Finding Miss Right

Finding Miss Right
Olahraga


__ADS_3

Ucapan Nina membuat Shezan mulai mencoba berpikir. Sebelumnya Ia tidak pernah berpikir Farras akan mencari wanita lain. Mengingat suaminya tidak memiliki teman, tidak ada yang mau berteman dengannya. Hidupnya monoton dengan perkerjaan dan sibuk dengan dunianya sendiri, Ia tidak punya waktu memikirkan wanita. Entah apa yang menjadi hiburan kesenangannya, Shezan tidak begitu mengenal pria yang menikahinya.


Ia sudah mendengar rumor yang beredar di Myrtle, atasan mereka tidak menyukai wanita. Ia tidak pernah terlihat melirik Karyawan wanita, secantik dan se-sexy apapun mereka. Mendengarkan rumor tentang atasan mereka yang diduga gay, Shezan hanya bisa tersenyum tersipu malu mengingat Farras yang suka melihatnya, dan bagaimana wanginya orang itu saat menciumnya.


Tunggu sebentar, Apa seleranya adalah wanita yang tidak cantik dan sexy? Apa orang itu sudah menemukan wanita lain yang lebih jelek dan lebih malas dari diriku? Pikir Shezan. Ia pikir dengan perubahan dirinya yang semakin rajin perawatan agar tidak lusuh lagi dan telaten mengurus suami bisa membuat suaminya mencintainya.


Nina memandang Shezan yang tengah berpikir keras, dipegangnya kedua bahu Shezan, "Shezan, dengarkan Aku. Kita tidak boleh membiarkan orang seperti mereka bebas melakukan apapun yang mereka inginkan mentang-mentang mereka memiliki banyak uang."


Shezan terkesima dengan penuturan Nina, "Apa yang harus Aku lakukan?" Suara Shezan terdengar cemas. Ia takut sekaligus marah kepada dirinya sendiri. Perkataan Nina seakan menampar wajahnya, Ia telah terperdaya oleh semua yang diberikan Farras. Dirinya sudah materialis.


"Segera tinggalkan tempat ini, dan ajukan gugatan peceraian!" Seru Nina meyakinkan Shezan.


"Apa Aku perlu memberitahunya atau kepada asistennya?"


Nina menggeleng, "Tidak, tidak. Langsung saja ke pengadilan agama."


"Begitu?"


"Kau harus menikah dengan orang yang mencintaimu Shezan."


"Bagaimana jika aku diberhentikan dari Myrtle?" Tanya Shezan khawatir. Ia sudah berhenti menjadi tutor menjahit.


"Mengapa Kau mengkhawatirkan hal itu? sebelum mengenalnya, Kau bisa hidup dengan baik. Kita bisa berusaha bersama."


Shezan mengangguk yakin, meski ada perasaan tidak rela berpisah dengan Farras. Ia segera menepis pemikiran yang tidak bertanggung jawab itu. Itu adalah pemikiran materialis hedonisme yang sedang mencoba mempengaruhi.


"Sekarang mari kita menikmati hari terakhir kita menikmati semua ini he.. he" Seru Nina mengambil bantal di tempat tidur dan memukulnya kepada Shezan.


Mereka menghabiskan malam terakhir mereka di apartment Farras dengan perang bantal. Membuat semua yang ada disana menjadi berantakan tidak teratur. Terkadang sesuatu yang tidak teratur adalah keteraturan dalam mencari sudut padang teratur.

__ADS_1


Sementara dalam lemari di kamar yang lain, terlihat dua sosok gelap bergaun putih tengah bermain kartu. Mereka lupa harus ronda lagi malam ini menakut nakuti manusia.


***


Secanggih-canggihnya sistem keamanan rumahnya Farras, tetap saja ada penyusup yang bisa masuk.


Setelah Jagdish menyelesaikan masalah dua orang tidak dikenal terkapar di rumah Farras. Pagi harinya keadaan sudah kembali normal seperti sedia kala. Jagdish menjemput Farras seperti biasa.


"Batalkan semua pertemuan hari ini." Ujar Farras kepada Jagdish dari kursi penumpang bagian belakang mobilnya.


"Apa Anda ingin pergi menemui pembenci Anda?" Tanya Jagdish. Mengingat Orang itu telah sampai membuat orang asing masuk ke rumah Farras. Apa Ia berubah pikiran ingin mengakhiri pembencinya? Pikir Jagdish.


"Aku ingin pergi menembak." Ujar Farras dengan sikap tenangnya.


"Baiklah Saya mengerti."


Lebih baik Farras diletakkan di tempat olahraga menembak daripada dibiarkan lepas berkeliaran di jalanan. Bisa-bisa akan banyak masalah yang harus diselesaikan Jagdish.


Farras membidik target di depannya dan menembaknya berkali kali. Beberapa kali tembakannya meleset. Keinginan untuk melihat Shezan, menyium aroma tubuhnya, dan menciumnya sekali lagi terus mengganggu pikirannya. Ia ingin menyingkirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Diisinya kembali peluru pistolnya, dan berbelok mengarahkan senjatanya ke sebelah kanannya. Ia siap menekan pelatuk dan menembak sesuatu yang lain, bukan papan target.


Kosong, tidak ada siapapun di sebelah kanan maupun di sebelah kirinya. Sepertinya Jagdish sudah mengosongkan area itu. Sangat berbahaya melepas Farras yang sedang memegang senjata. Meskipun Farras bisa menahan tangannya untuk berbuat kriminal, tetap saja Jagdish tidak ingin mengambil resiko.


Jagdish mengamati Farras dari belakang, "Seharusnya Aku tidak membawa gadis itu ke rumahnya." Guman Jagdish dalam hati. Ia tidak menyangka dirinya akan menambah masalah baru untuk Farras.


Farras melepas kacamata dan pelindung telinganya, Ia memberikan sejatanya kepada Jagdish, "Showtime!" Serunya sembari berjalan meninggalkan area menembak.


***


Seorang pria mendapatkan telepon dari asisten rumah tangganya, Ia mendapat kabar bahwa ada orang asing yang datang ke rumahnya. Pria itu meninggalkan ruangan kantornya dengan gusar.

__ADS_1


Disisi lain, di sebuah kamar dengan desain interior kamar bayi, Farras tengah melihat bayi yang tertidur pulas di box bayi. Di sudut kamar itu terlihat sosok wanita yang kemungkinan Ibu dari bayi tersebut, Ia diam membiarkan Farras melihat bayinya secara dekat. Tidak ada raut kecurigaan sama sekali diwajahnya.


Farras menyimpan kedua tangannya di dalam saku celananya. Ia tidak ingin kedua tangannya melakukan hal-hal yang Ia inginkan.


"Apa yang kau lakukan disini?! Menyingkirlah dari putriku." Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah pintu masuk kamar itu.


Farras menyeringai, tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi tersebut. "Aku penasaran ada apa di balik kulitnya." Ujarnya tenang seakan ingin menguliti bayi di depannya.


"Kau!" Teriak pria itu sekali lagi, suaranya bergetar.


Farras tersenyum, tatapannya tajam, siap menusuk siapa saja yang melihatnya, "Kau takut?"


Ia berjalan mendekati pria itu, orang yang membencinya yang selama ini mengusiknya, putra dari ayah kandungnya.


"Aku tidak akan bertanya apa-apa." Ujar Farras, Ia tersenyum tipis, berjalan melewati pria tersebut, dan meninggalkan rumah pria itu. Kedatangannya hanya ingin memberikan pria tersebut pringatan bukan untuk mencari jawaban mengapa pria itu mengusiknya. Ia menahan diri untuk melukai siapapun yang ada di rumah itu.


Ibu dari bayi itu terlihat heran dan bingung, mengapa suaminya begitu ketakutan melihat kedatangan saudaranya. "Ada apa, Apa yang terjadi?" Tanyanya heran.


"Tidak ada apa-apa." Pria itu menenangkan istrinya. Ia menatap kepergian Farras dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


***


Disisi lain, Shezan berada di depan rumah Farras, Ia menatap rumah itu dengan bimbang, "Apa benar orang itu sudah membawa wanita lain ke rumahnya?" Tanyanya dalam hati. Ada perasaan tidak rela Farras, suami yang tidak dicintainya bersama wanita lain.


Ia menarik nafas dalam, mencoba untuk masuk ke dalam rumah itu, "Eh.. ? Pin nya udah diganti?" Gumannya. Kunci pintu rumah Farras tidak bisa dibuka.


Apa wanita itu sudah ada di dalam?


Ia memandang rumah di depannya dengan raut sedih, Ia mulai meyakini kebenaran ucapan Nina. Ia teringat tentang pembicaraan terakhirnya dengan Farras. "Apa dia sudah menemukan wanita lain yang bersedia dipeluk-peluk dan tidur dengannya?" Tanya Shezan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2