Finding Miss Right

Finding Miss Right
Pernah


__ADS_3

Aditya sontak tertawa mendengar pengakuan Shezan.


"Mengapa Kamu tertawa?" Tanya Shezan, Nada suaranya terdengar mendung. Mengapa lelaki yang mengenalnya suka tertawa dengannya, chef Aynan juga suka tertawa, bahkan orang itu juga tertawa, dan orang ini juga tertawa.


Apa kesalahan terletak pada diri sendiri?


Aditya menghentikan motornya kepinggir jalan. Karena berhenti, Shezan turun dan motor Aditya.


Aditya membuka helmnya, "Kita memang teman satu kampus, Fakultas kita sebelahan, Aku dulu di Fakultas ilmu komputer IT. Kamu memang nggak kenal sama Aku. Justru Aku heran kalau Kamu ingat sama Aku."


Shezan mengerutkan keningnya, Drama apa lagi ini?


"Maaf, waktu itu Aku sapa Kamu seolah-olah kita saling kenal, Karena nggak nyangka bisa ketemu Kamu lagi. Maaf. "


"Kau kenal Aku?" Tanya Shezan hati hati.


Aditya mengangguk, "Nama kamu Shezan Afifah,"


Dilihatnya gadis di depannya tampak memikirkan sesuatu, "Aku kenal kamu karena sering main ke kelas kamu, jumpai teman disitu."


"Oh." Shezan tidak tahu harus berkata apa.


Aditya tersenyum, "Intinya Aku kenal kamu, kamu nggak kenal Aku. Tapi sekarang Kamu udah kenal Aku kan?"


Shezan mengangguk menyetujui pendapat Aditya, "Iya."


"Ya sudah naik lagi gih, Aku antar kamu pulang." Aditya memasang helmnya kembali.


"Oke, "


Mereka kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.


"Memangnya kamu tinggal dimana? Kamu bilang kita tinggal searah." Tanya Shezan ditengah perjalanan.


deg.. Pertanyaan Shezan membuat Aditya harus memutar otaknya, Jawaban apa yang akan dia beri.


"Nggak jauh dari tempat tinggal kamu,"


"Oh, "


Setelah sampai di perumahan tempat tinggal Farras, Shezan melepaskan helmnya dan memberikannya kepada Aditya, "Ini, terima kasih."


"Oke, sampai ketemu besok,"


"Tunggu sebentar, " Suara Shezan menghentikan Aditya yang hendak memutar gas motornya.


"Ya?"


"Kamu kenal Aku waktu kuliah dulu, Artinya kamu ingat Aku dulu, .." Ujar Shezan terpotong, Ia memikirkan bagaimana menyusun sebuah kalimat yang baik dan benar.


Aditya kembali tersenyum, "Aku ingat kamu, kamu masih sama seperti dulu, tetap manis,..dan cantik."


deg..


"Ya sudah, sampai ketemu besok." Aditya melambaikan tangannya kepada Shezan.


Shezan mematung memandang kepergian Aditya. Ia merasa berat pada kakinya, yang membuatnya susah untuk melangkah ke rumah Farras. Suaminya.


Ia menekan dadanya, tidak ada bola yang ditendang ke arahnya. Tapi entah mengapa dadanya terasa berdebar debar setelah mendengar kata-kata Aditya. Aku cantik?


Seumur hidupnya, belum ada orang yang mengatakan itu kepadanya.


Guratan senyum terukir di wajahnya. Ia melangkah masuk ke rumah Farras dengan senyum mengembang di wajahnya.

__ADS_1


***


Shezan menghidangkan makan malam untuk Farras, Ia tersenyum, dan Farras membalas senyumnya.


Setelah makan, Farras akan terus menatap Shezan, hingga gadis itu selesai makan. Jika tidak ada hal yang ingin dibicarakannya. Ia akan pergi ke lantai atas meninggalkan Shezan. Tidak ada yang berubah dengan pernikahan mereka, pernikahannya tetaplah menjadi pernikahan yang abstrak.


Shezan menatap punggung Farras dengan perasaan tidak menentu. Ia merasa de javu, dengan sosok Farras yang seperti itu.


Dikamarnya, Shezan duduk merenungkan sesuatu. Ia berusaha agar suaminya jatuh cinta kepadanya, dan Suaminya juga berusaha agar dirinya jatuh cinta kepadanya. Anehnya mereka tidak saling mencintai.


Shezan menghela nafas, Ia hanya bisa menjalani kehidupan yang telah Ia pilih. Ia memutuskan lebih baik tidur. Tidak bisakah hidup bersama saling mencintai?


***


Keesokan harinya, Shezan memutuskan untuk berusaha mencintai suaminya. Pria yang menikahinya hanya karena alasan merasa mungkin menyukainya. Pria aneh yang kadang membuatnya takut, dan kadang membuatnya merasa nyaman, dan juga kadang tidak peduli dengannya.


"Apa kamu terus melihat ke arahku karena kamu sangat menyukaiku?" Suara Farras yang bertanya membuyarkan lamunan Shezan. Ia tersenyum kepada istrinya, yang akhir-akhir ini terlihat menggoda.


"Iya," Ujar Shezan membalas senyuman Farras.


"Lalu apa kita sudah bisa tidur bersama?" Tanya Farras dengan sikap tenangnya. Ia tidak sedang menggoda istrinya. Ia hanya mencoba menjahili Shezan.


Tidak boleh lengah, Ingat dia bisa saja siluman berwujud manusia. Batin Shezan.


"Apa kamu sudah mencintaiku?" Tanya Shezan.


Farras tersenyum, "Masih kemungkinan."


"Kalau begitu jangan coba dekat dekat denganku," Ujar Shezan sembari memberikan kotak bekal yang sudah dibuatkannya untuk Farras.


Mencoba menjadi istri yang baik, Shezan mengantar Farras hingga ke depan pintu.


"Aku penasaran apa orang ini pernah menyukai seseorang." Guman Shezan.


"Pernah." Jawab Farras, Ia mendengar Shezan.


Farras tersenyum, "Mungkin pernah."


"Oh begitu,"


"hmm... " Farras berlalu begitu saja dari Shezan dan masuk ke mobilnya. Hari ini Ia membawa mobilnya sendiri. Jagdish tidak datang menjemputnya.


Meninggalkan Shezan. Meskipun satu tujuan, Shezan tidak pernah meminta ikut menumpang pergi kerja. Ia pernah sekali meminta numpang, dan malah diturunkan di tengah jalan. Hal itu masih membekas di hatinya hingga saat ini. Suami kejam apa yang dinikahinya, tega menelantarkan istrinya di pinggir jalan.


Ia segera membereskan meja makan, dan bersiap-siap pergi berangkat kerja dengan ojek langgananya.


Setibanya di depan gadung Myrtle, Shezan membuka helmnya dan memberikannya kepada Aditya.


"Terima Kasih, " Ujar Shezan tersenyum.


"Sama sama," Aditya membalas senyuman Shezan. Dan kemudian berlalu dari hadapan Shezan.


Dari jauh, Jagdish melihat keduanya. Ia mencurigai sesuatu. Mengapa tukang ojek Shezan selalu orang yang sama?


Ia menghampiri Shezan, "Apa mbak mengenal tukang ojeknya?"


Shezan terkejut Jagdish tiba-tiba menyapanya. "Iya, teman kuliah saya dulu."


Jagdish tampak berpikir, tidak ada senyuman diwajahnya. Ia menjadi sosok yang berbeda dimata Shezan.


Apa dia juga memiliki kepribadian ganda?


"Mengapa?" Tanya Shezan ingin tahu, mengapa Jagdish ingin tahu.

__ADS_1


"Tidak, " Jagdish tersenyum. "Kalau begitu, selamat bekerja."


Jagdish pun berlalu meninggalkan Shezan, kembali balik ke pakiran mobil untuk pergi ke suatu tempat.


Dan Shezan melanjutkan tujuannya masuk ke gedung Myrtle untuk bekerja dengan penuh semangat dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


***


Di ruangannya Shezan bergabung dengan Annindya, mereka sedang mengerjakan sampel busana untuk bulan depan. Tiba-tiba Ia mendapat pesan masuk dari Farras.


From Dedemit


Kamu masih ingat di mana ruanganku?


^^^Lupa^^^


Datang ke ruanganku sekarang.


^^^Untuk apa? lagi sibuk^^^


Kamu mau Aku jemput?


^^^Iya, iya Aku ke sana. Coba share lokasi^^^


Setelah membalas pesan Farras, Shezan menyimpan ponselnya dan kembali membantu Annindya. Namun tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi tanda pesan masuk.


From dedemit


Kamu mau Aku datang ke sana?^^


^^^Baik Tuan, Saya akan datang ke ruangan Tuan, bagaimana pun caranya.^^^


Setelah membalas pesan Farras, Shezan kembali menyimpan ponselnya dengan lesu tidak bersemangat. "Annindya, Saya pergi sebentar ya, ada panggilan alam." Ujar Shezan ijin pamit kepada seniornya. Ia memegang perutnya seakan menahan sesuatu yang hendak keluar.


"Ah iya, " Jawab Annindya dengan tatapan khawatir.


Keluar dari ruangannya Shezan langsung menuju lift terdekat. Begitu pintu lift terbuka, Ia sudah melihat sosok siluman berwujud manusia, ah tidak. Suaminya ada di dalam lift tersebut. Sontak Shezan langsung masuk dan menekan tombol tutup.


"Kamu benaran mau menjemputku? Ingat disini kita atasan dan bawahan!." Seru Shezan, Ia lupa siapa yang berperan jadi atasan disini.


Farras berdiri di belakang Shezan, melihat Istrinya tanpa ekspresi. Ia tidak menjawab pertanyaan Shezan, Ia menekan tombol G.


Pintu lift terbuka ketika mereka sampai di lantai 3, memperlihatkan beberapa karyawan berdiri di depan pintu. Mereka memandang horror penampakan di dalam lift dan segera kabur.


Shezan yang heran, mengeluarkan kepalanya dari lift, penasaran kemena orang-orang tadi pergi. "Mereka mau kemana buru-buru,?" Guman Shezan yang lupa tentang aturan tidak tertulis.


Pintu lift kembali tertutup. Dan terbuka sesuai lantai tujuan mereka.


"Ayo,!" Seru Farras.


"Ah iya," Shezan yang masih dalam ritual berpikir mengikuti Farras.


"Apa kamu selalu memecat semua orang yang berpapasan dengan kamu?" Tanya Shezan, setelah ingat sesuatu.


"Tidak,"


"Begitu, berarti itu hanya hoax." Ujar Shezan mengambil kesimpulan.


"Masuklah!" Perintah Farras begitu mereka sampai di depan sebuah mobil.


Farras masuk ke dalam mobil tersebut, tanpa menunggu Shezan yang masih belum masuk.


Mengikuti Farras, Shezan membuka pintu penumpang bagian depan, dan duduk di dalamnya, "Kita mau ke mana?" Tanya Shezan sembari mengenakan sabuk pengaman.

__ADS_1


"Hotel," Ujar Farras singkat.


Apa?!


__ADS_2