Finding Miss Right

Finding Miss Right
kesepakatan baru


__ADS_3

Farras kembali masuk ke kamarnya, setelah Shezan tertidur pulas. Ia naik ke tempat tidurnya dan berbaring di atasnya. Ia menatap gadis di sebelahnya yang telah tertidur terbungkus selimut. Ia seperti timpan.


Farras mengulurkan tangannya mengusap lembut bekas air mata Shezan yang telah mengering dengan ibu jarinya. Masih terlihat samar merah di pipinya.


"Kamu pasti sangat ketakutan." Gumannya. Ia tersenyum mengingat Shezan kecil yang tidak takut dengannya.


****


21 tahun lalu...


Ibu Farras mengurung Farras sejak kecil di sebuah rumah daerah pinggiran. Ibunya mendatangkan guru dan psikolog terbaik untuk putranya. Farras tidak pernah berbicara. Ia tidak ingin bicara, bukan tidak bisa bicara.


Ibunya melakukan hal itu karena takut Farras akan melukai temannya. Di samping itu, tidak ada sekolah yang mau menerimanya.


Meski dikurung, bukan berarti Ia tidak bisa keluar, lolos dari penjagaan yang ketat. Hanya saja Ia tidak ingin keluar.


Saat ingin keluar, Farras pergi keluar tanpa sepengetahuan penjaga. Namun naas Ia keluar saat sore hari dan bertemu dengan anak-anak lelaki seusianya. Ia mengabaikan anak-anak nakal tersebut. Namun anak-anak itu terus mengusiknya. Mereka berpikir Farras adalah anak manja yang bisa di-bully.


Setelah puas memukuli Farras hingga tersungkur, mereka tertawa. Farras tersenyum menghapus darah di ujung bibir nya. Ia menarik salah satu kaki anak yang berdiri di depannya hingga terjatuh. Ia berdiri dan mengambil sebuah batu besar di sebelahnya. Ia siap menjatuhkan batu itu di atas kepala anak lelaki yang terjatuh di depannya.


Hal yang akan dilakukannya membuat anak-anak lain ketakutan.


Farras mengurungkan niatnya menghantamkan batu besar itu saat ujung matanya tidak sengaja menangkap Shezan kecil yang berdiri tak jauh dari mereka.


Gadis kecil itu tersenyum melihat ke arahnya.


Anak-anak lelaki yang mengganggu Farras berlarian kabur meninggalkan Farras. Giliran Shezan kecil yang datang mengganggunya.


Ia terus mengikuti Farras, naik ke bukit, turun ke lembah, memanjat tebing. Tidak peduli terjatuh, terjerembab, tersungkur, Ia tetap mengikuti Farras. Ia tidak boleh kehilangan sumber inspirasinya. Namun apa daya kaki kecilnya tidak bisa mengikuti Farras.


Setiap sore Ia selalu datang ke tempat pertama kali Ia melihat Farras. Tidak peduli Farras akan datang lagi ke tempat itu atau tidak. Setiap kali datang Ia akan membawa sebuah batu krikil yang Ia ambil dari sungai. Hingga batu yang terkumpul sudah bisa bangun pondasi rumah.


Senyum semringah terukir di wajah Shezan kecil saat Ia akhirnya melihat Farras yang sedang duduk di atas tumpukan batu yang dibuatnya.


Sementara Farras segera berdiri beranjak pergi begitu menyadari seseorang berdiri di dekatnya. Shezan menarik ujung baju Farras. Kali ini Ia tidak boleh kehilangan jejak.


Farras tidak menyukai seseorang mencoba mengganggunya. Ia melirik tangan kecil yang menarik ujung bajunya. Sebuah tangan kecil yang penuh luka memar.


"Batu ini bisa menakuti orang?" Tanya Shezan dari balik punggung Farras.


Farras tersenyum mendengar pertanyaan gadis kecil yang menarik ujung balakang bajunya.


***


Suara alarm membangunkan Shezan dari tidurnya, Ia membuka matanya dan menemukan dirinya di kamar Farras. Ia menoleh kesamping, pemandangan yang dilihatnya membuatnya kembali terdiam tidak berani bergerak.


Farras berada di sebelahnya, Ia tiduran bertopang dagu, menatap Shezan. "Kamu sudah bangun?" Tanyanya lembut.


".... " Shezan tidak ingin kehilangan lidahnya yang hanya satu.


Shezan memeriksa badannya di balik selimut, mengecek apakah monster di sebelahnya telah berbuat macam-macam dengannya.


"Jangan Khawatir, Aku tidak mengganggumu." Ujar Farras tersenyum dan turun dari tempat tidurnya.

__ADS_1


Farras berjalan menuju pintu keluar kamarnya, namun Ia menghentikan langkah kakinya. "Setelah Kamu bangun Aku jadi berubah pikiran." Gumannya dan berjalan kembali mendekati Shezan yang tengah duduk di atas tempat tidurnya.


Ia mengecup bibir Shezan dan tersenyum melihat ekspresi kaget istrinya.


Dengan tenang Farras pergi meninggalkan kamarnya.


***


Shezan mengendap endap berjalan menuruni tangga, Ia harus kabur.


"Aku sudah memasak untukmu. Makanlah." Suara Farras menghentikan langkah kaki Shezan.


".... "


Farras menggenggam tangan Shezan dan membawanya ke meja makan. Ia mendudukan Shezan.


"Apa Kamu terkesan? Aku membuatkan sarapan untukmu" Ujar Farras sedikit menyombongkan diri.


"Kok Aku merasa dia mau menghukumku ya." Guman Shezan dalam hati menatap horror pancake di depannya.


"Makanlah." Ujar Farras tersenyum lembut.


"Ya sudah lah makan saja dulu, habis ini kabur." Gumannya dalam hati.


Shezan memakan pancake yang dibuat Farras. Benar seperti dugaannya. Rasanya tidak enaknya sulit untuk dideskripsikan.


"Berbicaralah, Aku sudah memaafkanmu karena membohongiku." Ujar Farras


Shezan melirik sekilas Farras tidak senang. Ia mengakui kesalahannya, tetapi bukankah orang di depannya juga salah karena sudah KDRT. Tidakah dia juga menyesali perbuatannya?


"Mengapa dia masih memakannya?" Pikir Farras melihat Shezan yang masih menguyah pancake buatannya.


"Hmmm.." Mau tidak mau terpaksa Farras juga ikut memakan kembali pancakenya.


"Aku harus pergi setelah ini." Akhirnya Shezan memberanikan diri buka suara.


"Aku tidak peduli Kamu menyukaiku atau tidak. Aku ingin Kamu tetap bersamaku." Ujar Farras dengan tenang. Ia mengeluarkan sifat ditaktornya.


"Bagaimana jika Aku menyukai pria lain dan ingin menikah dengannya?" Ujar Shezan mengingatkan Farras tentang kesepakatan awal mereka. Bagaimana bisa Ia tetap tinggal dengan orang yang ingin mencabut lidahnya.


Farras tersenyum, "Jangan Khawatir, Kamu tidak akan menemukan pria tersebut."


".... "


Shezan berpikir apa yang dikatakan Farras benar, Ia tidak bisa berkata apa-apa.


"Mari kita membuat kesepakatan baru." Ujar Farras, Ia tersenyum merayakan kemenangannya satu langkah.


".... "


"Berhentilah berpikir untuk bercerai, dan Aku akan menuruti semua permintaanmu yang bisa Ku penuhi. Aku tidak akan memaksamu untuk tidur denganku, dan kamu tidak boleh memiliki hubungan dengan pria lain." Ujar Farras berdiplomasi.


Shezan mendengar dengan baik apa yang disampaikan Farras. "Jika Kamu menyakitiku lagi, Aku ingin kamu memotong lidahmu." Ujar Shezan menambah kesepakatan.

__ADS_1


Kesepakatan yang ditawarkan Shezan membuat Farras mengukir senyum di wajahnya, "Baiklah, Aku ingin kamu sendiri yang memotongnya." Ujarnya,


Apa? Mengapa kalau orang ini yang mengatakannya, jadi terdengar serius.


"Mulai sekarang Aku akan belajar memahamimu." Ujar Farras meyakinkan Shezan.


Kedengarannya dia bersunguh-sungguh.


"Mengapa Kamu menyukaiku?" Tanya Shezan hati-hati. Ia tidak yakin orang dihadapannya menyukainya. Jika dirinya boleh berkata jujur, Ia menyukai berada di dekat Farras. Namun Ia tidak merasakan jantungnya berdegup kencang seperti yang dikatakan orang. Ia hanya terpesona. Semalam bukanlah kali pertama Ia melihat sisi menyeramkan Farras, Namun Ia masih merasa nyaman dengan suaminya. Dia tidak tahu entah mengapa, Ia juga ingin tetap bersama Farras.


Ia membenci perasaan itu, karena itulah Ia ingin bercerai. Terdenger egois.


"Karena Aku ingin menyukaimu." Jawab Farras singkat. Tidak ada yang dipikirkan dan direnungkannya.


"Karena Kamu tidak tertarik dengan wanita lain?" Tanya Shezan mengingat informasi yang diberikan Jagdish.


"... "


Kali ini Farras tidak bisa berkata apa apa, karena yang dikatakan Shezan benar.


Shezan melihat kedua bola mata Farras lekat. "Apa mata kamu ada kelainan?" Tanya Shezan.


"Bagaimana bisa Ia tidak tertarik dengan wanita lain, malah tertarik denganku yang kecantikannya tidak memenuhi standar kecantikan orang Indonesia. Pasti ada yang salah dengan matanya." Pikir Shezan.


"Sebaiknya kamu mencuci piring dan membereskan dapur!. Aku sudah memasak untukmu." Seru Farras, Ia tidak ingin membahas pertanyaan Shezan.


Aku akan bertanya pada Jagdish saja. Sepertinya dia beneran katarak.


"Baik tuan," Ujar Shezan, Ia berdiri dan mulai membersihkan meja makan.


"Dan jangan dekat-dekat dengan Jagdish. Kalau perlu Kamu tidak boleh bertemu dengannya. Jangan berbicara dengannya!." Seru Farras menambahkan kesepakatannya


"Oke."


Shezan membawa piring kotornya ke dapur. "Bukannya dia tidak suka berantakan. Mengapa dia membuat dapurnya berantakan?" Guman Shezan.


"Aku memang tidak suka melihat sesuatu yang berantakan. Aku membayar orang untuk membereskannya." Ujar Farras yang berdiri di belakang Shezan.


"ya ya tuan membayar saya."


"Bukan kamu yang Aku maksud, Bukankah kamu sudah mengetahui Aku memperkerjakan beberapa orang di rumah ini."


"Lalu mengapa kamu masih menyuruhku melakukan pekerjaan rumah tangga?" Tanya Shezan bingung.


"Ku pikir kamu menyukainya. Aku lebih suka kamu hanya duduk di depanku." Ujar Farras tersenyum. Ia menarik kursi meja dapur dan duduk di atasnya.


"Bagaimana dengan catatan pekerjaanku yang tebalnya segini?" Tanya Shezan menunjukkan seberapa tebal catatan pekerjaannya.


"Itu Jagdish yang membuatnya, Aku tidak tahu apa yang diberikannya kepadamu."


"ya sudahlah, Aku sudah terbiasa melakukan perkerjaan ibu rumah tangga." Ujar Shezan tidak ingin lagi protes.


"Jika Kamu berniat untuk berhenti memasak, Aku Akan memasak untukmu." Ujar Farras memberi penawaran perdamaian abadi.

__ADS_1


"Tidak! Aku mohon jangan melakukan hal itu lagi!"


"oke "


__ADS_2