
Begitu chef Aynan hilang dari pandangan mata, Shezan bergegas menyemprotkan parfume ke seluruh tubuhnya. Ia membeli Parfume itu seharga sebulan gajinya menjadi tutor menjahit.
Shezan telah memutuskan untuk memiliki misi selain designer, yaitu membuat Farras, majikannya, temannya, suaminya untuk jatuh cinta kepadanya. Walaupun terdengar sulit, lebih sulit dari menjadi designer. Shezan sudah bertekad.
"Uhuk.. uhuk." Ia sedikit terbatuk, entah karena menyemprotkan parfum kebanyakan, atau karena tidak biasa dengan parfume yang menurutnya mahal.
Tanpa Shezan sadari, Farras melihat tingkahnya dari atas tangga.
Farras duduk di kursinya seperti biasa. Ia melihat Shezan yang duduk elegan di hadapannya. Shezan tersenyum lembut ke arahnya. Sikapnya yang sangat tidak natural, terlihat Ia seperti baru saja belajar table manner 30 menit.
Sepanjang makan malam, Shezan tidak menimbulkan suara apapun. Ia bahkan dengan sigap dan pernuh perhatian melayani suaminya makan malam.
***
Setelah selesai makan, seperti biasa Farras akan menghabiskan waktunya membaca buku di ruangannya.
tok... tok... tok...
Terdengar pintu ruangannya diketuk seseorang dari luar. Tak lama kemudian pintu itu terbuka, dan muncul kepala Shezan dari balik pintu. Sepertinya Ia ingin memastikan terlebih dahulu suasana di dalam ruangan. Setelah Ia melihat sosok yang dicarinya ada di dalam, Ia pun melangkah masuk.
Shezan berjalan mendekat ke arah Farras yang melihatnya dingin dengan tatapan heran. Shezan sudah mulai terbiasa ditatap seperti itu, entah mengapa sejak Farras mengajaknya untuk gencatan senjata, menjalin pertemanan, Ia sedikit lebih berani dengan Farras.
"Ada apa?" Tanya Farras setelah dirasanya jarak Shezan sudah cukup dekat dengannya.
"Bagimana kalau kita minum-minum?" Shezan tersenyum lebar menawarkan Farras untuk minum-minum.
"hmm,?"
"Sesekali harus bersantai dengan minum-minum," Ujar Shezan.
"hmm," Farras melihat ke arah Shezan yang sedikit berpenampilan berbeda hari ini,
Shezan mengenakan baju kurung yang terlihat pas ditubuhnya. Baju itu adalah baju yang baru saja telah selesai Ia jahit. Ia menggulung dan mengikat rambutnya dengan rapi. Bibirnya terlihat sedikit basah, habis meminum sesuatu.
"Teman itu harus sering sering minum bersama, menghilangkan stress." tutur Shezan dan dengan lancang menutup buku yang dipegang Farras.
Farras ingin tahu apa yang sedang direncanakan gadis didepannya sejak tadi. Oleh karena itu Ia menuruti permintaan Shezan. Mereka duduk di sofa yang ada diruangan tersebut.
Shezan meletakkan dua gelas besar berisi sebuah minuman berwarna hitam di atas meja.
"Apa itu?" Tanya Farras heran.
__ADS_1
"Es cincau." Jawab Shezan. "Ayo cheers!" Shezan meminum es cincaunya.
"Mengapa Abang nggak minum?" tanya Shezan melihat Farras yang belum meminum es cincau miliknya.
Farras mengambil gelas di tangan Shezan dan meminumnya hingga habis.
"Mengapa Abang meminum punya saya?" Tanya Shezan bingung dan kaget.
"Kamu tidak mengatakan gelas mana yang harus ku minum" Ujar Farras datar.
"Oh iya ya." Ujar Shezan menyadari kesalahannya.
Mengapa jalan ceritanya nggak jadi seperti di drama? Pikir Shezan bingung.
Farras menyerahkan gelas yang masih penuh berisi es cincau kepada Shezan, "Kalau begitu ambil punyaku". Ia mencurigai Shezan menaruh sesuatu pada minumannya.
Shezan mengambil gelas tersebut dan meminumnya pelan pelan.
Habis ini dialognya apa lagi ya? Tanya Shezan dalam pikirannya.
Di drama, jika suami berselingkuh, tokoh wanitanya akan be a lady dan sedikit agresif.
Shezan melirik Farras yang terus melihat ke arahnya.
Ada apa dengannya, apa dia menyukaiku? Shezan tersenyum melihat dirinya memikirkan hal diluar akal sehat.
Tidak ingin memikirkan hal yang aneh-aneh, Ia kembali meminum es cincaunya. Tiba-tiba Farras mengambil gelas Shezan, dan menempelkan bibirnya ke bibir Shezan.
Sontak Shezan mundur ke belakang dan meletakkan es cincaunya di meja. Matanya melotot kaget dengan apa yang barusan dilakukan Farras.
"Mengapa?" Tanya Farras datar dan dingin.
Shezan yang masih kaget, tidak tahu harus berbuat dan berkata apa. Sekujur tubuhnya tiba-tiba kaku.
"Bukankah kamu mendatangiku malam seperti ini untuk menggodaku?" Tanya Farras dengan dingin, matanya tajam seakan ingin menusuk siapa saja yang ada di depannya.
Shezan memang berniat untuk menggoda Farras, tetapi Ia tidak menyangka akan mendapat pelecehan dan tatapan yang menyeramkan. Apa Ia salah baca buku petunjuk?
Setelah Ia dapat menggerakkan tubuhnya, Shezan segera berlari meninggalkan ruang kerja Farras menuju ke kamarnya.
Sepeninggalan Shezan, Farras menatap gelas yang diletakan Shezan masih berisi es cincau. Ia kemudian meminumnya hingga habis. Dan kembali pergi dengan tenang membaca bukunya yang sempat terhenti.
__ADS_1
***
Sementara itu Shezan di kamarnya terlihat gemetar, "Aku lupa kalau dia adalah lelaki yang bisa saja menjadi menakutkan." guman Shezan bergidik ngeri.
Tampaknya Ia harus berhati-hati dalam bertindak. Shezan mencoba mengumpulkan keberaniannya. Setelah semua keberaniannya terkumpul. Ia meyakinkan dirinya untuk bersikap tegas dan keras kepada Farras. Shezan berpikir Farras berani berbuat macam macam terhadapnya karena dirinya terlihat lemah dan panakut.
***
Pagi harinya Shezan memasak bubur nasi dan sup ikan.
"Shezan kamu harus menunjukkan siapa bos di sini." Bisiknya menyemangati dirinya agar bersikap tegas kepada Farras.
Setelah menata bubur dan sup ikan di dalam mangkok, Shezan berbalik menghadap ke arah Farras dan Jagdish yang tengah duduk di depan meja.
"Mbak Shezan sedang sakit?" Tanya Jagdish yang melihat Shezan tampak gemetar melatakkan mangkok yang dibawanya di atas meja.
"Ya?" Shezan melihat ke arah Jagdish. "Tidak, saya baik baik saja. Silahkan makan. Permisi." Ujar Shezan meninggalkan kedua pria aneh itu. Ia tidak berani melihat ke arah Farras.
Jagdish memandang heran kepergian Shezan. Shezan membersihkan dapur Farras dengan cermat dan penuh kehati-hatian, setelah ia gunakan untuk memasak.
"Ada apa dengannya?" Tanya Jagdish dalam hati. Ia memandang ke arah Farras. Seperti biasa Farras dengan tenang menyantap sarapannya.
***
Setelah Jagdish duduk di kursi pengemudi mobil Farras, Ia melirik Farras dari kaca spion mobil. Farras duduk dengan tenang melihat layar tablet di tangannya.
Jagdish masih mencurigai telah terjadi sesuatu diantara Shezan dan Farras.
"Jangan terus melihat ke arahku," ujar Farras tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar tablet di tangannya.
"Katakan kepada saya, Apa yang Anda lakukan kepada Shezan?" Tanya Jagdish. "Tidak..tidak, Apa Anda membunuh seseorang di depan Shezan?" Lanjut Jagdish meralat pertanyaannya.
"Hmm.."
"Membawa Shezan tinggal bersama Anda adalah ide yang sangat buruk." Jagdish melanjutkan ocehannya sembari mulai mengemudikan mobil Farras. "Jangan melukainya!" Seru Jagdish.
"Hmm.. "
"Saya yakin pasti telah terjadi sesuatu." Ujar Jagdish belum berhenti mengoceh. Hingga mobil yang mereka tumpangi mendekati gerbang kompleks. Terlihat pos satpam yang telah dipagari garis polisi, dan beberapa polisi berdiri di sana.
"Apa yang terjadi?" Guman Jagdish melihat ke arah pos satpam sembari tetap mengemudikan mobil melewati pintu gerbang keluar. Ketika masuk tadi pagi Ia memang sudah melihat ada dua orang polisi berdiri di pos satpam, tetapi blm ada garis polisi.
__ADS_1
Jagdish melihat ke arah Farras, tampak Farras masih tetap fokus melihat layar tablet di tangannya dengan tenang tanpa memperdulikan gumanan heran Jagdish.