Finding Miss Right

Finding Miss Right
Alter Ego


__ADS_3

Di ruangan kerjanya, Amelia berbicara empat mata dengan putranya setelah mengantarkan Shezan ke kamar.


"Apa yang terjadi?"


"Aku yakin Jagdish sudah mengatakannya." Ujar Farras tenang, Ia sedang tidak ingin menjelaskan apapun.


"Kamu tahu, hanya kamu yang mama miliki."


"Hmm."


"Mama tidak ingin kehilanganmu," Amelia menatap putranya sendu.


"Jangan khawatir, Aku bisa mengatasinya" Ujar Farras meyakinkan Ibunya,


Ia membuka layar ponselnya setelah mendengar pemberitahuan pesan masuk.


from Shezan:


Jadinya jadi rumit begini, Mengapa kamu mengatakan kita telah menikah?


^^^Mengapa?^^^


^^^Kamu tidak ingin hidup terpisah dariku?^^^


***


Shezan terdiam membaca balasan Farras. Membaca kalimat itu membuatnya mual dan ingin memuntahkan sesuatu, Apa yang dipikirkan orang ini?.


Setelah beberapa bulan hidup bersama Farras, Shezan merasa Farras memiliki kepribadian ganda. Sekarang Dia Jadi Narsis.


Shezan kembali mengirim pesan kepada Farras.


to Farras:


^^^Tidak, Bukan seperti itu. Maksudku.. ya sudahlah.^^^


Ibuku menyukaimu


Shezan kembali terdiam membaca balasan Farras. Ia mencoba menafsirkan kalimat Farras. Shezan mengingat bagaimana Ibunya Farras memperlakukan Farras dengan kejam. Shezan bergidik ngeri, Jika dirinya hanyalah seorang asisten rumah tangga, Apa diperlakukan lebih sadis lagi?


Shezan hanya bisa menghela nafas panjang, Ia kini terjebak diantara orang-orang yang aneh dan membingungkan.


Ia melihat ke sekeliling kamar Farras, kamarnya tidak sebesar kamar di rumah pribadinya. Hanya ada tempat tidur, lemari, dan sebuah meja belajar.

__ADS_1


"Apa ini kamarnya Farras ketika masih sekolah?" Guman Shezan.


Ia berjalan mendekati meja belajar tersebut. Ia ingin tahu apa saja yang ada di meja tersebut.


Hanya ada lampu belajar dan alat tulis di atas meja tersebut. Tidak ada buku-buku atau yang lainnya. Shezan duduk dikursi meja itu dan membuka salah satu laci meja tersebut. Ia melihat beberapa kertas.


"Kertas? hmm baiklah coba kita tulis apa saja kepribadian tuan Farras." Gumannya seraya mengambil kertas dan pulpen.


"Pertama, kaku dan tidak banyak bicara. kita panggil Tuan K. Kedua, cerewet, kita panggil Tuan C. Ketiga, dingin dan menyeramkan, kita panggil Tuan S. keempat narsis, Tuan N. Kelima menyebalkan, Tuan B. Hmm... " Shezan berpikir sejenak sebelum melanjutkan tulisannya.


"Romantis?" guman Shezan sembari mengingat. "Dia tidak memiliki kepribadian romantis, pergi jakan jalan malah dibawa ke rumah hantu." Gerutu Shezan melupakan hal-hal baik yang pernah dilakukan Farras.


Selesai menulis, Shezan kembali memeriksa laci meja tersebut. Berharap Ia dapat menemukan sesuatu yang menarik. Ia menemukan sebuah album. Ia tersenyum senang seperti memenangkan door prize di acara seminar gratisan.


"Coba kita lihat, hehe, " Guman Shezan.


Di halaman pertama Ia melihat foto Farras berlatar belakang sebuah gedung yang kelihatannya diambil secara diam-diam. Di bawah foto tersebut bertuliskan tahun, dan tempat.


"Philosophy of doctor. Oh dia kuliah filsafat." Gumam Shezan ngasal. Ia kemudian beralih ke halaman selanjutnya.


Sama seperti sebelumnya, Foto Farras yang terlihat diambil secara diam diam. Di bawah foto tersebut terdapat tulisan First year, National Taichung University.


"Hmm..." Shezan kembali membalik halaman.


Mengapa tidak jadi professor atau apa gitu.


Ia membalik halaman album foto itu hingga menyisahkan halaman terakhir, album itu berisikan foto-foto momen penting Farras dari masa dewasa hingga anak-anak, "Mengapa semuanya hanya foto sendiri? Apa tidak ada yang mau berfoto dengannya?" Guman Shezan heran.


"Kamu sedang apa?" Suara Farras mengagetkan Shezan yang hendak membuka halaman terakhir.


"Kaget saya."


Di halaman terakhir yang tidak sempat dilihat Shezan, terlihat foto Farras kecil bersama seorang gadis yang lebih kecil darinya berdiri di depan sebuah rumah villa.


Shezan menoleh ke arah sumber suara, Farras tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Melihat apa yang bisa dilihat," Jawab Shezan ala kadarnya. Kemudian Ia menuruskan melihat halaman terakhir album foto tersebut.


Shezan terlihat kaget melihat foto di halaman terakhir, Farras yang menyadarinya segera mendekat melihat apa yang dilihat Shezan.


"I..ni... " Shezan mencoba memikirkan apa yang mau disampaikannya.


Farras berpikir Shezan mengenali foto tersebut.

__ADS_1


"Ini Villa kan?" Tanya Shezan memandang takjub gambar villa pada foto tersebut.


"Iya, " Jawab Farras datar sembari menutup album fotonya yang sebenarnya Ia tidak ingin orang yang tidak berkepentingan melihatnya. Foto foto di dalam album tersebut, semuanya diambil oleh Ibunya.


"Tunggu Sebentar, anak perempuan itu... Adik kamu?" Tanya Shezan.


"Bukan," Farras segera mengambil alih Albumnya dan memasukannya kembali ke dalam laci.


"Jangan menyentuh apapun yang ada di kamar ini!" Seru Farras, dengan pembawaan tenang. Ia sebenarnya tidak terima Ibunya membawa Shezan ke kamarnya, bukan ke kamar tamu.


"Baik tuan." Jawab Shezan penuh hormat. Ia hampir saja membaca tulisan di bawa foto tersebut, namun keburu ditutup oleh Farras.


Tuan C, bisiknya dalam hati


"Ini jika kamu ingin mandi." Ujar Farras memberikan sebuah kantong kertas yang Ia bawa kepada Shezan. "Kamar mandi di sebelah sana." Setelah menunjuk di mana posisi kamar mandi, Farras berjalan keluar dari kamarnya.


"Tunggu sebentar." Ucapan Shezan menghentikan langkah Farras, dan berbalik ke arah Shezan.


"Mengapa tadi di rumah sakit Kamu menciumku?"


"Aku hanya melanjutkan apa yang ingin Kamu lakukan."


"Apa? Aku tidak, Kamu salah paham.. " Shezan ingin mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini, dirinya sangat malu.


"Istirahatlah, Aku tidur di kamar lain." Potong Farras berlalu meninggalkan Shezan.


"Baik." Ujar Shezan patuh.


Ia beralih melihat isi kantong yang dipegangnya, "Kapan dia membelinya? bahkan lengkap dengan pakaian dalam?!" Guman Shezan malu melihat pakaian yang labelnya masih terpasang.


Selesai mandi, Ia kembali menatap ke arah laci di mana Farras menyimpan albumnya, "Seperti tidak asing dengan rumah villa itu," Gumannya mencoba mengingat. Ia mengalami deja vu.


Ia tersenyum mencemoohkan Farras, "Ternyata selain Aku ada juga yang mau berteman dengannya, siapa anak yang berfoto bersamanya? Aku terlalu berlebihan menanggapi hubungannya dengan artis itu, jangan-jangan dia sudah dicampakkan seperti sebelumnya." Pikir Shezan, salah mengambil kesimpulan tentang kehidupan sosial Farras.


"Muda tampan dan kaya tidak menjadi jaminan memiliki banyak teman," guman Shezan, Ia pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan segera tidur.


***


Pagi harinya Amelia menyambut hangat kedatangan Shezan di ruang makan.


Sementara Shezan memandang heran meja makan, ada banyak makanan yang terhidang. "Apa ini? Apa Ibunya Farras ingin aku melakukan kunjungan ke tempat kakeknya, neneknya, pamannya, bibinya Farras memperkenal diri sebagai menantu?" Bisik Shezan salam hati.


Drama apa lagi yang harus Ia jalankan? Tanya Shezan dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2