Finding Miss Right

Finding Miss Right
min4


__ADS_3

Menejer marketing yang akan menyampaikan rencana pengelolaan pemasaran produk mereka, sedikit heran, direktur memintanya datang bersama Aditya dari tim web developer.


Sebelum merealisasikan rencananya, Farras ingin melihat langsung orang yang berani menantangnya.


Sambil membaca berkas yang diberikan kepadanya, Farras menatap tajam seseorang yang berdiri di sebelah Menejer yang sedang menyampaikan rencananya.


"Apa Kau tidak memiliki pemikiran selain pemikiran dari sepuluh tahun lalu?" Tanya Farras.


"Saya akan membuat perbaikannya." Ujar menejer tersebut, mengira Farras sedang mengkritisi nya.


Sementara Aditya tampak terkejut mendengar suara Farras yang terdengar familiar.


Farras membalikan layar laptopnya yang menampilkan website perusahaan ke arah mereka, "Apa Kau penanggung jawabnya?" Tanya Farras ke arah Aditya.


"Iya Pak." Jawab Aditya


Farras menyunggingkan senyumnya "Aku harap Kau segera menemukan kembali otakmu." Ujarnya.


Farras tersenyum memberikan tatapan intimidasi kepada Aditya.


"Hmm.. "


Manejer tersebut undur diri setelah mendengar Farras berdehem, Yang artinya lekas enyah dari sini. Tidak lupa Ia juga menarik Aditya ikut keluar dengannya.


"Kau harus segera memperbaikinya!" Seru Menejer tersebut setelah mereka berada diluar ruangan Farras.


"Baik Pak," Ujar Aditya yang masih shock dengan apa yang baru saja didengarnya. "Yang membalas pesan dan berbicara denganku kemarin memang direktur?" Guman Aditya dalam hati mulai panik. Dan mimpi buruknya mulai terealisasikan.


Sementara di ruangannya, Farras menatap datar kepergian kedua orang tersebut. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.Tidak ada yang lebih penting dari bekerja.


***


Akhirnya tiba hari dimana Shezan akan hidup bebas selama empat hari ditinggal suaminya.


Farras akan pergi ke Spanyol untuk urusan bisnisnya. Dengan riang gembira dan penuh semangat Shezan membantu Farras membawakan kopernya. Sesampainya di depan rumah, Jagdish sudah datang menjemput Farras dan mengambil alih koper yang diseret Shezan.


Farras menghentikan langkahnya dan menatap Shezan tidak senang. "Mengapa Kamu terlihat bahagia dengan kepergianku?" tanyanya kepada Shezan.


"Karena Aku akan bebas selama empat hari." Guman Shezan dalam hati.


Farras menunggu jawaban Shezan,"hmm.. "


"Salah salah jawab, bisa-bisa Dia nggak jadi pergi." Pikir Shezan.Ya sudahlah, Bismillah aja.


Shezan berdiri di depan Farras, "Bisakah kamu menunduk sedikit?" Pinta Shezan seperti ingin membisikkan sesuatu.


"Hmm.. " Farras menuruti permintaan Shezan.


Shezan memegang kedua bahu Farras dan berjinjit mengecup bibir Farras. "Selamat berkerja suamiku, cari uang yang banyak." Ujar Shezan


Tindakan Shezan yang tiba-tiba berinisiatif sendiri membuat Farras berdebar, tetapi iya harus bersikap tenang,


"Uangku sudah banyak," Jawab Farras datar dan kembali mencium istrinya dengan baik dan benar.


Shezan yang sudah terbiasa dengan sentuhan suaminya membiarkan dirinya terhipnotis.


Sementara Jagdish juga kembali menjadi nyamuk dan bersikap profesional tidak melihat Boss nya yang sedang bermesraan.


"Batalkan pertemuan dengan Carlos, Aku tidak jadi pergi." Seru Farras kepada Jagdish. Ia berubah pikiran.


"Apa?"

__ADS_1


Ucapan Farras membuat Shezan dan Jagdish serentak bertanya tidak terima.


Tidak lama kemudian sebuah mobil berwarna hitam tiba di depan rumah Farras, Shezan memandangnya heran. Mereka tidak pernah kedatangan tamu.


"Aku sudah memperkerjakan seorang supir untukmu, sekaligus akan menjadi pengawalmu kemana saja." Ujar Farras menjawab keheranan Shezan.


"Bodyguard?" Tanya Shezan tidak percaya. Shezan sangat antusias, tidak sabar melihat seseorang yang sebentar lagi akan turun dari mobil tersebut. Ia menghayalkan bodyguard adalah seorang pemuda tampan seperti di film-film.


"Iya." Jawab Farras membenarkan.


Begitu sosok supir yang dimaksudkan keluar dari mobil, Shezan menghapus hayalannya, ternyata sosok yang turun bertampang sangar. ya ya tentu saja, dia kan kompeni preman pasar.


"Selamat Pagi Bu Farras!. Saya Andrew! " Sapa bodyguard tersebut tanpa melihat ke arah Shezan dengan nada sedikit membentak dan dengan ekspresi garang. Setelan formal yang dikenakannya tidak mampu menutupi kesangarannya.


Kaget saya!


"Jangan pergi kemana mana tanpa Dia." Titah Farras. Ia kembali berubah pikiran untuk tetap pergi. "Jangan melakukan kontak mata dan berbicara dengannya!" Serunya kemudian dan bergegas menuju mobilnya.


"Tunggu tunggu, Kamu tidak perlu berlebihan, Aku bisa kemana mana sendiri naik kenderaan umum." Ujar Shezan menghentikan langkah Farras.


Yang bener aja, serem banget. bisa mati kena serangan jantung.


"Kalau begitu tetaplah berada di rumah." Ujar Farras tersenyum licik.


"Apa?" Desis Shezan protes.


"Shezan Afifah, Aku melepaskan seekor tikus, Kamu tahu apa yang terjadi jika membiarkan seekor tikus lepas tanpa membunuhnya?..Dia akan datang lagi." Ujar Farras tersenyum memberikan penjelasan kepada Shezan, dan segera masuk ke mobilnya. Jika terlalu lama Ia takut berubah pikiran tidak jadi pergi.


Dan Jagdish segera menjalankan mobilnya meninggalkan Shezan yang masih bingung dengan penjelasan Farras.


"Tikus? Seharusnya dia membayar pembasmi hama." Guman Shezan dan melirik takut kepada Andrew yang membuka pintu belakang mobil untuk Shezan.


"Kita berangkat sekarang Bu?!" Seru Andrew setengah membentak.


Pagi ini Shezan harus berangkat kerja seperti biasa.


***


Setelah Pesawat yang ditumpangi Farras mendarat, Ia menyempatkan diri melihat CCTV di rumahnya, Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Shezan tanpa dirinya di rumah.


"Sial!" Farras mengumpat untuk yang kedua kalinya. Ia segera menghubungi Shezan.


"Apa yang kamu rencanakan?" Tanyanya begitu panggilannya terbubung.


"Tidak ada, Aku hanya mematikan CCTV." Jawab Shezan.


Farras tersenyum menyadari semakin lama Shezan semakin berani dengannya. "Kelihatannya Kamu suka bermain denganku." Ujar Farras.


"Bukankah Aku tinggal bersama dengan pandai besi," Sindir Shezan.


"Karena kamu orang yang licik, Aku jadi belajar darimu." Guman Shezan dalam hati.


"Baiklah, tetapi jangan mematikan CCTV yang ada di luar!" Seru Farras kesal.


Jagdish yang berada di dekatnya harus bersiap siap Boss nya akan marah - marah dengan bahasa yang tidak jelas sepanjang perjalanan mereka.


***


Sementara di rumahnya Farras, Shezan memulai misinya membongkar setiap sudut rumah Farras. Ia penasaran dengan kehidupan Farras yang menurutnya memiliki banyak alter ego. Kepergian Farras jauh dari negara ini adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu.


"Mengapa Dia memasang banyak CCTV di rumahnya? memangnya Dia psikopat?." Guman Shezan sembari memakan chiki duduk di kursi kerja Farras yang sangat empuk dan nyaman. Ia menghidupkan komputer Farras, Namun komputernya di kunci. Ia mencoba mengetik tanggal pernikahannya. Komputernya tidak terbuka. Shezan kembali mengetik sembarangan password, tetap tidak terbuka. Hingga akhirnya menyerah.

__ADS_1


Sudut mata Shezan memandang laci meja di depannya, Ia kemudian tertawa senang. "Apa dimulai dari sini saja?" Gumannya.


Ia pun membuka laci laci tersebut dan melihat apa yang ada di dalamnya. Ia hanya melihat berkas berkas mengenai perusahaan yang Ia tidak begitu paham. Hingga akhirnya Ia menemukan sebuah map yang Isinya adalah foto lukisan sketsanya.


"Apa ini? ck ternyata orang itu menyelidiku, apakah Aku kriminal atau tidak." Guman Shezan sembari membuka lembar berikutnya.


"Identifikasi DNA? 0% ? disingkirkan dari kemungkinan ayah biologis? punya siapa ini? tidak ada namanya." Shezan membaca dalam hati lembar berikutnya yang Ia lihat.


Shezan membuka lembar berikutnya, sebuah foto sorang pria, meskipun pria di dalam foto tersebut masih muda, tetapi Shezan masih mengenalinya sebagai ayahnya. Shezan membalik lembaran dan membaca map yang dipegangnya dengan bingung, hingga Ia mencapai lembaran terakhir sebuah foto seorang pria . "Siapa ini?" Tanyanya dalam hati.


Di saat yang penting ini, Shezan harus berpikir dan mencerna apa yang dilihatnya. " Orang itu menyelidiki Aku anak siapa? Apa ini test DNA miliku? bukan ayah biologis? Aku bukan anaknya Ayahku? Apa aku memiliki Ayah yang lain?"


Shezan melihat kembali foto terakhir yang dilihatnya, "Apa ini Ayahku? Tidak, Aku tidak mengenalnya," Shezan terus bertanya-tanya dalam hatinya.


Ia mencoba mengingat kembali, jika dipikir saat kecil Ia merasa aneh dengan Ayahnya. Shezan mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum Ayahnya menjadi aneh. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan berdenyut. Ia terjatuh dan menahan sakit kepalanya.


"Sebaiknya tanya Dia sajalah." Guman Shezan memutuskan.


Ia berhenti mencoba mengingat untuk menghilangkan sakit kepalanya. Ia membereskan kembali apa yang sudah di bongkarnya. Shezan memfoto foto pria dan wanita yang Ia duga orang tua kandungnya dengan ponselnya sebelum menyimpan kembali map tersebut seperti semula.


"Lanjut besok sajalah," Gumannya meninggalkan ruangan kerja Farras.


Keesokan malamnya Shezan melanjutkan misinya, Ia melihat apa yang bisa dilihat. Ia memperhatikan lemari buku di hadapannya untuk mencari tahu apakah ada yang mencurigakan, "Apa ada ruangan rahasia dibaliknya? " Guman Shezan asal.


Namun tidak ada salahnya dicoba. Ia memeriksa setiap dinding rak. Hingga akhirnya pikiran asal asalannya benaran kenyataan. Salah ruas rak buku tersebut bergerser. Bukan sebuah ruangan rahasia, namun hanya lemari rahasia di balik salah satu ruas rak buku tersebut. Shezan membukanya lebar. Terlihat dua set senjata api pistol yang berbeda bentuk.


"Apa ini asli?" Guman Shezan, Ia mengambil salah satu pistol, "Berat juga mainannya." Ujarnya kemudian meletakkan kembali pistol tersebut. Dan menutup kembali lemari rahasia tersebut.


Apa ini alter egonya yang tersembunyi? sudah besar masih main pistol pistolan.


Shezan berpikir tidak ada hal mencurigakan yang lain yang dapat ditemukan Shezan selama tiga hari menggeledah rumah Farras.


Hingga dihari terakhir, Ia harus memasak untuk menyambut kepulangan suaminya.


"Setelah melewati delapan puluh tiga jam, empat puluh sembilan menit, akhirnya Aku bisa bernapas dengan baik sekarang." Terdengar suara pria inkonsisten yang sudah empat hari tidak ditemui Shezan dari arah belakangnya.


Shezan menoleh ke belakang dan mendapati Farras sudah duduk di meja dapur.


"Kamu sudah kembali." Ujar Shezan dengan ekspresi biasa saja.


"Kamu bahagia saat melepas kepergianku, sekarang Kamu terlihat tidak bahagia menyambut kedatanganku." Ujar Farras tidak senang.


Sebenarnya Shezan bahagia melihat kedatangan suaminya. Tetapi entah mengapa Ia lebih suka membuat suaminya kesal.


"Hmm.. " Farras bangkit dari kursinya tidak semangat, "Ini untuk mu." Farras memberikan sebuah bungkusan oleh oleh untuk Shezan.


Ia pun pergi meninggalkan Shezan menuju kamarnya dengan kesal karena kerinduannya bertepuk sebelah tangan. Entah mengapa akhir akhir ini Ia menjadi emosional. Ia ingin memeriksakan dirinya ke rumah sakit, tetapi Ia sedang tidak mood.


Sementara Shezan dengan bahagia mengambil bungkusan oleh-olehnya, dan melihat isinya.


"Coklat dan permen? mengapa dia memberiku ini? Aku sedang diet." Guman Shezan.


Tiba tiba tangannya ditarik seseorang, Farras datang lagi ke dapur dan merangkulnya. Farras menenggelamkan wajahnya di kepala Shezan. Lama tidak melihat Shezan membuat sekujur badannya terasa sakit. Memeluk Shezan membuatnya tenang.


"Kamu belum mandi ya?" Bisik Farras.


"Hah, Iya, rencananya habis masak baru mandi." Jawab Shezan yang sebelah pipinya bersandar di dada Farras. Ketahuan ya?


Farras tersenyum dan mempererat pelukannya, membuat Shezan terhipnotis dan tanpa sadar ingin membalas merangkul suaminya. Namun tiba-tiba Ia menghentikan tangannya. Ia menepuk nepuk punggung Farras, "Aku harus lanjut memasak. Kamu pasti lapar." Ujarnya.


Farras melepas Shezan dan memegang kedua bahunya. Perkataan Shezan membuatnya teringat sesuatu, "Kamu benar, Aku sangat lapar. Masaklah dengan cepat!" Serunya dan segera pergi meninggalkan Shezan menuju kamarnya.

__ADS_1


Ia tidak ingin menunjukkan dirinya yang merasa bahagia atas perhatian Shezan. "Dia mencemaskanku. " Guman Farras dalam hati.


***


__ADS_2