dingin,



"Baiklah karena Dia adalah gadis kecil yang Anda cari, Saya akan mengijinkan Anda menemuinya."



"Aku tidak pernah memerlukan ijinmu." Ujar Farras mulai bosan, Jagdish masih saja berisik.



"hahaha.. Saya berada dipihaknya."



"Kalau begitu biarkan dia tetap amnesia." Ujar Farras dengan tatapan dingin.



***


Keesokan paginya Shezan tidak menyangka dirinya akan kembali bekerja di dapur Farras. Ia tersenyum licik mengeluarkan obat pencahar untuk membalas perbuatan Farras.


"Kamu benar-benar ingin meracuniku?" Tanya Farras yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Shezan. Ia melirik tajam Shezan.


Shezan yang kaget segera menyimpan kembali obatnya, "Ketahuan ya."


Bukankah kamu mengatakannya secara terang terangan semalam?


"Meskipun kamu akan meracuniku, Aku tetap tidak akan menceraikanmu." Ujar Farras tersenyum tidak kalah licik.


Bersamaan dengan itu, ponsel Shezan berbunyi. Ia tidak pernah menerima telpon pagi-pagi. Farras dengan cepat merebut ponsel itu dari tangan Shezan.


"Jika Kamu berselingkuh, Aku akan membunuh selingkuhanmu," Ujar Farras tersenyum licik.


"Ketahuan lagi?"


Farras menunjukkan layar ponsel Shezan kepada Shezan, "Kamu menulis namanya selingkuhan?" Tanya Farras tidak percaya membaca layar ponsel Shezan yang bertuliskan selingkuhan


Itu biar jangan lupa.


Farras menjawab panggilan selingkuhan Shezan, "Jadi Anda selingkuhannya istri saya?" Tanyanya dengan tenang.


Panggilan tersebut langsung terputus.


Dengan cepat Farras memasukan penyadap di ponsel Shezan. "Kamu menganti ponsel dan nomormu bukan karena ingin kabur dariku kan?" Tanya Farras tersenyum. Jika ingin kabur darinya seharusnya Shezan pergi ke luar negeri atau ke pulau lain dengan uangnya.


"Gadis ini benar-benar tidak punya pemikiran. Tidak heran mengapa dia bisa kabur dari ibu tirinya. Aku harus berterima kasih kepada orang yang membawanya kabur." Pikir Farras, Ia teringat cerita Shezan semalam mengenai kisahnya.


"Apa yang Kau lakukan?" Tanya Shezan yang tidak mencurigai Farras melakukan sesuatu dengan ponselnya. Ia mengira Farras sedang mengetik pesan ancaman untuk selingkuhannya.


Farras mengembalikan ponselnya Shezan. "Pastikan selingkuhanmu lebih tampan dariku."


"Meskipun akan sangat sulit menemukan orang yang lebih tampan dan lebih murah hati dariku, setidaknya kamu harus menunjukkan usahamu." Guman Farras dalam hati memberi wejangan kepada Shezan.

__ADS_1


Ia menatap dengan tatapan perihatin kepada Shezan, Bagaimana bisa dia mau berselingkuh dengan pria berusia 40 tahun? Sungguh hal ini akan menciderai harga diri Farras.


"Aku belum bertemu dengannya." Ujar Shezan jujur.


"Sebelum Kamu bertemu dengannya dia sudah ada di liang kubur."


"Haha jangan bercanda mengenai kematian." Ujar Shezan melanjutkan pekerjaannya menyiapkan sarapan.


Dia mau membunuh orang, yang benar saja.


Farras menanggapi komentar Shezan dengan senyuman. Aku tidak bercanda.


"Kau mengganti password pintu?" Tanya Shezan sembari menuangkan sup yang dimasaknya ke dalam mangkuk


"Iya, tanggal pernikahan kita." Jawab Farras dengan tenang duduk di meja dapur menunggu sarapannya.


"Apa dia masih kerasukan setan?" Pikir Shezan.


Setelah selesai sarapan, Shezan membereskan dapur Farras hingga bersih dan kinclong. Meski Shezan bingung mengapa dirinya masih melakukan pekerjaan rumah tangganya dengan teratur.


"Memang susah untuk merubah seuatu yang telah terbiasa." Guman Shezan dalam hati menjawab kebingungannya. Padahal Ia lebih lama terbiasa dengan hidup yang berantakan.


"Kamu juga akan pergi bekerja kan?Kita pergi bersama." Ujar Farras yang terkesan memberi perintah.


"Tidak usah!, Aku pergi sendiri, dan nanti Aku tidak akan pulang ke sini." Ujar Shezan bersikap angkuh.


Farras berjalan mendekati Shezan dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya, Ia memeluk Shezan dengan erat takut lepas. Ia sudah mempelajari cara hidup bermasyarakat. "Bagaimana ini, Aku sangat merindukanmu." Ujarnya menggoda Shezan.


"Kenapa setan yang merasukinya belum keluar-keluar dari tubuhnya?" Pikir Shezan. Ia melepaskan diri dari pelukan Farras dengan sekuat tenaga.


"Jangan coba-coba membujukku!" Seru Shezan berjalan menjauhi Farras. "Dan jangan lagi bersikap baik padaku, jika nanti jadi kejam lagi." Ujarnya lirih kemudian.


Farras tersenyum, Ia berpikir tidak ada yang salah. "Dulu Aku tidak pernah bersikap baik kepadamu, tetapi Kamu selalu saja mendekatiku." Ujar Farras. Ia mengingat Shezan kecil yang selalu mengikutinya.


"Apa? Dulu karena statusku masih pekerja disini. Sekarang tidak." Ujar Shezan mengingat pertama kali dirinya datang ke rumah Farras, tentu harus bersikap baik biar tidak dipecat.


"Apa Kamu ingin Aku selalu bersikap kejam kepadamu?" Tanya Farras tersenyum mengintimidasi.


Shezan bergidik ngeri dan cepat menggeleng.


Farras tersenyum penuh kemenangan, "Bagus."


Pagi ini Farras pergi membawa mobilnya sendiri, dan Shezan duduk dengan mendung di sebelahnya seperti tidak punya harapan untuk hidup. Ia memilih melihat trotoar jalan daripada suaminya.


"Tuan Psikopat." Bisik Shezan dalam hati. Ada berapa banyak alter ego yang dimiliki orang ini?


"Shezan Afifah, Apa yang harus Aku lakukan? Jika Kamu sangat merindukanku."


Suara Farras yang terlampau percaya diri menyadarkan Shezan dari lamunannya, Ia segera menoleh ke arah Farras. "Sudah Ku katakan tidak jadi! Aku tarik kembali kata-kataku semalam!" Seru Shezan mengelak.


Farras tersenyum senang, "Kita sudah sampai dari tadi, Kamu masih ingin berlama-lama di mobil bersamaku."


"Apa?" Shezan melihat ke sekelilingnya, dan mereka sudah berada di pakiran basement.


Dengan cepat Shezan beranjak keluar dari mobil Farras, Ia tidak mau terjadi kesalahpahaman. Namun Farras segera menghentikan Shezan keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Sementara itu, salah seorang karyawan Myrtle yang kebetulan berada tak jauh dari mobil Farras yang terpakir, melihat tindakan asusila yang mereka lakukan. "ck ck Anak muda jaman sekarang tidak punya adab, bisa-bisanya mereka bermesraan di depan umum." Gumannya, Ia tidak mengetahui kalau orang yang dimaksudkannya adalah atasannya yang memang tidak beradab.


***


__ADS_2