
Segelas kopi mendarat di hadapan Farras, "Hmm.."
Jagdish telah tiba di ruangan introgasi tersebut dengan membawa segelas kopi untuk Farras.
"Klien Saya tidak bisa bicara sebelum meminum kopi," Terang Jagdish asal.
"Baiklah," Ujar polisi tersebut mencoba bersabar menghadapi tersangka yang bukan orang biasa.
Tidak sampai 5 menit Farras menikmati kopinya, Tiba tiba datang tiga orang polisi masuk ke ruangan introgasi tersebut.
"Kami mengambil ahli kasus ini," ujar salah seorang dari mereka menunjukkan surat tugas kepada polisi yang mengintrogasi Farras.
"Apa?!" Tanya polisi tersebut tampak tidak terima.
"Saudara Farras, Anda sudah bisa pergi. Maaf atas kesalahan kami." Ujar polisi yang baru datang tersebut kepada Farras.
Farras tersenyum melihat ke arah polisi yang mengintrogasinya tadi, "Sampai ketemu lagi," Ujar Farras sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi? mengapa kau melepaskannya?"
Polisi yang membiarkan Farras pergi memberikan sebuah berkas kepada Polisi yang mengintrogasi Farras.
Sementara itu, di rumah sakit. Beberapa orang polisi datang untuk menangkap satpam yang menjadi teman jaga malam korban.
Satpam tersebut tidak bisa mengelak lagi setelah sejumlah barang bukti mengarah kepadanya.
***
Jagdish bertemu dengan polisi yang membebaskan Farras. Tampaknya mereka sudah saling mengenal dengan baik. Setelah menunjukkan bukti ketidakterlibatan Farras, mereka bersama sama mencari barang bukti lain yang digunakan tersangka untuk membunuh korban.
Hal yang tidak disadari tersangka, Farras memiliki kamera belakang mobil. Terlihat Ia berniat membuat Farras memegang stick kayu sebelum Ia gunakan untuk memukul dirinya sendiri. Ia berniat menjadikan mobil siapa saja yang berhasil masuk ke perangkapnya sebagai tersangka.
Karena polisi yang mengintrogasi Farras sangat tergesa gesa dan bersemangat ingin menjebloskan Farras ke penjara, Ia mengabaikan barang bukti lain. Yaitu jas hujan yang digunakan tersangka untuk menutupi dirinya dari percikan darah korban.
\*\*\*
Setelah meninggalkan kantor polisi, Jagdish mengantarkan Farras pulang ke rumahnya.
"Apa sekarang Anda sudah menyadari ada yang membenci Anda?" Ujar Jagdish menyindir Farras.
"hmmm" Farras tidak mengerti mengapa ada orang yang bisa membencinya. Ia tidak sadar perbuatan barbar yang suka Ia lakukan adalah tindakan yang dibenci masyarakat.
"Saya akan mencari tahu siapa orang yang menjadikan polisi itu kaki tangannya." Ucap Jagdish.
"Menurutmu siapa orang yang paling mungkin membenciku?"
"Ada banyak orang yang sangat mungkin membenci Anda. Saya akan mulai dari menyelidiki polisi itu" Ujar Jagdish
"Apa kau juga membenciku?"
"Iya," Jawab Jagdish jujur. "Tapi Saya tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan Anda karena... " Jagdish menghentikan kalimatnya.
"Apa Anda mencurigai orang-orang yang tidak berhubungan dengan Anda?" Tanya Jagdish setelah menyadari sesuatu. Meskipun Farras sering bersikap dingin dan tidak berperikemanusiaan, tetapi orang-orang yang berhubungan dengannya juga mendapatkan keuntungan darinya. Ia menyelesaikan masalah yang Ia buat dengan uangnya.
"hmm.. "
Farras melirik alorji di tangannya, pukul 8 malam. Tidak ada rekaman di cctv rumahnya yang menunjukkan tanda-tanda keberadaan Shezan sejak siang tadi, Ia mencoba menghubungi Shezan, namun nomornya tidak aktif. Farras melacak gps ponsel Shezan terakhir sebelum nonaktif.
"*Ginger Maple*?" Guman Farras membaca posisi terakhir ponsel Shezan sebelum nonaktif.
__ADS_1
"Apa Anda ingin pergi ke sana?" Tanya Jagdish yang mendengar suara Farras.
"hmm.. "
\*\*\*
Mobil Farras berhenti di depan sebuah restoran yang bertuliskan *ginger maple*. Farras segera turun dan masuk ke dalam restoran tersebut.
Setelah tidak melihat sosok yang Ia cari, Farras pergi menuju dapur restoran. Ia melihat Aynan sedang sibuk memasak disana.
Aynan tersenyum dan menyapa Farras begitu melihat kedatangannya, meski Ia sedikit terkejut mengapa tiba-tiba bos pemilik restorannya datang.
*deg*...
Tiba-tiba Farras merasa pusing dan mulai kehilangan keseimbangan. Beruntung Jagdish menopangnya dengan cepat sebelum karyawan di restoran itu mendekatinya.
Jagdish mengetahui dengan baik, Farras tidak menyukai orang lain menyentuhnya. "Anda baik baik saja?" Tanya Jagdish.
"Hmm.. "
Farras mencoba menyingkirkan rasa sakit di kepalanya dan berjalan pergi meninggalkan restorannya.
Pemandangan itu membuat para karyawan heran. Mereka hanya mengenal Aynan sebagai bos mereka. Namun Aynan tampak sangat menghormati sosok yang tidak dikenal di restoran mereka.
\*\*\*
"Apa yang terjadi?" Tanya Jagdish sedikit khawatir. setelah mereka masuk ke dalam mobil.
Farras tidak menjawab pertanyaan Jagdish, Ia masih menahan rasa sakit di kepalanya.
Beberapa cuplikan kehidupan masa lalunya berputar di kepalanya.
*Pembaca berita yang membacakan* *berita penculikan anak. Dirinya ketika berusia sekitar 12 tahun menggambar sesuatu, ada ratusan kertas yang tersebar di kamarnya*. Balik ketahun-tahun sebelumnya, *Dirinya yang masih sangat kecil melihat Ayah yang jarang dilihatnya pergi meninggalkan dirinya*.
"Anda tidak apa-apa?" Jagdish kembali bertanya.
"Dia tidak ada di rumah, menurutmu apa yang terjadi?" Farras balik bertanya. Entah mengapa Ia merasa takut Shezan menghilang dari pandangannya.
Mengerti siapa yang dimaksudkan Farras, Jagdish segera mengambil ponselnya dan menghubungi Shezan. Nomornya masih tidak aktif.
"Apa dia kabur?" Duga Jagdish.
"Hmm.."
"Sudah saya katakan banyak yang membenci Anda." Ujar Jagdish sembari menjalankan mobilnya. Sepertinya Ia tahu dimana Shezan berada saat ini.
__ADS_1
\*\*\*
Ternyata Shezan berada di rumah kosan nya Nina. Setelah seharian membantu Nina bekerja, Shezan ketiduran. Ia tidak berani pulang ke rumah Farras karena hari sudah gelap.
"Ada mobil mewah berhenti di depan, mungkin lagi cari-cari alamat. Apa mereka *nyasar* mau *numpang* putar balik mobilnya." Ujar teman kos nya Nina kepada Nina dan Shezan.
Mengingat mereka hanya orang biasa yang tidak memiliki saudara maupun kenalan orang kaya, Jadi tidak mungkin mobil itu memang memiliki tujuan ke rumah kos mereka.
Nina dan Shezan yang penasaran dengan mobil mewah tersebut segera berjalan menuju jendela.
"Mobil itu!" Ujar Shezan kaget, Ia mengingat itu adalah mobil yang digunakan Jagdish.
"Kamu kenal mobil itu?" Tanya Nina.
"Iya, *debt collector*." Ujar Shezan asal, sembari membuka pintu dan berjalan menghampiri mobil tersebut.
Jagdish membuka Jendela kaca mobil saat Shezan sudah berdiri di samping mobil, "Masuk mbak." Ujar Jagdish tersenyum.
"Oh sebentar,"
Shezan berlari masuk ke rumah kosan nya Nina untuk mengambil tas nya,
"Ada apa? kamu terlibat hutang?!" Tanya Nina panik melihat Shezan yang tergesa gesa masuk ke rumah kosan nya.
"Iya, Aku harus pulang dulu. Assalamualaikum." Ujar Shezan pamit pulang kepada Nina.
Setelah Shezan masuk ke dalam mobil, Jagdish segera menjalankan mobilnya meninggalkan Nina yang mencoba menyusul Shezan.
Farras menyambut dingin kedatangan Shezan di mobilnya, membuat Shezan tidak berani melihat ke arahnya.
"Bagaimana Bapak bisa sampai datang ke sini?" Tanya Shezan kepada Jagdish.
"Kami datang untuk menjemput mbak Shezan." Jawab Jagdish.
"Oh.. Maaf jadi merepotkan."
Jagdish berpikir kali ini dugaannya salah. Melihat Shezan yang baru meninggalkan rumah setengah hari sangat bersemangat untuk ikut pulang bersama mereka, tidak mungkin Ia adalah anak yang mencoba kabur dari rumah.
"Ada apa dengan ponselmu?" Tanya Farras bersuara.
"ng.. " Shezan berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Farras. *Mengapa Dia* *tidak bertanya tentangku? malah* *mengkhawatirkan ponselku*.
"Oh.. tadi jatuh ke selokan. Terus susah *ngambilnya* jadi dibiarkan saja." Ujar Shezan memberi keterangan.
Tanpa bertanya lagi lebih lanjut, Farras menarik lengan Shezan ke dalam pelukannya. "Aku sudah mengatakan kepadamu untuk tetap bersamaku." Ujar Farras dingin.
__ADS_1