
Di tempat kursus menjahit, Shezan yang telah selesai melakukan kewajiban mengajarnya, menghitung hitung jumlah uang yang sudah dikumpulkannya di M-banking nya. Ia sudah banyak mengirimkan lamaran pekerjaan, namun tidak satupun yang memanggilnya.
Shezan berpikir usahanya membuat Farras jatuh cinta kepadanya telah gagal. Mengingat kasta mereka berbeda jauh, mustahil Farras akan menyukainya.
Shezan menghela nafas panjang, "Bahkan untuk menggodanya saja Aku tidak berani." Gumannya pelan dengan wajah polos tidak berdosa. Ia tidak sadar entah sudah berapa kali perbuatannya telah menguji keimanan dan keteguhan hati Farras.
Di tengah kegalauannya, Ia membuka Insta**am nya. Semakin hari semakin bertambah followernya. Setiap selesai mendesign pakaian, dan menjahit pakaian tersebut, Ia langsung mempostingnya. Semakin banyak follower yang menyukai postingannya dan memberi komentar, semakin dirinya bersemangat untuk menghasilkan karya baru.
"Apa Jadi selebgram seniman saja ya?" Gumannya pelan, sembari menghayalkan memiliki 20 juta follower.
Shezan menghapus hayalannya, ini bukan saatnya untuk menghayal.
Segera ditutupnya aplikasi Insta**am, dan membuka aplikasi ojek online. Ia memesan taxi online untuk mengantarnya pulang.
Sebuah mobil berhenti di depan Shezan. Tanpa curiga dengan plat mobil yang berbeda dengan yang di aplikasinya, Shezan segera masuk ke dalam mobil setelah si sopir menyebutkan nama Shezan dan alamat tujuannya.
Mobil tersebut melaju membawa Shezan. Tidak lama berselang, ponsel Shezan berbunyi. Ternyata yang meneleponnya adalah driver taxi online yang Ia pesan.
Shezan menyadari dirinya telah diculik. Tapi mengapa dirinya diculik?
"Maaf Pak, sepertinya ada kesalahan. Bapak salah orang. Saya turun disini saja." Ujar Shezan.
Namun, sang supir tidak menggubris perkataan Shezan, Ia tidak bergeming mengemudikan mobilnya.
Shezan mencoba membuka jendela, namun tidak bisa. Ia mencoba membuka pintu, tetap tidak bisa terbuka. Sepertinya jendela dan pintu memang sengaja dikunci. Apa dirinya benaran diculik?
Shezan mulai panik, Ia berpikir akan memukul si supir. Tapi Ia mengurungkan niatnya. Bagaimana kalau terjadi kecelakaan?
"Bapak menculik Saya? saya tidak punya apa-apa loh Pak, Bapak salah orang, Kalau bapak mau memperkosa saya, saya memiliki penyakit menular." Ujar Shezan mencoba berbohong agar sipenculik melepaskannya.
__ADS_1
Ditengah ketakutannya, Shezan mengirim pesan singkat kepada Farras. Tiba-tiba mobil yang ditumpanginya berhenti, dan supir langsung menyemprotkan obat bius ke wajah Shezan. Ia menghirupnya, membuat kepalanya pusing dan kemudian Ia tidak sadarkan diri.
***
Setelah efek obat biusnya habis, perlahan kesadaran Shezan kembali. Ia merasa pusing dan membuka matanya. Dan menyadari dirinya tengah duduk terikat dikursi meja makan. Dirinya tengah berada di sebuah rumah yang tidak Ia kenal.
Terlihat seorang penculiknya menggunakan topeng duduk di depan nya. Shezan tidak mengerti mengapa penculiknya menggunakan topeng. Bukankah dirinya sudah melihat wajah penculiknya? Tunggu sebentar.. Aku lupa seperti apa wajah pelakunya. Aduh..
"Mengapa Bapak menculik Saya?" Tanya Shezan memberanikan diri. Ia mencoba melepaskan ikatan tangannya. Namun penculiknya mengikatnya dengan kuat. Shezan tidak menyerah.
"Duduk saja dengan manis nona, menunggu temanmu datang." Ujar penculik itu. Ia cukup percaya diri menunggu kedatangan seseorang yang akan datang menolong Shezan. Tanpa Ia sadari bahaya yang akan datang kepadanya.
"Apa Bapak minta tebusan? Berapa banyak? Apa orang itu bersedia memberikan tebusannya?" Tanya Shezan antusias.
Belum sempat penculik tersebut menjawab pertanyaan Shezan, tiba-tiba seseorang telah mendobrak pintu rumah tersebut, dan menerobos masuk. Orang tersebut adalah Farras.
Penculik tersebut bergegas menghampiri Shezan dan mengarahkan mata pisaunya ke pelipis Shezan, Ia siap menorehkan pisau nya kapan saja. Tampaknya Ia sengaja membuat Farras melihat Shezan terluka dan terbunuh di depannya.
Ditengah ketakutannya, Shezan yang sejak tadi tidak menyerah melepaskan ikatannya akhirnya berhasil melepaskan tangannya, dan segera menjatuhkan tubuhnya menjauhi pisau yang mengancamnya.
Farras segera menerjang penculik itu begitu Ia lengah. Dan berhasil melumpuhkan penculik tersebut.
"Jangan!" Teriak Shezan ketika Farras bersiap menusukkan pisau si penculik ke tubuh si penculik. Shezan berjalan mendekati Farras dan penculik itu.
Farras menghentikan pisau nya, "Mengapa?"
"Kasian,"
"Kasian?" Farras tidak mengerti mengapa Shezan merasa Iba dengan penculik yang telah mencoba melukainya.
__ADS_1
Tanpa disadari Shezan, dari arah belakangnya terlihat seorang penculik lainnya berjalan mendekat ke arahnya, dan menodongkan sebuah pistol. Ia berencana untuk menembak Shezan. Namun, aksinya disadari oleh Farras. Dengan sigap Ia menarik lengan Shezan yang berdiri di depannya dan melindunginya.
dorr. ..
Peluru itu mengenai bahu Farras. Shezan membeku ketakutan mendengar suara tembakan dan melihat Farras yang berdarah. Namun yang ditembak tidak terlihat raut kesakitan di wajahnya. Ia segera melemparkan pisau di tangannya ke arah lengan penculik, mencegah penculik itu menembakan pistolnya sekali lagi. Begitu pistol itu terlepas dari tangannya, Farras bergegas menerjangnya dan melumpuhkannya. Saat hendak menusukkan pisau ke penculik itu, Ia kembali teringat Shezan yang tidak menyukainya. Akhirnya Ia memukul penculik itu hingga pingsan.
Farras dengan bahunya yang masih mengeluarkan darah menghampiri Shezan yang masih membeku ketakutan.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya kepada Shezan.
Shezan menoleh ke arah Farras. "Kamu berdarah.." Ujar nya menggigil ketakutan. Ini pertama kalinya Ia mendengar suara tembakan dan melihat darah yang begitu banyak.
"Oh.. " Farras menahan lukanya dengan telapak tangannya.
Shezan memberanikan dirinya berdiri mendekati Farras. "Kita harus ke rumah sakit," Ujarnya sembari memapah Farras yang mulai kelihatan pucat.
Begitu berjalan melewati penculik yang telah pingsan, Shezan mengambil pisau di sebelahnya, dan merobek kemeja yang dikenakan si penculik. Shezan segera membalut luka di bahu Farras untuk menahan darahnya yang terus keluar.
Begitu mereka sampai di mobil Farras, Shezan mendudukan Farras di kursi penumpang bagian belakang. Lalu bergegas Ia duduk di kursi pengemudi.
"Kamu bisa mengemudi?" Tanya Farras heran.
"Hah?.. Tidak." Jawab Shezan jujur. Sepertinya Ia sudah kehilangan akalnya. "Tidak apa-apa, kita harus segera kerumah sakit." Ujar Shezan tidak peduli.
Ia segera menghidupkan mesin mobil, lalu menginjak semua pedal dibawah kakinya secara berurutan. "Kenapa tidak jalan?" Tanyanya bingung.
"Bantuan akan segera datang." Ujar Farras menahan tawanya. "Kemarilah, duduk di sebelahku."
Benar saja perkiraan Farras, begitu Shezan keluar dari mobil untuk pindah ke kursi belakang, terdengar suara sirene menuju ke arah mereka. Polisi dan Jagdish segera menghampiri mobil Farras.
__ADS_1
***