
Shezan berhenti dan berdiam diri sebelum memutuskan untuk membuka pintu rumah tersebut.
"Andai saja punya ilmu menghilang." Gumannya,
Ia membuka pintu.
Semerbak wangi bunga mencuat kehidungnya begitu Ia membuka pintu. Ratusan dekorasi bunga asli mengiringi langkahnya.
"Apa yang dia coba lakukan?" Tanya Shezan dalam hati. Ia mendekati Sebuket besar bunga mawar di depannya, I'm Sorry. Senyum terukir indah di wajahnya melihat hal indah yang dilakukan suaminya. Lagi-lagi Ia luluh dengan sikap manis Farras.
Ia tidak tahu harus berpikir apa tentang bunga-bunga disekelilingnya. Mau diletak dimana bunga sebanyak ini, dijual balik?
Ia mengambil ponselnya, dan mengetik pesan kepada Farras.
to Farras
Terima Kasih bunganya. Saya minta maaf, kamu benar. Saya tidak bisa menjadi designer di Myrtle.
Jagdish bolak balik membawa bunga masuk ke rumah Farras, "Mengapa Saya yang harus melakukan ini?"
Di wajahnya terukir raut tidak keikhlasan.
"hmmm.. " Farras hanya duduk menjadi mandor.
"Anda harus menunjukkan ketulusan dengan melakukannya sendiri." Seru Jagdish.
Dengan enggan Farras membantu Jagdish.
*siapa yang membantu siapa yang dibantu*.
"Saya penasaran dengan hal ini. Mangapa Anda begitu peduli dengan kemarahan Shezan?" Tanya Jagdish. Mengingat Farras tidak memiliki perasaan dan rasa bersalah.
"Dia terlalu berisik," Jawab Farras dengan sikap tenangnya.
Jagdish mengangguk mengerti, "Itu pasti sangat mengganggu." Ujar nya, mengingat Farras tidak suka keramaian dan keributan. Ia mengakui bahwa wanita kalau sudah marah suka merepet panjang lebar.
Jagdish kembali bersemangat membantu Farras Menyusun bunga permintaan maaf nya, dengan wajah penuh keikhlasan.
***
Pagi harinya, Shezan dengan tidak semangat menyiapkan sarapan untuk Farras. Ia masih dilanda kesedihan akan dirinya yang tidak berkompeten sebagai designer.
Ia tersenyum menyambut kedatangan suaminya yang berjalan menuju ke ruang makan. Suaminya yang tidak mencintainya tetapi selalu berusaha untuk bersikap romantis kepadanya.
Shezan kembali lagi terpesona dengan suami tampannya yang tersenyum berjalan ke arahnya. Apa itu? Semalam Ia bersikap dingin dan kejam, yang mana sih wujud aslinya? Aku tidak boleh lengah terhadapnya. Bisa saja dia itu adalah siluman berwujud manusia tampan.
Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala Shezan hingga Ia tidak sadar Farras sudah begitu sangat dekat dengannya, menggenggam kedua tangannya, dan menempel kepadanya.
Farras yang tidak merasakan pemberontakan dari gadis di depannya terus melakukan aksinya hingga gadis di depannya sadar.
Shezan melepaskan tangannya dari genggaman Farras, dan segera mendorong Pria di depannya. Apa monster ini baru saja menciumku?!
__ADS_1
Farras tersenyum menangkap bola mata Shezan yang membulat, "Kamu menyukainya?"
"Apa?" Shezan menutupi mulutnya dengan punggung tangannya. Aku lengah.
Farras mengecup tangan Shezan yang diletakkannya diatas bibirnya sebelum pergi menuju kursi meja makan. Ia memakan sarapan yang dibuat Shezan dengan tenang.
Shezan lengah sekali lagi.
"Aku mengakui kamu memiliki bakat menjadi designer." Ujar Farras mulai membuka suara setelah Ia menyesaikan makannya.
"Ya?"
Farras beranjak pergi, Ia melihat kotak bekal di atas mejanya, "Ini untukku?"
Shezan mengangguk, "Iya, "
Farras tersenyum lembut, "Terima Kasih, Aku menyukainya. Tetapi Aku lebih suka yang dengan yang pertama."
"Hah?"
"Jika menjadi seorang designer adalah tujuanmu, jangan datang ke Myrtle. Tetapi jika menjadi seorang designer adalah apa yang kamu suka lakukan, maka datanglah ke Myrtle." Ujar Farras bersiap pergi berangkat mencari rejeki untuk memberi makan anak istri, eh istri saja.
"Saya harap masih dapat melihat kamu di Myrtle." Ujar Farras. Dan pergi keluar rumahnya meninggalkan Shezan di ruang makan.
Jagdish sudah tiba menjemputnya untuk pergi bekerja mencari duit.
Shezan merenungi kata-kata Farras yang tidak seberapa itu. Ia bimbang akan tetap pergi bekerja sebagai desainer atau tidak. Akhirnya Ia memutuskan untuk kembali bekerja di Myrtle. Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi ojek online.
"Bikin kaget!" Seru nya, tiba tiba Aditya meneleponnya.
"Ya?"
"Kamu masih di rumah? Aku sudah di depan gerbang. Aku jemput kamu ya." Terdengar suara Aditya.
"Hah?"
Bersamaan dengan itu, mobil Farras yang dikemudikan dan selalu dibawa Jagdish melewati gerbang perumahan tempat tinggal Farras. Mobil itu melewati Aditya yang sedang menelepon istri orang.
"Ngapain jemput Aku? kan bikin repot." Tanya Shezan di tengah perjalanan mereka.
"Sekalian, kan kita searah." Jawab Aditya yang sedang mengemudikan motor.
"Oh gitu."
"Nanti pulangnya, bareng lagi ya. Aku jemput."
"Eh, nggak usah. Emang kamu pulang jam berapa?"
"Sama, kamu pulang jam berapa?"
"jam tiga."
"Ya Aku pulang jam segitu juga."
"Oh gitu. Kalau gitu. nggak apa-apa juga kita pergi pulang sama, he.. he.. nanti Aku bayar ongkos ojek sama kamu."
Aditya sedikit tertawa, "Aku nggak minta ongkos juga kali."
"Nggah ah, nggak enak gratisan."
"Ya udah, sebagai gantinya. Kamu traktir Aku makan aja."
"Ya lebih banyak dong keluar duitnya." seru Shezan, otak kikirnya mulai mengambil alih.
"Oh iya juga ya, ha. ha. "
Setelah cerita panjang lebar selama dua puluh menit, Shezan sampai di depan gedung Myrtle.
"Kau nggak telat, kalau ngantar Aku dulu? emang kau masuk kantornya jam berapa?" Tanya Shezan sembari membuka helmnya
__ADS_1
"Ya sama, kayak kamu,"
Shezan memberikan helmnya Aditya,"Oh gitu, Oke Terima Kasih. Hati-hati."
"Bye,"
Shezan memandang kepergian Aditya, sebelum masuk ke gedung Myrtle. Ia ingin memikirkan sesuatu, tetapi otaknya lagi cuti. Sehingga Ia tidak jadi berpikir.
Akhirnya Ia memutuskan melangkah masuk ke gedung Myrtle dengan senyum mengembang di wajahnya.
***
Sekertaris Pribadi Farras terlihat gugub menyambut kedatangan Farras yang akan memasuki ruangan direktur, Ia sedikit pucat. Bagaimana tidak? Temannya yang menyampaikan informasi mengenai wanita simpanan direktur kepadanya, baru saja diberhentikan dari tempatnya bekerja.
Farras seperti biasa, Ia berjalan menuju ruangannya tanpa menoleh ke arah sekertarisnya.
Jagdish tersenyum seperti biasa menyapa sekertaris pribadi Farras, begitu melewati sekertaris itu. Ia memang seorang Casanova sejati. Jika Farras dan Jagdish dipajang berdua, maka lebih banyak para wanita yang terpesona dengan Jagdish. Tidak ada yang memperdulikan Farras.
"Kamu terlihat kurang sehat?" Tanya Jagdish. Ia terlihat khawatir dan penuh perhatian.
Sekertaris pribadi Farras sedikit ketakutan, dirinya akan mendapat masalah, "Iya.Pak.."
Jagdish tersenyum, "Kamu tahu, curiosity killed the cat,...Kamu perlu istirahat."
"Maafkan Saya Pak, Saya mohon, jangan memecat Saya." Ujar sekertaris itu memohon.
Jagdish sedikit tertawa, "Kamu tidak akan dipecat." Ujarnya, Ia mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi meninggalkan sekertaris pribadi Farras.
Sekertaris itu akhirnya dapat bernafas lega mendengar ucapan terakhir Jagdish.
***
Sebagai Asistennya, Jagdish juga merangkap menjadi supir pribadi Farras. Ia tidak suka memperkerjakan banyak orang disekitarnya.
Sore ini mereka akan melakukan meeting dengan rekan bisnisnya di luar kantor.
Setelah Farras duduk di kursi penumpang, Jagdish bersiap akan menjalankan mobilnya. Pandangannya menangkap sosok shezan di depan pintu masuk halaman gedung Myrtle.
Shezan terlihat tersenyum menerima helm dari seorang ojek online. Raut wajah Jagdish tampak mencoba mengingat sesuatu.
"Bukankah itu orang sama dengan yang tadi pagi?" Bisiknya. Jagdish melirik Farras yang duduk dikursi penumpang belakang dari kaca spion. Farras seperti biasa tidak menghiraukan sekelilingnya. Ia sibuk dengan Tablet nya.
"Apa tidak seharusnya Anda memperkerjakan seorang supir pribadi untuk Shezan?"
"Mengapa Aku harus?" Tanya Farras balik tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet nya.
"Saya tidak ingin Anda menyesal dikemudian hari."
"Apa Aku pernah menyesal?"
"Baiklah, Saya mengerti." Jagdish mengurungkan niatnya untuk memberitahu Farras tentang apa yang dilihatnya.
Jagdish membawa Farras ke tujuannya. Bertemu dengan rekan bisnisnya.
***
Sementara itu, dua sejoli yang dicurigai Jagdish sedang berduaan di atas sepeda motor.
"Jadi Kamu kerja jadi asisten rumah tangga di rumah itu?" Tanya Aditya, Ia ingin memastikan lagi cerita Shezan.
"Iya, gaji nya mayan. Bos nya orang kaya raya." Ujar Shezan. Status pernikahan abstrak mereka masih menjadi sebuah rahasia.
Mengenal Farras adalah hal yang pertama baginya. Ia tidak memiliki pengalaman berteman. Ia tidak punya teman selain Nina. Lalu siapa Aditya?
"Sebenarnya Aku mau jujur, tapi Kau jangan marah ya?" Tanya Shezan ragu kepada Aditya.
Aditya berpikir tentang hal besar apa yang akan membuatnya marah. "ehm...Janji"
"Sebenarnya Aku sama sekali nggak ingat kamu siapa. Apa memang kita pernah kenal waktu kuliah?"
__ADS_1
Aditya sontak tertawa mendengar pengakuan Shezan.