Finding Miss Right

Finding Miss Right
Ekspektasi


__ADS_3

"Menyingkirlah dari hadapanku sebelum aku melihatmu!" Ujar Farras dingin.


Ultimatum Farras membuat Shezan terkejut, Apa yang akan terjadi jika aku tetap berdiri di sini? Shezan berpikir Farras tidak akan menyakitinya karena Farras sudah berjanji padanya. Namun, tetap saja ancaman Farras membuatnya takut.


Farras mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Shezan, "Mengapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Farras bernada lembut.


"Saya..."


Farras melihat sosok Nina di kejauhan yang juga melihat ke arah mereka, "Ayo ikut Aku." Farras menarik ujung bajunya Shezan dan membawanya pergi.


Sementara Nina yang mencari sosok Shezan, "Loh bukannya itu pelanggan tetap warung Bu Sri, pacarnya artis Nausheen?." Guman Nina, Ia pun bergerak menghampiri Shezan dan Farras.


Namun langkahnya dihentikan oleh salah satu kru, "Mbak mau kemana? Habis ini giliran mbak."


Dan Shezan pun hilang dari pandangan mata Nina.


***


"Mengapa kamu bisa ada di sini?" Farras mengulang pertanyaanya setelah mereka duduk di dalam mobilnya.


"Kamu ingin jadi model Ìv?" Tanya Farras tertawa menyadari pakaian yang dikenakan Shezan.


Shezan yang tadinya masih dilanda rasa takut, menjadi kesal mendengar suara tawa Farras. Orang ini kembali mentertawakanku?


"Apa?! Bukan, Aku hanya mau lihat-lihat saja. Kamu sendiri mengapa kamu juga bisa ada di sini?"


"Entahlah."


"Kamu mau mencari tahu tentang brand saingan?" Tanya Shezan menuduh Farras sedang menjadi mata-mata


"Saingan? Ìv adalah salah satu brand Myrtle." Jelas Farras.


"Apa?" Tanya Shezan tidak percaya.


Farras mengganguk mengiyakan, Ia pun menghidupkan mesin mobilnya.


"Loh kita mau ke mana?" Tanya Shezan.


"Pergi jalan jalan," Jawab Jagdish sekenanya.


"Oh tunggu sebentar." Ujar Shezan turun dari mobilnya Farras.


"Aku ganti baju dulu. Tunggu ya! " Ucap Shezan sebelum pergi.


"hmm.. " Farras mengganguk mengiyakan.


"Oke." Ujar Shezan senang pergi dengan buru buru masuk kembali ke dalam gedung studio.


***


Setelah Shezan buru-buru berganti pakaian, melupakan audisi model, dan meninggalkan Nina yang masih tertinggal di dalam studio, Shezan berlari keluar meninggalkan gedung menuju lapangan pakir.


"Apa ini?, Dia sudah pergi?" Guman Shezan kecewa mendapati mobil Farras sudah hilang dari pakiran.


Apa ini yang namanya kualat? Terlalu senang diajak pergi jalan-jalan dirinya meninggalkan sahabatnya.


Shezan mengambil ponselnya dan menghubungi Farras. "Kamu di mana?" Tanya Shezan setelah panggilannya terhubung.


"Aku sudah pergi,." Ujar Farras datar.


"Ke mana?"


"..... "

__ADS_1


"Hallo.. hallo.."


Shezan melihat layar ponselnya karena Ia tidak mendengar lagi suara Farras. "Dia mematikannya?!" Guman Shezan sedikit kesal.


Mengapa akhir-akhir ini Aku lebih banyak merasa kesal daripada takut kepadanya?


****


Begitu menerima panggilan Jagdish, dirinya langsung menuju kantor polisi.


"Aku tidak mengenalnya," Ujar Farras melihat seorang pria muda yang tengah duduk di kantor polisi. Dan di sebalahnya berdiri seorang polisi kenalan mereka.


"Dia juga tidak mengenal Anda." Tutur Jagdish memberi penjelasan. "Dia hanya seorang kurir, dia juga tidak tahu siapa yang menyuruhnya."


"Mengapa morfin? tidak sabu-sabu, ekstasi, atau ganja?"


Pertanyaan Farras membuat Jagdish dan polisi kenalan mereka saling pandang memikirkan jawabannya.


Mengapa orang itu menjebak Farras dengan menggunakan morfin?


***


Setelah menyelesaikan urusan mereka di kantor polisi. Jagdish masuk ke mobilnya dan menghidupkan mesin. Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu penumpang bagian belakang. Tampak Farras masuk dan duduk.


"Anda meninggalkan mobil di kantor polisi?" Tanya Jagdish, karena mereka pergi secara terpisah ke kantor polisi. Namun pulangnya barengan.


"Iya,. " Ujar Farras santai. Yang artinya menambah kerjaan Jagdish mengambil mobilnya dari kantor polisi.


Jagdish pun menjalankan mobilnya dengan pasrah.


Jagdish melihat Farras seperti memikirkan sesuatu, di sepanjang perjalanan mereka.


"Apa Anda memikirkan siapa orang yang membenci Anda?" Tanya Jagdish.


Jagdish segera menghentikan mobilnya mendadak, "Tidak salah lagi, sudah saya katakan Anda pasti telah menyukainya." Ujar Jagdish bersemangat.


"Hmm.. " Farras mencari benda apa saja yang ada di sekitarnya yang bisa Ia gunakan untuk memukul Jagdish.


"Auch..!" Teriak Jagdish kesakitan karena Farras memukulkan sebuah tongkat payung ke kepalanya. "Apa yang Anda lakukan?!" Teriak Jagdish.


"Aku tidak merasakan apapun setelah memukulmu." Ujar Farras tenang setelah berbuat kriminal.


"Apa?! Tentu saja tidak, yang dipukul kan saya!," Seru Jagdish kesal.


"Mengapa Aku tiba tiba merasakan hal aneh setelah meninggalkannya?" Tanya Farras berguman. Ia tidak memperdulikan Jagdish yang kesakitan.


"Apa yang sedang Anda bicarakan?" Tanya Jagdish kesal, Ia melihat kondisi kepalanya di kaca spion mobil.


Jika bukan karena bayaran yang tinggi, dirinya tidak akan mau bekerja dengan seorang psikopat.


"Jalan!" Perintah Farras tanpa memperdulikan Jagdish yang terluka akibat ulahnya.


***


Farras memakirkan mobilnya di sebuah lapangan pakir. Ia membuka bagasi belakang mobilnya, dan memberikan kode kepada Shezan yang berdiri di sebelahnya untuk menurunkan dua koper yang ada di bagasi tersebut.


"Ada apa dengannya? apa dia menyuruhku untuk menurunkan semua barang ini?" Tanya Shezan dalam hati.


Akhirnya Shezan menurunkan dua koper tersebut. Setelah shezan menurunkan semua koper, Farras menutup bagasi mobilnya dan berjalan meninggalkan Shezan.


"Apa?! Apa dia juga menyuruhku menyeret kopernya?" Tanya Shezan dalam hati sedikit kesal


Dengan hati terpaksa Shezan pun menyeret kedua koper tersebut. Dan mengikuti Farras masuk ke dalam Bandara.

__ADS_1


Sabar Shezan, sabar.. demi jalan jalan. Perginya naik pesawat. Shezan menyabarkan dirinya, mengingat dirinya belum pernah naik pesawat. Shezan mengkhayalkan dirinya akan naik penerbangan first class. Mengingat Farras sepertinya orang yang sangat kaya.


Ternyata dugaannya salah, Farras mengambil penerbangan kelas ekonomi. Farras terlihat duduk tenang di kursi penumpang.


"Bukannya sultan kalau mau pergi naik jet pribadi? ya minimal kelas bisnis?" Pikir Shezan tidak percaya menatap Farras yang sejak tadi bersikap tenang tanpa suara. Dan terlihat seperti sudah terbiasa duduk di kelas ekonomi.


Shezan pun duduk di sebelah Farras dengan perasaan kecewa. Mimpinya untuk merasakan bagaimana enaknya jadi orang kaya musnah sudah.


Ternyata dia menikahi pria kaya yang kikir.


Sementara itu, dibalik sikap tenangnya Farras. Ia mencoba menahan segala rasa yang ada.


Duduk di kursi yang kecil dan sempit, Ia harus menekuk kakinya yang panjang, Ia harus menahan rasa tidak nyaman duduk di kursi yang membuatnya sesak.


Entah mengapa Ia mau saja mengikuti saran Jagdish yang menyarakannya untuk pergi berlibur dengan Shezan.


Shezan melihat pramugari menutup pintu pesawat. Dan pesawat mulai bergerak.


Shezan melihat barisan bangku penumpang di sampingnya, tidak ada penumpang yang duduk di sana. Kemudian Ia melihat ke barisan bangku belakang tidak ada penumpang yang duduk di sana. Kemudian Ia melihat barisan bangku di bagian depan. Juga tidak ada penumpang.


Terakhir Ia berdiri, dan tidak melihat satupun penumpang.


Terdengar suara pilot memberi pengumuman. Dan pramugari meminta Shezan untuk duduk. Sang Pramugari mulai memperagakan arahan yang terdengar di speaker.


Ini pertama kalinya Shezan naik pesawat, Ia memperhatikan dan mendengarkan arahan keselamatan dengan seksama.


Mengapa tidak ada penumpang yang lain?


Shezan melirik Farras yang duduk tenang di sebelahnya. Farras terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Mengapa di pesawat ini penumpangnya hanya kita berdua? apa yang punya pesawat nggak rugi?" Bisik Shezan kepada Farras.


"Tidak,"


"Kita mau kemana?" Tanya Shezan, Ia harus memastikan dulu kemana tujuan perjalanan mereka, sebelum mengkhayal tinggi.


"Ke tempat yang kamu pasti akan menyukainya." Jawab Farras yakin.


"Oh begitu." Ujar Shezan.


Apa orang ini mengajakku bulan madu? Pikir Shezan. Dari asisten rumah tangga, naik jabatan jadi teman. Lalu apa sekarang sudah naik jabatan jadi istri?! Batin Shezan berteriak histeris.


****


Setibanya di Bandara kota tujuan. Sebuah mobil yang bisa terbilang mewah menyambut kedatangan mereka. Sang supir membukakan pintu penumpang untuk Farras, dan memasukan koper mereka ke bagasi.


Shezan membuka pintu penumpang dan duduk di sebelah Farras. Ia terlihat bahagia karena kali ini perjalanan mereka dilanjutkan dengan mobil mewah. Ia kembali berekspektasi tinggi kemana mobil mewah tersebut akan membawa mereka.


***


Perjalanan mereka sangat panjang, membuat Shezan bolak balik hampir tertidur.


"Turun lah, kita sudah sampai." Farras membangunkan Shezan.


Shezan terbangun dan turun mengikuti Farras.


Ia menatap tidak percaya dimana mereka saat ini.


"Kamu menyukainya kan?" Tanya Farras bangga.


"Hah? iya.. wow..luar biasa..saya sampai tidak bisa berkata apa lagi. "


***

__ADS_1


__ADS_2