
Sepanjang makan malam Shezan terus memikirkan rangkaian untaian kata yang akan dikatakannya kepada Farras. Ia ingin tahu tentang apa yang ditemukannya di laci meja kerja Farras.
"Apa Kamu sedang memikirkan apa yang akan kamu sampaikan?" Tanya Farras setelah Ia menyelesaikan makan malamnya.
"Aku sedang marah!" Seru Shezan memberi informasi.
"Marah adalah senjata ampuh agar tidak dimarahi." Guman Shezan dalam hati, Ia sadar telah berbuat salah karena lancang membongkar meja kerja Farras tanpa permisi. Ia mengambil kesimpulan bahwa setiap kali dia marah, Farras akan bersikap baik kepadanya.
Ucapan Shezan membuat Farras mengidentifikasi wajah Shezan. Ia tersenyum tipis. "Saat ini dia sedang takut." Guman Farras dalam hati.
"Apa Kamu diam diam menyelidiki ku? Aku menemukan foto ayahku di laci meja Kamu, itu membuatku marah, Kamu bahkan melakukan test DNA!" Seru Shezan dengan nada tinggi agar marahnya lebih meyakinkan.
Pembantu yang sedang membersihkan dapur terkejut mendengar Shezan berteriak kepada majikannya. Saat ini Ia masih mengira Shezan adalah kepala pelayan.
Sementara Farras sedikit terkejut, Ia tidak berpikir Shezan akan berani membuka laci meja kerjanya. Menyukai seseorang membuatnya menjadi arif dan bijaksana. Lagi-lagi Ia memaafkan kelancangan istrinya.
Farras tersenyum menopang dagunya, menatap Shezan yang duduk di depannya. Shezan memasang ekspresi sedang marah yang kentara dibuat buat.
"Foto wanita dan foto terakhir yang Kamu lihat adalah orang tua kandungmu. Meraka sudah meninggal dunia, dan makam mereka sudah tidak dapat ditemukan," Ujar Farras dengan tenang.
Ia memang sulit memahami perasaan orang lain. Tetapi Ia paham dengan baik bagaimana memanipulasi orang lain. Dan saat ini Shezan tengah bermain playing victim dengannya.
Shezan tertegun mendengar jawaban Farras. Ternyata Ia memang sebatang kara, tetapi setidaknya Ia mengetahui nama kedua orang tuanya.
".... " Shezan tidak bisa berkata apa apa.
"Bukankah itu yang ingin Kamu tanyakan kepadaku?" Tanya Farras dengan tenang.
"Iya." Jawab Shezan lirih.
Farras tersenyum menatap Shezan yang masih terdiam. "Jangan khawatir, Aku sudah memaafkanmu karena sudah berani membongkar laci meja kerjaku." Ujarnya mencoba menghibur Shezan.
Shezan menatap Farras dengan penuh harap. "Aku tidak ingat apa- apa tentang mereka, Bisakah kamu membantuku?." Ujar Shezan memohon.
"Tidak." Jawab Farras tegas.
"Kenapa?"
"Mengapa Aku harus membantumu?."
Farras beranjak dari duduknya, lebih baik segera pergi ke ruang kerjanya. Ia tidak ingin mendengar keinginan Shezan.
"Apa harus merayunya?" Pikir Shezan.
Tanpa pikir panjang lagi, Shezan berjalan cepat melewati Farras yang hendak menaiki tangga rumahnya, Shezan berdiri di depannya
Farras menghentikan langkahnya karena Shezan menghadang jalannya. "Ada apa?" Tanyanya.
Shezan menarik nafas dalam dan segera menyandarkan badannya ke Farras. Kedua tangannya melingkari pinggang Farras, mengingat Farras suka memeluknya. Namun kali ini Farras tidak membalas pelukannya. Ia hanya berdiri saja dengan diam.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Farras dengan tenang.
"Aku sedang merayumu." Jawab Shezan jujur apa adanya.
"Hmmm... "
Farras memegang kedua tangan Shezan dan melepaskan rangkulan tangannya. Ia mendorong pelan Shezan agar sedikit menjauh darinya.
"Kenapa?" Tanya Shezan bingung mengapa Farras melepaskan tangannya, Ia melihat Farras yang menatapnya dengan ekspresi datar.
Apa menciumnya?
"Jangan melakukannya lagi, Aku tidak menyukainya." Ujar Farras datar membuat Shezan yang hendak mencium suaminya tiba tiba mematung.
Farras melanjutkan perjalanannya menuju ke ruangan kerjanya di lantai dua rumahnya meninggalkan Shezan.
"Apa yang bisa Aku lakukan agar kamu membantuku?!" Seru Shezan kemudian dari bawah tangga.
"Tidak ada," Jawab Farras singkat tanpa menoleh ke arah Shezan.
Sementara pembantu yang tadi terkejut mendengar teriakan Shezan, penasaran dan mengintip apa yang sedang terjadi. Ia melihat Shezan yang memeluk majikannya. "Pembantu sekarang sudah banyak yang tidak benar, menyerahkan tubuhnya untuk menggoda majikannya, untung saja Pak Farras memiliki iman yang kuat dan tidak tergoda." Gumannya dalam hati mengagumi sosok majikannya.
Sesampainya di ruang kerjanya, Farras memegang dadanya. Jantungnya masih berdenyut tidak beraturan.
Ia tersenyum mengingat Shezan yang baru saja memeluknya , "Dia ingin merayuku?" Gumannya.
Bila tetap dilanjutkan Aku bisa berubah pikiran.
"Tunggu sebentar, dalam kesepakatan kita Kamu akan memenuhi semua permintaanku!" Seru Shezan.
Farras duduk dikursinya sebelum menjawab Shezan, "Ya itu benar, semua permintaanmu yang bisa Kupenuhi." Ujar Farras tersenyum licik. Ia menggerakkan mouse komputernya, Ia ingin melanjutkan pekerjaannya.
Tidak ingin menyerah, Shezan berjalan mendekati Farras dan mengintip apa yang sedang dikerjakan Farras di komputernya. Layar monitor menampilkan angka angka yang tidak dimengerti Shezan. "hem buka sakit mata saja." Gumannya dalam hati.
"Apa kamu bisa memberitahuku alamat rumah ibu tiriku yang sekarang? Aku yakin kamu tahu." Tanya Shezan. Ia menyadari untuk mencari memorinya yang hilang harus selangkah demi selangkah.
"Tidak."
Shezan menatap kesal Farras yang duduk di sebelahnya, Orang yang sulit untuk diajak kompromi. "Hanya memberikan alamat apa sulitnya? Apa Aku tertipu dengan kesepakatan yang Kamu buat?"
Melihat kegigihan Shezan membuat Farras berpikir sejenak. Meskipun tidak memberitahu Shezan, wanita itu tetap akan mencari tahunya sendiri. "Baiklah Aku akan memberitahu Kamu."
"Nah begitu kan bagus." Guman Shezan,
"Tetapi," Ujar Farras menjeda kalimatnya, Ia menoleh ke arah Shezan yang masih setia berdiri di sebelahnya. "Apa yang bisa kamu berikan kepadaku sebagai balasannya?" Tanya Farras tersenyum penuh arti.
"nah ini yang nggak enaknya, kompeni tetaplah kompeni." Gurutu Shezan dalam hati.
"Bagaimana kalau Aku memberikan waktuku untuk kita pergi kencan." Ujar Shezan memberi usul yang sebenarnya untuk kepentingannya. Dan juga terbalik, karena lebih sibuk suaminya daripada dirinya. Ia memplesetkan kata jalan jalan menjadi kencan. Toh Ia tidak punya apa apa selain waktu.
__ADS_1
Sementara itu Farras tampak memikirkan usulan Shezan, "Kencan?" Tanyanya memastikan, Ia melihat Shezan yang memberikan senyum terbaik kepadanya. "Baiklah, Aku yang akan menentukan seperti apa kencan yang akan kita lakukan." Ujarnya menyetujui usulan Shezan dengan syarat.
"Tidak, Aku yang menentukan, karena ini kencanku." tolak Shezan.
"Hmmm.. "
Farras kembali melihat layar monitornya, Ia menjadi tidak tertarik dengan usulan Shezan, "Aku tidak bisa menyerahkan kencan pertamaku kepada orang yang tidak pernah berpacaran sepertimu."
Shezan menyimak perkataan Farras dengan baik, Ia fokus menggaris bawahi kata kencan pertama. "Kamu bukannya pernah kencan dengan Nausheen?" Tanya Shezan mengingat Farras pernah berpacaran dengan seorang selebritis.
"Aku tidak tahu siapa yang Kamu sebut," Ujar Farras tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor komputernya dan tangannya mengetik sesuatu di keyboard.
Wah dia benar-benar kejam, tidak heran Nausheen memutusinya.
Shezan menghela napas berat, Ia memutuskan untuk menyerah meminta bantuan Farras. Ia akan mencari tahu sendiri besok. Tidak sulit baginya sekarang, Ia sudah memiliki Andrew bertampang sangar yang siap mengantarnya kemana saja. "Ya sudah lupakan saja, maaf sudah menganggu." Ujar Shezan bersikap sopan. Ia beranjak pergi keluar meninggalkan ruangan Farras.
Farras berdecak, Ia memutuskan untuk menyerah. "Baiklah, Aku akan mengosongkan jadwalku lusa. Jika Aku tidak menyukai kencan yang kamu rencanakan, Kamu harus membayarku 10 kali lipat."
wah dia rentenir
"Oke."
Shezan dengan semangat menuruni tangga menuju kamarnya. Ia berpikir mungkin bisa bertanya kepada Ibu tirinya.
"Nona Shezan, ternyata Kamu orang yang pantang menyerah." Sindir Pembantu yang menyambutnya menuruni tangga. Ia mengira Shezan mendatangi kamar tuan Farras untuk menggodanya sekali lagi. Pembantu itu kemudian pamit pulang.
Sementara Shezan menanggapi sindiran itu secara positif. "Benar aku tidak boleh menyerah!" Gumannya dalam hati bersemangat untuk mencari tahu memori tentang kedua orang tuanya yang hilang.
***
Farras dan Shezan berdiri di depan sebuah bangunan megah berwarna putih dengan beberapa pilar.
"Jadi ini Pergi kencan yang kamu maksud?" Tanya Farras menatap bangunan di depannya.
Shezan tersenyum senang, "Iya, Ayo masuk!" Serunya mengenggam tangan Farras dan menyeretnya.
Mereka masuk melihat koleksi bangunan tersebut setelah Shezan membayar tiket masuk. Ia terlihat antusias untuk masuk.
Meskipun Shezan sudah mendadani Farras dengan ala kadarnya, tetap saja tidak bisa menghilangkan kegantengannya. Pria itu tetap saja menjadi bahan perhatian pengunjung Museum yang mereka datangi.
Shezan melirik Farras yang berdiri di sebelahnya, Ia meminta Farras mengenakan sendal jepit biasa yang dipakai ke wc, kaos oblong lengan panjang yang dibelinya seharga dua puluh lima ribu rupiah malah semakin menambah kesexyan suaminya. Membuatnya tetap terlihat seperti cumi berada disebelah suaminya.
"Aku tidak tahu kalau kamu tertarik dengan artefak." Ujar Farras kepada Shezan yang tampak konsentrasi membaca keterangan dari patung bersejarah di depannya.
"Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang sejarah masa lalu, asal-usul dan budaya mereka sama seperti pohon tanpa akar. Marcus Garve." Ujar Shezan bernada serius bak seorang filsuf.
Jawaban Shezan membuat Farras tergelak , "Apa Kamu sekarang ingin menjadi sejarahwan?"
Mungkin lebih baik dia jadi sejarahwan saja daripada desainer.
__ADS_1
Farras mengapit kedua pipi Shezan dengan kedua telapak tangannya, membuat mulut Shezan maju kedepan. "Sekarang kamu sudah persis sama dengannya," Ujar Farras menunjuk dengan matanya sebuah patung di depan mereka.
"Shezan." Terdengar seseorang memanggilnya namanya.