
Berhasil menemukan Shezan dalam keadaan baik-baik saja membuat Farras bernafas lega. Akhirnya Ia sudah bisa makan dengan tenang tanpa gangguan pikiran apapun.
Tanpa bertanya lagi lebih lanjut kepada Shezan, Farras memeluk Shezan.
"Aku sudah mengatakan kepadamu untuk tetap bersamaku." Ujar Farras dingin. Ia benar-benar sangat kelaparan dari sore di kantor polisi. Ditambah segelas kopi membuat perutnya semakin sakit.
"Kamu nggak apa apa?" Tanya Shezan karena Ia merasa sepertinya badan Farras yang lebih besar darinya bertumpu padanya.
Jagdish yang duduk mengemudi di kursi depan menaikan sebelah alisnya heran mendengar Shezan berbicara tidak formal kepada Farras.
"Aku sangat lapar." Ujar Farras yang sudah kehabisan baterai pelan.
Dan akhirnya mereka mampir di restoran cepat saji terdekat.
***
Keesokan paginya seperti biasa Farras berangkat ke kantornya pukul 9 pagi. Tiba tiba Shezan membuka pintu di sebelah Farras, dan ikut duduk di sebelahnya.
Farras dan Jagdish menoleh ke arah Shezan, menatapnya dengan tanda tanya.
"he.. he.. numpang sampai depan." Shezan menjawab tatapan kedua pria tersebut.
"Oke." Ujar Jagdish menjalankan mobilnya.
"Pak nanti bisa belok kiri dulu saja sebentar? dekat kok." pinta Shezan kepada Jagdish.
Arah tujuan mereka berlawanan arah. Permintaan Shezan membuat Jagdish bingung, harus menuruti permintaan Shezan atau melewati rute seperti biasa. Jagdish melirik ke arah Farras meminta persetujuan.
Sementara Farras tidak menoleh ke arahnya, Ia sibuk dengan tablet di tangannya.
"ehmm," Jagdish berdehem meminta perhatian Farras.
"Kalau Bos nggak apa apa terlambat." Ujar Shezan.
Farras menoleh ke arah Shezan mendengar dirinya dibicarakan.
"Ya sudah Pak saya turun di depan saja. Saya akan melanjutkan perjalanan yang panjang ini dengan berjalan kaki di tengah keramaian lalu lalang kenderaan. Mau bagaimana lagi, mau pesan ojek online ponselnya nggak ada." Ucap Shezan dengan nada rendah memelas, berharap Farras dan Jagdish akan bersimpati kepadanya.
Namun, harapannya pupus ditelan asap kenalpot. Jagdish dan Farras benar-benar menurunkannya di persimpangan jalan.
***
Shezan berada di sebuah gerai provider SIM card untuk mendapatkan nomor lamanya.
Ada banyak pesan masuk di ponsel barunya Shezan begitu Ia mengaktifkannya. Semua pesan tersebut berasal dari Nina.
From Nina
Shezaan.. Bagaimana bisa kamu berhubungan dengan debt collector.
Kamu seharusnya mencariku jika butuh bantuan
Apa kamu baik baik saja?
Memangnya berapa banyak hutangmu?
Kenapa nomor mu blm aktif juga?
Segera hubungi aku
Aku tahu kamu tidak akan bisa membaca pesanku, tapi aku kirim pesan lagi
Jangan lupa kamu harus menceritakan kepadaku apa yang terjadi
Aku tidak bisa menghubungimu, tidak tahu dimana kamu tinggal
__ADS_1
Shezan apa kamu masih hidup?
Hari ini kursus jahitnya libur?
Nomormu belum juga Aktif, Aku tidak tahu bagimana mengetahui keberadaanmu
Pokoknya nanti aku harus tahu di mana kosan mu!
Shezan bingung harus menjawab yang mana dulu.
Setelah memutuskan untuk menjawab apa, Ia pun mulai mengetik balasannya.
to Nina
Aku baik baik saja, jangan khawatir...
Shezan berhenti mengetik ketika membaca pesan terakhir Nina, membuatnya teringat sesuatu. Yang Ia tahu, Farras dan Jagdish tidak mengenal Nina, bagaimana mereka bisa mengetahui di mana alamat kosannya Nina?
Mengapa diriku selalu telat mikir, bahkan orang itu sudah dua kali menjadikanku bahan tertawaan. Pikir Shezan tidak terima.
***
Farras sudah mulai merasa terganggu dengan kedekatan Shezan dan Aynan. Ia sendiri juga tidak tahu mengapa hal itu bisa sampai mengganggu pikirannya. Farras akhirnya memutuskan untuk memecat Aynan sebagai tukang masak di rumahnya.
Sementara itu, di ginger maple, Aynan yang merasa diberhentikan secara sepihak menjadi heran membaca pesan singkat dari Jagdish. Dulu Farras bahkan memberikannya sebuah restoran untuk Ia kelola agar dirinya mau menjadi tukang masak pribadinya.
"Sepertinya Aku memiliki saingan yang berat," guman Aynan tersenyum simpul. Sejak melihat Shezan di rumah Farras, Ia sudah menyadari Shezan adalah wanita khusus bagi Farras.
drrrtt drrrtt...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Aynan.
from Shezan:
^^^Tidak lagi. Terlalu banyak pekerjaan direstoran, Jadi aku putuskan untuk berhenti bekerja di rumah bapak Farras.^^^
Jadi saya tidak bisa makan masakan chef lagi dong..
^^^Maaf.^^^
***
Di sisi lain, di salah satu ruangan Gedung Myrtle. Farras juga mendapat pesan singkat dari Shezan. Farras mengabaikan tatapan Jagdish yang menuntut Farras untuk menjawab pertanyaannya.
Ia lebih memilih membaca pesan masuk di ponselnya.
From Shezan:
hari ini chef berhenti bekerja. jadi gimana? saya yang masak?
^^^Iya^^^
Kamu mau makan apa?
^^^Terserah^^^
"Apa itu dari Shezan?" tanya Jagdish. "Anda harus menjawab pertanyaan saya, Apa terjadi sesuatu yang tidak saya ketahui diantara kalian?"
"hmm.."
"Apa Anda menyukainya?" Tanya Jagdish
"Suka?" Farras balik bertanya. Ia segera membuka website mesin pencari di layar ponsel nya dan mengetik ciri ciri menyukai seseorang.
Jagdish mengintip layar ponsel Farras dan tersenyum simpul, "Anda tidak mengetahui kalau Anda menyukai Shezan?"
__ADS_1
"Hmmm..."
***
Di sisi yang lain lagi, di sebuah coffee shop. Nina yang telah selesai bekerja membaca pesan balasan dari Shezan, dan mengirim pesan lagi kepada Shezan.
to Shezan:
^^^Katakan padaku di mana alamat kosan mu yang baru^^^
Nanti
^^^Ya sudahlah aku nggak mau tanya tanya lagi. Entar nanti kayak gini. link berita^^^
***
Shezan yang menerima balasan Nina, membuka link berita tersebut. Yang Judulnya: Suka bertanya kapan nikah, seorang satpam ditemukan tewas bersimbah darah di pos satpam.
Ternyata berita tersebut adalah kasus pembunuhan yang terjadi di kompleks tempat tinggal Farras. Pelaku pembunuhan tersebut adalah temannya sendiri sesama satpam di kompleks perumahan tersebut. Tersangka mengaku nekat membunuh temannya karena kesal disindir-sindir terus mengenai statusnya yang masih saja belum menikah.
Shezan bergidik ngeri sekaligus lega karena pelakunya sudah tertangkap. Ia pun kembali membuka aplikasi Whats**p dan mengirim pesan singkat kepada Jagdish.
***
Diruang kerjanya Farras, Jagdish yang masih mengintip apa yang dibaca Farras mendengar suara pesan masuk di ponselnya. Ia pun beralih melihat ponselnya.
From Shezan
Mengapa Bapak bisa tahu kosan teman saya?
^^^Afiza ghania?^^^
Loh Bapak juga tahu nama teman saya? Bapak kenal teman saya?
^^^Iya^^^
Teman Bapak juga?
^^^Bukan^^^
Jadi?
^^^Afiza ghania adalah pegawai di salah satu coffee shop Pak Farras^^^
Oh pamannya Bapak.
Lah terus mengapa Bapak bisa tahu saya ada di sana, Bapak kok tahu saya temannya Afiza Ghania?
Jagdish berhenti mengetik balasan untuk Shezan. Atas permintaan Farras, Ia telah mencari tahu tentang kehidupan Shezan. Ia yang pernah tinggal di panti asuhan dengan Nina, Kampusnya Shezan, siapa saja orang yang sering ditemui Shezan, dimana saja Shezan pernah melamar kerja dan ditolak. Namun ada satu hal yang belum Ia ketahui tentang Shezan, yaitu asal usul Shezan.
^^^Saya hanya menebak mbak ada di sana, karena mbak dan Afiza pernah kerja di warung Bu Sri.^^^
^^^Mbak lupa saya pernah menjadi pelanggan tetap Bu Sri?^^^
Oh iya ya, he he saya lupa
Jagdish beralih lagi melihat ke arah Farras yang masih serius membaca layar ponselnya.
"Anda Harus belajar mengenai hal itu kepada ahlinya," Ujar Jagdish kepada Farras.
"Hmm... " Farras melihat ke arah Jagdish.
Jagdish menepuk dadanya, dan tersenyum simpul. Dirinya sudah cukup memiliki pengalaman di bidang percintaan.
***
__ADS_1