Finding Miss Right

Finding Miss Right
Manusia Berdarah Dingin


__ADS_3

Seseorang sedang mencoba melakukan panggilan kepada sebuah nomor di ponselnya, namun nomor yang dihubunginya selalu memberitahukan Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi.


Di tangan kanannya, Ia memegang sebuah tablet, terlihat pada layar menampilkan foto-foto kebersamaan Farras dan Shezan di bandara.


Kehilangan kontak dengan pemilik nomor yang tengah Ia hubungi, tidak membuatnya menyerah untuk meneruskan misi nya.


Tampak senyuman licik di bibir orang tersebut melihat ke arah layar tablet di tangan kanannya.


Ia memberi tanda silang di wajah Shezan. Sepertinya Ia ingin menjadikan Shezan sebagai target berikutnya.


***


Kembali ke restoran ginger maple, di mana shezan dan Nina sedang menikmati makanan mereka.


"Oh ya Shezan, Kemarin kemana pacarnya Nausheen, pelanggan tetap warung bu sri membawamu?" Tanya Nina setelah Ia memasukan makanan yang telah selesai Ia kunyah kedalam tenggorokannya.


Shezan Kaget mendengar Nina tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu, "Oh kemarin orang itu menunjukkan dimana letak toilet" Jawab Shezan semangat berbohong.


Nina mengkerutkan keningnya dan berbisik, "Aku mendengar hal yang aneh." Bisiknya, padahal Ia tidak perlu berbisik. Tidak ada seorang pun di restoran itu yang akan peduli dengan pembicaraan mereka.


"Hal yang aneh apa?" Tanya Shezan mulai penasaran.


Nina mendekatkan kepalanya ke arah Shezan, "Begini... "


~~Dua minggu sebelumnya.....


Di studio foto di mana Nina dan Shezan mengikuti audisi model Ìv. Setelah Shezan dan Farras hilang dari pandangan Nina.


Suasana studio mendadak menjadi ramai, para kru membesarkan volume suaranya. Meski tampak mengabaikan keberadaan Farras, sebenarnya mereka menyadari aura kegelapan Farras dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang dapat menyebabkan kebisingan.


"Kamu lihat Pria yang di pojokan sana tadi?" terdengar suara berbisik dari salah satu perserta audisi di sebelah Nina.


Nina yang memiliki hobi menggosip segera merapatkan duduknya ke arah kedua wanita yang akan segera mulai melakukan ritual gosip. Nina berharap Ia mendapat teman gosip baru.


"Iya, lihat." Jawab wanita yang ditanya oleh wanita yang berambut coklat tembaga di sebelahnya. Wajahnya tampak serius. Matanya yang menggunakan lensa kontak berwarna Hazel membulat lebar, Ia siap mendengarkan sesuatu hal yang sangat penting dari temannya.

__ADS_1


"Dia itu Bos nya Ìv. Aku dengar dia adalah orang yang berdarah dingin, lebih baik jangan memiliki masalah dengannya, namanya saja terlarang untuk disebutkan." Bisik wanita sirambut coklat tembaga.


Wanita yang bola matanya berwarna hazel mengangguk, Ia berencana untuk mematuhi wejangan temannya.


"Mengapa?" Suara tanya Nina yang hadir tiba-tiba mengejutkan kedua wanita tersebut.


Kedua wanita itu segera menoleh ke sumber suara tanya. Mereka menatap Nina dengan tatapan penuh selidik.


"Itu karena siapa saja yang bermasalah dengannya. " Terdengar suara lain hadir ditengah mereka. Ketiga wanita itu terkejut dan menoleh melihat ke arah sumber suara.


Ternyata suara itu berasal dari seorang wanita bertubuh gemuk, yang tampaknya juga merupakan salah satu peserta audisi. Ia menggariskan telunjuknya ke lehernya setelah ketiga wanita itu melihat ke arahnya. "krekkk,, akan langsung hilang tanpa jejak." Ujar nya setengah berbisik.


Ketiga wanita itu bergidik ngeri. Entah hal yang disampaikan wanita bertubuh gemuk itu benar atau tidak, mereka seperti tersihir untuk mempercayainya.


"Apa kalian tidak merasakan hal yang aneh?" Tanya Wanita itu. Ia ingin menambahkan argumen untuk mendukung kebenaran rumor yang baru saja Ia sampaikan.


Ketiga wanita itu mencondongkan badannya agar lebih dekat dengan wanita yang baru hadir diantara mereka.


"Ketika orang itu ada disini, semuanya terdengar tenang,"


Ketiga wanita itu menangguk mengiyakan argumen tersebut. Bahkan sangking tidak ingin menimbulkan suara berisik, sang fotografer memberikan arahan dengan menggunakan bahasa isyarat.


"...Jadi begitu." Ujar Nina menutup ceritanya.


"Aku juga sudah menduganya." Ujar Shezan, Ia seperti mendapat pencerahan.


"Nanti kalau bertemu lagi dengan orang itu sebaiknya kita berhati-hati." Ucal Nina.


"Sebenarnya." Shezan berpikir untuk menceritakan kebenarannya kepada Nina, karena bisa saja sewaktu-waktu Ia bisa saja menghilang tanpa jejak. "Aku tinggal di rumah orang itu," Terang Shezan.


"Apa?!" Teriak Nina menarik perhatian pengunjung lain di ginger maple. "Kamu bercanda kan?" Bisik Nina.


Shezan menggeleng kepalanya, "Pekerjaanku tidak berat, dan digaji tinggi,"


Nina menghela nafas, Ia tidak mengira nasib temannya akan berakhir dengan berkerja kepada seseorang berdarah dingin setelah bertahun tahun tidak mendapatkan pekerjaan.

__ADS_1


Nina menggengam tangannya Shezan, "Kamu harus segera keluar dari sana. Bagaimana kalau kerja paruh waktu untuk sementara di Coffee Shop tempatku berkerja?" Nina mencoba memberikan solusi jalan keluar.


Shezan menarik tangannya dari gengaman Nina, dan menggengam tangan Nina, "Wahai Nina sahabatku, Coffee shop itu juga yang punya orang itu." Terang Shezan.


"Apa?"


Kedua wanita itu menghela nafas bersama.


***


"Kau akan baik-baik saja Shezan selama tidak berbuat kesalahan. Hidup di luar juga tidak lebih baik dari hidup di sini." Bisik Shezan menguatkan hatinya untuk masuk ke dalam rumah Farras.


"Kamu dari mana?" Terdengar suara Farras dari arah belakang Shezan. Ia telah tiba di rumahnya dan baru saja turun dari mobilnya.


Shezan terdiam untuk beberapa saat, Ia seperti seorang tawanan yang tertangkap basah ingin melarikan diri. "Dari belanja keperluan dapur. " Jawab Shezan terbata-bata.


"hmm.. " Tanpa banyak bicara lagi, Farras masuk ke dalam rumahnya melewati Shezan.


"Karena tiba tiba lapar, jadi singgah sebentar untuk makan." Shezan mengikuti langkah Farras. Meski Farras tidak bertanya, Ia merasa perlu memberi penjelasan mengapa Ia bisa pulang terlambat.


***


Di tengah malam Shezan dibangungkan oleh suara berisik di luar kamarnya. Ia mengusap matanya, dan mengambil ponsel yang Ia letakkan di meja samping temat tidurnya. Layar ponselnya menunjukkan pukul 10:30 malam.


Shezan tidur lebih cepat malam ini. Ia tidak menjahit di malam hari seperti biasa. Ia khawatir suara mesin jahitnya akan menggangu ketenangan Farras.


Demi menghilangkan rasa penasarannya, Shezan bangun dan keluar dari kamarnya untuk mencari sumber suara itu.


Sementara di dapur, terlihat Farras sedang melakukan sesuatu. Ia terlihat tenang dengan apa yang dikerjakannya, meskipun menimbulkan suara berisik. Ia sedang mengasah sebuah pisau. Ditatapnya lekat mata pisaunya, mata pisau itu terlihat silau, memantulkan cahaya lampu dapur.


Farras membawa pisau tersebut berjalan ke arah Shezan yang sudah berdiri di belakangnya sedari tadi mengamatinya.


Shezan berdiri diam menunggu apa yang akan dilakukan Farras, tidak tampak tanda-tanda dirinya akan kabur. Tubuh Shezan membeku setiap kali Ia ketakutan.


Langkah Farras terhenti di depan meja makan, Ia memotong sesuatu dengan pisau yang baru saja diasahnya.

__ADS_1


"Kamu mau?" Tanya Farras tenang kepada Shezan yang tengah menatap ke arahnya.


***


__ADS_2