
"Shezan." Terdengar seseorang memanggilnya namanya.
Shezan yang wajahnya masih seperti ikan mas menoleh ke sumber suara.
Hani? Mengapa cerita ini menjadi sempit seperti di film film?
Shezan melepas tangan Farras dari pipinya, yang sepertinya orang itu tidak memiliki niat untuk membebaskan pipinya.
"Bu Hani? Ibu kok bisa di sini?" Tanya Shezan.
"Saya sedang mencari inspirasi. Kamu ijin cuti untuk pergi ke museum?"
"Iya Bu. "
"Ini teman Kamu?" Tanya Hani kepada Shezan menunjuk Farras yang tidak melihat ke arahnya.
"Ah Dia.. "
"Saya suaminya," Ujar Farras datar, "Ayo pergi." Farras menggenggam tangan Shezan dan membawanya pergi.
"Saya permisi ya Bu Hani!" Seru Shezan dari kejauhan.
"I ya." Ujar Hani, orang itu sedikit mirip dengan Direktur.
Sementara itu, Farras membawa Shezan ke ruangan lain.
"Apa Kamu buru buru pergi karena bertemu dengan bawahan Kamu?" Tanya Shezan.
"Aku tidak suka Kamu berbicara dengan orang lain saat bersamaku." Ujar Farras datar.
Apa? Tidak suka, gawat bisa bayar sepuluh kali lipat.
Shezan menggenggam tangan Farras yang menggenggam tangan kirinya. Ia sedikit mendongak menunjukkan senyum terbaiknya kepada Farras, "Lanjut lihat lihat lagi ya."
"Setelah ini Apa?" Tanya Farras penasaran dengan rencana kencan Shezan.
Shezan sedikit berpikir, "Habis ini pergi ke galeri seni."
"Melihat pejangan lagi?" Tanya Farras tidak percaya.
"Aku ingin pergi ke festival, Konser musik, wisata kuliner. Tetapi Aku tahu penderita kecemasan seperti Kamu tidak bisa pergi ke tempat ramai seperti itu."
"Hmm.. "
Shezan mengayun ayunkan tangan Farras yang berada dalam genggamannya, Ia menatap keramik antik dalam kotak kaca di depan mereka. "Tidak penting dimana pun tempatnya, yang paling penting adalah bisa berpegangan tangan seperti ini."
Apa dia terkesan dengan perkataanku?
"Hmm.. " Farras tidak bisa berkata apa apa, Ia tidak menyukai kencan pertamanya. Ia hanya mengikuti rencana kencan Shezan hingga matahari terbenam.
Akhirnya matahari terbenam, dan Farras bisa bernafas lega. Ia segera mengganti bajunya di dalam mobilnya.
"Woi Kamu kok main buka baju aja di sini?!" Seru Shezan kaget.
"Mengapa? Tidak ada orang yang melihat." Tutur Farras. Mengingat Ia sudah membuat kaca mobilnya tidak transparan.
"Aku kan orang." Ujar Shezan kesal tidak terima.
Farras tersenyum melihat Shezan, Ia menghentikan niatnya memakai baju gantinya. "Sepertinya Kamu menikmatinya."
__ADS_1
"Menikmati Apa?" Tanya Shezan, Ia tidak sadar kalau Ia terus melihat ke arah badan atletis Farras tanpa mengalihkan pandangan atau menutup matanya.
"Karena Kamu suka melihatnya, Aku pakai bajunya nanti saja." Ujar Farras menyadarkan Shezan.
"Astaghfirullahaladzim!" Seru Shezan segera menoleh ke arah jendela di sebelahnya, "Pakai baju Kamu sana!"
Shezan menepuk nepuk kepalanya untuk menghilangkan rasa malunya, aduh apa dia berpikir aku ini mesum?
Kelakuan Shezan membuat Farras tergelak, Ia memakai bajunya dan segera menjalankan mobilnya.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti sebuah gedung pencakar langit.
Shezan melihat Farras dengan tatapan tanda tanya.
"Aku mau meminta bayaranku yang sepuluh kali lipat." Jawab Farras tersenyum penuh arti, dan turun dari mobilnya.
Ia membuka pintu Shezan karena wanita itu tampak tidak berniat akan turun. "Ayo masuk, Kamu tidak lapar?"
"Oh pigi makan." Ujar Shezan bernapas lega.
Farras membawa Shezan memasuki gedung tersebut. Mereka menaiki lift khusus yang menuju lantai teratas gedung.
Di dalam lift, Shezan bersandar di lengan Farras. Ia sangat mengantuk dan kelelahan habis berjalan seharian.
Seorang pelayan membawa mereka memasuki sebuah ruangan privat restoran.
Rasa kantuk Shezan menghilang setelah melihat ruangan yang dimasukinya. Ruangan itu memiliki satu sisi yang berdinding kaca menampilkan pemandangan malam kota dari ketinggian 300 meter.
"Wow." Shezan langsung menempel pada dinding kaca.
"Kita makan malam di sini karena Ku pikir Kamu akan menyukainya." Ujar Farras, Ia memahami Shezan sangat suka melihat jendela apartemennya.
"Kamu benar, Aku menyukainya." Ujar Shezan dengan mata berbinar binar, Ia tersenyum bahagia melihat pemandangan di depannya.
*K*etika Kamu terlihat sedih, itu membuatku merasa sakit. Ketika kamu terlihat bahagia seperti ini, ini membuatku senang.
Setelah menyantap makan malam romantis, Farras membawa Shezan ke salah satu kamar hotel di gedung tersebut.
"Mengapa Harus sewa kamar kalau hanya untuk buang air kecil doang? Kan bisa pakai kamar mandi di restoran tadi." Keluh Shezan tidak mengerti jalan pemikiran orang kaya seperti Farras.
Tapi tidak apa apa jugalah, istirahat bentar disini.
"Aku tidak suka menggunakan toilet umum. " Jawab Farras. Ia pun pergi ke kamar mandi dan mandi.
"Astaga Dia pake acara mandi lagi. Lama ini pasti sudah." Gerutu Shezan dalam hati.
Selesai mandi, Farras mendapati Shezan yang hampir tertidur menunggunya.
"Kamu tidak mandi!" Seru Farras mengagetkan Shezan.
"Hah? mandi? Di rumah sajalah."
"Itu baju ganti kamu." Ujar Farras menunjukkan sebuah kantong kertas yang terletak di atas meja.
Kok bisa dia sudah mempersiapkan baju ganti? Ya sudahlah mandi saja.
Menunggu Shezan mandi, Farras duduk bersandar di kasur, membuka layar ponselnya. Ia terlihat serius dengan layar ponselnya, di tengah tengah kencannya dia tidak boleh lengah berkerja.
Ia tidak menyadari Shezan yang telah selesai mandi.
__ADS_1
Tidak ingin mengganggu Farras yang terlihat sangat serius, Shezan gantian menunggu Farras. Ia duduk berselonjor di sebelah Farras, di atas tempat tidur empuk dan nyaman yang sedari tadi memanggilnya untuk tertidur.
Setelah satu jam, Farras baru tersadar dengan istrinya yang sedari tadi duduk diam di sebelahnya. "Kamu sudah selesai?"
"Udah dari tadi. Yok pulang." Ujar Shezan dan beranjak turun dari tempat tidur.
Farras menangkap Shezan dan mengangkat tubuhnya untuk di letakkan kembali ke atas tempat tidur. Ia menindih Shezan.
"Kamu mau apa?" Tanya Shezan panik melihat Farras berada di atasnya.
"Tentu saja meminta bayaranku yang sepuluh kali lipat, Aku tidak menyukai kencan pertama Kamu." Ujar Farras,
Suara Farras membuat bulu tengkuk Shezan meremang. Jantungnya berpacu dengan kencang menunggu apa yang akan dilakukan Farras kepadanya.
Ia ingin memberontak, tetapi wajah Farras di bawah cahaya lampu temaram yang terlalu dekat dengannya membuatnya terhipnotis dengan ketampanan suaminya.
***
Keesokan paginya Shezan terbangun dan mendapati dirinya masih berada di kamar hotel, Ia melihat Farras yang tertidur di sebelahnya. Ia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. "Duh kok Aq jadi kayak cewek panggilan." Gerutunya dalam hati sembari mengangkat selimut yang menutupi dirinya. Ia terlihat berpakaian lengkap dibalik selimut.
Tidak ingin banyak berpikir, Ia langsung pergi mandi. "Ya ampun jadi terpaksa mandi kan pagi pagi buta begini." Gerutunya memasuki kamar mandi.
Ia pergi mandi dengan shower dan mengabaikan bathtub karena ingin cepat. Ia merasa aneh dan bingung. Apa semalam kami benar-benar melakukannya? Kok nggak merasakan apa apa. Mungkin memang begini kali ya.
***
Farras yang terbangun mendapati Shezan sedang melakukan ritual keagamaannya. Ia berjalan mendekati Shezan.
"Kamu sedang apa?" Tanyanya setelah Shezan menyelesaikan ritual keagamaannya.
Shezan kaget mendengar pertanyaan Farras, "Loh Kamu nggak tahu?" Tanya Shezan histeris.
Tunggu sebentar ..kemaren di KTPnya sih islam.
"hmm.. "
Shezan menepuk jidatnya panik. "Kamu tidak tahu sholat?" Tanya Shezan kepada Farras yang melihatnya dengan ekspresi datar.
Tentu saja tahu, tapi tidak tahu kalau Kamu juga melaksanakannya pada pagi hari.
Selama ini Shezan tidak tahu tentang urusan pribadi Farras karena mereka tidak berinteraksi selama 24 jam. Dan Ia tidak peduli dengan aktivitas keagamaan suaminya.
"Tunggu sebentar... jika hanya KTP nya saja yang islam, Nikahnya nggak sah dong? astaga kalau semalam kami ??!" Pikir Shezan panik . Ia menegang meloto kaget ke arah Farras, Ia menyilangkan tangannya menutupi badannya histeris.
"Ya ampun Shezan apa yang telah kau lakukan?! Asal nikah saja tidak ditanya betul betul tentang agamanya." Bisik Shezan dalam hati histeris.
Farras tersenyum melihat Shezan yang panik ketakutan karena berpikir dirinya telah berbuat yang macam macam dengannya. "Jangan khawatir, semalam Aku tidak menyentuh Kamu. Baru mencium kamu sebentar, Kamu sudah tertidur."
Shezan sedikit bernapas lega setelah mendengar klarifikasi Farras.
"Karena sekarang Kamu sudah bangun, Kita lanjutkan yang tertunda semalam." Ujar Farras tersenyum penuh arti.
Shezan mundur menjauh dari Farras, "Kita harus ke ustad dulu ini, untuk memastikan Kamu islam atau atheis. Sekalian Kamu belajar sholat dan mengaji sama ustadnya nanti." Ucap Shezan. hal sepenting ini harus segera diselesaikan.
Farras tetap berjalan mendekati Shezan hingga wanita itu terpojok. "Aku tidak atheis. Tetapi jika Kamu bertanya tentang agamaku, Aku juga tidak tahu. Ayahku memiliki agama yang sama denganmu. Kalau Kamu ingin Aku menemui ustad yang Kamu maksud, Aku akan melakukannya. Tetapi Aku tidak suka belajar dari orang lain."
"Iya iya nanti Aku akan mengajarimu. Yang penting sekarang Kita ke ustad dulu, trus kalau perlu nikah ulang." Ujar Shezan mengambil keputusan.
"Tunggu sebentar..jangan jangan Kamu belum sunat lagi?!"
__ADS_1
"Shezan Afifah, Aku orang yang menjaga kesehatanku dengan baik."
"Duh ini siapa yang jadi imam dalam keluarga sih? imam yang ketukar ini kayaknya." Guman Shezan sembari melipat mukenahnya dengan baik.