
Farras tersenyum licik mengingatkan Shezan, "Aku sudah pernah katakan kepadamu, kami tidak menerima pegawai magang."
"hmm.. " Shezan mencoba berpikir, mengingat hal hal apa yang dirapatkan tadi pagi. Ia sedikit lupa.
"Bekerjalah secara professional di hari pertamamu bekerja Shezan Afifah." Sindir Farras.
"Baiklah saya mengerti! di satu minggu yang tersisa ini Saya akan bisa membuat daster yang memiliki nilai kemewahan tinggi!" Seru Shezan yakin penuh semangat.
Ucapan Shezan yang penuh ambisi membuat Farras keceplosan tertawa, beruntung Ia segera sadar dan berhenti tertawa, kembali ke sikap tenangnya.
"Apa kamu baru saja mencemooh saya?!!" Tanya Shezan penuh emosi salah mengartikan tawa Farras.
"Tidak. Baiklah, selamat kembali bekerja nona Shezan Afifah." Ujar Farras mempersilahkan Shezan meninggalkan ruangannya.
"Ok terima kasih!!" Ujar Shezan masih tetap emosi. Ia berjalan meninggalkan ruangan Farras.
Namun di tengah perjalanan Ia berhenti dan berbalik menghadap Farras. "Oh iya, Saya pikir saya perlu memperjelaskan hal ini. Jika kamu bertemu dengan Saya, berpura-pura lah tidak mengenal Saya. Kamu mengerti!!" Seru Shezan memerintahkan atasannya. Matanya yang memerah menyiratkan bahwa dia benar-benar marah
"Ok." Jawab Farras datar.
Setelah mendapatkan persetujuan Farras, Shezan akhirnya keluar dari ruangan Farras. Ia menutup pintunya dengan pelan.
Jagdish hanya diam menutup mulutnya dengan telapak tangannya, Ia kaget melihat Shezan yang ternyata bisa marah-marah seperti itu. Ia menoleh ke arah Farras yang ternyata dia terlihat lebih kaget lagi.
"Apa dia marah kepadaku?" Tanya Farras panik kepada Jagdish.
"Dia sepertinya sangat marah." Jawab Jagdish membenarkan.
"Mengapa dia marah?" Tanya Farras sekali lagi.
"Pertama karena Anda memecatnya, kedua karena anda berbicara dengannya di depan lift." Jawab Jagdish yang juga salah mengartikan mengapa Shezan begitu marah.
"Begitu,"
Farras segera mengambil ponselnya. Dan mengetik pesan kepada Shezan.
To Shezan
^^^Jika sudah di rumah, berpura-pura lah tidak mengenal Aku adalah atasanmu. Kamu mengerti?^^^
***
Shezan yang masih dalam perjalanan balik ke ruangannya, membaca pesan masuk dari Farras. Setetes air jatuh mambasahi layar ponselnya. Ia kembali mengusap matanya yang sudah basah sejak tadi.
Ia terlalu banyak menonton drama, sehingga berpikir apa yang terjadi dalam hidupnya akan seperti drama. Shezan sudah mengetahui kenyataan tentang asisten Farras, Jagdish yang membeli warung Bu Sri. Ia pikir Farras menyukainya sejak awal, Sehingga menikahinya.
Ternyata Ia hanya berimajinasi terlalu tinggi, membuatnya sangat berkecil hati dan malu karena sudah berpikir kejauhan. Tidak ada yang menyukainya sebelumnya, cantik nggak, pintar nggak, kaya nggak, kere iya. Apa yang membuatku sudah berpikir manusia seperti Farras tertarik kepadaku? Pikir Shezan.
Akhirnya Ia menyadari sesuatu. Pria aneh yang menikahinya hanya sedang ingin mempermainkan hati manusia lain. Mengapa Aku dipecat coba? dibuat senang naik tinggi lalu dihempaskan kembali ke bawah.
__ADS_1
***
Sementara di group chat karyawan, kembali tersebar breaking news.
Karyawan baru tadi sepertinya tidak jadi dipecat
Benarkah?
wow!
Dia beruntung hari ini
Apa mungkin direktur sudah tobat?
TIDAK MUNGKIN
Kamu bercanda?
Jangan cakap kotor
Iya, siapa itu yang cakap kotor
Benar, hal itu tidak akan terjadi walau dunia kiamat
***
Farras menatap ponselnya, Ia sangat terganggu mengetahui Shezan yang sangat marah. Ia kembali lagi merasakan sesuatu yang aneh.
"Tidak pernah ada kata diskon." Salah seorang yang lain menimpali.
"Menarik stock lama dan menjadikannya sebagai hadiah pembelian beberapa produk"
Terdengar riuh suara orang-orang berdebat di sekitar Farras. Ia tampak tidak peduli. Ia sedang memikirkan bagaimana membuat Shezan menjadi tidak marah lagi kepadanya.
"hmm.. " Farras akhirnya bersuara,
walaupun tidak mengeluarkan kata kata, semua orang yang hadir dalam rapat itu terdiam. Berhenti berdebat.
"Apa kalian tahu bagaimana cara mengambil hati seorang wanita?" Tanya Farras tiba-tiba
"Membawanya pergi berbelanja?" Salah seorang memberanikan diri mencoba memberi pendapat.
"Ah benar, tema ulang tahun Myrtle adalah belanja bersama pasangan." Ucap yang lain. Ia mengira Farras juga sedang mengemukakan pendapatnya.
"Benar. itu adalah ide yang bagus Pak direktur."
Akhirnya semua orang yang hadir dalam rapat tersebut mengangguk setuju.
"hmm.. " Farras dengan sikap tenangnya meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
***
Dalam perjalanan pulang, Farras masih uring-uringan. Ia juga tidak mengerti mengapa dirinya menjadi berdebar-debar tidak ingin pulang ke rumahnya.
Ia seperti seorang suami yang takut pulang ke rumah, karena habis ketahuan berjudi. Habis itu kalah pula lagi.
Ia melihat sebuket besar bunga di sebelahnya. "Apa kau yakin benda ini akan membuatnya tidak marah?" Tanya Farras kepada Jagdish yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Anda jangan khawatir, Saya cukup berpengalaman." Ujar Jagdish penuh percaya diri. Farras tidak mengetahui jika Jagdish adalah seorang casanova.
drrtt.. drrtt...
Farras menatap layar ponselnya, melihat siapa yang mencoba menghubunginya. Ibunya meneleponnya.
"hmm.. " Farras menjawab panggilan Ibunya.
"Apa Kau juga ingin mama memecatmu?!" Tanya Amelia berang.
"Menantu mama tidak jadi dipecat." Ujar Farras tenang.
"Ya sudah kalau begitu, hati hati di jalan Sayang bye. " Ujar Amelia lembut.
"Mengapa mama melakukannya?" Tanya Farras menghentikan Amelia menutup teleponnya.
"Mengapa?.. mama menyukainya. Shezan menantu mama. Wajar mama memberikan apa yang dia inginkan."
"hmm.. "
"Ya sudah. bye Sayang." Amelia menutup Panggilannya.
***
Setibanya di rumah, Farras mendapati Shezan sedang membuat makan malam di dapurnya. Ia segera berjalan menuju dapur.
Saat Shezan berbalik, Ia sudah dihadapkan dengan sebuket bunga besar yang dibawa Farras.
"Untuk kamu." Ucap Farras tersenyum lembut.
Shezan tersenyum berpura-pura senang menerima bunga pemberian Farras. Kali ini Shezan berpikir bahwa Ia tidak akan tertipu lagi. Ia sudah tahu bagaimana rasanya dibuat bahagia lalu dibuat sedih.
"Terima Kasih. "
"Bagus jika kamu menyukainya." Ujar Farras dengan sikap tenangnya. Ia kemudian beranjak naik ke lantai dua menuju kamarnya.
***
Malam harinya, Shezan masih belum selesai dengan gambar design daster yang memiliki nilai kemewahan tinggi. Sudah beberapa lembar design yang telah Ia buat, kesemuanya belum menunjukkan sisi kemewahan. Ia harus menyelesaikannya malam ini untuk diserahkan besok pagi kepada Hani
Sementara Farras di kamarnya juga belum tidur, Ia duduk bersandar di tempat tidur nya melihat layar Tab nya. Ia melihat salah satu CCTV di rumahnya yang memperlihatkan pintu kamar Shezan. Terlihat cahaya lampu kamar melewati sela-sela pintu. Artinya Shezan belum juga tidur.
__ADS_1
Farras terlihat memikirkan sesuatu.
***