Finding Miss Right

Finding Miss Right
Bad Mood


__ADS_3

Shezan kembali menundukkan kepalanya, "Aku benar-benar minta maaf, Aku sudah menikah." Ujarnya tulus.


"Lalu? Apa kehadiranku menganggumu?" Tanya Aditya.


"Ya?" Tanya Shezan bingung.


Aditya menghiruf oksigen sebanyak mungkin yang Ia bisa. Saat ini hatinya sedang hancur berkeping, tetapi Ia tidak ingin menunjukkannya kepada gadis yang dicintainya. "Jika kita tetap berteman, apa itu akan membebanimu?"


"Ya?"


"Setelah Kamu mengetahui perasaanku, Aku harap itu tidak menjadi masalah buat kamu jika kita tetap berteman. Mulai sekarang Aku akan melihatmu sebagai teman, bukan seseorang yang harus Aku miliki." Tutur Aditya panjang lebar.


Shezan mengangguk, meski Ia tidak mengerti sepenuhnya apa yang dibicarakan Aditya. Yang Ia pahami adalah Aditya harus mengetahui bahwa dirinya telah menikah. Meskipun suaminya tidak mencintainya, meskipun mungkin sebentar lagi akan berpisah, meskipun Aditya mencintainya, Ia tidak bisa menerima Aditya dalam hidupnya untuk saat ini.


Ia tidak ingin menjadi gadis yang jahat. Mengencani pria lain saat rumah tangganya sedang dalam masalah. Ia tidak ingin membawa orang lain dalam masalahnya. Saat ini Ia hanya ingin mencoba belajar untuk berpikir.


"Apa Kamu bahagia?" Tanya Aditya, Ia ingin tahu mengapa Shezan menolaknya dengan cara berbohong kepadanya. Dan mengapa membawa Farras dalam kebohongannya?


Ia telah mendengar rumor tentang Farras, Atasannya. Aditya berpikir bahwa Farras adalah bukan orang sembarangan yang bisa ditemui oleh siapa saja, dan bagaimana bisa orang seperti Farras menikah dengan gadis biasa seperti Shezan. Ia berpikir hanya dirinya saja yang bodoh di dunia ini, yang bisa menyukai gadis super biasa seperti Shezan.


Tetapi tidak ada rumor yang beredar mengenai alasan sebenarnya mengapa Farras tidak bisa bertemu dengan siapa saja dan tidak pernah terlihat menghadiri acara perusahaan. Jagdish melakukan pekerjaannya dengan baik.


Shezan terdiam sejenak dan berpikir. "Aku tidak punya alasan untuk tidak bahagia."


Aditya tersenyum, meski terasa pahit baginya, Ia harus tersenyum. "Aku mengerti. Jangan khawatir, Aku akan segera melupakan mu dan menemukan cinta yang lain."


Setelah mengutarakan apa yang ingin disampaikannya, Shezan bergegas pergi meninggalkan Aditya. Ia bingung Jika pesan ojek online, Aditya akan menawarkan diri untuk mengantarnya. Jika naik taxi online, Ia takut diculik lagi. Jika naik angkutan umum keburu telat sampai di kosan Nina.


Akhirnya Shezan memutuskan untuk naik angkutan umum.


"Sampai ketemu lagi!" Seru Aditya melepas kepergian Shezan yang akan menaiki sebuah bus yang berhenti di depannya.


"Iya," Ujar Shezan berlalu dibawa pergi oleh angkutan umum bus trans dalam kota.


"Apa istri dari seorang Farras kemana-mana naik angkutan umum?." Guman Aditya dalam hati tersenyum.


***


Di kosannya, Nina menceritakan tentang kedatangan Jagdish di tempat kerjanya. Tidak ada yang terlewatkan oleh Nina. Entah mengapa perihal gossip, Nina adalah yang terbaik.


Shezan memikirkan informasi yang diberikan Nina. "Sepertinya Aku harus menemui Bapak itu." Ucap Shezan kepada Nina.

__ADS_1


Nina mengangguk, "Ya ya, sebaiknya begitu." Ujar Nina, Ia memegang pundak Shezan, "Kamu tidak boleh menyerah Shezan, Kamu harus mempertahankan rumah tangga kamu, ya meski tidak jelas, tetapi harus dipertahankan.!" Seru Nina.


Shezan memandang Nina dengan tatapan datar, "Mengapa sekarang Kamu jadi berputar 180 derajat?"


"Kemarin Aku khilaf, Setelah melihat tuan Farras yang begitu murah hati, tidak sombong, rajin menabung, penuh kharismatik, rajin berkerja, dia adalah suami yang sempurna, " Ujar Nina memuja dengan mata yang bersinar-binar


Shezan masih memandang Nina dengan tatapan datar, "Apa Kamu berubah pikiran setelah melihat saldo ATM?" Tanya Shezan.


"Hehehe.. " Nina hanya bisa menyengir.


"Aku sudah bekerja keras memikirkannya beberapa hari ini," Ujar Shezan, Ia harus menguras banyak energinya agar otaknya mau berpikir. "Meskipun kamu tidak pernah menyarankanku untuk bercerai, Aku akan tetap ingin bercerai." Ujar Shezan bernada bijak. Mungkin karena kelamaan berpikir membuatnya menjadi kharismatik.


Jika sudah berkharismatik begitu, Nina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aura yang dipancarkan Shezan membuatnya segan untuk berbicara lagi tentang jangan bercerai.


***


Keesokan harinya, Shezan dengan penuh percaya diri menghubungi Jagdish dan memintanya untuk bertemu. Ia sangat yakin hari ini dia sudah menjadi orang yang lebih dewasa dan penuh kharisma. Mengingat kini Ia telah menjadi seorang pemikir.


Jagdish tersenyum seperti biasa melihat kedatangan Shezan, mereka janji temu di sebuah Cafe. "Mbak baik-baik saja? mengapa mbak meninggalkan apartemen?" Tanya Jagdish.


Shezan terlihat penuh percaya diri, "Saya tidak ingin lama-lama, jadi saya akan langsung saja." Ujar Shezan sembari menyerahkan kartu akses apartemennya. "Saya berhenti bekerja dengan Pak Farras. Dan mungkin besok atau lusa saya akan mengajukan gugatan cerai." Ujar Shezan kemudian, dan menyerahkan kartu atm Farras kepada Jagdish.


Jagdish menatap dua kartu yang tergeletak dihadapannya. "Mengapa mbak ingin bercerai?" Tanya Jagdish.


Jagdish sedikit tersenyum mendengar perkataan Shezan, "Begitu," Jagdish mengangguk. "Apa mbak tahu, bercerai bukan hal yang mudah?"


"Apa menurut Bapak saya tidak pandai buat mengurus perceraian?" Tanya Shezan kesal, Apa apaan dia? Apa aku juga nggak punya kemampuan untuk bercerai?


Jagdish menahan tawanya, Ia tidak ingin istri boss nya menjadi semakin marah. "Apakah Pak Farras melakukan penganiayaan kepada mbak?"


Shezan menggeleng, "Tidak."


"Apakah Pak Farras melakukan tindak pidana ?"


Shezan kembali menggeleng, "Tidak."


"Pak Farras tidak terbukti memiliki penyakit, tidak melakukan perzinahan, tidak terjadi pertengkaran selama pernikahan, bahkan Pak Farras memperlakukan mbak dengan baik," Ujar Jagdish, Ia kemudian tersenyum, "Maka perceraian yang mbak inginkan tidak akan terjadi. Pak Farras tidak ingin menceraikan mbak Shezan."


Shezan menatap Jagdish bingung, "Apa?"


Jagdish mengambil kedua kartu yang tergeletak dihadapannya dan menyerahkannya kembali kepada Shezan. "Ini semua sudah diberikan kepada mbak Shezan, jadi ini milik mbak. Mungkin mbak bingung mengapa Pak Farras tidak ingin berbicara dengan mbak. Maafkan saya, saya tidak bisa menjelaskannya kepada mbak." Ujar Jagdish.

__ADS_1


Ia tidak mungkin memberitahu mengenai alasan Farras menjauhkan Shezan. Farras bisa saja memiliki niat untuk membunuh Shezan.


"Saya tahu," Ujar Shezan lirih.


"Apa yang mbak tahu?" Tanya Jagdish hati-hati.


"Dia sudah bersama wanita lain." Ujar Shezan yakin, dan teringat sesuatu. "Tunggu sebentar, tadi Bapak bilang perzinahan kan? berarti bisa bercerai!" Seru Shezan.


Jagdish tidak bisa lagi menahan tawanya, mengapa hampir semua wanita selalu berpikiran seperti itu?


"Pak Farras tidak tertarik dengan wanita lain," Ujar Jagdish datar, setelah menghentikan tawanya. "Saya ada di pihak mbak Shezan."


"Apa?" Shezan hanya bisa bingung, dan kembali memutuskan untuk malas berpikir.


"Jika mbak Shezan ingin bercerai, mungkin mbak Shezan bisa selingkuh dulu." Ujar Jagdish bercanda.


"Apa dengan begitu bisa bercerai?" Tanya Shezan serius.


Jagdish menelan salivanya, "Mbak masih ingin bercerai? saya sudah mengatakan Pak Farras tidak selingkuh."


Shezan mengangguk yakin, Ia tidak ingin merubah keputusan yang telah bersusah payah dipikirkannya. "Iya"


Jagdish menghela nafas, "Mengapa mbak tidak menikmati saja semua fasilitas yang diberikan Pak Farras untuk saat ini?" Tanya Jagdish yang tidak mengerti pemikiran Shezan yang tergesa-gesa ingin bercerai, tidak ada yang bisa didapatkannya setelah bercerai. Mengingat semua wanitanya menyukai fasilitas yang Ia berikan.


Mendengar omongan Jagdish membuat emosi Shezan tersulut, segera Ia mematahkan kartu ditangannya.


Loh nggak bisa patah?!. Jadi gagal keren.


Shezan meletakkan kartu yang terlipat itu di meja. Jagdish terkejut melihat Shezan mencoba merusak kartu atm yang diberikan Farras. Mengingat isi nya yang tidak sedikit. Tetapi karena Shezan pemikirannya tidak sampai disitu, maka dia tidak tahu untuk apa uang sebanyak itu


"Jika dengan berselingkuh bisa bercerai, maka saya akan melakukannya." Ucap Shezan, Ia tidak tahu apa yang barusan dikatakannya. Karena kekesalannya membuat mulutnya lebih cepat dari pikirannya.


Shezan beranjak dari kursinya, "Apa penerimaan saya di Myrtle ada hubungannya dengan Pak Farras?" Tanya Shezan.


Jagdish dengan cepat menggeleng, Ia tidak ingin Shezan berhenti bekerja di Myrtle. "Tidak, sama sekali tidak ada."


Shezan mengangguk, "Baiklah, karena saya memutuskan untuk tidak bekerja lagi dengan Pak Farras, maka bapak bisa tidak mentransfer gaji saya lagi."


Shezan pun berlalu meninggalkan Jagdish dengan perasaan kesal. Dia memang menyukai uang dan sesuatu yang berkilau. Tetapi tidak ada yang boleh melukai harga dirinya.


Jagdish menatap kedua kartu yang sudah tidak bernyawa di hadapannya dengan penyesalan. Sepertinya Aku telah salah bicara.

__ADS_1


***


__ADS_2