
Di sebuah bangunan yang masih dalam tahap pengerjaan, terlihat seorang pria sedang menjelaskan secara detail kepada Farras beberapa bagian yang mereka lewati.
Bangunan itu rencananya akan dijadikan pabrik yang baru. Tampak di belakang mereka sekertaris pribadi Farras setia mengikuti perjalanan mereka, dan sesekali mencatat apa yang perlu dicatat.
Setelah tur keliling pabriknya selesai, Farras meninggalkan gedung itu tanpa berbasa-basi. Bahkan pria yang menemaninya tidak tahu kapan atasannya pergi, tiba-tiba Ia sudah tidak melihat sosok atasannya yang tadinya ada disebelahnya. Ia menghela nafas, menyadari bahwa Ia telah berbicara sendiri sejak tadi.
Jagdish membukakan pintu mobil untuk Farras, mereka pergi meninggalkan bangunan yang belum selesai itu.
Sementara sekertaris pribadi Farras ditinggal begitu saja, Ia sudah terbiasa seperti itu. Setiap kali ada urusan diluar kantor, Ia tidak pernah satu mobil dengan direkturnya.
Jagdish melihat pantulan sosok sekertaris pribadi Farras dari kaca spion mobil, "Sepertinya sekertaris Anda sedang mencari tahu sesuatu."
Farras yang tengah sibuk dengan tablet nya, acuh tak acuh. "Kau bisa menuntut mereka."
Jagdish tersenyum tipis, "Tidakkah itu terlalu berlebihan?"
"hmm.. "
"Baiklah, saya mengerti." Ucap Jagdish. Saat ini Farras adalah klien nya.
Klien nya bukanlah orang yang memiliki jiwa belas kasihan terhadap orang lain. Berbeda dengan dirinya, Ia adalah manusia normal yang berperikemanusiaan. Ada rasa Iba dalam dirinya jika harus menuntut pegawai toko perhiasan yang telah membocorkan perihal urusan pribadi konsumennya, seharusnya menjadi sebuah rahasia.
***
Tiga hari telah berlalu. Hari ini adalah hari penentuan bagi Shezan, apakah hasil karya nya diakui dan diterima menjadi seorang designer di Myrtle.
Gadis itu tampak gugup dengan dusternya yang telah selesai Ia kerjakan.
Hani mengamati dusternya mencoba melakukan penilaian. Hani menyungingkan senyumnya , "Apa kau mencoba membuat busana ber label haute couture?"
"Eh?"
(houte couture : pakaian mahal dengan kreasi desain busana kelas atas dibuat dengan tangan dari awal hingga akhir)
"Ayo semua, kita tidak punya banyak waktu," Seru Hani kepada semua bawahannya.
Semuanya sibuk membawa busana sampel yang telah mereka kerjakan, begitu juga dengan Shezan ikut membantu.
"Ini mau dibawa kemana?" Tanya Shezan kepada Annindya di tengah perjalanan mereka.
"Semuanya akan dinilai langsung oleh direktur."
"Apa?!"
Annindya tertawa, "Mengapa Kau terkejut? Jangan khawatir dia tidak akan memakanmu. ha ha."
Mereka tiba di ruangam meeting, semuanya sibuk menyiapkan mental masing-masing sebelum kedatangan direktur mereka.
Shezan yang tidak tahu apa-apa juga ikut berdoa dalam hati. Ia setiap hari bertemu dengan Farras, tetapi entah mengapa hari ini dirinya merasa gugup. Ia takut dengan penilaian Farras terhadap hasil karyanya.
Akhirnya sosok yang mereka anggap monster datang memasuki ruang meeting.
Sosok itu terlihat dingin dan penuh wibawa, tatapannya tegas. Seperti elang yang siap menangkap mangsanya.
Ia duduk dengan tenang dikursinya, mengamati setiap busana yang dipertunjukkan. Setiap designer menjelaskan karya mereka masing-masing.
Tak ada komentar yang keluar dari sosok dingin yang mengamati mereka. Jika Ia tidak menyukainya, gambar rancangan busana mereka akan langsung di buang ke tempat sampah. Rancangan Shezan termasuk salah satu rancangan yang ada di tempat sampah.
Bisa dipastikan semua yang ada di ruangan meeting itu juga ingin membuang direktur mereka ke tempat sampah.
"hmm.. " Farras meninggalkan ruang rapat tanpa bicara.
Selepas kepergian Farras, semua yang ada di ruangan tampak biasa saja membereskan sampel mereka. Berbeda dengan Shezan Ia tertegun, bergeming. Pikirannya kosong. Otaknya seolah-olah kabur, karena tidak ingin berpikir.
"Kau tidak apa-apa? hey semangatlah. Aku traktir makan." Tanya Annindya mencoba menghibur Shezan.
Annindya menarik lengan Shezan mengajaknya untuk berhenti berdiam diri, "Nanti juga kau akan terbiasa."
"Eh?"
***
"Apa Saya akan mendengar lagi perang dunia kedua dalam rumah tangga Anda." Sindir Jagdish begitu dirinya dan Farras tiba di ruangan Farras.
Farras tersenyum tipis, Is menunjukkan layar ponselnya kepada Jagdish. "Aku sudah menyelesaikannya."
Ia mengirim pesan kepada Shezan,
__ADS_1
Kamu tidak dipecat.
Jagdish menghela nafas membaca apa isi pesan yang dikirim Farras kepada Shezan, "Anda seharusnya menambahkan kata maaf dan menyemangatinya,"
"hmm.. "
Jagdish menghela nafas sekali lagi. Ia pasrah menghadapi Farras. Ia tidak bisa mengharapkan Farras mengerti tentang apa yang dirasakan orang lain, sementara dirinya tidak memiliki perasaan. Jika seseorang datang menemuinya dan kemudian melontarkan sumpah serapah kepadanya, Ia hanya akan diam mengabaikan orang tersebut.
Ingin rasanya Jagdish menjadi seorang dokter bedah, dan membawa Farras ke ruang operasi. Kemudian membelah dadanya untuk melihat apakah dia memiliki jantung yang normal.
***
Di ruangannya, Shezan tersenyum miris membaca pesan dari Farras. Lagi-lagi Ia dibuat terbang ke atas lalu dihempaskan jatuh ke bumi. Kemarin bersikap manis, hari ini kejam.
Sudah beberapa hari ini ia tidak membaca pesan pesan lain yang masuk karena kesibukannya membuat duster. Ia memutuskan untuk membalas pesan-pesan masuk diponselnya.
from Nina:
Masih sibuk? kalau sudah tidak sibuk, jangan hub aku ya. Karena aku sangat sibuk hahaha
^^^Oke, Aku akan menghubungimu saat dirimu sedang tidak sibuk, nanti kalau sedang sibuk kabari ya.^^^
**from Aditya**
**Hai. Kamu masih di kantor**?
^^^**Masih**^^^
**Baru balas sekarant, Kamu sudah seminggu belum pulang-pulang**?
**Pulang jam berapa**?
^^^**jam 3**^^^
~**foto** ***screenshot*** **lokasi** **sebuah** **cafe**~~ **Ada tempat nongkrong baru, ke sana yuk**!
Shezan berhenti mengetik layar ponselnya membaca pesan terakhir dari Aditya. Ia memanggil otaknya yang tadi kabur, memaksanya untuk berpikir. *Apa tidak apa-apa pergi berdua dengan lelaki lain*? Tanya hatinya.
*Kenapa tidak? hanya pergi hangout, di tempat ramai*. Otak Shezan berpikir.
Setelah berdiskusi panjang dengan pikirannya, Shezan akhirnya memutuskan untuk mengikuti ajakan Aditya.
**To Aditya**
^^^**Oke**^^^
**Kamu bawa kenderaan sendiri**?
^^^**nggak punya**^^^
__ADS_1
**oke bagus, Aku jemput ya**.
^^^**Iya**^^^
**Kantor kamu dimana**?
^^^**Myrtle**^^^
**Oke. Sampai nanti sore**.
Sore harinya, Aditya datang tepat waktu menjemput Shezan di depan gedung Myrtle dengan motornya.
Dan Shezan pun naik di boncengan, "Sesuai titik di aplikasi ya Pak." Ujar Shezan.
"Hahaha, Oke kak!" Balas Aditya.
Di tengah perjalanan Shezan mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Farras.
\*\*\*
**From Shezan**
**Saya ijin pulang malam, dan tidak masak**. **Kamu potong saja gaji Saya**.
Farras tampak berpikir serius membaca pesan dari Shezan di ruangannya.
Jagdish tersenyum tipis melihat Farras membaca pesan masuk di ponselnya, Ia tahu itu pesan dari Shezan, "Apa perang dunianya sudah dimulai?"
"*Bows Arrows* *Cafe & Resto*?" Guman Farras membaca layar ponselnya. Ia melacak keberadaan istrinya.
"Saya hari ini harus pulang cepat, Selamat sore." Ujar Jagdish beranjak pergi, Ia menebak Farras ingin menyusul Shezan ke *Bows & Arrows*.
"Apa Kau ingin tidak balik lagi untuk selamanya?" Tanya Farras menghentikan langkah Jagdish.
Jagdish menghela nafas, "Jika Anda tidak bisa menghiburnya, biarkan saja Shezan menghibur dirinya sendiri. Anda tidak bisa memaksanya untuk selalu ada bersama dengan Anda."
"Oke."
"Anda mengerti maksud perkataan saya?"
"hmm.. "
\*\*\*
__ADS_1