
Farras kembali memberikan sebuket besar bunga kepada Shezan, Ia tersenyum lembut kepada Shezan. Sebuah senyuman yang akhir-akhir ini dipelajarinya.
Senyum lembutnya perlahan menghilang digantikan dengan tatapan bingung. Melihat Shezan hanya diam menatap bunganya, Shezan sama sekali tidak berniat menerima bunga pemberiannya.
Shezan menatap Farras dengan mata yang memerah dan mulai berair, Hatinya tidak bisa tidak luluh dengan bunga yang diberikan Farras, sementara Ia tidak boleh luluh lagi dengan sikap Farras. Hal ini membuatnya menangis. Membuat Farras semakin bingung.
"Apa kamu sakit?" Tanya Farras. Ia menyingkirkan bunganya yang terlalu besar hingga menutupi sebagian badan Shezan. Ia ingin melihat apa ada yang terluka di badan Shezan.
Shezan manangis semakin deras. Membuat kebingungan Farras semakin bertambah.
"Sepertinya kamu sangat sakit, ayo ke rumah sakit." Farras segera memegang lengan Shezan, bermaksud membawanya ke rumah sakit.
"Aku tidak perlu ke rumah sakit." Shezan menarik lengannya, dan Farras melepas tangannya.
"Katakan saja, apa yang kamu inginkan dariku? jangan membuatku bingung." Seru Shezan.
Farras diam mengamati Shezan. Dia menangis bukan karena sakit?
"Mengapa Kamu membawaku ke rumah ini? Kamu sengaja membuatku berhenti bekerja di warung Bu Sri kan?" Tanya Shezan menyelidik.
"Kamu sudah mengetahuinya." Ujar Farras tenang.
"Apa yang kamu inginkan?"
Farras tersenyum samar, "Aku sudah mengatakannya padamu, Aku ingin kamu tetap bersamaku."
"Apa?" Tanya Shezan lirih, Ia sedikit mundur menjauh dari Farras. Pernyataan Farras tidak terdengar seperti kata kata romantis rayuan gombal, Tetapi terdengar seperti dedemit yang mencoba menculik anak kecil yang berkeliaran di luar saat magrib.
"Mengapa?" Tanya Shezan, Ia gemetar.
Farras kembali tersenyum samar, "Kamu takut lagi padaku? Aku sudah mengatakannya padamu, Aku tidak akan melukai mu."
Shezan berhenti gemetar, Ia mengingat semalam Ia membentak Farras, tidak terjadi apa-apa kepadanya. Ia masih hidup, sehat walafiat.
"Benar juga," Guman Shezan
"Saat itu Aku membawamu ke rumahku, karena 0,017 persen mungkin Aku menyukaimu." Ujar Farras tenang.
"Hah?" Shezan berpikir sebentar, mencoba mencerna apa yang dikatakan Farras.
"Sekarang 50 persen mungkin Aku menyukaimu." Ucap Farras tenang.
Shezan sedikit melunak meskipun pernyataan cinta Farras terdengar aneh, "Mengapa kamu menyukaiku?" Tanya Shezan malu-malu, pipinya sedikit memerah.
Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? mengapa ada yang tertarik kepadaku? Pikir Shezan tidak habis pikir.
Farras tersenyum samar, "Itu masih kemungkinan, bisa saja Aku tidak menyukaimu." Ujar Farras tenang.
"Hah?"
"Apa itu sudah menjawab pertanyaanmu?" Tanya Farras, Ia tersenyum lembut.
"Iya sudah." Jawab Shezan pada akhirnya. Sebenarnya Ia masih bingung, tetapi kalau Farras memberi penjelasan lagi, Ia takut akan menjadi lebih tambah bingung lagi.
"Baiklah, jangan menangis lagi, jika ada hal yang membuat kamu bingung tanyakan saja kepadaku," Ujar Farras, Ia pun beranjak pergi ke lantai atas menuju kamarnya.
Dan Shezan pun kembali lanjut memasak makan malam dengan perasaan bingung.
***
Shezan hampir tertidur saat memotong kain di tempat kerja nya. Ia kembali bangun dan menepuk pipinya. Semalaman Ia tidak bisa tidur memikirkan penjelasan Farras yang membingungkan.
Shezan mencoba mengingat-ingat sesuatu. Farras menikahinya secara baik-baik, sah secara agama dan negara. Sejak menikah, Farras memperlakukannya dengan baik, melindunginya dan rela terluka demi dirinya. Meskipun pernah diturunkan di pinggir jalan, nggak dikasih menumpang dimobilnya, itu bisa diabaikan. Berpikir seorang pria tampan seperti Farras menyukainya membuat pipi Shezan kembali memerah.
Shezan mengambil ponselnya, Ia mencoba membalas perbuatan Farras yang membuatnya bingung.
to Farras
__ADS_1
^^^Kamu tidak bertanya^^^
^^^Aku menyukaimu atau tidak?^^^
Tidak
^^^Mengapa?^^^
Mengapa Aku harus tahu?
Shezan berada di ruangan tertutup dan be AC, tetapi entah mengapa, membaca pesan terakhir dari Farras membuat Ia sedang berada di gurun pasir yang tandus. Angin bertiup menerpa pasir, dan pasir berterbangan, sebagian butiran pasir masuk ke matanya.
Menyesal Ia sudah bertanya.
Shezan menyimpan ponselnya, dan kembali bekerja. Lebih baik bekerja dengan giat untuk membuat daster yang bernilai kemewahan tinggi dari pada memikirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
***
Di ruangan Farras,
Farras meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya setelah membalas pesan Shezan, dan kembali lanjut membaca catatan schedule nya yang diberikan sekertarisnya.
"hmm.. "
"Pak Banan Basil dalam seminggu ini sedang berada di luar negeri." Ujar Sekertaris Farras memberi penjelasan,
"hmm.."
"Pertemuan dengan Pak Banan Basil ada di minggu ketiga."
"hmm.." Farras menyerahkan catatan schedule yang dibacanya kepada sekertarisnya.
"Baik Pak, Saya permisi." Ujar sekertaris Farras setelah mengambil catatannya. Ia pun beranjak pergi.
"Apa Kau sudah menikah?" Tanya Farras menghentikan langkah sekertarisnya.
"Belum Pak."
"Kau sudah memiliki pasangan?" Tanya Farras tenang.
Pertanyaan Farras membuat sekertarisnya salah tingkah. Mengingat dirinya adalah sekertaris wanita pertama Farras yang bertahan lama berkerja dengannya.
"Belum Pak."
"Begitu, keluar lah." Ujarnya kemudian, Ia mempersilahkan sekertarisnya segera keluar dari ruangannya.
Sekertaris itu pun dengan perasaan bingung meninggalkan ruangan Farras.
Farras segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Jagdish. Ia berpikir sekertarisnya tidak akan bisa menjawab persoalan yang menurutnya sangat rumit untuk dianalisis. Ia akhirnya bertanya kepada Jagdish, seseorang yang sudah banyak memiliki pengalaman.
"Mengapa seseorang ingin orang lain mengetahui perasaannya?" Tanya Farras kepada Jagdish setelah panggilannya terhubung.
Terdengar suara tawa Jagdish, "Apa Shezan bertanya kepada Anda?"
"hmm.."
"Sebaiknya Anda memberikannya bunga lebih besar lagi, tidak.. tidak, belikan saja dia kalung berlian." Ujar Jagdish memberikan saran.
"hmm.. Apa itu artinya dia marah?"
"Bisa iya, bisa tidak."
"hmm.."
Farras menutup sambungan teleponnya, Ia teringat saran tempo hari saat rapat. Membawanya pergi berbelanja.
Farras menghubungi sekertarisnya lewat interkom, "Jadwalkan kunjungan privat dengan toko perhiasan berlian sore ini."
__ADS_1
"Baik, Pak."
Sekertaris Farras melaksanakan tugasnya dengan perasaan yang tidak menentu, Ia bisa merasakan debaran jantungnya. Direktur menanyakan kehidupan pribadinya. Dan akan mengunjungi toko perhiasan setelah mengetahui dirinya jomblo. Apa direktur akan melamarnya?
Wanita itu memegang pipinya yang mulai bersemu merah.
***
Kembali ke studio kerja Shezan, Ia menatap mesin di depannya bingung. Ia tidak tahu cara menggunakannya. Mesin itu dioperasikan dengan sistem komputer.
Ia sudah mencoba memberanikan diri bertanya kepada senior senior yang berada di studio itu. Tidak ada yang bersedia membantunya.
Bagaimana caranya membuat motif dasternya?
Shezan memperhatikan sekelilingnya, semuanya tampak sibuk dengan urusan masing-masing dalam kelompoknya.
Hanya dirinya sendiri, Ia tidak memiliki seseorang untuk membantunya. Apa yang harus dilakukan? Apa menyerah saja? dan menjadi istri yang baik tetap berada dirumah?
Shezan mengelengkan kepalanya menghilangkan pikiran tidak bertanggung jawab itu. Ia tidak boleh menjilat ludahnya sendiri. Ia harus membuktikan kepada Farras bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menjadi seorang designer.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda pesan masuk
from Farras
Pukul 3:30 sore nanti, tunggu Aku di halte barat rumah
^^^Ada apa?^^^
Kejutan ^^
Apa yang direncanakannya? Shezan berpikir Farras mungkin merencanakan sesuatu yang jauh dari ekspektasinya. Ia sudah cukup berpengalaman. Dulu Farras membawanya pergi jalan jalan, jauh jauh ke rumah hantu.
*karyawan baru yang kemarin sepertinya masuk karena koneksi*
*yang mana*?
*siapa*?
*iya siapa itu*?
*Karyawan baru yang kemarin bertemu dengan direktur di depan lift*.
*oh yang tidak jadi dipecat*?
*Ada yang aneh dengan Karyawan baru itu*
*sudah ku duga*
*kapan kamu menduganya*?
*jangan mengada-ngada*
*tolong Pak @Budiman* *beri klarifikasinya tentang berita gosip ini*
*Iya Pak @Budiman, mana ini orangnya*?
*wah Pak @Budiman ini nanti kita ikat di depan lift biar berjumpa dengan direktur*
*Jangan sebut sebut nama saya! mau kamu saya pecat*?!
*Bubar bubar woi, Pak budiman udah nongol*.
\*\*\*
__ADS_1