Finding Miss Right

Finding Miss Right
Psikopat


__ADS_3

Farras menghentikan langkahnya begitu tiba di depan meja makan. Ia memotong sesuatu dengan pisau yang baru saja diasahnya, tatapan mata Shezan mengikuti pisau tersebut.


"Kamu mau?" Tanya Farras tenang kepada Shezan yang tengah menatap ke arahnya. Ia berpikir Shezan pergi ke dapur karena ingin memakan sesuatu di tengah malam.


Shezan berjalan mendekati meja makan, Ia ingin melihat lebih jelas apa yang dipotong Farras,


"Makan buah di tengah malam tidak baik untuk kesehatan." Ujarnya sembari mengambil dan memakan potongan daging buah mangga yang sudah dipotong oleh Farras. Ia tidak mengindahkan kalimatnya sendiri.


Melihat Shezan yang tampak menikmati potongan buahnya, Farras melanjutkan kegiatan potong memotongnya, "Kamu menyukainya?" Tanya Farras, tatapannya tidak lepas dari bibir Shezan yang mengunyah buah mangganya.


Mendengar sindiran Farras, Shezan menghentikan kunyahnya dan langsung menelannya. Ia mengambil lagi potongan buah mangga. "Saya memakan buah ini untuk kebaikan Kamu. Jika kamu makan buah sebelum tidur, Kamu akan sakit perut,"


Farras menaikan sebelah alisnya, Ia tidak memperhatikan ucapan Shezan. Ia memperhatikan di mana Shezan meletakan potongan buah yang diambilnya. Ia terlihat seperti macan tutul yang menunggu dengan tenang mangsanya lengah, dan siap menerkam, menghabisi mangsanya.


Shezan memakan buah itu dengan tenang, Ia menatap ke arah buah mangga yang di potong Farras, Ia berniat akan menghabiskan semuanya karena ini baru pertama kalinya Ia memakan buah mangga yang lumer dimulut dan rasanya sangat manis. Tanpa sadar ada bahaya yang tengah mengintainya.


Tadinya Ia sempat takut jika rumor yang Ia dengar adalah benar. Namun melihat orang yang Ia takutkan ternyata hanya ingin memotong buah mangga yang berwarna merah, Ia berpikir tak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Selama ini dirinya sudah banyak melakukan kesalahan, tetapi tidak terjadi apa-apa kepadanya.


"Aku tidak berniat segera tidur," Ujar Farras dingin, tatapannya matanya mampu membekukan siapa saja yang melihatnya.


Mendengar perkataan Farras, Shezan menghentikan giginya untuk menghancurkan buah. Diliriknya sisa potongan buah di tangan kanannya. Ia mengartikan perkataan Farras sebagai larangan memakan buah mangga miliknya terlalu banyak. Rasanya ingin mengembalikan sisa potongan di tangan kanannya, namun Ia berpikir hal itu akan lebih tidak sopan.


Shezan mendongak menoleh ke arah wajah Farras, secepat kilat tatapan dingin Farras berubah hangat. Shezan memutuskan memasukan sisa potongan di tangannya ke dalam mulutnya.


"He.. he. maaf.. silahkan dimakan Pak, buahnya. nggak apa apa makan buah kalau belum mau tidur." Ujar Shezan menyadari kesalahannya yang telah berbuat tidak sopan.


"Kamu habiskan saja, " Ujar Farras tersenyum. Ia pergi menuju kulkas mengambil es batu, dan mengunyah es tersebut. Tadinya Ia hanya ingin memakan buah sebelum tidur, dan Shezan datang mengganggunya. Selera makan buahnya hilang digantikan selera ingin mencicipi bibir gadis itu. Sepertinya mengunyah es lebih baik.


"Apa dia marah?" Guman Shezan tidak mengerti dengan kelakuan Farras yang mengunyah es batu.


Setelah menghabiskan es batu di mulutnya, Farras segera pergi meninggalkan Shezan menuju kamarnya di lantai dua dengan tenang. Ia tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi jika masih tetap melihat Shezan. Gadis itu semakin hari semakin berani menggoda naluri lelakinya. Ia sudah berjanji tidak akan menyentuh Shezan. Ia tidak ingin gadis itu takut dan kabur darinya.

__ADS_1


***


Di sebuah pulau yang sedikit agak terpencil. Akses menuju pulau tersebut tidak selalu ada setiap hari. Hanya seminggu sekali kapal angkutan umum beroperasi menuju pulau tersebut. Sebagian besar mata pencarian penduduk pulau itu adalah nelayan dan petani sayur.


Terdapat sebuah pos polisi di pulau itu. Menyelisik pos polisi tersebut, tampak duduk seorang polisi. Polisi itu adalah polisi yang selama ini menganggu Farras.


...~~ Seminggu sebelumnya......


Di sebuah gudang tertutup, di tengah-tengahnya duduk seseorang yang ingin dihilangkan Farras. Orang tersebut adalah polisi yang dibayar seseorang untuk menganggunya.


Tangannya terikat, dan matanya ditutup oleh lilitan kain yang melingkari kepalanya. Darah telah mengalir di pelipisnya.


Ia tidak mengira, uang dapat menyeretnya ke dalam situasi yang tidak menguntungkan baginya.


"Aku tidak tahu." Ujarnya putus asa.


Farras yang duduk di hadapannya melepaskan lilitan kain yang menutup matanya. Dilihatnya dalam siapa orang yang berani menyandranya.


Farras menatapnya dingin, tidak ada keraguan dan ketakutan di dalam matanya. Segera polisi itu menyadari pria dihadapannya tidak memiliki rasa kasian sedikitpun. Ia terlihat persis seperti psikopat yang pernah ditangkapnya. Jauh berbeda dengan sosok Farras yang selama ini Ia tahu, atau Ia tidak mencari tahu dulu tentang Farras sebelum mengusiknya.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Aku tidak tahu!!" Teriak polisi tersebut menahan sakit.


"Ssst.. Aku tahu." Ujar Farras datar mencoba menenangkan sandranya. Yang justru malah terlihat lebih menyeramkan.


"Lalu mengapa Kau masih melakukan ini kepadaku? lepaskan Aku, Aku akan membantumu mencari tahu siapa orang yang memerintahkanku." Ujar Polisi itu mencoba untuk bernegosiasi.


Farras menghentikan coretan belatinya di pelipis sandranya. "Aku hanya ingin Kau mengetahuiku." Ujar Farras tersenyum, Ia tersenyum puas melihat hasil karya lukisannya.


Farras meletakan belatinya, Ia mengambil sebuah jarum suntik yang berisi cairan.


"Apa yang akan Kau lakukan?!" Teriak polisi itu panik.

__ADS_1


"Jangan bergerak, Kau tahu Aku tidak ahli memegang jarum." Ucap Farras tenang mendekati sandranya.


Farras menyuntikkan jarum itu ke pembuluh darah sandranya, lalu menginjeksikan cairan di jarum tersebut ke pembuluh darah sandranya.


"Apa yang kau suntikan?!"


"Jangan khawatir Aku tidak berniat untuk membunuhmu." Ujar Farras tenang menyuntikan morfin kepada polisi itu.


Farras tidak memiliki hasrat membunuh. Ia hanya ingin bermain-main sebentar, dan melepas mangsanya setelah tidak berdaya.


"Lepaskan Aku," Pinta polisi itu sekali lagi.


"Oke." Ujar Farras bersahabat.


Ia segera melepaskan ikatan sandranya tanpa khawatir sandranya akan balik menyerangnya. Benar saja, polisi tersebut mencoba menyerang Farras. Namun Farras dengan mudah mengalahkannya.


"Jangan berpikir untuk menyerangku, atau Kau ingin Aku membunuhmu." Ujar Farras dingin, raut wajahnya terlihat tidak main-main dengan perkataannya.


Setelah selesai bermain, Ia pergi menuju pintu keluar gudang tersebut. Meninggalkan Sandranya yang masih meringis menahan sakit.


Di sebelahnya terletak sebuah kotak P3K. "Orang itu benar-benar, " Polisi tersebut segera mengambil kotak itu dan mengobati lukanya.


Farras segera disambut oleh Jagdish begitu Ia keluar dari gudang.


"Anda tidak perlu melakukan ini. Bukankah Saya sudah mengurusnya agar dimutasikan ke daerah," Ujar Jagdish mengiringi langkah Farras menuju mobilnya.


"hmm.. "


"Dengan melakukan ini, Akan menambah perkerjaan untuk membuatnya tidak melaporkan Anda."


"hmm.. "

__ADS_1


Jagdish hanya bisa menghela nafas pasrah, melihat bos nya yang tidak memperdulikan apapun.


***


__ADS_2