Finding Miss Right

Finding Miss Right
Telepati


__ADS_3

Sementara Shezan memandang heran meja makan, ada banyak makanan yang terhidang. "Apa ini? Apa Ibunya Farras ingin aku melakukan kunjungan memperkenalkan diri ke tempat kakeknya, neneknya, pamannya, bibinya Farras memperkenal diri sebagai menantu?" Bisik Shezan salam hati.


"Apakah saya harus pergi melakukan kunjungan sekarang? Tapi Bapak Farras, eh suami, eh mas Farras masih dalam keadaan sakit." Tanya Shezan, takut salah bicara dengan Ibunya Farras membuatnya gugup, dan akhirnya membuatnya bersalahan bicara.


"Kunjungan?" Amelia tidak mengerti Shezan.


"Arkh.. " Farras meringis kesakitan memegang lengan kanannya yang sebenarnya baik-baik saja, saat hendak mencoba memegang sendok, "Bisakah Kamu membantuku?" Farras memberikan kode kepada Shezan agar menyuapinya.


"Baik." Ujar Shezan bernada sopan.


Shezan pun duduk di sebelah Farras, dan menyuapi makan suaminya dengan baik dan benar. Mengingat Farras terluka karenanya, jadi sudah menjadi kewajibannya melayani tuan penolongnya.


Amelia tersenyum setelah mengerti maksud pertanyaan Shezan, "Kakek dan Neneknya Farras sudah meninggal dunia, mama adalah anak satu-satunya begitu juga dengan Farras. Kamu tidak akan pergi ke mana-mana Shezan sayang." Ujar nya memberi penjelasan mengenai keluarganya kepada Shezan.


"Ah..dan kamu tidak perlu mengunjungi Papanya Farras," Amelia melanjutkan penjelasannya. Kemudian ikut bergabung menyantap makanan yang sudah disiapkan asisten rumah tangganya.


"Baik," Shezan mengangguk mengerti, meskipun penasaran Ada apa dengan Ayahnya Farras? Ia tidak berani bertanya.


"Lalu Jagdish anaknya siapa?" Tanya Shezan tiba-tiba bingung, Ia menggantung sendok yang hendak Ia sodorkan ke mulut Farras.


Pertanyaan Shezan membuat Amelia juga bingung, mengapa menantunya tiba-tiba menanyakan Jagdish. Sementara Farras harus menahan tawanya. Orang yang sedang sakit tidak boleh terlihat banyak beraktivitas.


"Jika Farras tidak memiliki kakak, dan juga sepupu, lalu Jagdish keponakan dari mana? Apa dari pihak Ayahnya mas Farras?"


Amelia semakin tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Shezan. Ia menatap putranya meminta penjelasan.


"Shezan Afifah. Sudah sudah berapa lama kamu hidup bersamaku?" Tanya Farras dengan sikap tenangnya.


"Sudah enam bulan," Jawab Shezan pelan.


"Dan Kamu masih tidak sadar kalau Aku bukan Pamannya Jagdish.?" Sindir Farras, Ia lalu memberikan kode kepada Shezan agar lanjut menyuapinya.


Shezan pun kembali menyuapi Farras. Ia menatap Farras dengan tatapan bertanya, "Apa kau mentertawakanku lagi? "


Farras balik menatap dengan tatapan menjawab "Tentu, "


"Akan Aku pastikan besok Kau tidak bisa tertawa lagi."


"Apa yang bisa kamu lakukan?"


"Aku akan memotong... "


"Ehem.. " Amelia menghentikan acara tatap menatap putra dan menantunya. "Jagdish adalah asisten nya Farras," Amelia tersenyum memberi penjelasan kepada Shezan.


"Shezan, Mama ingin kamu tinggal disini untuk sementara, Apa kamu keberatan sayang?" Tanya Amelia lembut. Namun dengan intimidasi.


"Kami akan pulang setelah makan," Tutur Farras


"Bagaimana Shezan, apa kamu keberatan?" Amelia mengulang pertanyaannya, mengabaikan putranya.


Shezan menatap Amelia dan Farras bergantian. Ia bingung mau tinggal di mana.


"Baik Ma," Akhirnya Shezan lebih mematuhi mertuanya.


Amelia tersenyum senang mendengar jawaban menantunya. Berbeda dengan Farras.


Farras menghela nafas, "Aku sudah selesai makan. Kamu makan lah yang baik." Ujar Farras berdiri, dan beranjak pergi.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Shezan.

__ADS_1


"Pulang," Ujar Farras datar. "Arkh.. " Ia kembali meringis kesakitan.


Melihat Farras yang meringis kesakitan membuat Shezan merasa bersalah. "Tunggu sebentar, Apa kamu yakin baik-baik saja?"


"Tidak,"


"Maafkan saya mama, saya harus ikut mas Farras pulang, Dia memerlukan bantuan saya."


Amelia hanya bisa tersenyum melihat kepolosan menantunya, "Ya, tapi kamu harus makan dulu."


"Baik"


Amelia menghela nafas panjang melihat putranya memperdaya Shezan. Ia sangat ingin anak dan menantunya tinggal bersamanya. Ia tidak bisa membuat putranya tinggal dengannya, sekarang menantunya juga tidak mau tinggal dengannya, Ia berpikir untuk membuat cucunya tinggal dengannya.


***


Farras tersenyum licik menatap Shezan yang duduk di sebelahnya. Meskipun Ia masih dalam keadaan cidera akibat luka tembakan, Ia masih bisa beraktivitas seperti biasa. Entah sejak kapan bermain-main dengan Shezan menjadi kesenangan baru baginya.


Shezan yang ditatap tampak mengantuk, sesekali Ia jatuh tertidur terantuk jendela mobil dan kembali terbangun. Ia menahan kantuk. Semalaman Ia tidak bisa tidur.


Sebuah mobil yang dikemudikan Jagdish membawa mereka menuju rumah Farras.


Begitu sampai di depan rumah Farras, Shezan resmi tertidur. Kepalanya terjatuh menimpa bahu Farras yang terluka.


"Anda tidak apa-apa?" Tanya Jagdish mengkhawatirkan bahunya Farras, Ia heran melihat Farras yang tiba-tiba sudah duduk merapat dengan Shezan.


"hmm.. " Farras melihat Shezan yang benar-benar tertidur. lagi lagi Ia merasakan hal yang aneh, Ia tidak bisa membuat Shezan terbangun.


Farras memang merasa baik-baik saja dengan lengannya. Tetapi jika harus menggendong Shezan dengan kondisinya yang masih terluka, Ia tidak bisa.


Ia juga tidak bisa membiarkan Jagdish menggendong Shezan.


***


Shezan tersentak dan membuka separuh matanya, Ia masih terasa pusing karena kurang tidur. Shezan membetulkan posisi duduknya karena Ia merasa badannya agak miring ke kiri.


"Kamu sudah bangun!."


Suara Farras mengagetkan Shezan yang tadinya mau tidur lagi. Shezan membuka lebar matanya, tidak ada sesiapa di kursi supir, Ia menoleh ke sebelah kanan dan ke kiri. "Sudah sampai ya."


"hmmm.. " Farras segera turun dari mobilnya.


Shezan mengikutinya tanpa rasa bersalah. "Sudah berapa lama sampainya, kenapa Dia diam saja nggak membangunkanku?" Guman Shezan.


Farras tiba-tiba menghentikan langkahnya, Ia seperti teringat sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Shezan, Ia ikut berhenti di sebelah Farras.


"Aku lupa, Kalau lagi sakit." Ujar Farras tenang, Ia kemudian merangkul pundak Shezan. "Ayo masuk."


"Dia lupa? Apa ini kepribadiannya yang lain lagi?" Bisik Shezan, Ia memapah Farras masuk ke dalam rumah.


Tuan L.


Shezan memapah Farras hingga ke kamarnya Farras dengan bersusah payah.


"Apa Aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Shezan ragu. Ia meletakkan Farras di atas tempat tidur.


"hmm.. "

__ADS_1


"Rumah Villa yang ada di foto, itu di mana?"


"Mengapa kamu ingin tahu?"


"Kenapa kita tidak pergi jalan-jalan kesana saja?"


Sikap tenang Farras berubah dingin mendengar pertanyaan Shezan. "Mengapa kamu ingin pergi ke sana?"


"Ada apa denganya?" Bisik Shezan,


"Ya sudah kalau tidak boleh." Ujar Shezan bersikap sopan. "Selamat beristirahat. Permisi, Saya undur diri." Ujar Shezan menirukan gaya pelayan hotel.


"Jangankan meminta sebongkah berlian, minta diajak pergi ke villa aja nggak dikasih." Guman Shezan setelah keluar dari kamar Farras dan menutup pintunya.


Tuan kikir bin pelit. Bisik Shezan dalam hati.


Ya ampun mengapa Dia memiliki banyak nama. Shezan tidak berhenti mengomel hingga sampai di kamarnya.


Selepas kepergian Shezan, Kilasan ingatan Farras tentang Villa itu diputar kembali di kepalanya.




*Farras kecil menghalau anak kecil yang ada di foto. Anak kecil itu mencoba mengambil salah satu kertas gambar sketsa Farras. Di tengah upayanya mengambil apa yang diinginkannya, tangan anak kecil itu tidak sengaja menyenggol pisau lipat yang dipegang Farras*.



*Anak kecil itu tiba-tiba datang mengganggunya saat dirinya sedang meruncingkan pensilnya dengan pisau lipat*.



"*Aduh" Ujar gadis kecil itu melihat tangannya yang terluka*.



*Farras terdiam tanpa ekspresi melihatnya*.



"*Untukku, he. he.. he. " Gadis kecil itu berhasil mengambil salah satu kertas gambar sketsa Farras saat dirinya lengah*.



*Gadis kecil itu tersenyum senang ke arahnya*.



"*Ya Ampun! tangan kamu terluka.!" Seorang pelayan wanita masuk*,



*Pelayan itu ketakutan menatap ke arah Farras. Ia diam tidak bergeming dengan sebuah pisau lipat di tangannya*.



*Ia segera membawa keluar gadis kecil itu dari kamar untuk diobati. Di tangannya memegang kertas gambar sketsa dirinya yang sedang duduk di bawah pohon manggis (gambar yang sama dengan yang dilihat Shezan di bab 12*)


__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2