
Hening, tiada lagi Aditya mendengar suara Shezan dari belakangnya. Ia berpikir Shezan sedang memikirkan lamaran dadakannya.
Namun Shezan sedang memikirkan apartment yang bagi dirinya menyeramkan. Ia berpikir bagaimana harus melewati satu malam lagi, nanti malam. Tinggal sendirian di Apartment itu membuat nya takut, lorong yang sepi mencekam, lift yang selalu kosong. Apa berhenti saja?
Ia terus memikirkannya hingga tidak sadar mereka telah sampai di tempat tujuan.
Ia tersadar ketika Aditya mengetuk helmnya, "Kamu melamun?"
"Ah iya," Shezan segera turun dari motor Aditya.
Karena masih bingung, Shezan kesusahan melepaskan tali helmnya. Aditya datang mendekat membantunya. Mereka sangat dekat.
Deg..
"Nah sudah lepas," Ujar Aditya melepaskan helm dari kepala Shezan.
Shezan terlihat pucat, seperti habis donor darah dua kantong, "Sebaiknya Aku pulang saja."
"Kamu marah?" Tanya Aditya kaget, Ia tersadar sudah begitu dekat dengan Shezan. "Maaf."
"Nggak, Maaf, Kamu nonton sendiri aja" Ujar Shezan Ia beranjak pergi meninggalkan Aditya. "Maaf, Aku harus pulang."
"Tunggu, Aku antar!" Seru Aditya.
"Nggak apa-apa!" Seru Shezan Ia berlari meninggalkan Aditya di pakiran motor sendirian.
Shezan terus berjalan tanpa tujuan, Ia merasa jantungnya berdebar-debar. Ditambah dengan berlari. membuat semakin berdebar-debar. Apa yang terjadi?
Shezan menyadari ada yang salah, Ia telah menikah. Dan Ia adalah seorang istri.
Shezan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Tidak boleh berdekatan dengan lelaki lain.
Ia merasa bersalah. Dan juga bingung, mengapa Aku merasa bersalah?
Shezan mengambil ponselnya dan melihat layarnya tidak ada pemberitahuan panggilan masuk, "Mengapa dia tidak menelepon balik?" Gumannya, mengingat Ia sudah melakukan panggilan tidak terjawab sudah 37 kali, dan 3 pesan.
Tiba-tiba ada pemberitahuan masuk, Ia mengira dari suami abtraknya, ternyata dari Aditya.
from Aditya
Maaf
Shezan menghela nafas, Ia kembali merasa bersalah, kali ini kepada Aditya. Ia pun mengetik balasan pesan untuk Aditya.
to Aditya
__ADS_1
Maaf, nggak jadi pakai tiket kamu, maaf ya tiba-tiba Aku harus pulang, harusnya kan kamu bisa ajak teman kamu yang lain.
Disisi lain, Aditya frustasi membaca balasan Shezan, "Dia tidak berubah dari dulu," Guman Aditya tersenyum memikirkan Shezan yang berpikir Ia mengajaknya nonton karena kebetulan ada dua tiket. Ia menatap Shezan yang duduk di halte dari kejauhan, memastikan gadis itu baik-baik saja.
Sementara gadis itu sedang memikirkan suaminya yang tidak meneleponnya balik. Biasanya Ia selalu mendapat balasan cepat dari Farras. "Apa dia baik-baik saja?" Tanya Shezan dalam hati.
Shezan mencoba menelepon Farras sekali lagi. Ia ingin memperjelas status pernikahan mereka, Ia ingin berhenti bekerja sebagai penjaga apartment yang menurutnya menyeramkan, Ia tidak ingin jatuh dan mati dari dari apartment itu, seperti di film apartment 1303.
Namun nomornya tidak aktif. Apa dia mati?
Ia mencoba menghubungi Jagdish.
"Ya, mbak?" Terdengar suara Jagdish saat panggilannya terhubung.
"Saya menghubungi nomornya Pak Farras, tidak aktif, apa dia baik-baik saja.?"
"Dia baik-baik saja, Jangan khawatir. Apa ada yang ingin mbak sampaikan?"
"Ah Iya, Saya ingin tanya.. tidak jadi. nanti saja." Shezan menutup teleponnya.
Hal ini tidak bisa dibicarakan dengan pihak ketiga. Pikir Shezan.
***
Jagdish sedang mengendarai mobil saat Shezan menghubunginya. Ia menggenggam setir mobil dengan kuat untuk melampiaskan kekesalannya kepada Farras. Ini adalah hari minggu, hari liburnya. Harusnya Ia pergi menghabiskan waktu dengan kekasihnya yang nomor 4.
Ia membuka pintu rumah Farras dengan kesal, Ia yakin manusia barbar itu sedang ada di rumahnya.
Ia mendapati Farras sedang duduk terkapar di ruang makan.
Jagdish menghela nafas, "Bagaimana bisa dua orang wanita membuatnya frustasi seperti ini?" Guman Jagdish kesal. Sungguh jauh berbeda dengan dirinya yang seorang Casanova sejati.
"Apa yang terjadi dengan Anda?!" Seru jagdish.
"Kau sudah datang?" Farras menoleh ke arah jagdish tanpa mengangkat kepalanya dari meja makan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Jagdish sekali lagi.
"Aku lapar." Jawab Farras tenang.
Jagdish menghela nafas, dan meletakkan makanan pesanan Farras di atas meja. "Ini diluar jam kerja Saya. Anda tahu harus membayar saya 20 kali lipat!" Seru Jagdish.
"hmm.." Farras bangkit dan mengambil pesanannya.
"Shezan menghubungi saya dan menanyakan Anda, Anda tidak bisa mendiamkannya seperti itu!." Seru Jagdish. Meski Ia memiliki banyak kekasih, tetapi Ia tidak pernah ghosting.
__ADS_1
"hmm.. " Farras terlihat tidak peduli, Ia sedang makan. Dari semalam dirinya belum makan.
"Saya tidak ingin mengatakan hal ini. Bukankah sudah cukup selama 20 tahun Anda menunggunya? Berhentilah!" Seru Jagdish.
Jagdish beranjak pergi, "Saya pergi, Mobil baru Anda sebentar lagi akan diantar!"
Jagdish pergi meninggalkan Farras sendirian, Ia harus bergegas untuk menemui kekasihnya yang nomor 4.
***
Malam harinya, Farras mendatangi apartment di mana Ia meletakkan Shezan. Ia masih duduk di dalam mobilnya yang baru, Ia dalam keadaan bimbang antara ingin masuk dan tidak. Ia ingin melihat gadis yang membuatnya merasakan sesuatu yang aneh, Ia tidak bisa jika tidak melihat Shezan dalam sehari saja. Awalnya Ia hanya ingin mencoba menikmati kesenangan baru dengan gadis yang salah Ia bawa pulang ke rumahnya. Saat di hotel, Ia tersadar, Ia sudah mencintai gadis itu.
Shezan telah menariknya terlalu jauh. Ia sangat merindukan Naya, teman masa kecilnya.
Ia menghidupkan kembali mesin mobilnya, dan memutuskan untuk pergi meninggalkan apartment itu. Menghabiskan waktu di perpustakaan rumahnya adalah hal pertama yang terlintas dikepalanya saat Ia sedang tidak ingin melakukan apapun.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk tiba di rumahnya. Saat Ia hendak berjalan ke arah tangga menuju lantai atas, seseorang memukulnya dari belakang dengan kuat, hingga membuatnya tidak sadarkan diri.
"Apa dia mati?" terdengar seseorang berbicara.
Farras merasakan kepalanya terasa sedikit pusing saat kesadarannya mulai kembali, Ia mendapati tubuhnya telah terikat dikursi makan. Dilihatnya dua orang bertubuh besar sedang berdiri di depannya.
"Kau sudah sadar?" Tanya salah seorang dari mereka.
"hmm.. "
"Katakan kepada kami, apa sandi brankas yang ada di atas?" Ujar penyusup satu yang badannya lebih besar.
"hmm.. " Farras menatapnya dua orang tidak dikenal dirumahnya dengan tenang.
"Cepat katakan, atau Kau ingin segera mati?" Tanya penyusup 1.
Farras tersenyum melihat dua orang asing yang masuk ke dalam rumahnya, "Ini akan menyenangkan," Ucapnya.
"Apa?"
Farras sedikit menggerakkan tubuhnya, Ia terasa sedikit sesak. "Bisakah kalian melonggarkannya sedikit? ini terlalu ketat."
"Apa yang Kau katakan, cepat jawab apa sandi brankas nya?!" Tanya penyusup satu mulai emosi.
Farras terkekeh mendengar apa yang diinginkan kedua orang asing di depannya, "Bisakah Kalian memberikan ponselku?" Tanya Farras, Ia meninggalkan ponselnya di rumah.
"Ponselmu mati!" seru penyusup dua.
"Ya Aku tahu, tolong di charge sebentar."
__ADS_1
"Apa yang kau coba bicarakan?! Katakan saja cepat apa sandinya?!" Teriak penyusup satu, Ia mulai mengancam Farras dengan meletakkan mata pisaunya di leher Farras. Ia sangat marah dan tidak sabar.