Finding Miss Right

Finding Miss Right
Move on


__ADS_3

Membayangkan hal itu membuat dadanya terasa sesak karena dipenuhi rasa kecewa yang sangat banyak. Suami abstraknya tega menyakiti hatinya dengan membawa wanita lain ke rumahnya. Mengingat Farras sudah berjanji tidak akan menyakitinya, Ia sangat percaya dengan janji manis yang dilafalkan Farras, seorang anak manusia yang tidak berjiwa manusia.


Shezan tidak tahu jika yang dimaksud Farras adalah menyakitinya dengan senjata tajam atau meremukkan tulangnya.


Shezan meninggalkan rumah Farras dengan perasaan yang terluka dan mendung. Ia ingin menyanyikan lagu 🎶 I love you but I'm letting you go~Pamungkas di sepanjang perjalanan pulangnya. Kesedihannya bertambah saat Ia mengingat bahwa Ia tidak bisa bernyanyi. Cukuplah dirinya saja yang mengalami penderitaan ini, Ia tidak ingin orang lain menderita karena mendengarnya bernyanyi.


🎶


Terakhir Ia hanya bisa mentertawakan dirinya. Bagaimana bisa Ia berpikir orang seperti Farras yang memiliki segalanya bisa tetap selalu setia kepada dirinya yang tidak memiliki apa- apa, cantik nggak, sexy nggak, kaya nggak, rajin nggak, pintar juga nggak. Bagai pungguk merindukan bulan.


Ia berpikir setidaknya Ia masih memiliki harga diri. Ia sudah bertekad akan mendaftarkan gugatan peceraiannya di pengadilan agama.


***


Raut wajah kesedihan Shezan yang mencoba membuka kunci pintu rumah dilihat oleh Farras dari layar ponselnya. Sebuah pemberitahuan ada yang mencoba membobol kunci rumahnya masuk ke ponselnya. Ia kembali merasakan sesuatu yang aneh.


.


"Aku Ingin memanah," Ujarnya kepada Jagdish yang sedang mengemudikan mobilnya.


Jagdish melirik Farras dari kaca spion, "Anda ingin olahraga lagi?" Tanyanya kemudian.


"Atau anggar saja?" Ujar Farras berubah pikiran.


"Tidak!, memanah saja." Bantah Jagdish. Ia tidak ingin menjadi lawan main Farras. Karena takut akan dibantai habis-habisan.


"hmm.. Berhenti, turunlah!" Perintah Farras. Ia kembali lagi berubah pikiran.


Jagdish menduga Farras akan melakukan hal gila lagi dengan mobilnya, "Jika Anda bermain bom bom car lagi, maka Saya akan berhenti bekerja kepada Anda!" Ancam Jagdish, Ia tidak menghentikan mobilnya.


"hmm.. "


"Dan satu hal lagi, jangan memberikan kartu namaku setiap kali Anda membuat masalah!" Seru Jagdish kesal, Ia lupa sedang berbicara dengan siapa. Ia mengabaikan: Jika kalian marah, diamlah.


Setelah membantah perintah Farras, Jagdish mendapati tangannya terikat ke belakang. Ia duduk dikursi belakang mobil Farras dengan mulut yang dipenuhi bulatan tissue.


"Begini lebih baik." Ujar Farras melirik Jagdish dari kaca spion, kemudian mengemudikan mobilnya.


"emm emm emmemm! (Dasar manusia jah**am, bi*dab, terk*tuk!)" Teriak Jagdish kepada Farras.

__ADS_1


Setelah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan secepat yang bisa Ia capai, akhirnya Farras sampai di gerbang perumahan tempat tinggalnya. Ia tidak terlambat, Ia masih mendapati sosok Shezan yang sedang berjalan di trotoar jalan raya.


Ia menjalankan mobilnya pelan mengikuti gadis itu dari belakang. Ini pertama kalinya Ia melihat ekspresi Shezan yang seperti itu. Ia tidak mengerti mengapa dadanya terasa sangat begitu sakit.


"Aku tidak ingin menemui pria tua itu lagi." Ujar Farras kepada Jagdish yang masih terikat.


" emm emem mm mm! ( Kau harus bertemu dengan doktermu!, Bangs*t!" Seru Jagdish. Ia berpikir orang memiliki gangguan kejiwaan di depannya harus segera menemui dokternya dan minum obat.


"hmm.. "


Farras masih terus mengikuti Shezan yang masih berjalan. Ternyata Shezan tengah berjalan menuju sebuah halte, Ia sedang menunggu bus angkutan antar kota.


Shezan turun di halte depan sebuah mall, Ia langsung bergegas masuk ke dalam mall tersebut. Farras ingin terus mengikuti gadis yang saat ini membuat dadanya terasa sangat sakit, namun Ia tidak bisa masuk ke dalam gedung yang dipenuhi banyak orang asing. Artinya akan banyak sosok menyeramkan yang akan ditemuinya. Dan itu sangat tidak nyaman.


Farras menoleh ke arah Jagdish yang duduk terikat di belakangnya, "Hmm.. "


Akhirnya Farras memilih untuk melepaskan ikatan Jagdish, dan bertukar tempat duduk. Ia sudah tidak ingin lagi mengemudikan mobilnya sendiri. Ia merasa sedang kurang sehat. Ada yang salah dengan sistem pernapasannya.


"Saya pastikan surat pengunduran diri saya sudah ada di meja Anda besok pagi!" Seru Jagdish sebelum Ia menjalankan mobil Farras. Ia tidak ingin lagi bekerja dengan seorang yang bisa saja membunuhnya kapan saja.


"Aku menaikan gajimu 2 kali lipat." Ujar Farras mencoba bernegosiasi. Ia masih membutuhkan Jagdish sebagai orang kepercayaan untuk menyelesaikan masalah yang Ia buat. Oleh karena itu, selama ini Ia harus bersabar dan memaafkan asistennya yang terkadang tidak sopan kepadanya. Meskipun Ia memiliki gangguan kejiwaan, Ia tidak lupa mengamalkan, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya perbuatan yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.


***


Sementara itu Shezan yang yang berada di dalam mall mencari sosok Nina. Mereka janjian bertemu di mall sore sepulang kerja.


"Apa harus beli ponsel baru juga?" Tanya Shezan kepada Nina.


"Tentu saja harus!" Seru Nina.


"Baiklah kalau begitu." Ujar Shezan pasrah. Ia harus mengikuti saran dari Nina. Ia harus segera move on dari suami abstraknya.


Entah mengapa Ia selalu melihat ponselnya, menunggu Farras menghubunginya. Tetapi setelah mengetahui orang itu sudah memiliki wanita lain, Shezan tidak ingin lagi memiliki harapan suami abstraknya akan menghubunginya. Tetapi Ia tidak bisa berhenti berharap ponselnya akan menerima panggilan masuk dari Farras.


Shezan pun akhirnya menukar ponsel dan nomornya.


"Setelah ini Apa?" Tanya Shezan.


"Jual semua barang pemberiannya yang bisa dijual!" Seru Nina.

__ADS_1


"Ketinggalan di rumahnya," Ujar Shezan.


"Apa?!"


Shezan hanya menjawab rasa kaget Nina dengan cengar-cengir. Ia lupa membawa perhiasan yang Ia simpan di dalam laci meja kamarnya.


Tiba-tiba Shezan teringat sesuatu, "Ah tapi orang itu memberikan ku ini." Ujar Shezan, Ia mengelurkan Kartu ATM Farras.


"Ada isinya?" Tanya Nina ragu,


Akhirnya untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan Nina dan rasa penasaran Shezan, kedua gadis itu pergi ke ATM terdekat.


Kedua gadis itu bingung melihat monitor mesin ATM, atm error atau gimana?. Mereka tampak terkejut setelah menghitung jumlah angka yang tertera. Sebelas digit?!


Nina kembali memegang pundak Shezan, "Shezan sebaiknya kamu kembali saja ke apartemen orang itu, lupakan tentang perceraian!" Seru Nina panik, sepertinya Ia telah salah memberikan wejangan kepada temannya.


"Mengapa?" Tanya Shezan bingung.


"Sudah, ayo kamu pindah lagi ke apartemennya." Ujar Nina sembari menarik lengan Shezan.


"Tidak!" Seru Shezan. Ia menahan tangannya. Bagaimana bisa dirinya tinggal di apartemen yang menyeramkan.


Penolakan Shezan membuatnya kembali berpikir, Apa salah lagi mengambil keputusan?


"Bagaimana kalau kita ambil saja uangnya dan pergi ke dari kota ini?" Saran Nina.


"Itu tindakan kriminal!" Seru Shezan, Ia lupa jika Ia juga telah melakukan tindakan kriminal sebelumnya. Membawa kabur uang peninggalan ayahnya. Bagaimana nanti kalau dilaporkan ke polisi?


Nina kembali lagi berpikir, dan mengangguk. "Benar juga."


Bisa nggak selamat dunia dan akhirat.


Akhirnya mereka kembali ke kosan nya Nina. Sepenjang perjalanan mereka memikirkan apa yang dipikirkan.


Nina memikirkan dirinya yang salah memberi wejangan kepada Shezan.


Shezan memikirkan perasaannya, perasaannya yang tidak ingin berpisah dengan Farras. Ia bingung apakah dikarenakan kekayaan yang dimiliki suami abstraknya atau karena Farras itu sendiri. Ia ingin tetap bersama pria aneh itu, Pria yang selalu melihatnya. Selama ini Ia menjadi orang yang tidak terlihat. Banyak perubahan yang terjadi dalam hidupnya setelah bertemu dengan pria aneh itu.


Apa dia baik-baik saja?

__ADS_1


__ADS_2