Finding Miss Right

Finding Miss Right
licik


__ADS_3

Di ruangan rapat, Farras tersenyum membaca pesan balasan Shezan. "Dia benar sedang membicarakanku dengan pria lain?" Gumannya dalam hati.


Ia hanya ingin mengganggu Shezan, tetapi Ia tidak menyangka istrinya benaran sedang berbicara dengan pria lain. Ia kembali mengetik pesan balasan untuk Shezan. Farras tidak memperdulikan orang-orang di ruangan rapat yang menunggunya memberikan keputusannya.


Shezan


^^^Apa Kamu tahu artinya?^^^


"Pak Farras, Anda belum memberikan suara." Terdengar suara seseorang mengingatkannya.


Farras menoleh ke arah sumber suara. " hmmm."


Farras menulis sesuatu pada kertas di depannya dan melemparkan map berisikan kertas tersebut jauh ke depannya. Ia kembali melihat layar ponselnya menunggu balasan Shezan.


Dewan Komisaris, dan direksi yang hadir dalam rapat tersebut terkejut melihat apa yang di tulis Farras, di rapat kali ini Farras menyetujui semua laporan dan keputusan yang mereka buat. Sebenarnya mereka tidak menyukai kehadiran Farras di rapat umum pemegang saham karena sikapnya yang arogan, tetapi apa hendak dikata, kepemilikan 70,7 persen saham PT. bolkus dimiliki oleh Farras.


Rapat itu akhirnya mencapai titik temu, tetapi Farras tampak tidak begitu peduli. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar Shezan mau menjadi istrinya secara sukarela. Ia tidak menyangka Shezan ternyata lebih licik dari yang Ia kira. Gadis kecil itu berani bermain tarik ulur dengannya.


Tanpa menunggu rapat itu bubar, Farras lebih dahulu meninggalkan ruangan rapat tersebut begitu saja. Jagdish menyambutnya di luar ruangan.


"Ada hal baru yang ingin Kau laporkan?" Tanya Farras kepada Jagdish yang mengiringi langkahnya meninggalkan gedung PT bolkus.


"Shezan bertanya tentang penglihatan Anda." Jawab Jagdish setengah jujur. Ia sadar Farras sudah mengetahui dirinya yang telah berbicara dengan Shezan.


"Hmmm."


***


Sementara di ruangannya, Shezan memikirkan apa arti dari artinya pesan Farras.


Farras


^^^Tidak tahu.^^^


Setelah membalas pesan Farras, Shezan menyimpan kembali ponselnya, Ia tidak punya waktu memikirkan jawaban dari pesan Farras. Ia sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Pesan itu sampai di ponselnya Farras yang sekarang tengah duduk di mobilnya. Mereka sedang dalam perjalanan.


Farras membaca pesan masuk di ponselnya. Ia memikirkan sesuatu.


"Baiklah jika Kau ingin bermain-main denganku." Gumannya dalam hati.


Jagdish melirik Farras dari kaca spion, Ia ragu apakah harus bertanya dengan Farras atau tidak.


"Ada apa?" Tanya Farras tanpa menoleh ke arah Jagdish di depannya.


Apa dia punya mata batin? dia bisa tahu apa saja.

__ADS_1


"Apa Anda ada hubungannya dengan kematian Ayah kandungnya Shezan?" Tanya Jagdish langsung kepada intinya.


Farras terdiam sesaat mendengar pertanyaan Jagdish. Ia menyunggingkan senyum, "Aku hanya membayarmu menyelidiki gadis itu, bukan Ayahnya." Ujarnya dengan tenang.


"Baik, Saya mengerti."


Bagaimana bisa Aku menyelidiki istrinya jika dia melarangku berbicara dengan istrinya. Boss selalu benar.


***


Matahari telah berada di barat, Farras memakirkan mobil nya di pakiran basement gedung Myrtle dan membaca kembali isi laporan kinerja direksi PT bolkus di mobilnya. Ia tidak mendengarnya saat rapat tadi.


"Apa ini?! &$#! $&¢£%!" Gumannya, Ia kembali kesal marah-marah menggunakan bahasa yang tidak jelas.


Ia berhenti marah-marah tidak jelas setelah mendengar pintu mobilnya dibuka oleh seseorang. Shezan masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasa Ia langsung menunduk.


"Mengapa tidak membuat kaca mobilnya lebih gelap?" Tanya Shezan, Ia sudah lama ingin mempertanyakannya.


"Mengapa?" Tanya Farras acuh, Ia mulai menjalankan mobilnya.


"Orang lain bisa lihat," Ujar Shezan. Berada di mobilnya Farras membuatnya risih. Ada banyak mata yang menatap ke arahnya. Ia tidak menyukai pandangan orang-orang yang melihatnya.


"Shezan Afifah, Aku hanya tidak suka melihat orang lain, Bukan berarti Aku melarang orang lain melihatku." Ujar Farras memberi penjelasan.


".... "


"Mengapa Kamu menatapku? Kamu sangat menyukaiku?" Tanya Farras, Ia tetap fokus mengemudi mobilnya.


Tuh kan benar, dia mengira aku sangat menyukainya.


Farras menyunging tawa, "Aku tidak percaya lagi denganmu. Lain kali jika ingin berbohong lakukanlah yang benar, maka Aku akan berpura pura percaya." Ujar Farras.


"Apa maksudnya?" Tanya Shezan bingung.


Farras tidak menjawab, Ia menepikan mobilnya dan berhenti. Ia melepas sabuk pengamannya dan mendekat ke arah Shezan, hingga Shezan terpojok di dinding pintu mobil.


"A.pa yang mau kamu lakukan?" Tanya Shezan terbata, Ia menahan Farras yang mencoba lebih dekat, dengan kedua tangannya.


"Shezan Afifah bersikaplah dewasa, Jika Kamu ingin berbohong lakukan dengan tanganmu, bibirmu dan tubuhmu. Maka Aku akan berpura-pura percaya." Ujar Farras memberi penjelasan. Ia ingin mencium Shezan untuk memberikan contoh agar wanita di depannya paham apa yang dia maksud.


Tetapi Ia urungkan niatnya memberi contoh, karena beberapa orang yang berdiri di trotoar melihat ke arah mereka.


"Kamu benar, membuat kacanya lebih gelap adalah Ide bagus." Ujar Farras tersenyum, dan kembali duduk dibangkunya dengan baik dan benar. Ia kembali menjalankan mobilnya setelah memasang sabuk pengamannya.


Farras tidak membawa Shezan pulang ke rumahnya, Ia membawa Shezan ke apartemen yang pernah dibelikannya untuk Shezan. Ia ingin menjalankan rencana liciknya.


"Mengapa Kita ke sini?" Tanya Shezan saat mobil yang Ia tumpangi berbelok memasuki pintu masuk gedung apartemen.

__ADS_1


"Renovasi Kamarmu membutuhkan waktu beberapa hari." Ujar Farras memberi penjelasan.


"Tapi Aku bisa tinggal di kosannya temanku." Seru Shezan panik.


Hanya mengembalikan tempat tidurku mengapa butuh waktu lama?!


"Tetapi Aku tidak bisa tinggal tanpamu." Ujar Farras tersenyum licik.


"Apa?"


Shezan terduduk lemas meratapi nasibnya yang harus kembali ke apartemen yang baginya menyeramkan.


Farras menggenggam tangan Shezan berjalan masuk dan menuju lift. Panjaga keamanan tetap memberi salam dengan sopan meski tidak semua penghuni membalas sapaan mereka, termasuk Farras. Shezan tidak bisa membalas sapaan mereka karena Farras menutup matanya.


Farras dan Shezan segera masuk ke dalam lift begitu pintunya terbuka. Hari ini adalah hari naas baginya. Saat pintu lift akan menutup tiba tiba serombongan orang masuk ke dalam lift yang mereka tumpangi. Tampaknya salah satu penghuni membawa tamu tamunya.


Shezan tersenyum senang, "Jangan mengira ini perusahaanmu." Bisik Shezan meledek Farras yang terlihat mulai panik dan hendak keluar dari lift.


Shezan menghalangi dan menahan Farras sekuat tenaga dan segala cara hingga pintu lift tertutup. Ia tidak peduli dengan Farras yang menatapnya tajam. Ia lebih peduli dengan tatapan para wanita itu kepadanya, Ia semakin memegang erat tangan Farras yang menggenggam tangannya.


"Rasakan pembalasan Shezan, tidak ada lift khusus untukmu di sini ha ha" Guman Shezan tertawa dalam hati. Ia akhirnya bisa membalas memberi pelajaran suaminya yang arogan. Ia tidak peduli dengan suaminya yang sudah terlihat pucat. Ia hanya berpikir Farras harus terbiasa hidup bermasyarakat.


Meski Farras menghindari melihat beberapa wanita yang berdiri bersama mereka di lift, para wanita itu tetap berusaha menarik perhatian Farras. Tidak bisa dipungkiri wajahnya yang tampan, sulit untuk menolak pesonanya.


"Apa yang dia coba lakukan?"Guman Farras dalam hati melihat shezan yang sengaja menahannya tetap berada di dalam lift.


Farras mulai kehilangan keseimbangan dan mulai mengalami pusing, para wanita yang tampak menyeramkan itu juga tidak kunjung turun dari lift karena mereka menekan tombol lantai 48.


"Mengapa dia membeli unit di lantai 50 &$#!?!" Umpat Farras dalam hati kepada Jagdish.


Ia akan terjebak di dalam lift bersama sosok yang menyeramkan hingga lantai 48. Lift di apartemen itu menggunakan kartu akses yang hanya bisa untuk lantai yang mereka tempati.


Akhirnya pintu lift terbuka di lantai unit mereka. Farras tidak berbicara apa apa hingga mereka sampai di unit apartemen Shezan. Farras segera menuju powder room dan memuntahkan semua isi perutnya di wastafel. Ia benar benar mual.


"Berani sekali dia melakukan ini kepadaku" Guman Farras tersenyum setelah membersihkan dirinya. Ia membuka pintu dan bersiap ingin memberi Shezan pelajaran karena telah berani membuatnya kehilangan image nya.


"Ka_" Ucapan Farras terhenti ketika melihat Shezan yang berdiri khawatir. Seketika kemarahannya yang memuncak lenyap begitu saja.


"Kamu tidak apa apa?" Tanya Shezan cemas.


"Aku tidak baik-baik saja," Ujar Farras lemah, Ia menarik lengan Shezan dan memeluknya. "Kamu harus bertanggung jawab."


"Oke baik, Aku akan membawamu ke rumah sakit, dan bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatannya." Ucap Shezan bertanggung jawab, Ia menepuk nepuk punggung Farras.


"Hmm... " Farras melepaskan pelukannya. "Masak saja makan malam yang enak!" Serunya kesal meninggalkan Shezan dan menuju kamar. Ia ingin istirahat.


Mengapa dia yang mengerjaiku? Dia wanita yang cukup licik ternyata.

__ADS_1


__ADS_2