Finding Miss Right

Finding Miss Right
Hotel


__ADS_3

Hotel?! batin Shezan berteriak histeris. Mendengar Farras akan membawanya ke hotel, Otaknya Shezan datang membawa pemikiran yang aneh-aneh.


Begitu mobil yang mereka tumpangi bergerak keluar dari gedung Myrtle, Shezan menundukkan dirinya. Ia tidak ingin terlihat oleh karyawan di Myrtle.


Shezan duduk normal kembali setelah mobil yang mereka tumpangi tiba di jalan raya.


"Apa Kamu sangat sangat sangat menyukaiku?" Tanya Farras yang tengah mengemudikan mobil di sebelah Shezan.


"Apa?"


"Dari tadi Kamu terus melihat ke arahku." Ujar Farras, Ia tersenyum licik. Ia membiarkan Shezan berpikir yang aneh-aneh. Ia tidak suka melihat Shezan marah, tetapi Ia suka menjahili Shezan. Sejak dirinya terluka akibat peluru,. Ia seperti mendapat kesenangan baru. Ia mempelajari banyak hal baru sejak kehadiran Shezan dalam hidupnya.


"Itu karena Aku lagi berpikir, untuk apa coba kamu mengajakku ke hotel?"


Farras tersenyum, "Menurut Kamu?"


"Aku lebih suka pergi belanja."


"Oke,"


Shezan bersemangat mendengar kata Oke dari suaminya, tumben orang ini bilang oke?


Farras membawa Shezan menuju sebuah butik yang terlihat eksklusif dan mewah.


"Kita belanja disini?" Tanya Shezan menatap butik di depannya.


"Hmm.. " Farras mencari-cari sesuatu di dalam mobilnya.


"Kamu cari apa?" Tanya Shezan yang bingung.


"Kartu buat Kamu pakai belanja." Ujar Farras, Ia mencari di laci dashboard mobilnya. Ia hampir tidak pernah pergi membeli sesuatu, terakhir Ia membeli sesuatu bersama Shezan kemarin dan terjadi hal yang diluar rencana sehingga Ia lupa meletakkannya dimana. Semua yang Ia butuhkan dibelikan oleh Jagdish, atau Ia membelinya sendiri secara online.


Shezan mengerutkan dahinya, "Mengapa tidak cari di dompet kamu?"


"Aku tidak ada dompet." Tutur Farras,


"Apa?"


Apa orang ini juga nggak tahu dimana dia letak KTP nya?


Akhirnya Ia menemukan kartu itu di card holder mobilnya. Farras tersenyum dan memberikan kartu itu kepada Shezan, "Ini, pin nya tanggal kita nikah."


Shezan tersipu malu mendengar pin kartu debitnya Farras adalah tanggal pernikahan mereka. Ia luluh lagi.


Ia melihat kartu debit berwarna hitam di tangannya, Ia tidak yakin kartunya ada isinya. Mengingat pemiliknya meletakkannya di sembarangan tempat, "Yakin ini ada isinya?"


"Tenang saja, Kamu jangan khawatir," Ujar Farras, Ia melirik Alorji nya. "Waktu kamu 20 menit. Aku tunggu disini."


"Hah? 20 menit yang benar aja." Protes Shezan.


Farras berpikir kembali, "Oke 25 menit."


"Ya cuman nambah 5 menit?" Shezan berusaha membujuk suaminya.


Farras kembali melirik Alorjinya, semakin lama berdebat semakin lama waktu yang terbuang, "30 menit, Atau tidak jadi."


"Ok!" Ujar Shezan, bergegas turun dari mobil Farras dengan membawa kartu yang tidak yakin ada isinya.


Shezan memasuki butik, dan harus cepat. Beruntung Ia memiliki selera Fashion yang bagus. Hanya saja terhalang ekonomi, sehingga Ia tidak bisa membeli barang-barang yang bagus. Shezan membeli beberapa item pakaian, sepatu.

__ADS_1


Karyawan butik heran melihat Shezan yang tampak terburu-buru, mereka memeriksa sekeliling, siapa tahu ada kameramen. Apa ini lagi acara realityshow uang kaget?


Saat tiba membayar di Kasir. Shezan sedikit tidak yakin, kartu itu bisa dipakai atau tidak. Sementara Kasir yang melihat Shezan mengeluarkan kartunya langsung tersenyum ramah melayani.


Shezan tersenyum lega begitu pembayarannya berhasil. Isinya beneran ada?!


Karyawan butik tersebut membantu Shezan membawa barang belanjaannya sampai di depan mobil Farras.


"Terima Kasih, " Shezan mengambil alih belanjaannya dan masuk ke mobil Farras.


"Kamu langsung pakai?" Tanya Farras heran melihat Shezan sudah berganti pakaian yang baru saja dibelinya.


"Iya, " Shezan meletakkan belanjaannya di kursi belakang. "Ini Aku kembalikan, Kamu jangan nyesal ya Aku habisin banyak."


Farras tersenyum mendengar komentar Shezan, Ia bergegas menjalankan mobilnya, karena Ia sudah sangat terlambat. "Untuk Kamu saja," Ujar Farras, Ia berpikir Shezan sangat menyukai belanja.


"Untuk Aku?" Shezan merapatkan kedua alisnya.


"hmm.."


"Oke." Ujar Shezan. Ia berpikir hal ini adalah hal yang wajar dalam kehidupan berumah tangga. Uang suami juga uang istri. Ia tidak tahu kalau Farras ada banyak memiliki simpanan yang lain.


Farras mengemudikan mobilnya menuju ke perbukitan dengan pemandangan hijau yang menyejukan mata. Setelah dua jam perjalanan, mereka berhenti di sebuah hotel. Shezan menatap horror pemandangannya diluar mobilnya. "Loh ke Hotel juga?" Tanya Shezan, Ia mencoba protes.


kirain mau jalan jalan lagi.


Farras tersenyum licik melihat ke arah Shezan, "Bukankah Aku sudah memberikan apa yang Kamu mau? Kamu tahu take and give? "


Apa maksudnya? Apa karena Aku baru saja menerima uangnya, lalu Aku harus memberikan harta berhargaku satu satunya?! Teriak batin Shezan Histeris. Dia belum siap memberikan kesuciannya.


Farras tersenyum lagi sebelum turun dari mobilnya, seseorang berpakaian formal membukaan pintu Farras.


"Ayo turun!" Seru Farras membukakan pintu Shezan.


Seorang pria berpakaian formal mengiringi Farras dan Shezan. Mereka memasuki sebuah lift khusus. Mereka menuju ke meeting room hotel. Pria yang mengantar mereka itu membukakan pintu ruangan tersebut.


Tampak di dalam ruangan itu dua orang pria asing yang sepertinya telah menunggu kedatangan Farras.


Melihat Farras membawanya bertemu dengan orang asing membuat Shezan berpikir histeris, "Apa Aku mau dijual kepada orang asing?!"


"Cómo le va señor Mr. Cakrawangsa?(apa kabar tuan cakrawangsa?" Salah satu pria asing itu menyambut kedatangan Farras. Ia tidak berniat berjabat tangan dengan Farras, karena sepertinya mereka sudah saling mengenal sebelumnya.


Siapa yang disambut, siapa yang menyambut. Farras memang bukan tuan rumah yang patut dicontoh.


"Bien.(Baik)" Ujar Farras. Ia tidak ingin berbasa basi.


Pria asing itu melihat ke arah Shezan yang digandeng Farras, "Ella es su esposa? Su esposa es bonita, y se ve buena persona. (Apakah dia istri Anda? Istri Anda cantik).


Pria asing itu mengulurkan tangannya kepada Shezan, "Hello, Mrs. cakrawangsa. It is a pleasure to meet you."


Mendengar orang asing itu memanggilnya nyonya Farras membuat Shezan bernafas lega. Dirinya tidak jadi dijual.


Diluar perkiraan orang asing itu, Shezan juga tidak membalas jabatan tangannya. Shezan hanya mengangkat tapak tangannya. "Hallo mister. Are you his friend?" Shezan menunjuk Farras.


"Haha..No, He is.. "


"Tenemos un acuerdo? (Apa kita punya kesepakatan?)" Farras memotong pembicaraan dua orang yang mencoba untuk menggosipkan dirinya.


"Espero trabajar con usted. (Saya harap dapat bekerja sama dengan Anda)"Ujar Orang asing itu kembali serius.

__ADS_1


Mereka akhirnya membicarakan pembicaraan serius tentang perluasan hotel, Farras ingin meningkatkan jangkauannya di Spanyol.


Kedua orang asing itu kembali ke kamarnya setelah mereka makan siang bersama, dua orang pria berpakaian formal mengantar mereka. Dan Farras kembali menggandeng tangan Shezan.


Shezan dan Farras berdiri di depan lift dengan masih tetap bergandengan tangan. Entah mengapa Farras menyukai menggandeng tangan Shezan.


"Sepertinya tadi pertemuan penting, mengapa Kamu membawaku?" Tanya Shezan.


"Karena Jagdish lagi sibuk," Tutur Farras, Ia terpaksa membawa Shezan. Karena Ia takut terjadi hal-hal yang Ia inginkan kepada rekan bisnisnya.


Pintu lift terbuka, dan mereka berdua segera masuk ke dalamnya.


"Terus habis ini kita balik ke Myrtle?" Tanya Shezan.


"Iya,"


"Kita bisa masuk nggak ke salah satu kamar di sini? lihat gimana isi dalamnya." Tutur Shezan. Mengingat Ia belum pernah ke hotel.


Farras tersenyum menatap Shezan, "Kamu mau masuk?"


Shezan mengangguk, "Iya."


"Oke," Farras mengambil Ponselnya, dan mengetik sesuatu.


Seorang petugas hotel sudah berdiri di depan, begitu pintu lift mereka terbuka, petugas itu dengan sedikit gemetar memberikan sebuah kartu kepada Farras. Ini pertama kalinya Farras datang tanpa didampingi Jagdish.


Petugas hotel itu segera kabur setelah Farras mengambil kunci kamarnya.


Shezan melihatnya heran, "Apa Kamu sering ke sini?" Tanya Shezan.


"Tidak,"


Shezan mengangguk, Ia mengerti akan suatu, "Orang ini memang monster yang aura kejamnya terpancar kemana-mana." Guman Shezan.


Farras tersenyum mendengarnya, "Sepertinya kamu tidak takut lagi denganku. Itu bagus."


Mereka telah sampai di sebuah kamar, Farras membuka pintunya dan membiarkan Shezan masuk terlebih dahulu.


"Wah begini isi di dalamnya?" Shezan berdecak kagum. Ia segera menuju ke arah balkon kamar yang dibatasi dinding dan pintu kaca transparan. Ia membuka pintu kaca tersebut. Dan berdiri menatap pemandangan hijau di depannya dan menghirup udara segar di sana.


Setelah puas menikmati pemandangan dari atas balkon, Shezan kembali masuk ke dalam kamar. Saat matanya menangkap tempat tidur, Ia segera berlari ke sana dan melompat duduk di atasnya. Dari situ Ia juga bisa melihat pemandangan luar. Ia kemudian tidur-tiduran menikmati empuknya tempat tidur itu, begitu empuknya hingga tidak rela untuk bangun dari situ.


Ia lupa dengan suaminya.


"Kamu menyukainya?" Tanya Farras.


Suara Farras mengagetkan Shezan, "Eh hehe lupa, ada Kamu."


Farras tersenyum, tanpa Ia sadari, Ia tidak mempermasalahkan ketidakteraturan Shezan yang melemparkan sepatunya di sembarang tempat.


"Hmm, di sini bagus. Kenapa kita tidak tidur disini aja?" Tanya Shezan tanpa memandang ke arah Farras. Shezan masih menikmati pemandangan luar jendela kamar.


"Kamu mau tidur disini?"


"Iya,"


"Bersamaku?"


"Iya, Kamu di sebelah sana, Aku di sebelah sini." Ujar Shezan yang masih mengira keadaannya akan masih sama seperti terakhir kali mereka menginap di rumah pengabdi setan.

__ADS_1


Ia tidak melihat Farras yang memandangnya seperti seekor Cheetah yang siap menerkam mangsanya.


"Oh Iya, Aku masih harus berkerja membantu Annindya, harus balik ke Myrtle cepat!" Seru Shezan segera bangun karena tiba-tiba Ia teringat sesuatu. Ia bergegas pergi mengajak Farras menuju pintu keluar.


__ADS_2